فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ
Maka, betapa azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku!
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِfa-kayfa kaana 'adzaabii wa-nudzurimaka, betapa azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَكَيْفَfa-kayfamaka bagaimana
- كَانَkaanaadalah
- عَذَابِي'adzaabiiazab-Ku
- وَنُذُرِwa-nudzuridan peringatan-peringatan-Ku
Inti bacaan
Fa-kayfa kaana tercatat di 10 ayat, dan pasangannya di akhir selalu 'iqaab atau nakiir kecuali di surah ini. Susunan 'adzaabii wa-nudzuri hanya ada di surah 54, enam kali, empat didahului fa-kayfa dan dua didahului fa-dzuuquu.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari empat kata dan dibuka dengan (فَكَيْفَ, fa-kayfa) yang berarti "maka bagaimana". Kata kayfa berakar ك-ي-ف dan dipakai untuk menanyakan keadaan atau cara sesuatu terjadi, seperti di 88:17, ketika mereka diajak memperhatikan unta, (كَيْفَ خُلِقَتْ, kayfa khuliqat) yang berarti "bagaimana ia diciptakan". Huruf fa di depannya mengaitkan pertanyaan di ayat ini dengan kisah yang baru selesai diceritakan, yaitu kaum Nuh yang mendustakan (54:9), pintu langit yang dibuka (54:11), dan bahtera yang berlayar dengan pengawasan Allah (54:14). Jawaban atas pertanyaan itu sudah ada di ayat-ayat sebelumnya, dan terjemahannya memakai kata "betapa" serta tanda seru, sesuai dengan pertanyaan yang jawabannya sudah terbentang di depan pembaca.
Susunan (فَكَيْفَ كَانَ, fa-kayfa kaana) tercatat di 10 ayat. Empat di antaranya berada di surah ini, yaitu 54:16, 54:18, 54:21, dan 54:30, dan enam lainnya di 13:32, 22:44, 34:45, 35:26, 40:5, dan 67:18. Di luar surah ini, hal yang ditanyakan berupa (عِقَابِ, 'iqaabi) yang berarti "hukuman-Ku" di 13:32 dan 40:5, atau (نَكِيرِ, nakiiri) yang berarti "pengingkaran-Ku" di 22:44, 34:45, 35:26, dan 67:18. Di 4 ayat, pertanyaan itu langsung mengikuti kata kerja yang menyatakan Allah mengambil kaum yang mendustakan, misalnya di 13:32, (ثُمَّ أَخَذْتُهُمْ, tsumma akhadztuhum) yang berarti "kemudian Aku ambil mereka". Surah ini memakai dua kata sekaligus untuk hal yang ditanyakan, azab dan peringatan.
Kata (عَذَابِي, 'adzaabii) yang berarti "azab-Ku" berakar ع-ذ-ب, dan akhiran -ii padanya menyandarkan azab itu kepada Allah sebagai pembicara. Bentuk ini tercatat di 9 ayat, enam di surah ini dan tiga di 7:156, 14:7, dan 15:50. Di ketiga ayat itu azab-Ku disebut berdampingan dengan rahmat, janji tambahan, atau ampunan-Nya. Di 7:156 Allah berfirman bahwa azab-Nya ditimpakan kepada siapa yang Dia kehendaki, lalu menyusulkan (وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ, wa-rahmatii wasi'at kulla syay'in) yang berarti "dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu". Di 14:7 azab-Ku yang keras disebut sesudah janji tambahan bagi yang bersyukur. Di 15:49 hamba-hamba-Nya diberi kabar bahwa Dia Sang Pengampun, Sang Pengasih, dan baru di 15:50 azab-Nya disebut sebagai (الْعَذَابُ الْأَلِيمُ, l-'adzaabu l-aliimu) yang berarti "azab yang pedih".
Pasangan (عَذَابِي وَنُذُرِ, 'adzaabii wa-nudzuri) yang berarti "azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku" tercatat di 6 ayat, dan keenamnya berada di surah ini. Empat didahului fa-kayfa kaana (54:16, 54:18, 54:21, dan 54:30), dan dua didahului (فَذُوقُوا, fa-dzuuquu) yang berarti "maka rasakanlah" (54:37 dan 54:39). Dalam kisah Nuh, Ad, dan Tsamud pasangan itu datang sebagai pertanyaan kepada pendengar, sedangkan dalam kisah kaum Lut pasangan yang sama diucapkan sebagai perintah kepada kaum yang sedang merasakannya. Kata nudzur sendiri sudah muncul di awal surah, (فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ, fa-maa tughni n-nudzuru) yang berarti "tetapi peringatan-peringatan tidak mencukupkan" (54:5).
Kata kerja (كَانَ, kaana) di tengah susunan itu menempatkan hal yang ditanyakan di masa lalu, pada sesuatu yang sudah terjadi. Kata tanya yang sama dipakai di 21 ayat dalam susunan "bagaimana kesudahan", misalnya di 3:137, (فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ, fa-siiruu fii l-ardhi fa-nzhuruu kayfa kaana 'aaqibatu l-mukadzdzibiina) yang berarti "maka berjalanlah di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan para pendusta". Di ayat-ayat itu manusia diminta berjalan dan melihat sendiri bekas kaum terdahulu. Di 54:16 pertanyaannya diajukan oleh Allah tentang azab dan peringatan-Nya sendiri, sesudah kisahnya selesai diceritakan.
Tafsiran
Ayat ini menutup kisah Nuh di surah ini dengan pertanyaan kedua. Pertanyaan pertama di 54:15 menanyakan adakah yang mau mengambil pelajaran, dan pertanyaan di ayat ini mengarahkan pendengar kepada Allah sendiri, kepada azab dan peringatan-Nya. Keduanya diajukan kepada pendengar surah, orang-orang yang di 54:2 berpaling setiap kali melihat tanda.
Ayat ini menyebut azab lebih dulu, lalu peringatan. Dalam kisahnya sendiri urutannya terbalik. Nuh lebih dulu menyeru kaumnya sebagai (نَذِيرٌ مُبِينٌ, nadziirun mubiinun) yang berarti "pemberi peringatan yang nyata" (71:2), dan menurut 29:14 dia tinggal bersama mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun sebelum banjir menimpa mereka. Peringatan berlangsung sangat lama, dan azab datang sesudahnya. Ayat 17:15 menyatakan aturan yang mendasari urutan itu, (وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا, wa-maa kunnaa mu'adzdzibiina hattaa nab'atsa rasuulan) yang berarti "dan Kami tidak akan menyiksa hingga Kami mengutus seorang rasul".
Dengan menyebut keduanya dalam satu kalimat, ayat ini memperlihatkan bahwa azab yang menimpa kaum Nuh tidak berdiri sendiri. Siapa pun yang menimbang kerasnya azab itu diajak menimbang juga panjangnya peringatan yang mendahuluinya. Pertanyaan yang sama diulang untuk Ad di 54:18 dan 54:21, dan untuk Tsamud di 54:30, sehingga setiap kisah dalam surah ini ditimbang dengan ukuran yang sama.
Renungan dan Hikmah
- Nuh tinggal bersama kaumnya seribu tahun kurang lima puluh tahun sebelum banjir menimpa mereka (29:14), dan sepanjang masa itu azab yang dia peringatkan belum juga datang. Jarak sepanjang itu mudah dibaca sebagai bukti bahwa peringatannya kosong. Allah menyatukan keduanya dalam satu kalimat, azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku, sehingga yang dahulu terpisah ratusan tahun tampak sebagai satu rangkaian. Peringatan yang lama tidak terbukti tetap bersambung dengan akibatnya. Berapa banyak peringatan dalam hidup seseorang yang dianggap sudah lewat semata karena akibatnya belum tiba?
- Allah tidak menutup kisah Nuh dengan kesimpulan yang sudah dirumuskan. Dia menutupnya dengan pertanyaan, dan jawabannya harus diucapkan oleh pendengar sendiri. Orang yang menjawab "betapa kerasnya" sedang menilai kaum Nuh dengan ukuran yang juga berlaku bagi dirinya. Penilaian yang sudah diucapkan sendiri sulit ditarik kembali ketika ukuran yang sama dikenakan kepada orang yang mengucapkannya. Pertanyaan ini menjadikan pendengarnya saksi atas kisah yang baru dia dengar, dan kesaksian itu ikut dibawa pulang.
- Kata azab-Ku di ayat ini memakai akhiran yang sama dengan rahmat-Ku di 7:156, tempat Allah menyatakan bahwa rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Keduanya milik Dia yang sama. Bencana yang menimpa sebuah kaum tidak terjadi di luar kehendak-Nya, dan kelapangan yang dinikmati seseorang juga tidak datang dari tempat lain. Di 14:7 arah keduanya dikaitkan dengan syukur dan kufur, tambahan nikmat bagi yang bersyukur dan azab yang keras bagi yang kufur. Ketika kabar tentang sebuah bencana terdengar, apakah yang teringat kerasnya saja, atau juga Pemilik yang rahmat-Nya lebih luas?
- Peringatan yang di ayat ini disebut Allah sebagai peringatan-peringatan-Ku disampaikan lewat seorang manusia yang oleh kaumnya disebut gila lalu dibentak (54:9). Pembawanya diremehkan, tetapi peringatannya tetap disandarkan kepada Allah. Dalam kisah ini, menolak pembawa pesan berujung pada menolak Pemilik pesan. Kebiasaan menilai sebuah nasihat dari kedudukan orang yang menyampaikannya berjalan di jalur yang sama. Kalau sebuah peringatan datang dari orang yang biasa diremehkan, apakah isinya masih sempat didengar?
- Ayat ini menyebut azab lebih dulu dan peringatan sesudahnya, kebalikan dari urutan kejadiannya. Urutan itu serupa dengan cara manusia sering menyadari sesuatu. Akibat terlihat lebih dulu, lalu ingatan menelusur ke belakang dan menemukan bahwa peringatannya sudah lama ada. Kaum Nuh tidak mendapat kesempatan menelusur itu, sebab air sudah datang. Pendengar kisah mereka menerima urutan yang sama dalam bentuk cerita, pada saat penelusuran itu masih dapat mengubah langkah.
- Pertanyaan di ayat ini tidak diajukan kepada kaum Nuh, sebab mereka sudah ditenggelamkan. Pertanyaan Allah diajukan kepada orang-orang yang masih hidup dan masih mendengar, dimulai dari mereka yang di 54:2 berpaling dari tanda. Kepada kaum yang sudah ditimpa azab, surah ini tidak mengajukan pertanyaan lagi, dan dalam kisah kaum Lut kata yang ditujukan kepada mereka berupa perintah "rasakanlah" (54:37). Selama sebuah pertanyaan masih diajukan, jawaban masih dapat diberikan. Pendengar yang masih ditanya berada di sisi kisah yang berbeda dari kaum Nuh.