وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Dan sungguh, Kami telah memudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran; maka, adakah yang mengambil pelajaran?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِwa-la-qad yassarnaa l-qur'aana li-dz-dzikridan sungguh, Kami telah memudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran
- فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍfa-hal min muddakirinmaka, adakah yang mengambil pelajaran
Terjemahan per kata (7 kata)
- وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
- يَسَّرْنَاyassarnaaKami memudahkan
- الْقُرْآنَl-qur'aanaAl-Qur'an
- لِلذِّكْرِli-dz-dzikriuntuk peringatan
- فَهَلْfa-halmaka apakah
- مِنْmindari
- مُدَّكِرٍmuddakirinorang yang mengambil pelajaran
Inti bacaan
Yassarnaa berobjek kitab tercatat di 19:97, 44:58, dan 54:17 beserta tiga ulangannya. Li-dz-dzikri menjadi tujuan, dan hal min dengan kata benda tak tentu tercatat di 12 ayat.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَلَقَدْ, wa-la-qad) yang berarti "dan sungguh". Susunan ini tercatat di 11 ayat surah ini, yaitu 54:4, 54:15, 54:17, 54:22, 54:32, 54:36, 54:37, 54:38, 54:40, 54:41, dan 54:51. Di ayat-ayat itu wa-la-qad mendahului pernyataan tentang sesuatu yang telah terjadi, misalnya berita yang telah datang (54:4), sesuatu yang ditinggalkan sebagai tanda (54:15), dan peringatan yang telah sampai kepada keluarga Firaun (54:41). Di ayat ini penegasan yang sama dipakai untuk perbuatan Allah terhadap kitab-Nya sendiri, dan kata kerjanya berbentuk lampau, (يَسَّرْنَا, yassarnaa) yang berarti "Kami telah memudahkan". Kemudahan itu dinyatakan sebagai sesuatu yang sudah selesai dikerjakan.
Kata kerja yassarnaa berakar ي-س-ر, dan kata kerja "memudahkan" dari akar ini tercatat di 11 ayat. Dua di antaranya berbicara tentang Al-Qur'an di luar surah ini, dan keduanya dibuka dengan (فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ, fa-innamaa yassarnaahu bi-lisaanika) yang berarti "maka sesungguhnya Kami memudahkannya dengan lidahmu" (19:97 dan 44:58). Di kedua ayat itu kemudahan datang lewat bahasa Rasul yang menyampaikannya. Di 19:97 tujuannya memberi kabar gembira kepada orang-orang yang bertakwa dan (وَتُنْذِرَ بِهِ قَوْمًا لُدًّا, wa-tundzira bihi qawman luddan) yang berarti "memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang". Di 44:58 tujuannya (لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ, la'allahum yatadzakkaruuna) yang berarti "agar mereka mengambil pelajaran", dengan kata kerja berakar ذ-ك-ر, akar yang sama dengan kata dzikr di ayat ini.
Kata kerja yang sama dipakai untuk manusia. Di 20:26 Musa memohon (وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي, wa-yassir lii amrii) yang berarti "dan mudahkanlah untukku urusanku", dan di 80:20 jalan dimudahkan bagi manusia sesudah dia diciptakan. Di 92:7 dan 92:10 bentuk yang sama, (فَسَنُيَسِّرُهُ, fa-sa-nuyassiruhu) yang berarti "maka Kami akan memudahkannya", disusul dua tujuan yang berlawanan, (لِلْيُسْرَىٰ, li-l-yusraa) yang berarti "menuju kemudahan" dan (لِلْعُسْرَىٰ, li-l-'usraa) yang berarti "menuju kesukaran". Huruf li di depan kedua kata itu menandai arah, dan perbedaan keduanya terletak pada arah itu. Di 54:17 arahnya disebut dengan huruf yang sama, (لِلذِّكْرِ, li-dz-dzikri) yang berarti "untuk pelajaran".
Kata (الْقُرْآنَ, l-qur'aana) yang berarti "Al-Qur'an" tercatat di surah ini di 4 ayat, yaitu 54:17, 54:22, 54:32, dan 54:40, dan keempatnya memuat kalimat yang sama. Kata dzikr tercatat di 5 ayat surah ini. Empat berada dalam kalimat yang sama itu, dan yang kelima di 54:25, ketika kaum Tsamud menolak utusan mereka dengan pertanyaan (أَأُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنْ بَيْنِنَا, a-ulqiya dz-dzikru 'alayhi min bayninaa) yang berarti "apakah peringatan dilemparkan kepadanya di antara kita?". Di luar surah ini Al-Qur'an sendiri disebut dengan kata itu, misalnya di 15:9, (نَزَّلْنَا الذِّكْرَ, nazzalnaa dz-dzikra) yang berarti "menurunkan peringatan", dan di 38:1, (وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ, wa-l-qur'aani dzii dz-dzikri) yang berarti "demi Al-Qur'an yang mengandung peringatan".
Di 15:9 dan 38:1 kata dzikr diterjemahkan "peringatan", sedangkan di ayat ini "pelajaran". Terjemahan "pelajaran" sejalan dengan pasangannya di ujung ayat, (فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ, fa-hal min muddakirin) yang berarti "maka adakah yang mengambil pelajaran?". Kata muddakir, yang sudah dibahas di 54:15, berakar ذ-ك-ر juga, sehingga awal dan akhir ayat ini membicarakan hal yang sama dari dua sisi, pelajaran yang disediakan dan orang yang mengambilnya. Kata (مِنْ, min) di depan muddakir melebarkan pertanyaan kepada siapa saja. Susunan hal min tercatat di 12 ayat, dan di 35:3 dipakai dalam pertanyaan (هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ, hal min khaaliqin ghayru llaahi) yang berarti "adakah pencipta selain Allah".
Tafsiran
Ayat ini keluar sejenak dari rangkaian kisah dan membicarakan kitab yang memuat kisah itu. Sampai 54:16 pendengar mengikuti kaum Nuh, air, dan bahtera. Di 54:17 pembicaraan beralih kepada Al-Qur'an sendiri, dengan pernyataan bahwa kitab itu telah dimudahkan untuk pelajaran. Kisah Nuh yang baru selesai termasuk isi yang dimudahkan itu.
Pernyataan ini berhadapan dengan pengakuan di awal surah. Di 54:5 berita yang sampai kepada para pendengar disebut hikmah yang sempurna, tetapi peringatan-peringatan tidak mencukupkan bagi mereka. Ayat ini menegaskan keadaan kitabnya, yaitu sudah dimudahkan. Kalau peringatan tetap tidak mencukupkan, hambatannya tidak terletak pada teks. Pertanyaan di ujung ayat menyerahkan sisa urusannya kepada pendengar.
Kalimat ini muncul di empat tempat, masing-masing sesudah sebuah kisah. Di 54:17 sesudah kisah Nuh, di 54:22 sesudah kisah Ad, di 54:32 sesudah kisah Tsamud, dan di 54:40 sesudah kisah kaum Lut. Sesudah kisah kelima, keluarga Firaun di 54:41-42, kalimat ini tidak muncul lagi, dan surah ini langsung menoleh kepada pendengarnya dengan pertanyaan (أَكُفَّارُكُمْ خَيْرٌ مِنْ أُولَٰئِكُمْ, a-kuffaarukum khayrun min ulaa'ikum) yang berarti "apakah orang-orang kufur kalian lebih baik daripada mereka itu" (54:43). Pertanyaan yang semula umum, adakah yang mengambil pelajaran, di sana menjadi pertanyaan yang langsung ditujukan kepada mereka. Pertanyaan adakah yang mengambil pelajaran baru muncul sekali lagi di 54:51, sesudah pernyataan bahwa Allah telah membinasakan orang-orang yang serupa dengan mereka.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyatakan kemudahan itu dengan kata kerja lampau, Kami telah memudahkan. Bagian-Nya sudah selesai. Rasa berat ketika hendak membuka Al-Qur'an mudah dijadikan alasan untuk menunda, seakan-akan kitab itu belum siap didekati. Ayat ini menyatakan keadaan yang sebaliknya, kitab itu sudah dimudahkan sejak sebelum pembacanya lahir. Penundaan yang dibenarkan dengan rasa berat bersandar pada anggapan yang oleh ayat ini dinyatakan keliru. Kalau kemudahan sudah disediakan sejak lama, apa lagi yang sedang ditunggu?
- Kata kerja yang dipakai untuk memudahkan Al-Qur'an dipakai juga di 92:10, tempat Allah memudahkan seseorang menuju kesukaran. Jalan yang lancar belum menjelaskan ke mana jalan itu berujung. Di 92:5-6 kemudahan menuju kemudahan dikaitkan dengan memberi, bertakwa, dan membenarkan yang terbaik, dan di 92:8-9 kemudahan menuju kesukaran dikaitkan dengan kikir, merasa cukup, dan mendustakan yang terbaik. Kemudahan yang disebut di 54:17 punya arah yang dinyatakan jelas, untuk pelajaran. Ke mana kelancaran yang sedang dinikmati hari ini membawa pemiliknya?
- Al-Qur'an dimudahkan lewat lisan utusan-Nya (19:97 dan 44:58), dan di 12:2 Allah menyebut tujuan diturunkannya dalam bahasa Arab, yaitu agar orang-orang yang disapanya berakal. Kemudahan itu diarahkan kepada pemahaman. Bacaan yang lancar tanpa pernah menanyakan artinya memakai sebagian dari kemudahan itu, sedangkan bagian yang menjadi tujuannya belum tersentuh. Bagi pembaca yang tidak berbahasa Arab, terjemahan dan penjelasan menjadi jalan menuju bagian itu, dan jalan itu pun termasuk kemudahan yang disediakan.
- Kaum Nuh mengetahui azab dengan mengalaminya sendiri, di dalam air. Pendengar surah ini mengetahui kisah yang sama lewat beberapa ayat yang dapat dibaca dalam satu kali duduk. Pengetahuan yang sama sampai dengan harga yang jauh berbeda. Kemudahan yang dinyatakan Allah di ayat ini mencakup keringanan itu, pelajaran dari kebinasaan orang lain diberikan tanpa perlu ikut binasa. Keringanan itu bernilai selama pelajarannya diambil sebelum pengalaman yang sama datang sendiri.
- Kalimat ini diulang Allah di empat tempat dengan kata-kata yang tidak berubah. Pendengar yang sampai pada pengulangan kedua sudah mengenal bunyinya, dan kalimat yang sudah dikenal mudah dilewati tanpa didengar lagi. Pengulangan menguji kebiasaan itu. Setiap kali kalimat ini muncul, kisah yang mendahuluinya berbeda, sehingga pertanyaan yang sama jatuh pada bahan yang baru. Apakah kalimat yang sudah dihafal masih terdengar sebagai pertanyaan, atau sudah menjadi bunyi yang lewat?
- Pertanyaan di ujung ayat ini tidak menyebut siapa yang ditanya. Tidak ada nama kaum, dan tidak ada kata ganti "kalian". Kata min di depan muddakir melebarkannya kepada siapa saja. Orang yang membaca ayat ini sendirian di kamarnya termasuk dalam jangkauan pertanyaan itu, sama dengan orang-orang yang pertama kali mendengarnya. Pertanyaan tanpa alamat tidak dapat dialihkan kepada orang lain, sebab setiap pembaca sama tepatnya untuk ditanya.