وَلَقَدْ تَرَكْنَاهَا آيَةً فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Sungguh, Kami benar-benar telah meninggalkannya sebagai tanda. Maka, adakah orang yang mau mengambil pelajaran?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَقَدْ تَرَكْنَاهَا آيَةًwa-la-qad taraknaahaa aayatansungguh, Kami benar-benar telah meninggalkannya sebagai tanda
  2. فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍfa-hal min muddakirinmaka, adakah orang yang mau mengambil pelajaran

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
  2. تَرَكْنَاهَاtaraknaahaaKami meninggalkannya
  3. آيَةًaayatantanda
  4. فَهَلْfa-halmaka apakah
  5. مِنْmindari
  6. مُدَّكِرٍmuddakirinorang yang mengambil pelajaran

Inti bacaan

Taraknaa berpelaku Allah di delapan dari sembilan ayat, termasuk 29:35 dan 51:37 tentang negeri kaum Lut. Wa-la-qad membuka sebelas ayat surah ini, dan 29:15 menyebut bahtera dijadikan aayatan li-l-'aalamiina.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَلَقَدْ تَرَكْنَاهَا, wa-la-qad taraknaahaa) yang berarti "sungguh, Kami benar-benar telah meninggalkannya". Kata kerjanya berakar ت-ر-ك, dan di depannya ada wa-la-qad yang menguatkan pernyataan. Ungkapan wa-la-qad tercatat di sebelas ayat surah ini, dari 54:4 sampai 54:51, dan kemunculan keduanya ada di 54:15, sesudah 54:4.

Bentuk taraknaa tercatat di sembilan ayat, dan delapan di antaranya berpelaku Allah. Di 29:35 dan 51:37 kata kerja ini dipakai untuk tanda yang ditinggalkan dari negeri kaum Lut, dengan sasaran yang disebut, di 29:35 (لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ, li-qawmin ya'qiluuna) yang berarti "bagi kaum yang mengerti". Di 37:78 kata kerja yang sama dipakai untuk Nuh dalam susunan lain, (وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ, wa-taraknaa 'alayhi fii l-aakhiriina) yang berarti "dan Kami tinggalkan untuknya, di kalangan orang-orang yang datang kemudian", dan 37:79 menyebut apa yang ditinggalkan itu, (سَلَامٌ عَلَىٰ نُوحٍ, salaamun 'alaa nuuhin) yang berarti "kesejahteraan atas Nuh". Dari kisah Nuh, Al-Qur'an mencatat dua hal yang ditinggalkan, salam di 37:79 dan tanda di 54:15.

Kata ganti -haa pada taraknaahaa berbentuk perempuan, dan ayat ini tidak menyebut rujukannya secara langsung. Rujukan terdekatnya bahtera yang di 54:13 dikenali dari papan dan pasaknya, dan kata kerja tajrii di 54:14 yang menerangkannya pun berbentuk perempuan. Ayat-ayat lain menyebut beberapa hal sebagai tanda dari kisah Nuh. Di 29:15 Allah menyelamatkan Nuh dan para penumpang bahtera lalu (وَجَعَلْنَاهَا آيَةً لِلْعَالَمِينَ, wa-ja'alnaahaa aayatan li-l-'aalamiina) yang berarti "Kami jadikannya sebagai tanda bagi seisi alam", di 25:37 kaum yang ditenggelamkan dijadikan (لِلنَّاسِ آيَةً, li-n-naasi aayatan) yang berarti "tanda bagi manusia", dan di 26:121 seluruh peristiwa itu disebut mengandung tanda.

Kata (آيَةً, aayatan) yang berarti "sebagai tanda" berakar أ-ي-ي dan tercatat di 353 ayat. Pertanyaan penutupnya (فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ, fa-hal min muddakirin) yang berarti "maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran". Kata muddakir berakar ذ-ك-ر dan tercatat di enam ayat, semuanya di surah ini, yaitu 54:15, 54:17, 54:22, 54:32, 54:40, dan 54:51. Bentuk kata kerjanya muncul sekali di luar surah ini, di 12:45, dalam (ادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ, iddakara ba'da ummatin) yang berarti "teringat setelah beberapa waktu", tentang orang yang selamat dari penjara lalu teringat kepada Yusuf. Pemakaian itu memperlihatkan bahwa akar ini dapat berarti teringat kembali sesudah jarak waktu, dan dengan makna itu pertanyaan di ayat ini menanyakan adakah yang akan teringat pada tanda yang telah lama ditinggalkan.

Tafsiran

Ayat ini mengantar kisah Nuh di surah ini ke penutupnya dengan dua langkah. Langkah pertama menyatakan bahwa sesuatu dari peristiwa itu ditinggalkan sebagai tanda, dan langkah kedua mengalihkan pembicaraan kepada pendengar dengan sebuah pertanyaan. Kisah yang dimulai di 54:9 dengan kaum yang mendustakan sampai pada pertanyaan, dan 54:16 menyusulkan pertanyaan kedua tentang azab dan peringatan-Nya.

Pertanyaan ini menghubungkan kisah dengan keadaan orang-orang yang disapa di awal surah. Di 54:2 mereka berpaling setiap kali melihat tanda, dan di 54:4 disebut bahwa berita yang mengandung pencegah telah sampai kepada mereka, yang di 54:5 disebut (حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ, hikmatun baalighatun) yang berarti "hikmah yang sempurna", tetapi peringatan-peringatan tidak mencukupkan bagi mereka. Kisah Nuh termasuk berita itu. Sesudah berita disampaikan, 54:15 menanyakan adakah yang mau mengambil pelajaran, dan jawaban atas pertanyaan itu berada di pihak pendengar.

Rumusan fa-hal min muddakirin menjadi pola surah ini. Di 54:17, 54:22, 54:32, dan 54:40 pertanyaan yang sama didahului pernyataan bahwa Al-Qur'an telah dimudahkan untuk pelajaran. Di 54:15 pertanyaan itu didahului tanda yang ditinggalkan di dunia. Dua jalan menuju pelajaran disebut berdampingan, jejak peristiwa yang dapat disaksikan dan bacaan yang dapat diulang, dan pertanyaan yang diajukan tetap sama.

Renungan dan Hikmah

  • Orang yang di 12:45 teringat kepada Yusuf sesudah beberapa waktu masih sempat membuka jalan bagi kebaikan. Kaum Nuh tidak pernah sampai pada ingatan itu sebelum air datang. Di 39:54 Allah menyeru (وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ, wa-aniibuu ilaa rabbikum) yang berarti "kembalilah kepada Tuhan kalian", dengan batas (مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ, min qabli an ya'tiyakumu l-'adzaabu) yang berarti "sebelum datang azab kepada kalian". Teringat sesudah lupa tetap berharga selama masih ada waktu, dan pertanyaan di ayat ini diajukan kepada orang yang masih memiliki waktu itu. Selama pertanyaan itu masih dapat dibaca, pintu untuk kembali kepada Tuhan masih terbuka.
  • Tanda yang ditinggalkan belum tentu diperhatikan. Di 12:105 disebutkan (وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, wa-ka'ayyin min aayatin fii s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "dan betapa banyak tanda di langit dan bumi", yang dilewati manusia sementara mereka berpaling darinya. Kisah Nuh ditinggalkan sebagai tanda, dan tanda itu dapat dilewati seperti tanda-tanda lain. Hujan yang turun, air yang memancar, dan kapal yang berlayar setiap hari termasuk hal-hal yang dapat mengingatkan kepada kisah ini. Berapa banyak tanda dari Allah yang dilewati hari ini tanpa sempat direnungkan?
  • Kisah bahtera diceritakan juga di 69:11, dan 69:12 menyebut tujuannya, (لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَتَعِيَهَا أُذُنٌ وَاعِيَةٌ, li-naj'alahaa lakum tadzkiratan wa-ta'iyahaa udzunun waa'iyatun) yang berarti "agar Kami menjadikannya peringatan bagi kalian, dan agar telinga yang sadar menyimpannya". Tanda yang ditinggalkan Allah membutuhkan telinga yang menyimpannya. Kisah yang didengar lalu dilupakan belum menjadi pelajaran, dan kisah yang disimpan dapat muncul kembali ketika dibutuhkan. Mendengar kisah Nuh dengan telinga yang menyimpan berarti membawa kisah itu keluar dari halaman bacaan ke dalam keputusan sehari-hari.
  • Allah meninggalkan tanda dari kisah Nuh, dan manusia pun meninggalkan jejak. Di 36:12 Allah menyatakan (وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ, wa-naktubu maa qaddamuu wa-aatsaarahum) yang berarti "dan Kami mencatat apa yang mereka dahulukan dan bekas-bekas mereka". Kaum Nuh meninggalkan jejak sebagai kaum yang ditenggelamkan, sedangkan Nuh meninggalkan salam di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Setiap orang sedang meninggalkan bekas yang akan tercatat sesudah dirinya pergi. Bekas seperti apa yang sedang ditinggalkan hari ini bagi orang-orang sesudahnya?
  • Kisah Nuh dapat dibaca sebagai berita tentang kaum yang jauh di masa lalu. Di 12:111 Allah menyatakan (لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ, la-qad kaana fii qashashihim 'ibratun li-ulii l-albaabi) yang berarti "sungguh telah ada pada kisah mereka pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat". Pertanyaan fa-hal min muddakirin mengubah kisah itu dari berita menjadi cermin. Pembaca diajak melihat dirinya di dalam kisah, apakah berada di pihak yang mendustakan, di pihak yang berseru, atau di pihak yang diangkut. Kisah yang sama dapat berhenti sebagai sejarah atau berlanjut sebagai pelajaran, tergantung cara membacanya.
  • Adam pun mengalami lupa. Di 20:115 Allah menyatakan (وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَىٰ آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ, wa-la-qad 'ahidnaa ilaa aadama min qablu fa-nasiya) yang berarti "dan sungguh Kami telah berjanji dengan Adam dahulu, tetapi dia lupa". Lupa termasuk keadaan manusia sejak awal, dan pertanyaan yang diulang enam kali di surah ini memberi kesempatan berulang untuk teringat kembali. Kata muddakir menggambarkan orang yang teringat sesudah lupa, dan pengulangan itu menunjukkan bahwa Allah tidak berhenti mengajak manusia untuk mengingat.