Ayat 54:24
فَقَالُوا أَبَشَرًا مِنَّا وَاحِدًا نَتَّبِعُهُ إِنَّا إِذًا لَفِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ
maka mereka berkata, “Apakah seorang manusia dari kita, satu orang, yang akan kita ikuti? Sesungguhnya jika begitu, kita benar-benar dalam kesesatan dan kegilaan.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- فَقَالُواfa-qaaluumaka, mereka berkata
- أَبَشَرًا مِنَّا وَاحِدًا نَتَّبِعُهُa-basyaran minnaa waahidan nattabi'uhuapakah seorang manusia dari kita, satu orang, yang akan kita ikuti
- إِنَّا إِذًا لَفِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍinnaa idzan la-fii dhalaalin wa-su'urinsesungguhnya jika begitu, kita benar-benar dalam kesesatan dan kegilaan
Terjemahan per kata (10 kata)
- فَقَالُواfa-qaaluulalu mereka berkata
- أَبَشَرًاa-basyaranapakah seorang manusia
- مِنَّاminnaadari kami
- وَاحِدًاwaahidansatu
- نَتَّبِعُهُnattabi'uhukami mengikutinya
- إِنَّاinnaasesungguhnya kami
- إِذًاidzanjika demikian
- لَفِيla-fiibenar-benar dalam
- ضَلَالٍdhalaalinkesesatan
- وَسُعُرٍwa-su'urindan kegilaan
Inti bacaan
Basyarun mitslunaa diucapkan para penolak di 4 ayat, dan basyarun mitslukum tercatat di 6 ayat, tiga oleh penolak dan tiga oleh utusan. Su'ur tercatat di 54:24 dan 54:47 saja, sedangkan akarnya muncul di 19 ayat, 16 sebagai sa'iir.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini mengutip ucapan Tsamud dan dibuka dengan (فَقَالُوا, fa-qaaluu) yang berarti "maka mereka berkata". Huruf fa mengaitkan ucapan itu dengan pendustaan di 54:23, sehingga kalimat yang menyusul terbaca sebagai isi pendustaan itu. Pertanyaan mereka dibuka dengan (أَبَشَرًا, a-basyaran) yang berarti "apakah seorang manusia". Huruf a di depannya menandai pertanyaan, dan kata basyar berakar ب-ش-ر serta tercatat di 37 ayat. Kata itu berdiri di awal kalimat, mendahului kata kerja (نَتَّبِعُهُ, nattabi'uhu) yang berarti "kita ikuti dia", dan akhiran -hu pada kata kerja itu menunjuk kembali kepadanya. Susunan itu menaruh sosok yang akan diikuti di depan, sebelum perbuatan mengikutinya disebut.
Keberatan terhadap utusan yang berupa manusia tercatat di banyak kisah. Rumusan (بَشَرٌ مِثْلُنَا, basyarun mitslunaa) yang berarti "manusia seperti kami" diucapkan para penolak di 4 ayat, yaitu 14:10, 26:154, 26:186, dan 36:15. Di 26:154 rumusan itu diucapkan Tsamud sendiri kepada Saleh, disusul permintaan agar dia mendatangkan tanda. Rumusan (بَشَرٌ مِثْلُكُمْ, basyarun mitslukum) yang berarti "manusia seperti kalian" tercatat di 6 ayat, dan pengucapnya dua pihak. Di 21:3, 23:24, dan 23:33 para penolak mengucapkannya kepada sesamanya untuk menjauhkan mereka dari utusan, sedangkan di 14:11, 18:110, dan 41:6 para utusan mengucapkannya tentang diri mereka sendiri.
Dua kata berikutnya mempersempit keberatan itu. Kata (مِنَّا, minnaa) yang berarti "dari kita" menempatkan utusan di tengah kaumnya sendiri, orang yang mereka kenal. Kata (وَاحِدًا, waahidan) yang berarti "satu orang" mempertentangkan dia dengan mereka yang banyak. Kata waahid di 18:110 menyifati Tuhan, (إِلَٰهٌ وَاحِدٌ, ilaahun waahidun) yang berarti "Tuhan Yang Esa", dan di 38:5 keesaan itu pula yang dipersoalkan para penolak, (أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا, a-ja'ala l-aaliha ilaahan waahidan) yang berarti "apakah ia menjadikan tuhan-tuhan sebagai Tuhan yang satu?". Di 54:24 keberatan terhadap yang satu tertuju kepada utusan, dan di 38:5 kepada Tuhan yang diserukan utusan.
Kalimat kedua menyatakan akibat yang mereka bayangkan, (إِنَّا إِذًا لَفِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ, innaa idzan la-fii dhalaalin wa-su'urin) yang berarti "sesungguhnya jika begitu, kita benar-benar dalam kesesatan dan kegilaan". Kata idzan mengikat keadaan itu pada syarat yang baru disebut, mengikuti seorang manusia dari kalangan sendiri. Kata dhalaal berakar ض-ل-ل. Kata su'ur berakar س-ع-ر, akar yang tercatat di 19 ayat, dan 16 di antaranya berupa sa'iir, api yang menyala-nyala, misalnya di 4:10, (وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا, wa-sa-yashlawna sa'iiran) yang berarti "dan mereka akan memasuki api yang menyala-nyala". Kata su'ur sendiri tercatat di 2 ayat, di ayat ini dan di 54:47, dan terjemahan memilih "kegilaan" untuk keduanya.
Tafsiran
Ayat ini menyusun penolakan Tsamud sebagai penalaran. Utusan itu manusia, dia berasal dari kalangan mereka sendiri, dan dia seorang diri. Masing-masing keterangan mengurangi bobotnya di mata mereka, dan ketiganya berujung pada kesimpulan bahwa mengikutinya berarti tersesat. Mereka menolak sambil merasa sedang menjaga diri dari kesesatan.
Para utusan di 14:11 menjawab keberatan yang sama dengan mengakui bagian pertamanya. Mereka manusia seperti kaumnya, (وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ, wa-laakinna llaaha yamunnu 'alaa man yasyaa'u min 'ibaadihi) yang berarti "tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya". Kemanusiaan utusan tidak dibantah, dan persoalannya dipindahkan kepada kehendak Allah.
Pasangan kata di ujung ayat ini muncul lagi di 54:47, (إِنَّ الْمُجْرِمِينَ فِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ, inna l-mujrimiina fii dhalaalin wa-su'urin) yang berarti "sesungguhnya para pendosa berada dalam kesesatan dan kegilaan". Tsamud memakai kedua kata itu untuk menggambarkan keadaan yang akan menimpa mereka seandainya mengikuti utusan. Surah ini memakai kedua kata yang sama untuk keadaan para pendosa, dan ayat sesudahnya (54:48) menyebut mereka diseret ke dalam api atas wajah mereka. Keadaan yang mereka takutkan bila mengikuti ternyata menjadi keadaan orang-orang yang menolak.
Renungan dan Hikmah
- Sebelum Saleh menyeru mereka, Tsamud memandangnya dengan penuh harapan. Mereka berkata (قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَٰذَا, qad kunta fiinaa marjuwwan qabla haadzaa) yang berarti "sebelum ini engkau benar-benar orang yang diharapkan di tengah kami" (11:62). Orang yang sama berubah di mata mereka menjadi seorang manusia dari kalangan sendiri yang tidak layak diikuti, dan perubahan itu terjadi ketika dia menyampaikan seruan Allah. Penghargaan terhadap seseorang dapat bertahan selama dia tidak menyentuh kebiasaan yang dipegang. Apakah penilaian terhadap seseorang berubah ketika dia mulai menyampaikan sesuatu yang tidak ingin didengar?
- Keberatan Tsamud mempertentangkan satu orang dengan mereka yang banyak, sehingga kebenaran diukur dengan jumlah. Di 6:116 Allah berfirman kepada utusan-Nya (وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ, wa-in tuthi' aktsara man fii l-ardhi yudhilluuka 'an sabiili llaahi) yang berarti "dan jika engkau menaati kebanyakan orang di bumi, mereka menyesatkanmu dari jalan Allah". Tsamud takut tersesat karena mengikuti satu orang, dan ayat itu menyebut kesesatan yang datang dari mengikuti kebanyakan. Suara yang banyak memberi rasa aman, dan rasa aman itu belum tentu menunjuk arah yang benar. Kapan terakhir kali sebuah keyakinan diperiksa tanpa melihat berapa banyak orang yang memegangnya?
- Penalaran Tsamud berujung pada kekhawatiran tersesat, sebuah alasan yang terdengar bertanggung jawab. Penolakan terhadap seruan Allah dapat tampil sebagai kehati-hatian, dan kehati-hatian itu terasa sebagai kebajikan bagi yang memegangnya. Kekhawatiran yang jujur mendorong pemiliknya memeriksa lebih jauh, sedangkan kekhawatiran Tsamud berhenti pada kesimpulan sebelum pemeriksaan dimulai. Ketakutan akan salah langkah dapat menjadi alasan untuk tidak pernah melangkah ke arah yang Allah tunjukkan. Kekhawatiran apa yang selama ini menahan langkah ke arah yang sudah diketahui benar?
- Di 17:94 Allah berfirman bahwa tidak ada yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk datang kecuali ucapan mereka (أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا, a-ba'atsa llaahu basyaran rasuulan) yang berarti "apakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?". Penghalangnya terletak pada anggapan tentang bagaimana seharusnya utusan Allah tampil. Anggapan itu menuntut sosok yang luar biasa, dan menolak petunjuk yang datang lewat manusia biasa. Petunjuk Allah dapat sampai lewat orang yang tampak biasa saja, dan anggapan tentang rupa pembawanya dapat menutup jalan kepadanya. Siapa saja yang pernah diabaikan nasihatnya karena dia tampak terlalu biasa?
- Tsamud menolak mengikuti seorang manusia dari kalangan mereka. Kata kerja yang sama muncul di 2:170 dalam jawaban orang-orang yang diajak mengikuti wahyu, (بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا, bal nattabi'u maa alfaynaa 'alayhi aabaa'anaa) yang berarti "bahkan kami mengikuti apa yang kami dapati pada leluhur kami". Penolakan untuk mengikuti satu orang tidak berarti bebas dari mengikuti. Tempat mengikutinya berpindah, dari utusan Allah kepada kebiasaan leluhur. Setiap orang mengikuti sesuatu, dan persoalannya terletak pada apa yang diikuti. Apa yang sedang diikuti tanpa pernah dipilih secara sadar?
- Di 18:110 utusan Allah diperintahkan berkata (قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ, qul innamaa anaa basyarun mitslukum) yang berarti "katakanlah, sesungguhnya aku seorang manusia seperti kalian", lalu menyebut bahwa dia menerima wahyu dan menyeru kepada amal saleh. Keadaan yang dijadikan Tsamud alasan menolak diakui terang-terangan oleh utusan itu sendiri. Di 17:95 Allah menyebut bahwa sekiranya di bumi ada malaikat yang berjalan dengan tenang, Dia akan menurunkan malaikat sebagai rasul bagi mereka. Utusan diutus sesuai dengan kaum yang diserunya, sehingga seruannya dapat diteladani oleh sesama manusia.
Ayat 54:25
أَأُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنْ بَيْنِنَا بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌ
Apakah peringatan dilemparkan kepadanya di antara kita? Bahkan, ia seorang pendusta lagi sombong.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَأُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنْ بَيْنِنَاa-ulqiya dz-dzikru 'alayhi min bayninaaapakah peringatan dilemparkan kepadanya di antara kita
- بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌbal huwa kadzdzaabun asyirunbahkan, ia seorang pendusta lagi sombong
Terjemahan per kata (9 kata)
- أَأُلْقِيَa-ulqiyaapakah diturunkan
- الذِّكْرُdz-dzikruperingatan
- عَلَيْهِ'alayhiatasnya
- مِنْmindari
- بَيْنِنَاbayninaadi antara kami
- بَلْbalbahkan
- هُوَhuwaia
- كَذَّابٌkadzdzaabunpendusta besar
- أَشِرٌasyirunyang sombong
Inti bacaan
Min bayninaa tercatat di 4 ayat, tiga untuk keberatan atas pilihan, termasuk 38:8 yang hampir sama bunyinya. Kadzdzaab tercatat di 5 ayat dan asyir di 2, keduanya diulang di 54:26 dengan kata sandang al-.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini melanjutkan ucapan Tsamud dengan pertanyaan kedua, (أَأُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنْ بَيْنِنَا, a-ulqiya dz-dzikru 'alayhi min bayninaa) yang berarti "apakah peringatan dilemparkan kepadanya di antara kita?". Kata kerja ulqiya berakar ل-ق-ي dan berbentuk pasif, sehingga pelaku yang menyampaikan tidak disebut. Kata kerja yang sama dengan huruf 'alaa dipakai Allah untuk wahyu yang Dia sampaikan kepada utusan-Nya. Di 73:5 Dia berfirman (إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا, innaa sa-nulqii 'alayka qawlan tsaqiilan) yang berarti "sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat". Di sana terjemahannya "menurunkan", dan di ayat ini "dilemparkan". Perbedaan terjemahan itu mengikuti siapa yang berbicara, Allah tentang perbuatan-Nya sendiri di 73:5 dan para penolak tentang sesuatu yang mereka ragukan di 54:25.
Kata (الذِّكْرُ, dz-dzikru) di sini menunjuk wahyu yang dibawa utusan, dan terjemahannya "peringatan"; kaitannya dengan dzikr di ujung setiap kisah surah ini dibahas di 54:17. Keterangan (مِنْ بَيْنِنَا, min bayninaa) yang berarti "di antara kita" tercatat di 4 ayat. Di 41:5 keterangan itu dipakai untuk tabir antara para penolak dan utusan, dan di tiga ayat lainnya, termasuk ayat ini, untuk keberatan yang serupa. Di 38:8 pertanyaannya hampir sama dengan ayat ini, dengan kata kerja lain, (أَأُنْزِلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ مِنْ بَيْنِنَا, a-unzila 'alayhi dz-dzikru min bayninaa) yang berarti "apakah peringatan diturunkan kepadanya di antara kita?". Di 6:53 keberatan itu tertuju kepada orang-orang beriman, (أَهَٰؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا, a-haa'ulaa'i manna llaahu 'alayhim min bayninaa) yang berarti "apakah mereka ini yang diberi anugerah oleh Allah di antara kita?". Ketiganya mempersoalkan pilihan, mengapa dia atau mereka yang dipilih.
Kata (بَلْ, bal) yang berarti "bahkan" memindahkan ucapan mereka dari bertanya kepada menuduh. Tuduhannya terdiri dari dua kata. Kata (كَذَّابٌ, kadzdzaabun) yang berarti "pendusta" berakar ك-ذ-ب dan tercatat di 5 ayat, yaitu 38:4, 40:24, 40:28, 54:25, dan 54:26. Di 38:4 kata itu dipasangkan dengan penyihir, (سَاحِرٌ كَذَّابٌ, saahirun kadzdzaabun) yang berarti "penyihir yang banyak berdusta", dan di 40:24 Firaun, Haman, dan Qarun memakai sebutan yang sama untuk Musa. Kata (أَشِرٌ, asyirun) yang berarti "sombong" berakar أ-ش-ر dan tercatat di 2 ayat, di ayat ini dan di 54:26. Kedua kata itu diulang di ayat sesudahnya dengan kata sandang al-, sehingga tuduhan yang diucapkan Tsamud di sini dijawab dengan kata-kata mereka sendiri.
Pertanyaan mereka mengandung dua kata ganti yang berlawanan. Akhiran -hi pada (عَلَيْهِ, 'alayhi) menunjuk utusan sebagai satu orang, dan akhiran -naa pada (بَيْنِنَا, bayninaa) menunjuk mereka sebagai kelompok. Pembedaan yang sama sudah muncul di 54:24, antara satu orang yang diikuti dan kita yang mengikuti. Di 7:63 Nuh dan di 7:69 Hud menjawab keberatan serupa dengan pertanyaan balik, apakah kaumnya heran bahwa peringatan dari Tuhan datang (عَلَىٰ رَجُلٍ مِنْكُمْ, 'alaa rajulin minkum) yang berarti "kepada seorang laki-laki dari golongan kalian". Rumusan para utusan memakai minkum, "dari kalian", sedangkan rumusan Tsamud memakai min bayninaa, "di antara kita", dan keduanya menunjuk kenyataan yang sama dari dua pihak.
Tafsiran
Ayat ini memindahkan keberatan Tsamud dari sosok utusan kepada wahyu yang dibawanya. Di 54:24 mereka mempersoalkan siapa yang harus diikuti, dan di sini mereka mempersoalkan mengapa wahyu sampai kepadanya dan tidak kepada yang lain di antara mereka. Pertanyaan itu menyiratkan bahwa kalau wahyu memang turun, ada orang lain yang menurut mereka lebih pantas menerimanya.
Al-Qur'an menjawab pertanyaan semacam itu di tempat lain dengan menunjuk kehendak Allah. Di 40:15 Allah disebut (يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ, yulqii r-ruuha min amrihi 'alaa man yasyaa'u min 'ibaadihi) yang berarti "Dia menurunkan Ruh dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya". Kata kerjanya dari akar yang sama dengan ulqiya di ayat ini, dan jawabannya tertuju tepat pada titik yang dipersoalkan Tsamud, siapa yang menerima.
Sesudah pertanyaan itu, Tsamud tidak menunggu jawaban. Kata bal membawa mereka langsung kepada vonis, utusan itu pendusta lagi sombong. Pertanyaan yang dibiarkan tanpa jawaban lalu ditutup dengan tuduhan memperlihatkan bahwa pertanyaan itu sejak awal tidak mencari keterangan. Tuduhan sombong pun berbalik arah. Di 7:75 para penolak di antara Tsamud disebut (الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا, l-mala'u lladziina stakbaruu) yang berarti "pemuka-pemuka yang menyombongkan diri", sehingga sebutan sombong yang mereka lekatkan kepada Saleh lebih dulu melekat pada diri mereka.
Renungan dan Hikmah
- Keberatan min bayninaa menyimpan pertanyaan yang tidak diucapkan, mengapa dia dan bukan kami. Di 43:31 pertanyaan itu diucapkan terang, (لَوْلَا نُزِّلَ هَٰذَا الْقُرْآنُ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ, lawlaa nuzzila haadzaa l-qur'aanu 'alaa rajulin mina l-qaryatayni 'azhiimin) yang berarti "mengapa Al-Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang pembesar dari dua negeri itu?". Ukuran yang mereka pakai berupa kedudukan dan kebesaran di mata masyarakat. Rasa tidak rela ketika orang lain menerima karunia Allah dapat lahir dari ukuran yang sama. Siapa yang diam-diam dianggap tidak pantas menerima kebaikan yang Allah berikan kepadanya?
- Tsamud mempersoalkan wahyu yang datang kepada seorang di antara mereka. Di 3:164 keadaan yang sama disebut karunia, (لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ, la-qad manna llaahu 'alaa l-mu'miniina idz ba'atsa fiihim rasuulan min anfusihim) yang berarti "sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman, ketika Dia mengutus di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri". Utusan yang berbicara dengan bahasa kaumnya (14:4) dan hidup di tengah mereka dapat diteladani dari dekat. Kedekatan yang bagi Tsamud menjadi alasan meremehkan disebut Allah sebagai pemberian. Pandangan terhadap orang dekat yang membawa kebaikan menentukan apakah kedekatan itu dirasakan sebagai karunia atau sebagai beban.
- Dalam dua ayat ucapan Tsamud, isi wahyu tidak disinggung sama sekali. Mereka membicarakan pembawanya saja, seorang manusia, dari kalangan sendiri, seorang diri, pendusta, dan sombong. Kebenaran dari Allah dapat ditolak tanpa pernah ditimbang isinya, cukup dengan meruntuhkan kepercayaan kepada orang yang membawanya. Cara ini hemat tenaga, sebab membantah isi menuntut pemeriksaan, sedangkan meremehkan orang cukup dengan satu sebutan. Seruan apa yang pernah ditolak tanpa isinya sempat didengar sampai selesai?
- Di 28:68 Allah berfirman (وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ, wa-rabbuka yakhluqu maa yasyaa'u wa-yakhtaaru) yang berarti "dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih", lalu menyatakan bahwa pilihan itu tidak berada di tangan mereka. Keberatan Tsamud menempatkan diri mereka sebagai penilai atas pilihan Allah. Sikap yang sama dapat muncul dalam urusan sehari-hari, ketika pembagian rezeki, kemampuan, atau kesempatan dirasa tidak tepat sasaran. Menerima bahwa Allah memilih tanpa meminta persetujuan manusia melepaskan hati dari beban menilai sesuatu di luar wewenangnya.
- Di 38:4 para penolak (وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ, wa-'ajibuu an jaa'ahum mundzirun minhum) yang berarti "dan mereka heran karena datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka", lalu keheranan itu segera berubah menjadi tuduhan. Keheranan dapat menjadi pintu untuk bertanya lebih jauh, dan dapat pula ditutup dengan kesimpulan yang tergesa. Tsamud mengambil jalan kedua, dari pertanyaan langsung kepada sebutan pendusta. Rasa heran terhadap hal yang datang dari Allah menyimpan kesempatan untuk mengenal-Nya lebih dekat. Ke mana rasa heran itu dibawa, kepada pertanyaan yang sungguh-sungguh atau kepada vonis yang cepat?
- Wahyu yang dipersoalkan Tsamud disebut Allah di 73:5 sebagai perkataan yang berat bagi penerimanya. Dari luar, terpilih terlihat sebagai kehormatan. Dari dalam, pilihan itu datang bersama beban, dan Saleh memikulnya sampai disebut pendusta oleh kaumnya sendiri. Orang yang memandang kedudukan orang lain dari jauh jarang melihat beratnya. Bagaimana pandangan terhadap orang-orang yang memikul amanah berubah bila beban mereka ikut ditimbang?