Ayat 54:19

إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي يَوْمِ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ

Sesungguhnya Kami mengirim kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus-menerus,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًاinnaa arsalnaa 'alayhim riihan sharsharansesungguhnya Kami mengirim kepada mereka angin yang sangat kencang
  2. فِي يَوْمِ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّfii yawmi nahsin mustamirrinpada hari nahas yang terus-menerus

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
  2. أَرْسَلْنَاarsalnaaKami mengutus
  3. عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
  4. رِيحًاriihanangin
  5. صَرْصَرًاsharsharanyang sangat dingin
  6. فِيfiipada
  7. يَوْمِyawmiHari
  8. نَحْسٍnahsinyang nahas
  9. مُسْتَمِرٍّmustamirrinyang terus-menerus

Inti bacaan

Arsalnaa 'alayhim tercatat di 9 ayat untuk kiriman yang menimpa, berbeda dengan arsalnaa ilaa untuk utusan. Sharsar tercatat di tiga ayat, semuanya tentang Ad, dan akar nahs juga di tiga.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ, innaa arsalnaa 'alayhim) yang berarti "sesungguhnya Kami mengirim kepada mereka". Susunan yang sama membuka tiga ayat dalam surah ini, yaitu 54:19 untuk Ad, 54:31 untuk Tsamud dengan (صَيْحَةً وَاحِدَةً, shayhatan waahidatan) yang berarti "satu suara menggelegar", dan 54:34 untuk kaum Lut dengan (حَاصِبًا, haashiban) yang berarti "badai batu". Susunan arsalnaa 'alayhim tercatat di 9 ayat, dan di semuanya kiriman itu menimpa suatu kaum. Di 7:133 yang dikirim banjir, belalang, kutu, katak, dan darah, di 34:16 banjir bendungan, dan di 33:9 angin serta bala tentara yang tidak terlihat, dikirim kepada bala tentara yang datang kepada orang-orang beriman.

Kata kerja arsala berakar ر-س-ل, akar yang juga dipakai untuk mengutus rasul. Perbedaannya tampak pada kata depan sesudahnya. Di 7:59 Allah berfirman (أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ, arsalnaa nuuhan ilaa qawmihi) yang berarti "Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya", dengan kata depan ilaa. Untuk angin di ayat ini, suara di 54:31, dan badai batu di 54:34, kata depannya 'alaa, dalam bentuk 'alayhim. Terjemahan ayat ini memakai kata "kepada", sama dengan 7:59, sedangkan 54:31 dan 54:34 memakai "atas". Teks Arabnya konsisten memakai dua kata depan yang berbeda, satu untuk utusan yang datang kepada sebuah kaum dan satu untuk azab yang dikirim atas mereka.

Isi kiriman itu (رِيحًا صَرْصَرًا, riihan sharsharan) yang berarti "angin yang sangat kencang". Kata sharsar tercatat di 3 ayat, 41:16, 54:19, dan 69:6, dan ketiganya menyifati angin yang dikirim kepada Ad. Susunan hurufnya mengulang pasangan huruf ص dan ر. Terjemahan di 41:16 dan 69:6 memuat unsur dingin, dan 69:6 menambahkan sifat (عَاتِيَةٍ, 'aatiyatin) yang berarti "yang menderu". Di ayat ini terjemahannya "sangat kencang", mengikuti apa yang dikerjakan angin itu di ayat berikutnya, yaitu mencabut manusia (54:20). Di 51:41 angin yang sama disebut (الرِّيحَ الْعَقِيمَ, ar-riiha l-'aqiima) yang berarti "angin yang membinasakan". Kata 'aqiim di 42:50 dan 51:29 dipakai untuk orang yang mandul, sehingga sebutan itu menggambarkan angin yang tidak membawa kehidupan.

Waktunya (فِي يَوْمِ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ, fii yawmi nahsin mustamirrin) yang berarti "pada hari nahas yang terus-menerus". Kata yawm di sini tunggal, sedangkan 41:16 memakai bentuk jamak, (أَيَّامٍ نَحِسَاتٍ, ayyaamin nahisaatin) yang berarti "hari-hari yang nahas", dan 69:7 menyebut lamanya, (سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ, sab'a layaalin wa-tsamaaniyata ayyaamin) yang berarti "tujuh malam dan delapan hari". Kata mustamirr, yang di 54:2 dipakai orang-orang yang berpaling untuk menyebut tanda sebagai sihir, menjembatani keduanya. Hari yang disebut tunggal di ayat ini terus berlangsung sampai genap delapan hari. Akar ن-ح-س tercatat di 3 ayat. Selain 41:16 dan ayat ini, akar itu muncul di 55:35 dalam kata (وَنُحَاسٌ, wa-nuhaasun) yang berarti "cairan tembaga", dan kiriman itu pun disebut dengan kata kerja yang sama, (يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا, yursalu 'alaykumaa) yang berarti "dikirimkan kepada kalian".

Tafsiran

Ayat ini menjawab pertanyaan yang diajukan di 54:18. Pendustaan Ad disebut dengan dua kata, dan jawabannya menempati satu ayat penuh ditambah ayat sesudahnya. Pelakunya pun berganti. Di 54:18 Ad yang berbuat, dan di 54:19 Allah yang berbuat, dengan kata innaa di depan sebagai penegasan.

Angin yang dikirim kepada Ad sejenis dengan angin yang di tempat lain membawa rahmat. Di 7:57 Allah disebut (يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ, yursilu r-riyaaha busyran bayna yaday rahmatihi) yang berarti "mengirimkan angin sebagai kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya", dan di 15:22 angin dikirim (لَوَاقِحَ, lawaaqiha) yang berarti "yang mengawinkan", lalu air turun dari langit dan diminum manusia. Kata kerjanya sama, arsala, dan isi kirimannya berlainan.

Angin tidak bergerak menurut kehendaknya sendiri. Di 46:25 angin yang menimpa Ad disebut menghancurkan segala sesuatu (بِأَمْرِ رَبِّهَا, bi-amri rabbihaa) yang berarti "dengan perintah Tuhannya". Kata "Tuhannya" di situ merujuk kepada angin, sehingga angin itu digambarkan sebagai makhluk yang punya Tuhan dan menjalankan perintah-Nya. Angin yang membawa awan hujan dan angin yang mencabut manusia tunduk kepada perintah yang sama, dan perbedaan keduanya terletak pada perintah yang dibawanya.

Renungan dan Hikmah

  • Ketika Ad melihat azab itu datang sebagai awan menuju lembah-lembah mereka, mereka berkata (هَٰذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا, haadzaa 'aaridhun mumthirunaa) yang berarti "ini awan yang akan menurunkan hujan kepada kita" (46:24). Kaum yang sudah diperingatkan melihat tanda bahaya dan membacanya sebagai kabar baik. Kebiasaan membaca setiap keadaan dengan harapan sendiri membuat tanda yang jelas pun terbaca keliru. Adakah keadaan hari ini yang sedang dibaca sebagai awan hujan, padahal Allah sudah memberi peringatan tentangnya?
  • Ayat ini menyebut hari nahas, dan kata itu mudah ditarik menjadi keyakinan tentang hari-hari sial. Teksnya tidak mendukung tarikan itu. Hari itu nahas bagi Ad karena azab yang turun di dalamnya, dan 69:7 menyebut lamanya tujuh malam dan delapan hari berturut-turut, rentang yang melewati setiap hari dalam sepekan. Di 36:19 para utusan menjawab kaum yang menganggap mereka pembawa sial, (طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ, thaa'irukum ma'akum) yang berarti "kesialan kalian ada pada diri kalian sendiri", dan di 7:131 nasib itu disebut berada di sisi Allah.
  • Allah mengutus Hud kepada Ad lebih dulu, dan baru sesudah utusan itu didustakan angin dikirim atas mereka. Dua kiriman itu dibedakan oleh kata depannya, ilaa untuk utusan dan 'alaa untuk azab. Dalam kisah-kisah ini, kiriman kedua tidak pernah datang sebelum kiriman pertama. Kiriman pertama berupa kata-kata, sehingga masih dapat ditolak, ditawar, atau ditunda. Kiriman kedua tidak lagi menunggu jawaban. Kiriman mana yang sedang dihadapi hari ini, dan masih berapa lama kata-kata itu dapat dijawab?
  • Di 41:16 kisah angin yang sama ditutup dengan (وَهُمْ لَا يُنْصَرُونَ, wa-hum laa yunsharuuna) yang berarti "dan mereka tidak ditolong". Kata itu berakar sama dengan doa Nuh di 54:10, (فَانْتَصِرْ, fa-ntashir) yang berarti "maka tolonglah". Nuh meminta pertolongan kepada Tuhannya, dan pertolongan itu datang bersama air yang mengangkut bahteranya. Ad mengandalkan kekuatan sendiri (41:15), dan ketika angin datang tidak ada yang menolong mereka. Saat keadaan berbalik, pertolongan yang tersedia bergantung pada kepada siapa seseorang terbiasa memintanya.
  • Hud memperingatkan kaumnya dengan kalimat (إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ, innii akhaafu 'alaykum 'adzaaba yawmin 'azhiimin) yang berarti "sesungguhnya aku khawatir kalian ditimpa azab pada hari yang agung" (46:21). Hari yang dia sebut benar-benar datang, dan ayat ini menamainya hari nahas. Peringatan tentang sebuah hari mudah terdengar jauh, karena hari itu belum tampak di kalender siapa pun. Bagi Ad jarak itu habis. Al-Qur'an juga memperingatkan pembacanya tentang sebuah hari, dan kisah ini memperlihatkan bahwa hari yang diperingatkan Allah lewat utusan-Nya tiba pada waktunya.
  • Di 45:13 Allah menyatakan (وَسَخَّرَ لَكُمْ, wa-sakhkhara lakum) yang berarti "dan Dia telah menundukkan untuk kalian" apa yang ada di langit dan di bumi. Angin Ad disebut dengan kata kerja yang sama di 69:7, (سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ, sakhkharahaa 'alayhim) yang berarti "Dia menimpakannya atas mereka". Kekuatan alam yang ditundukkan untuk manusia tetap berada di tangan Dia yang menundukkannya, dan kata depannya dapat berganti dari lakum menjadi 'alayhim. Rasa menguasai alam, dengan segala alat yang dibuat manusia, bersandar pada penundukan yang diberikan kepadanya, dan pemberian itu tetap berada di tangan Pemberinya.

Ayat 54:20

تَنْزِعُ النَّاسَ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ مُنْقَعِرٍ

yang mencabut manusia, seakan-akan mereka pangkal-pangkal pohon kurma yang tumbang.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. تَنْزِعُ النَّاسَtanzi'u n-naasayang mencabut manusia
  2. كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ مُنْقَعِرٍka-annahum a'jaazu nakhlin munqa'irinseakan-akan mereka pangkal-pangkal pohon kurma yang tumbang

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. تَنْزِعُtanzi'umencabut
  2. النَّاسَn-naasamanusia
  3. كَأَنَّهُمْka-annahumseakan-akan mereka
  4. أَعْجَازُa'jaazupangkal
  5. نَخْلٍnakhlinpohon kurma
  6. مُنْقَعِرٍmunqa'irinyang tercabut

Inti bacaan

Pencabutan dengan pelaku Allah dipakai juga di 3:26, untuk kekuasaan. Perumpamaan pohon kurma yang rebah terulang di 69:7 dengan sifat khaawiyah, sedangkan munqa'ir di sini tidak punya kerabat di seluruh korpus.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini melanjutkan 54:19 tanpa kata sambung. Kata kerjanya (تَنْزِعُ, tanzi'u) yang berarti "mencabut", dan pelakunya angin yang disebut di ayat sebelumnya. Akarnya, ن-ز-ع, tercatat di 20 ayat, dan bentuk tanzi'u muncul di 2 ayat. Di 3:26 bentuk yang sama ditujukan kepada Allah, (وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ, wa-tanzi'u l-mulka mimman tasyaa'u) yang berarti "dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki". Di 54:20 yang dicabut manusia, dan pencabutnya angin yang bergerak dengan perintah Tuhannya (46:25).

Beberapa ayat lain memakai kata kerja ini untuk mencabut sesuatu dari tempat yang melekatinya. Di 7:43 Allah menyatakan (وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ, wa-naza'naa maa fii shuduurihim min ghillin) yang berarti "dan Kami mencabut dari dada mereka rasa dendam yang ada", tentang para penghuni surga. Di 11:9 rahmat yang sudah dicicipkan kepada manusia disebut (ثُمَّ نَزَعْنَاهَا مِنْهُ, tsumma naza'naahaa minhu) yang berarti "kemudian Kami cabut kembali darinya". Dalam contoh-contoh itu yang dicabut perasaan, rahmat, dan kekuasaan, sedangkan di ayat ini manusia sendiri yang tercabut dari tanahnya.

Sasaran kata kerja itu (النَّاسَ, n-naasa) yang berarti "manusia". Ayat sebelumnya menyebut kaum Ad dengan kata ganti "mereka", sedangkan ayat ini memakai kata umum untuk manusia. Kata ganti kembali muncul sesudahnya, (كَأَنَّهُمْ, ka-annahum) yang berarti "seakan-akan mereka", susunan yang di surah ini dipakai juga di 54:7 untuk manusia yang keluar dari kubur.

Perumpamaannya (أَعْجَازُ نَخْلٍ, a'jaazu nakhlin) yang berarti "pangkal-pangkal pohon kurma". Kata a'jaaz tercatat di 2 ayat, keduanya tentang Ad. Di 69:7 kaum yang bergelimpangan diumpamakan pangkal kurma (خَاوِيَةٍ, khaawiyatin) yang berarti "yang lapuk", dan di ayat ini (مُنْقَعِرٍ, munqa'irin) yang berarti "yang tumbang". Akar ق-ع-ر tidak tercatat di ayat lain, sehingga maknanya dibaca dari kalimatnya, yaitu pangkal pohon yang tercabut dari tempatnya, sejalan dengan kata kerja tanzi'u di awal ayat. Akar خ-و-ي dipakai di 27:52 untuk (بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً, buyuutuhum khaawiyatan) yang berarti "rumah-rumah mereka yang kosong", tentang Tsamud. Dua perumpamaan itu menggambarkan dua keadaan, pohon yang baru tumbang dan pohon yang sudah kosong di dalamnya.

Akar a'jaaz, ع-ج-ز, tercatat di 25 ayat. Di 19 ayat akar ini berkaitan dengan lemah, tidak mampu, atau berusaha melemahkan, misalnya di 8:59, (إِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُونَ, innahum laa yu'jizuuna) yang berarti "sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkan", dan di 4 ayat untuk perempuan yang sudah tua, seperti (عَجُوزٌ, 'ajuuzun) di 11:72. Kata (نَخْلٍ, nakhlin) yang berarti "pohon kurma" tercatat di 11 ayat. Di 50:10 pohon kurma disebut (بَاسِقَاتٍ, baasiqaatin) yang berarti "yang tinggi", dan 50:11 menyebutnya (رِزْقًا لِلْعِبَادِ, rizqan li-l-'ibaadi) yang berarti "rezeki bagi hamba-hamba". Pohon yang di sana berdiri tinggi sebagai rezeki, di ayat ini menjadi gambaran manusia yang tumbang.

Tafsiran

Ayat ini menyelesaikan gambaran azab Ad dengan perumpamaan yang dapat dibayangkan mata. Angin yang disebut di 54:19 digambarkan lewat akibatnya pada manusia. Mereka tercabut dan tergeletak seperti batang kurma yang tumbang dari pangkalnya.

Perumpamaan itu berhadapan dengan gambaran Ad di tempat lain. Di 89:6-7 kaum Ad disebut bersama (إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ, irama dzaati l-'imaadi) yang berarti "Iram yang mempunyai tiang-tiang tinggi", dan 89:8 menyatakan tidak ada yang diciptakan seperti itu di negeri-negeri. Kaum yang dikenal dengan tiang-tiangnya diumpamakan batang pohon yang rebah. Tiang-tiang Iram dan tubuh mereka sendiri sama-sama berdiri tegak, dan di ayat ini tubuh itu terbaring seperti pangkal pohon yang tercabut.

Dalam kisah Ad di surah ini, tidak ada orang yang disebut diselamatkan. Kisah Nuh mencatat bahtera dan penumpangnya (54:13), dan kisah kaum Lut mencatat keluarga Lut yang diselamatkan sebelum fajar (54:34). Kisah Ad berhenti pada manusia yang tumbang, lalu pada pertanyaan di 54:21. Keselamatan Hud dan orang-orang yang beriman bersamanya tercatat di tempat lain, (نَجَّيْنَا هُودًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ, najjaynaa huudan wa-lladziina aamanuu ma'ahu) yang berarti "Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersamanya" (11:58). Surah ini memusatkan kisah Ad pada akibat pendustaan, dan pembaca yang ingin mengetahui nasib Hud diarahkan ke surah lain.

Renungan dan Hikmah

  • Hud menegur kaumnya karena membuat bangunan-bangunan (لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ, la'allakum takhluduuna) yang berarti "dengan harapan kalian akan kekal" (26:129). Sesudah angin itu, 46:25 mencatat (لَا يُرَىٰ إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ, laa yuraa illaa masaakinuhum) yang berarti "tidak terlihat kecuali tempat-tempat tinggal mereka". Bangunannya bertahan, dan pembangunnya tumbang seperti pangkal kurma. Harapan kekal yang dititipkan pada karya tangan sendiri tidak ikut menyelamatkan pemiliknya. Apa yang sedang dibangun hari ini dengan harapan membuat pembangunnya bertahan?
  • Bentuk tanzi'u di ayat ini sama dengan bentuk yang di 3:26 dipakai untuk Allah yang mencabut kekuasaan dari siapa yang Dia kehendaki. Kekuasaan, kedudukan, dan rasa aman sering terasa tertanam sedalam akar pohon. Kaum Ad pun tertanam kuat di negerinya sampai angin mencabut mereka seperti pohon yang tumbang. Pemberian yang terasa sudah menjadi bagian dari diri tetap dapat diambil kembali oleh Pemberinya. Apa yang sedang digenggam hari ini seakan-akan tidak mungkin dicabut?
  • Sasaran angin di ayat ini disebut dengan kata umum an-naas, manusia, dan kata ganti "mereka" baru muncul sesudahnya. Kata yang sama dipakai Allah untuk menyapa pembaca Al-Qur'an, seperti di 35:3, "wahai manusia". Orang-orang yang tercabut itu manusia seperti pembacanya, dengan tubuh, rumah, dan harapan yang serupa. Membaca kisah mereka sebagai kisah orang lain yang jauh berbeda membuat pelajarannya tidak pernah sampai. Apakah kisah Ad dibaca sebagai kisah tentang orang lain, atau tentang manusia?
  • Kata kerja yang di ayat ini mencabut manusia dari tanahnya dipakai di 7:43 untuk sesuatu yang dicabut Allah dari dada penghuni surga, yaitu rasa dendam. Pencabutan dapat menjadi azab dan dapat menjadi karunia, tergantung pada apa yang dicabut. Dendam, iri, dan kebencian yang tertanam lama di dalam dada sulit dicabut oleh pemiliknya sendiri. Adakah sesuatu yang tertanam di dalam diri yang lebih baik dimohonkan kepada Allah untuk dicabut?
  • Kaum yang dahulu memandang dirinya tanpa tanding berakhir sebagai perumpamaan bagi generasi sesudahnya, seakan-akan pangkal-pangkal pohon kurma yang tumbang. Di 25:38 Ad disebut bersama Tsamud dan penduduk Rass, dan ayat sesudahnya menyatakan (وَكُلًّا ضَرَبْنَا لَهُ الْأَمْثَالَ, wa-kullan dharabnaa lahu l-amtsaala) yang berarti "dan masing-masing Kami buatkan baginya perumpamaan-perumpamaan" (25:39). Setiap kaum hidup di antara perumpamaan tentang kaum sebelumnya, dan suatu saat menjadi perumpamaan bagi kaum sesudahnya. Perumpamaan macam apa yang kelak ditarik dari hidup kita?
  • Allah memilih gambaran dari tumbuhan yang di 50:10-11 disebut sebagai rezeki bagi hamba-hamba-Nya, pohon kurma, kali ini dalam keadaan tumbang. Orang yang pernah melihat pohon besar rebah sesudah angin kencang dapat membayangkan ayat ini tanpa penjelasan panjang. Gambaran semacam itu termasuk kemudahan yang disebut di 54:17 dan diulang di 54:22 sesudah kisah Ad. Pohon yang tumbang di pinggir jalan sesudah badai dapat menjadi pengingat kecil akan ayat ini, asal pemandangan itu tidak berlalu sebagai berita cuaca saja.