فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ

Maka, betapa azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku!

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِfa-kayfa kaana 'adzaabii wa-nudzurimaka, betapa azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَكَيْفَfa-kayfamaka bagaimana
  2. كَانَkaanaadalah
  3. عَذَابِي'adzaabiiazab-Ku
  4. وَنُذُرِwa-nudzuridan peringatan-peringatan-Ku

Inti bacaan

Ulangan huruf demi huruf dari 54:16 yang menutup kisah Ad, setelah pertanyaan serupa membukanya di 54:18. Di 41:16, 46:24, dan 11:58 azab Ad diberi sifat khizy, aliim, dan ghaliizh, sedangkan di sini azab disandarkan kepada Allah tanpa sifat.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ, fa-kayfa kaana 'adzaabii wa-nudzuri) yang berarti "maka, betapa azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku!", dan bunyinya sama huruf demi huruf dengan 54:16. Paruh yang sama juga menutup 54:18. Uraian tentang kata tanya fa-kayfa, kata kerja kaana, dan pasangan azab-Ku dengan peringatan-peringatan-Ku ada di 54:16. Di sini pembahasannya tertuju pada isi kedua kata benda itu dalam kisah Ad, sebab pertanyaan ini datang sesudah 54:19-20 menggambarkan apa yang menimpa mereka.

Kisah Ad diceritakan juga di beberapa surah lain, dan di sana azab yang menimpa mereka diberi sifat. Di 41:16 angin itu dikirim agar mereka merasakan (عَذَابَ الْخِزْيِ, 'adzaaba l-khizyi) yang berarti "azab yang menghinakan" dalam kehidupan dunia. Di 46:24 awan yang mereka sangka membawa hujan ternyata (رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ, riihun fiihaa 'adzaabun aliimun) yang berarti "angin yang mengandung azab yang pedih". Di 11:58 Hud dan orang-orang yang beriman bersamanya diselamatkan dari (عَذَابٍ غَلِيظٍ, 'adzaabin ghaliizhin) yang berarti "azab yang dahsyat". Ketiga sifat itu menyebut kehinaan, rasa pedih, dan beratnya azab. Di ayat ini kata azab tidak diberi sifat. Tempat sifat itu diisi akhiran -ii, "-Ku", yang menyandarkan azab kepada Allah, dan isinya sudah digambarkan dua ayat sebelumnya, angin yang sangat kencang pada hari nahas (54:19) yang mencabut manusia seakan-akan mereka pangkal-pangkal pohon kurma yang tumbang (54:20). Bentuk (عَذَابِي, 'adzaabii) tercatat di 9 ayat. Di 14:7 dan 15:50 bentuk itu masih diberi keterangan, keras dan pedih, sedangkan keenam kemunculannya di surah ini, termasuk ayat ini, berdiri tanpa keterangan.

Dalam percakapan Hud dengan kaumnya di surah 26, akar ع-ذ-ب muncul di kedua pihak. Hud berkata (إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ, innii akhaafu 'alaykum 'adzaaba yawmin 'azhiimin) yang berarti "sesungguhnya aku takut atas kalian akan azab pada hari yang agung" (26:135), kalimat yang juga tercatat di 46:21. Kaumnya menjawab tiga ayat kemudian dengan kata dari akar yang sama, (وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ, wa-maa nahnu bi-mu'adzdzabiina) yang berarti "dan kami sama sekali tidak akan diazab" (26:138). Kata azab di ayat ini datang sesudah kedua ucapan itu diuji oleh kejadian.

Kata (نُذُرِ, nudzuri) di ujung ayat diterjemahkan "peringatan-peringatan-Ku", berpasangan dengan azab-Ku di depannya. Kaum Ad menyebut seruan Hud dengan kata lain. Mereka berkata (سَوَاءٌ عَلَيْنَا, sawaa'un 'alaynaa) yang berarti "sama saja bagi kami", lalu (أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ, a-wa'azhta am lam takun mina l-waa'izhiina) yang berarti "apakah engkau memberi nasihat atau tidak termasuk orang-orang yang memberi nasihat" (26:136). Kata wa'azha berakar و-ع-ظ, dan mereka menyandarkannya kepada Hud sebagai pemberi nasihat. Kaum Ad memperlakukan seruan itu sebagai nasihat seorang manusia yang boleh didengar atau diabaikan, sedangkan ayat ini menempatkannya berdampingan dengan azab milik Allah.

Tafsiran

Ayat ini menutup kisah Ad dengan pertanyaan yang juga membukanya di 54:18. Di antara kisah-kisah dalam surah ini, kisah Ad dibingkai pertanyaan yang sama di kedua ujungnya. Kisah Nuh mendapatkan pertanyaan itu di akhir saja (54:16), dan kisah Tsamud mendapatkannya menjelang akhir, sebelum azabnya diceritakan (54:30).

Di antara kedua pertanyaan itu ada dua ayat, 54:19 dan 54:20, dan keduanya menggambarkan azab. Dari dua hal yang ditanyakan, azab dan peringatan, kisah Ad di surah ini menceritakan yang pertama saja. Ucapan Ad pun tidak dikutip, sedangkan ucapan kaum Nuh dikutip di 54:9 dan ucapan Tsamud mengisi 54:24-25. Separuh pertanyaan ini menunjuk kepada sesuatu yang ceritanya ada di surah lain, seruan Hud di 7:65-72, 11:50-57, 26:124-135, dan 46:21.

Pertanyaan pertama di 54:18 datang sebelum jawabannya, sehingga 54:19-20 terbaca sebagai jawaban. Pertanyaan kedua datang sesudah jawaban itu terbentang. Pembaca yang baru melihat angin dan pangkal-pangkal pohon kurma yang tumbang ditanya lagi, dan kali ini dia sudah memegang bahan untuk menjawab separuh pertanyaan. Separuh yang lain, peringatan, meminta dia mengingat bahwa azab itu datang sesudah seruan yang panjang, sesuai dengan urutan yang diuraikan di 54:16.

Renungan dan Hikmah

  • Kaum Ad menepis seruan Hud dengan (إِنْ هَٰذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ, in haadzaa illaa khuluqu l-awwaliina) yang berarti "ini tidak lain kebiasaan orang-orang terdahulu" (26:137). Peringatan yang terdengar lama mudah digolongkan sebagai adat yang diwariskan, sesuatu yang diucapkan setiap generasi tanpa pernah terjadi. Kisah Ad sendiri sampai kepada pembaca hari ini sebagai kisah orang terdahulu, dan tuduhan yang sama dapat dipakai terhadapnya. Allah menjawab tuduhan Ad dengan kejadian, angin yang mencabut mereka dari tanah (54:20). Apakah umur sebuah peringatan pernah menjadi ukuran benar atau tidaknya?
  • Ad menyatakan bahwa mereka tidak akan diazab (26:138), dan pernyataan itu keluar dari kaum yang merasa tidak ada yang lebih kuat dari mereka. Hari ini rasa aman semacam itu jarang diucapkan terang-terangan. Lebih sering rasa aman itu tampak dalam cara hidup, seakan-akan peringatan Allah berlaku bagi orang lain dan diri sendiri pasti dikecualikan. Pertanyaan betapa azab-Ku di ayat ini menimbang keyakinan itu dengan akhir yang sudah diceritakan. Di atas apa keyakinan bahwa diri sendiri akan dikecualikan itu dibangun?
  • Peringatan Hud tidak berisi ancaman saja. Di 11:52 dia menyeru kaumnya memohon ampun kepada Tuhan mereka dan bertobat, dengan janji (يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا, yursili s-samaa'a 'alaykum midraaran) yang berarti "niscaya Dia menurunkan untuk kalian hujan yang sangat deras" serta tambahan kekuatan di atas kekuatan mereka. Kaum yang bangga akan kekuatannya ditawari kekuatan yang lebih besar, dan kaum yang kelak menyangka awan azab sebagai awan hujan (46:24) pernah ditawari hujan yang sesungguhnya. Peringatan-peringatan Allah membawa pintu keluar di dalamnya. Pintu itu tertutup karena tawarannya ditolak, dan tawaran itu sudah lama terbuka sebelumnya. Tawaran apa yang tersimpan dalam peringatan yang hari ini terasa sebagai ancaman saja?
  • Kaum Ad berkata kepada Hud (مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ, maa ji'tanaa bi-bayyinatin) yang berarti "engkau tidak mendatangkan kepada kami bukti yang nyata", lalu dalam kalimat yang sama menambahkan bahwa mereka tidak akan meninggalkan tuhan-tuhan mereka karena perkataannya dan tidak akan percaya kepadanya (11:53). Tuntutan bukti dan penolakan diucapkan sekaligus, sehingga bukti apa pun yang datang sudah ditolak sebelum tiba. Tuntutan semacam itu terdengar seperti sikap hati-hati, padahal keputusannya sudah diambil lebih dulu. Keraguan yang jujur membiarkan kemungkinan jawaban tetap terbuka. Ketika bertanya tentang kebenaran yang datang dari Allah, apakah pintunya masih terbuka, atau pertanyaan itu sudah berisi jawabannya sendiri?
  • Kata azab-Ku di surah ini menunjuk rupa yang berlainan pada setiap kaum. Kaum Nuh ditenggelamkan air yang tercurah dari langit dan memancar dari bumi (54:11-12), Ad disapu angin (54:19), Tsamud dibinasakan satu suara menggelegar (54:31), dan kaum Lut dihujani badai batu (54:34). Kaum yang datang kemudian tidak dapat berlindung dengan meniru persiapan terhadap bencana kaum sebelumnya. Persiapan yang disusun dari pengalaman lama, dengan anggapan bahwa bahaya akan datang dengan rupa yang sudah dikenal, tidak menjangkau rupa yang belum pernah dilihat. Perlindungan dari rupa yang belum dikenal tidak dapat disiapkan dengan pengalaman, dan tempat mencarinya kembali kepada Allah yang memegang semua rupa itu.
  • Di 30:9 Allah bertanya apakah manusia tidak bepergian di bumi dan melihat kesudahan orang-orang sebelum mereka. Orang-orang itu, menurut ayat yang sama, (كَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً, kaanuu asyadda minhum quwwatan) yang berarti "lebih kuat daripada mereka", dan mengolah bumi lebih banyak. Ad termasuk kaum yang kekuatannya diakui Al-Qur'an sendiri, dan 7:69 menyebut keluasan dalam penciptaan mereka. Kemajuan sebuah zaman mudah dijadikan alasan untuk merasa berbeda dari kaum-kaum terdahulu. Ayat ini meminta pembaca menimbang azab yang menimpa kaum yang lebih kuat itu. Kalau kekuatan mereka tidak menahan angin, kekuatan apa hari ini yang dapat diandalkan di hadapan Allah?