تَنْزِعُ النَّاسَ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ مُنْقَعِرٍ

yang mencabut manusia, seakan-akan mereka pangkal-pangkal pohon kurma yang tumbang.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. تَنْزِعُ النَّاسَtanzi'u n-naasayang mencabut manusia
  2. كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ مُنْقَعِرٍka-annahum a'jaazu nakhlin munqa'irinseakan-akan mereka pangkal-pangkal pohon kurma yang tumbang

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. تَنْزِعُtanzi'umencabut
  2. النَّاسَn-naasamanusia
  3. كَأَنَّهُمْka-annahumseakan-akan mereka
  4. أَعْجَازُa'jaazupangkal
  5. نَخْلٍnakhlinpohon kurma
  6. مُنْقَعِرٍmunqa'irinyang tercabut

Inti bacaan

Pencabutan dengan pelaku Allah dipakai juga di 3:26, untuk kekuasaan. Perumpamaan pohon kurma yang rebah terulang di 69:7 dengan sifat khaawiyah, sedangkan munqa'ir di sini tidak punya kerabat di seluruh korpus.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini melanjutkan 54:19 tanpa kata sambung. Kata kerjanya (تَنْزِعُ, tanzi'u) yang berarti "mencabut", dan pelakunya angin yang disebut di ayat sebelumnya. Akarnya, ن-ز-ع, tercatat di 20 ayat, dan bentuk tanzi'u muncul di 2 ayat. Di 3:26 bentuk yang sama ditujukan kepada Allah, (وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ, wa-tanzi'u l-mulka mimman tasyaa'u) yang berarti "dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki". Di 54:20 yang dicabut manusia, dan pencabutnya angin yang bergerak dengan perintah Tuhannya (46:25).

Beberapa ayat lain memakai kata kerja ini untuk mencabut sesuatu dari tempat yang melekatinya. Di 7:43 Allah menyatakan (وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ, wa-naza'naa maa fii shuduurihim min ghillin) yang berarti "dan Kami mencabut dari dada mereka rasa dendam yang ada", tentang para penghuni surga. Di 11:9 rahmat yang sudah dicicipkan kepada manusia disebut (ثُمَّ نَزَعْنَاهَا مِنْهُ, tsumma naza'naahaa minhu) yang berarti "kemudian Kami cabut kembali darinya". Dalam contoh-contoh itu yang dicabut perasaan, rahmat, dan kekuasaan, sedangkan di ayat ini manusia sendiri yang tercabut dari tanahnya.

Sasaran kata kerja itu (النَّاسَ, n-naasa) yang berarti "manusia". Ayat sebelumnya menyebut kaum Ad dengan kata ganti "mereka", sedangkan ayat ini memakai kata umum untuk manusia. Kata ganti kembali muncul sesudahnya, (كَأَنَّهُمْ, ka-annahum) yang berarti "seakan-akan mereka", susunan yang di surah ini dipakai juga di 54:7 untuk manusia yang keluar dari kubur.

Perumpamaannya (أَعْجَازُ نَخْلٍ, a'jaazu nakhlin) yang berarti "pangkal-pangkal pohon kurma". Kata a'jaaz tercatat di 2 ayat, keduanya tentang Ad. Di 69:7 kaum yang bergelimpangan diumpamakan pangkal kurma (خَاوِيَةٍ, khaawiyatin) yang berarti "yang lapuk", dan di ayat ini (مُنْقَعِرٍ, munqa'irin) yang berarti "yang tumbang". Akar ق-ع-ر tidak tercatat di ayat lain, sehingga maknanya dibaca dari kalimatnya, yaitu pangkal pohon yang tercabut dari tempatnya, sejalan dengan kata kerja tanzi'u di awal ayat. Akar خ-و-ي dipakai di 27:52 untuk (بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً, buyuutuhum khaawiyatan) yang berarti "rumah-rumah mereka yang kosong", tentang Tsamud. Dua perumpamaan itu menggambarkan dua keadaan, pohon yang baru tumbang dan pohon yang sudah kosong di dalamnya.

Akar a'jaaz, ع-ج-ز, tercatat di 25 ayat. Di 19 ayat akar ini berkaitan dengan lemah, tidak mampu, atau berusaha melemahkan, misalnya di 8:59, (إِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُونَ, innahum laa yu'jizuuna) yang berarti "sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkan", dan di 4 ayat untuk perempuan yang sudah tua, seperti (عَجُوزٌ, 'ajuuzun) di 11:72. Kata (نَخْلٍ, nakhlin) yang berarti "pohon kurma" tercatat di 11 ayat. Di 50:10 pohon kurma disebut (بَاسِقَاتٍ, baasiqaatin) yang berarti "yang tinggi", dan 50:11 menyebutnya (رِزْقًا لِلْعِبَادِ, rizqan li-l-'ibaadi) yang berarti "rezeki bagi hamba-hamba". Pohon yang di sana berdiri tinggi sebagai rezeki, di ayat ini menjadi gambaran manusia yang tumbang.

Tafsiran

Ayat ini menyelesaikan gambaran azab Ad dengan perumpamaan yang dapat dibayangkan mata. Angin yang disebut di 54:19 digambarkan lewat akibatnya pada manusia. Mereka tercabut dan tergeletak seperti batang kurma yang tumbang dari pangkalnya.

Perumpamaan itu berhadapan dengan gambaran Ad di tempat lain. Di 89:6-7 kaum Ad disebut bersama (إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ, irama dzaati l-'imaadi) yang berarti "Iram yang mempunyai tiang-tiang tinggi", dan 89:8 menyatakan tidak ada yang diciptakan seperti itu di negeri-negeri. Kaum yang dikenal dengan tiang-tiangnya diumpamakan batang pohon yang rebah. Tiang-tiang Iram dan tubuh mereka sendiri sama-sama berdiri tegak, dan di ayat ini tubuh itu terbaring seperti pangkal pohon yang tercabut.

Dalam kisah Ad di surah ini, tidak ada orang yang disebut diselamatkan. Kisah Nuh mencatat bahtera dan penumpangnya (54:13), dan kisah kaum Lut mencatat keluarga Lut yang diselamatkan sebelum fajar (54:34). Kisah Ad berhenti pada manusia yang tumbang, lalu pada pertanyaan di 54:21. Keselamatan Hud dan orang-orang yang beriman bersamanya tercatat di tempat lain, (نَجَّيْنَا هُودًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ, najjaynaa huudan wa-lladziina aamanuu ma'ahu) yang berarti "Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersamanya" (11:58). Surah ini memusatkan kisah Ad pada akibat pendustaan, dan pembaca yang ingin mengetahui nasib Hud diarahkan ke surah lain.

Renungan dan Hikmah

  • Hud menegur kaumnya karena membuat bangunan-bangunan (لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ, la'allakum takhluduuna) yang berarti "dengan harapan kalian akan kekal" (26:129). Sesudah angin itu, 46:25 mencatat (لَا يُرَىٰ إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ, laa yuraa illaa masaakinuhum) yang berarti "tidak terlihat kecuali tempat-tempat tinggal mereka". Bangunannya bertahan, dan pembangunnya tumbang seperti pangkal kurma. Harapan kekal yang dititipkan pada karya tangan sendiri tidak ikut menyelamatkan pemiliknya. Apa yang sedang dibangun hari ini dengan harapan membuat pembangunnya bertahan?
  • Bentuk tanzi'u di ayat ini sama dengan bentuk yang di 3:26 dipakai untuk Allah yang mencabut kekuasaan dari siapa yang Dia kehendaki. Kekuasaan, kedudukan, dan rasa aman sering terasa tertanam sedalam akar pohon. Kaum Ad pun tertanam kuat di negerinya sampai angin mencabut mereka seperti pohon yang tumbang. Pemberian yang terasa sudah menjadi bagian dari diri tetap dapat diambil kembali oleh Pemberinya. Apa yang sedang digenggam hari ini seakan-akan tidak mungkin dicabut?
  • Sasaran angin di ayat ini disebut dengan kata umum an-naas, manusia, dan kata ganti "mereka" baru muncul sesudahnya. Kata yang sama dipakai Allah untuk menyapa pembaca Al-Qur'an, seperti di 35:3, "wahai manusia". Orang-orang yang tercabut itu manusia seperti pembacanya, dengan tubuh, rumah, dan harapan yang serupa. Membaca kisah mereka sebagai kisah orang lain yang jauh berbeda membuat pelajarannya tidak pernah sampai. Apakah kisah Ad dibaca sebagai kisah tentang orang lain, atau tentang manusia?
  • Kata kerja yang di ayat ini mencabut manusia dari tanahnya dipakai di 7:43 untuk sesuatu yang dicabut Allah dari dada penghuni surga, yaitu rasa dendam. Pencabutan dapat menjadi azab dan dapat menjadi karunia, tergantung pada apa yang dicabut. Dendam, iri, dan kebencian yang tertanam lama di dalam dada sulit dicabut oleh pemiliknya sendiri. Adakah sesuatu yang tertanam di dalam diri yang lebih baik dimohonkan kepada Allah untuk dicabut?
  • Kaum yang dahulu memandang dirinya tanpa tanding berakhir sebagai perumpamaan bagi generasi sesudahnya, seakan-akan pangkal-pangkal pohon kurma yang tumbang. Di 25:38 Ad disebut bersama Tsamud dan penduduk Rass, dan ayat sesudahnya menyatakan (وَكُلًّا ضَرَبْنَا لَهُ الْأَمْثَالَ, wa-kullan dharabnaa lahu l-amtsaala) yang berarti "dan masing-masing Kami buatkan baginya perumpamaan-perumpamaan" (25:39). Setiap kaum hidup di antara perumpamaan tentang kaum sebelumnya, dan suatu saat menjadi perumpamaan bagi kaum sesudahnya. Perumpamaan macam apa yang kelak ditarik dari hidup kita?
  • Allah memilih gambaran dari tumbuhan yang di 50:10-11 disebut sebagai rezeki bagi hamba-hamba-Nya, pohon kurma, kali ini dalam keadaan tumbang. Orang yang pernah melihat pohon besar rebah sesudah angin kencang dapat membayangkan ayat ini tanpa penjelasan panjang. Gambaran semacam itu termasuk kemudahan yang disebut di 54:17 dan diulang di 54:22 sesudah kisah Ad. Pohon yang tumbang di pinggir jalan sesudah badai dapat menjadi pengingat kecil akan ayat ini, asal pemandangan itu tidak berlalu sebagai berita cuaca saja.