Ayat 54:24

فَقَالُوا أَبَشَرًا مِنَّا وَاحِدًا نَتَّبِعُهُ إِنَّا إِذًا لَفِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ

maka mereka berkata, “Apakah seorang manusia dari kita, satu orang, yang akan kita ikuti? Sesungguhnya jika begitu, kita benar-benar dalam kesesatan dan kegilaan.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. فَقَالُواfa-qaaluumaka, mereka berkata
  2. أَبَشَرًا مِنَّا وَاحِدًا نَتَّبِعُهُa-basyaran minnaa waahidan nattabi'uhuapakah seorang manusia dari kita, satu orang, yang akan kita ikuti
  3. إِنَّا إِذًا لَفِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍinnaa idzan la-fii dhalaalin wa-su'urinsesungguhnya jika begitu, kita benar-benar dalam kesesatan dan kegilaan

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. فَقَالُواfa-qaaluulalu mereka berkata
  2. أَبَشَرًاa-basyaranapakah seorang manusia
  3. مِنَّاminnaadari kami
  4. وَاحِدًاwaahidansatu
  5. نَتَّبِعُهُnattabi'uhukami mengikutinya
  6. إِنَّاinnaasesungguhnya kami
  7. إِذًاidzanjika demikian
  8. لَفِيla-fiibenar-benar dalam
  9. ضَلَالٍdhalaalinkesesatan
  10. وَسُعُرٍwa-su'urindan kegilaan

Inti bacaan

Basyarun mitslunaa diucapkan para penolak di 4 ayat, dan basyarun mitslukum tercatat di 6 ayat, tiga oleh penolak dan tiga oleh utusan. Su'ur tercatat di 54:24 dan 54:47 saja, sedangkan akarnya muncul di 19 ayat, 16 sebagai sa'iir.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini mengutip ucapan Tsamud dan dibuka dengan (فَقَالُوا, fa-qaaluu) yang berarti "maka mereka berkata". Huruf fa mengaitkan ucapan itu dengan pendustaan di 54:23, sehingga kalimat yang menyusul terbaca sebagai isi pendustaan itu. Pertanyaan mereka dibuka dengan (أَبَشَرًا, a-basyaran) yang berarti "apakah seorang manusia". Huruf a di depannya menandai pertanyaan, dan kata basyar berakar ب-ش-ر serta tercatat di 37 ayat. Kata itu berdiri di awal kalimat, mendahului kata kerja (نَتَّبِعُهُ, nattabi'uhu) yang berarti "kita ikuti dia", dan akhiran -hu pada kata kerja itu menunjuk kembali kepadanya. Susunan itu menaruh sosok yang akan diikuti di depan, sebelum perbuatan mengikutinya disebut.

Keberatan terhadap utusan yang berupa manusia tercatat di banyak kisah. Rumusan (بَشَرٌ مِثْلُنَا, basyarun mitslunaa) yang berarti "manusia seperti kami" diucapkan para penolak di 4 ayat, yaitu 14:10, 26:154, 26:186, dan 36:15. Di 26:154 rumusan itu diucapkan Tsamud sendiri kepada Saleh, disusul permintaan agar dia mendatangkan tanda. Rumusan (بَشَرٌ مِثْلُكُمْ, basyarun mitslukum) yang berarti "manusia seperti kalian" tercatat di 6 ayat, dan pengucapnya dua pihak. Di 21:3, 23:24, dan 23:33 para penolak mengucapkannya kepada sesamanya untuk menjauhkan mereka dari utusan, sedangkan di 14:11, 18:110, dan 41:6 para utusan mengucapkannya tentang diri mereka sendiri.

Dua kata berikutnya mempersempit keberatan itu. Kata (مِنَّا, minnaa) yang berarti "dari kita" menempatkan utusan di tengah kaumnya sendiri, orang yang mereka kenal. Kata (وَاحِدًا, waahidan) yang berarti "satu orang" mempertentangkan dia dengan mereka yang banyak. Kata waahid di 18:110 menyifati Tuhan, (إِلَٰهٌ وَاحِدٌ, ilaahun waahidun) yang berarti "Tuhan Yang Esa", dan di 38:5 keesaan itu pula yang dipersoalkan para penolak, (أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا, a-ja'ala l-aaliha ilaahan waahidan) yang berarti "apakah ia menjadikan tuhan-tuhan sebagai Tuhan yang satu?". Di 54:24 keberatan terhadap yang satu tertuju kepada utusan, dan di 38:5 kepada Tuhan yang diserukan utusan.

Kalimat kedua menyatakan akibat yang mereka bayangkan, (إِنَّا إِذًا لَفِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ, innaa idzan la-fii dhalaalin wa-su'urin) yang berarti "sesungguhnya jika begitu, kita benar-benar dalam kesesatan dan kegilaan". Kata idzan mengikat keadaan itu pada syarat yang baru disebut, mengikuti seorang manusia dari kalangan sendiri. Kata dhalaal berakar ض-ل-ل. Kata su'ur berakar س-ع-ر, akar yang tercatat di 19 ayat, dan 16 di antaranya berupa sa'iir, api yang menyala-nyala, misalnya di 4:10, (وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا, wa-sa-yashlawna sa'iiran) yang berarti "dan mereka akan memasuki api yang menyala-nyala". Kata su'ur sendiri tercatat di 2 ayat, di ayat ini dan di 54:47, dan terjemahan memilih "kegilaan" untuk keduanya.

Tafsiran

Ayat ini menyusun penolakan Tsamud sebagai penalaran. Utusan itu manusia, dia berasal dari kalangan mereka sendiri, dan dia seorang diri. Masing-masing keterangan mengurangi bobotnya di mata mereka, dan ketiganya berujung pada kesimpulan bahwa mengikutinya berarti tersesat. Mereka menolak sambil merasa sedang menjaga diri dari kesesatan.

Para utusan di 14:11 menjawab keberatan yang sama dengan mengakui bagian pertamanya. Mereka manusia seperti kaumnya, (وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ, wa-laakinna llaaha yamunnu 'alaa man yasyaa'u min 'ibaadihi) yang berarti "tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya". Kemanusiaan utusan tidak dibantah, dan persoalannya dipindahkan kepada kehendak Allah.

Pasangan kata di ujung ayat ini muncul lagi di 54:47, (إِنَّ الْمُجْرِمِينَ فِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ, inna l-mujrimiina fii dhalaalin wa-su'urin) yang berarti "sesungguhnya para pendosa berada dalam kesesatan dan kegilaan". Tsamud memakai kedua kata itu untuk menggambarkan keadaan yang akan menimpa mereka seandainya mengikuti utusan. Surah ini memakai kedua kata yang sama untuk keadaan para pendosa, dan ayat sesudahnya (54:48) menyebut mereka diseret ke dalam api atas wajah mereka. Keadaan yang mereka takutkan bila mengikuti ternyata menjadi keadaan orang-orang yang menolak.

Renungan dan Hikmah

  • Sebelum Saleh menyeru mereka, Tsamud memandangnya dengan penuh harapan. Mereka berkata (قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَٰذَا, qad kunta fiinaa marjuwwan qabla haadzaa) yang berarti "sebelum ini engkau benar-benar orang yang diharapkan di tengah kami" (11:62). Orang yang sama berubah di mata mereka menjadi seorang manusia dari kalangan sendiri yang tidak layak diikuti, dan perubahan itu terjadi ketika dia menyampaikan seruan Allah. Penghargaan terhadap seseorang dapat bertahan selama dia tidak menyentuh kebiasaan yang dipegang. Apakah penilaian terhadap seseorang berubah ketika dia mulai menyampaikan sesuatu yang tidak ingin didengar?
  • Keberatan Tsamud mempertentangkan satu orang dengan mereka yang banyak, sehingga kebenaran diukur dengan jumlah. Di 6:116 Allah berfirman kepada utusan-Nya (وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ, wa-in tuthi' aktsara man fii l-ardhi yudhilluuka 'an sabiili llaahi) yang berarti "dan jika engkau menaati kebanyakan orang di bumi, mereka menyesatkanmu dari jalan Allah". Tsamud takut tersesat karena mengikuti satu orang, dan ayat itu menyebut kesesatan yang datang dari mengikuti kebanyakan. Suara yang banyak memberi rasa aman, dan rasa aman itu belum tentu menunjuk arah yang benar. Kapan terakhir kali sebuah keyakinan diperiksa tanpa melihat berapa banyak orang yang memegangnya?
  • Penalaran Tsamud berujung pada kekhawatiran tersesat, sebuah alasan yang terdengar bertanggung jawab. Penolakan terhadap seruan Allah dapat tampil sebagai kehati-hatian, dan kehati-hatian itu terasa sebagai kebajikan bagi yang memegangnya. Kekhawatiran yang jujur mendorong pemiliknya memeriksa lebih jauh, sedangkan kekhawatiran Tsamud berhenti pada kesimpulan sebelum pemeriksaan dimulai. Ketakutan akan salah langkah dapat menjadi alasan untuk tidak pernah melangkah ke arah yang Allah tunjukkan. Kekhawatiran apa yang selama ini menahan langkah ke arah yang sudah diketahui benar?
  • Di 17:94 Allah berfirman bahwa tidak ada yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk datang kecuali ucapan mereka (أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا, a-ba'atsa llaahu basyaran rasuulan) yang berarti "apakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?". Penghalangnya terletak pada anggapan tentang bagaimana seharusnya utusan Allah tampil. Anggapan itu menuntut sosok yang luar biasa, dan menolak petunjuk yang datang lewat manusia biasa. Petunjuk Allah dapat sampai lewat orang yang tampak biasa saja, dan anggapan tentang rupa pembawanya dapat menutup jalan kepadanya. Siapa saja yang pernah diabaikan nasihatnya karena dia tampak terlalu biasa?
  • Tsamud menolak mengikuti seorang manusia dari kalangan mereka. Kata kerja yang sama muncul di 2:170 dalam jawaban orang-orang yang diajak mengikuti wahyu, (بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا, bal nattabi'u maa alfaynaa 'alayhi aabaa'anaa) yang berarti "bahkan kami mengikuti apa yang kami dapati pada leluhur kami". Penolakan untuk mengikuti satu orang tidak berarti bebas dari mengikuti. Tempat mengikutinya berpindah, dari utusan Allah kepada kebiasaan leluhur. Setiap orang mengikuti sesuatu, dan persoalannya terletak pada apa yang diikuti. Apa yang sedang diikuti tanpa pernah dipilih secara sadar?
  • Di 18:110 utusan Allah diperintahkan berkata (قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ, qul innamaa anaa basyarun mitslukum) yang berarti "katakanlah, sesungguhnya aku seorang manusia seperti kalian", lalu menyebut bahwa dia menerima wahyu dan menyeru kepada amal saleh. Keadaan yang dijadikan Tsamud alasan menolak diakui terang-terangan oleh utusan itu sendiri. Di 17:95 Allah menyebut bahwa sekiranya di bumi ada malaikat yang berjalan dengan tenang, Dia akan menurunkan malaikat sebagai rasul bagi mereka. Utusan diutus sesuai dengan kaum yang diserunya, sehingga seruannya dapat diteladani oleh sesama manusia.

Ayat 54:25

أَأُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنْ بَيْنِنَا بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌ

Apakah peringatan dilemparkan kepadanya di antara kita? Bahkan, ia seorang pendusta lagi sombong.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَأُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنْ بَيْنِنَاa-ulqiya dz-dzikru 'alayhi min bayninaaapakah peringatan dilemparkan kepadanya di antara kita
  2. بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌbal huwa kadzdzaabun asyirunbahkan, ia seorang pendusta lagi sombong

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. أَأُلْقِيَa-ulqiyaapakah diturunkan
  2. الذِّكْرُdz-dzikruperingatan
  3. عَلَيْهِ'alayhiatasnya
  4. مِنْmindari
  5. بَيْنِنَاbayninaadi antara kami
  6. بَلْbalbahkan
  7. هُوَhuwaia
  8. كَذَّابٌkadzdzaabunpendusta besar
  9. أَشِرٌasyirunyang sombong

Inti bacaan

Min bayninaa tercatat di 4 ayat, tiga untuk keberatan atas pilihan, termasuk 38:8 yang hampir sama bunyinya. Kadzdzaab tercatat di 5 ayat dan asyir di 2, keduanya diulang di 54:26 dengan kata sandang al-.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini melanjutkan ucapan Tsamud dengan pertanyaan kedua, (أَأُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنْ بَيْنِنَا, a-ulqiya dz-dzikru 'alayhi min bayninaa) yang berarti "apakah peringatan dilemparkan kepadanya di antara kita?". Kata kerja ulqiya berakar ل-ق-ي dan berbentuk pasif, sehingga pelaku yang menyampaikan tidak disebut. Kata kerja yang sama dengan huruf 'alaa dipakai Allah untuk wahyu yang Dia sampaikan kepada utusan-Nya. Di 73:5 Dia berfirman (إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا, innaa sa-nulqii 'alayka qawlan tsaqiilan) yang berarti "sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat". Di sana terjemahannya "menurunkan", dan di ayat ini "dilemparkan". Perbedaan terjemahan itu mengikuti siapa yang berbicara, Allah tentang perbuatan-Nya sendiri di 73:5 dan para penolak tentang sesuatu yang mereka ragukan di 54:25.

Kata (الذِّكْرُ, dz-dzikru) di sini menunjuk wahyu yang dibawa utusan, dan terjemahannya "peringatan"; kaitannya dengan dzikr di ujung setiap kisah surah ini dibahas di 54:17. Keterangan (مِنْ بَيْنِنَا, min bayninaa) yang berarti "di antara kita" tercatat di 4 ayat. Di 41:5 keterangan itu dipakai untuk tabir antara para penolak dan utusan, dan di tiga ayat lainnya, termasuk ayat ini, untuk keberatan yang serupa. Di 38:8 pertanyaannya hampir sama dengan ayat ini, dengan kata kerja lain, (أَأُنْزِلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ مِنْ بَيْنِنَا, a-unzila 'alayhi dz-dzikru min bayninaa) yang berarti "apakah peringatan diturunkan kepadanya di antara kita?". Di 6:53 keberatan itu tertuju kepada orang-orang beriman, (أَهَٰؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا, a-haa'ulaa'i manna llaahu 'alayhim min bayninaa) yang berarti "apakah mereka ini yang diberi anugerah oleh Allah di antara kita?". Ketiganya mempersoalkan pilihan, mengapa dia atau mereka yang dipilih.

Kata (بَلْ, bal) yang berarti "bahkan" memindahkan ucapan mereka dari bertanya kepada menuduh. Tuduhannya terdiri dari dua kata. Kata (كَذَّابٌ, kadzdzaabun) yang berarti "pendusta" berakar ك-ذ-ب dan tercatat di 5 ayat, yaitu 38:4, 40:24, 40:28, 54:25, dan 54:26. Di 38:4 kata itu dipasangkan dengan penyihir, (سَاحِرٌ كَذَّابٌ, saahirun kadzdzaabun) yang berarti "penyihir yang banyak berdusta", dan di 40:24 Firaun, Haman, dan Qarun memakai sebutan yang sama untuk Musa. Kata (أَشِرٌ, asyirun) yang berarti "sombong" berakar أ-ش-ر dan tercatat di 2 ayat, di ayat ini dan di 54:26. Kedua kata itu diulang di ayat sesudahnya dengan kata sandang al-, sehingga tuduhan yang diucapkan Tsamud di sini dijawab dengan kata-kata mereka sendiri.

Pertanyaan mereka mengandung dua kata ganti yang berlawanan. Akhiran -hi pada (عَلَيْهِ, 'alayhi) menunjuk utusan sebagai satu orang, dan akhiran -naa pada (بَيْنِنَا, bayninaa) menunjuk mereka sebagai kelompok. Pembedaan yang sama sudah muncul di 54:24, antara satu orang yang diikuti dan kita yang mengikuti. Di 7:63 Nuh dan di 7:69 Hud menjawab keberatan serupa dengan pertanyaan balik, apakah kaumnya heran bahwa peringatan dari Tuhan datang (عَلَىٰ رَجُلٍ مِنْكُمْ, 'alaa rajulin minkum) yang berarti "kepada seorang laki-laki dari golongan kalian". Rumusan para utusan memakai minkum, "dari kalian", sedangkan rumusan Tsamud memakai min bayninaa, "di antara kita", dan keduanya menunjuk kenyataan yang sama dari dua pihak.

Tafsiran

Ayat ini memindahkan keberatan Tsamud dari sosok utusan kepada wahyu yang dibawanya. Di 54:24 mereka mempersoalkan siapa yang harus diikuti, dan di sini mereka mempersoalkan mengapa wahyu sampai kepadanya dan tidak kepada yang lain di antara mereka. Pertanyaan itu menyiratkan bahwa kalau wahyu memang turun, ada orang lain yang menurut mereka lebih pantas menerimanya.

Al-Qur'an menjawab pertanyaan semacam itu di tempat lain dengan menunjuk kehendak Allah. Di 40:15 Allah disebut (يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ, yulqii r-ruuha min amrihi 'alaa man yasyaa'u min 'ibaadihi) yang berarti "Dia menurunkan Ruh dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya". Kata kerjanya dari akar yang sama dengan ulqiya di ayat ini, dan jawabannya tertuju tepat pada titik yang dipersoalkan Tsamud, siapa yang menerima.

Sesudah pertanyaan itu, Tsamud tidak menunggu jawaban. Kata bal membawa mereka langsung kepada vonis, utusan itu pendusta lagi sombong. Pertanyaan yang dibiarkan tanpa jawaban lalu ditutup dengan tuduhan memperlihatkan bahwa pertanyaan itu sejak awal tidak mencari keterangan. Tuduhan sombong pun berbalik arah. Di 7:75 para penolak di antara Tsamud disebut (الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا, l-mala'u lladziina stakbaruu) yang berarti "pemuka-pemuka yang menyombongkan diri", sehingga sebutan sombong yang mereka lekatkan kepada Saleh lebih dulu melekat pada diri mereka.

Renungan dan Hikmah

  • Keberatan min bayninaa menyimpan pertanyaan yang tidak diucapkan, mengapa dia dan bukan kami. Di 43:31 pertanyaan itu diucapkan terang, (لَوْلَا نُزِّلَ هَٰذَا الْقُرْآنُ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ, lawlaa nuzzila haadzaa l-qur'aanu 'alaa rajulin mina l-qaryatayni 'azhiimin) yang berarti "mengapa Al-Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang pembesar dari dua negeri itu?". Ukuran yang mereka pakai berupa kedudukan dan kebesaran di mata masyarakat. Rasa tidak rela ketika orang lain menerima karunia Allah dapat lahir dari ukuran yang sama. Siapa yang diam-diam dianggap tidak pantas menerima kebaikan yang Allah berikan kepadanya?
  • Tsamud mempersoalkan wahyu yang datang kepada seorang di antara mereka. Di 3:164 keadaan yang sama disebut karunia, (لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ, la-qad manna llaahu 'alaa l-mu'miniina idz ba'atsa fiihim rasuulan min anfusihim) yang berarti "sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman, ketika Dia mengutus di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri". Utusan yang berbicara dengan bahasa kaumnya (14:4) dan hidup di tengah mereka dapat diteladani dari dekat. Kedekatan yang bagi Tsamud menjadi alasan meremehkan disebut Allah sebagai pemberian. Pandangan terhadap orang dekat yang membawa kebaikan menentukan apakah kedekatan itu dirasakan sebagai karunia atau sebagai beban.
  • Dalam dua ayat ucapan Tsamud, isi wahyu tidak disinggung sama sekali. Mereka membicarakan pembawanya saja, seorang manusia, dari kalangan sendiri, seorang diri, pendusta, dan sombong. Kebenaran dari Allah dapat ditolak tanpa pernah ditimbang isinya, cukup dengan meruntuhkan kepercayaan kepada orang yang membawanya. Cara ini hemat tenaga, sebab membantah isi menuntut pemeriksaan, sedangkan meremehkan orang cukup dengan satu sebutan. Seruan apa yang pernah ditolak tanpa isinya sempat didengar sampai selesai?
  • Di 28:68 Allah berfirman (وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ, wa-rabbuka yakhluqu maa yasyaa'u wa-yakhtaaru) yang berarti "dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih", lalu menyatakan bahwa pilihan itu tidak berada di tangan mereka. Keberatan Tsamud menempatkan diri mereka sebagai penilai atas pilihan Allah. Sikap yang sama dapat muncul dalam urusan sehari-hari, ketika pembagian rezeki, kemampuan, atau kesempatan dirasa tidak tepat sasaran. Menerima bahwa Allah memilih tanpa meminta persetujuan manusia melepaskan hati dari beban menilai sesuatu di luar wewenangnya.
  • Di 38:4 para penolak (وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ, wa-'ajibuu an jaa'ahum mundzirun minhum) yang berarti "dan mereka heran karena datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka", lalu keheranan itu segera berubah menjadi tuduhan. Keheranan dapat menjadi pintu untuk bertanya lebih jauh, dan dapat pula ditutup dengan kesimpulan yang tergesa. Tsamud mengambil jalan kedua, dari pertanyaan langsung kepada sebutan pendusta. Rasa heran terhadap hal yang datang dari Allah menyimpan kesempatan untuk mengenal-Nya lebih dekat. Ke mana rasa heran itu dibawa, kepada pertanyaan yang sungguh-sungguh atau kepada vonis yang cepat?
  • Wahyu yang dipersoalkan Tsamud disebut Allah di 73:5 sebagai perkataan yang berat bagi penerimanya. Dari luar, terpilih terlihat sebagai kehormatan. Dari dalam, pilihan itu datang bersama beban, dan Saleh memikulnya sampai disebut pendusta oleh kaumnya sendiri. Orang yang memandang kedudukan orang lain dari jauh jarang melihat beratnya. Bagaimana pandangan terhadap orang-orang yang memikul amanah berubah bila beban mereka ikut ditimbang?

Ayat 54:26

سَيَعْلَمُونَ غَدًا مَنِ الْكَذَّابُ الْأَشِرُ

Kelak mereka akan mengetahui siapa yang sebenarnya pendusta lagi sombong.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. سَيَعْلَمُونَ غَدًاsa-ya'lamuuna ghadankelak mereka akan mengetahui
  2. مَنِ الْكَذَّابُ الْأَشِرُmani l-kadzdzaabu l-asyirusiapa yang sebenarnya pendusta lagi sombong

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. سَيَعْلَمُونَsa-ya'lamuunakelak mereka mengetahui
  2. غَدًاghadanesok
  3. مَنِmanisiapa yang
  4. الْكَذَّابُl-kadzdzaabupendusta besar
  5. الْأَشِرُl-asyiruyang sombong

Inti bacaan

Tsamud menuduh, dan Allah tidak membalas dengan vonis. Putusannya diserahkan ke hari esok, saat ancaman terlihat (19:75, 72:24). Susunan serupa dipakai Syuaib di 11:93 dan diperintahkan kepada utusan di 6:135.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (سَيَعْلَمُونَ غَدًا مَنِ الْكَذَّابُ الْأَشِرُ, sa-ya'lamuuna ghadan mani l-kadzdzaabu l-asyiru) yang berarti "kelak mereka akan mengetahui siapa yang sebenarnya pendusta lagi sombong". Ucapan Tsamud berhenti di 54:25, dan ayat ini membawa suara lain. Kata kerja (سَيَعْلَمُونَ, sa-ya'lamuuna) berbentuk orang ketiga jamak, sehingga Tsamud dibicarakan tanpa disapa, dan ayat berikutnya menyapa seorang utusan dengan perintah tunggu dan bersabarlah (54:27). Dari susunan itu ayat ini terbaca sebagai firman Allah kepada Saleh tentang kaumnya. Awalan sa- pada kata kerja itu menandai waktu yang akan datang, dan terjemahannya memakai kata "akan".

Kata (غَدًا, ghadan) berakar غ-د-و, dan kata benda ghad tercatat di 5 ayat, yaitu 12:12, 18:23, 31:34, 54:26, dan 59:18. Di ayat-ayat lain kata itu menunjuk hari esok. Di 31:34, misalnya, Allah menyebut hal-hal yang pengetahuannya ada pada-Nya, termasuk (وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا, wa-maa tadrii nafsun maadzaa taksibu ghadan) yang berarti "dan tiada jiwa yang mengetahui apa yang akan diusahakannya esok". Di ayat ini terjemahannya "kelak", waktu yang pasti datang tanpa disebut harinya. Dalam kisah ini waktu itu tiba di 54:31, ketika satu suara menggelegar menimpa mereka.

Susunan (مَنِ الْكَذَّابُ الْأَشِرُ, mani l-kadzdzaabu l-asyiru) dibuka dengan kata tanya man, "siapa". Kata kerja mengetahui yang langsung diikuti kata tanya man tercatat di 7 ayat lain, yaitu 6:135, 11:39, 11:93, 19:75, 20:135, 67:29, dan 72:24. Di 67:29 kalimatnya (فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ, fa-sa-ta'lamuuna man huwa fii dhalaalin mubiinin) yang berarti "kelak kalian akan tahu siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata", dan di 19:75 (فَسَيَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ شَرٌّ مَكَانًا, fa-sa-ya'lamuuna man huwa syarrun makaanan) yang berarti "mereka akan mengetahui siapa yang lebih buruk kedudukannya". Di ayat-ayat itu dua pihak berselisih, dan perselisihan itu diserahkan kepada pengetahuan yang akan datang. Di 11:93 Syuaib memakai susunan yang dekat dengan ayat ini, (وَمَنْ هُوَ كَاذِبٌ, wa-man huwa kaadzibun) yang berarti "dan siapa yang pendusta".

Dua kata di ujung ayat ini mengulang tuduhan 54:25 dengan kata sandang al-. Di 54:25 keduanya tak tentu, kadzdzaabun asyirun, dan dilekatkan kepada satu orang yang sudah ditunjuk dengan kata ganti. Di sini, sesudah kata tanya man, (الْكَذَّابُ, l-kadzdzaabu) dan (الْأَشِرُ, l-asyiru) menjadi sebutan yang pemiliknya ditanyakan. Terjemahan menambahkan kata "sebenarnya" untuk menangkap pergeseran itu, dari tuduhan yang sudah diputuskan kepada pertanyaan yang jawabannya belum tampak.

Tafsiran

Ayat ini menjawab tuduhan Tsamud tanpa membalasnya dengan tuduhan. Tidak ada kalimat yang menyatakan bahwa merekalah pendustanya. Jawabannya ditangguhkan sampai mereka mengetahuinya sendiri, dan pengetahuan itu akan datang dari kejadian, tidak dari perdebatan.

Ayat-ayat yang memakai susunan serupa menunjukkan kapan pengetahuan itu biasanya tiba. Di 19:75 dan 72:24 kalimat mereka akan mengetahui didahului keterangan hingga apabila mereka melihat apa yang diancamkan kepada mereka. Pengetahuan tentang siapa pendusta datang bersama terlihatnya ancaman itu, dan bagi Tsamud ancaman itu tiba di 54:31.

Susunan ini juga menjelaskan perintah yang menyusul. Kalau jawaban atas tuduhan ada di waktu yang akan datang, tugas utusan di masa kini tidak terletak pada memenangkan perdebatan. Di 54:27 Saleh diperintahkan menunggu dan bersabar, dan kedua perintah itu sejalan dengan jawaban yang ditangguhkan di ayat ini.

Pertanyaan siapa juga membuka kembali perkara yang sudah Tsamud tutup. Di 54:25 mereka memutuskan jawabannya tanpa bertanya, dan ayat ini mengembalikan keputusan itu menjadi pertanyaan. Kisahnya sendiri kemudian menjawab. Kaum yang menuduh dibinasakan oleh satu suara yang menggelegar (54:31), dan di 11:66 Allah menyebut bahwa Dia menyelamatkan Saleh dan orang-orang yang beriman bersamanya berkat rahmat dari-Nya.

Renungan dan Hikmah

  • Saleh dituduh pendusta lagi sombong, dan jawaban atas tuduhan itu tidak datang hari itu juga. Allah membiarkan kebenaran terungkap kelak. Orang yang dituduh secara tidak adil sering merasa harus membersihkan namanya seketika, dan dorongan itu dapat menyeretnya ke dalam perdebatan yang tidak berujung. Ayat ini memperlihatkan sikap lain, menyerahkan penilaian kepada Allah dan kepada waktu yang Dia tetapkan. Apakah setiap tuduhan perlu dijawab hari ini, atau ada yang lebih baik dibiarkan dijawab oleh kejadian?
  • Kata ghad di ayat ini menunjuk hari ketika Tsamud mengetahui siapa pendusta itu. Di 59:18 kata yang sama dipakai untuk setiap orang, (وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ, wa-l-tanzhur nafsun maa qaddamat li-ghadin) yang berarti "hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok", diapit dua perintah bertakwa kepada Allah. Setiap orang punya hari esok ketika hal-hal yang hari ini diperdebatkan menjadi terang. Isi hari esok itu disiapkan oleh perbuatan hari ini. Apa yang sedang dikirim ke hari esok lewat pekerjaan hari ini?
  • Pertanyaan siapa pendusta lagi sombong di ayat ini ditujukan kepada Tsamud, dan bentuknya terbuka bagi siapa pun yang membacanya. Tsamud yakin sebutan itu milik orang lain. Pembaca yang pernah melekatkan sebutan buruk kepada orang lain dapat mengajukan pertanyaan yang sama kepada dirinya, dengan jujur di hadapan Allah. Kesombongan jarang dikenali oleh pemiliknya sendiri. Kalau pertanyaan siapa itu diarahkan ke dalam, jawaban apa yang muncul?
  • Tsamud akan mengetahui, tetapi pengetahuan itu datang bersama azab. Di 89:23 Allah menggambarkan hari ketika Jahanam didatangkan, (يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ وَأَنَّىٰ لَهُ الذِّكْرَىٰ, yawma'idzin yatadzakkaru l-insaanu wa-annaa lahu dz-dzikraa) yang berarti "pada hari itu manusia teringat, tetapi bagaimana peringatan itu berguna baginya?". Ada pengetahuan yang menyelamatkan dan ada pengetahuan yang datang sesudah pintu tertutup. Perbedaannya terletak pada waktu datangnya. Kebenaran apa yang sudah diketahui hari ini dan masih ditunda untuk diikuti?
  • Di 6:135 utusan Allah diperintahkan berkata (فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ, fa-sawfa ta'lamuuna man takuunu lahu 'aaqibatu d-daari) yang berarti "kelak kalian akan mengetahui siapa yang akan mendapat kesudahan negeri akhirat", sesudah menyeru kaumnya berbuat menurut kedudukan mereka sementara dia pun berbuat. Perselisihan tidak dihentikan dengan paksaan, dan masing-masing pihak meneruskan pekerjaannya. Di tengah perbedaan pendapat yang tidak kunjung selesai, sikap ini menjaga tenaga untuk berbuat baik dan menyerahkan kesudahannya kepada Allah. Perselisihan mana yang selama ini menyita tenaga yang semestinya dipakai untuk berbuat?
  • Tsamud berbicara tentang masa depan dengan yakin. Kalau mengikuti Saleh, kata mereka, mereka pasti tersesat (54:24). Ayat ini menjawab bahwa esok akan membuka hal yang lain. Di 18:23 utusan Allah dilarang berkata tentang sesuatu (إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا, innii faa'ilun dzaalika ghadan) yang berarti "sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok", dan ayat sesudahnya menyertakan kehendak Allah. Esok berada di tangan-Nya, termasuk esok yang sudah terasa pasti. Seberapa sering rencana dan ramalan tentang esok diucapkan tanpa mengingat Dia yang memegangnya?

Ayat 54:27

إِنَّا مُرْسِلُو النَّاقَةِ فِتْنَةً لَهُمْ فَارْتَقِبْهُمْ وَاصْطَبِرْ

Sesungguhnya Kami mengirim unta betina sebagai cobaan bagi mereka; maka, tunggulah mereka dan bersabarlah.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّا مُرْسِلُو النَّاقَةِ فِتْنَةً لَهُمْinnaa mursiluu n-naaqati fitnatan lahumsesungguhnya Kami mengirim unta betina sebagai cobaan bagi mereka
  2. فَارْتَقِبْهُمْ وَاصْطَبِرْfa-rtaqibhum wa-shthabirmaka, tunggulah mereka dan bersabarlah

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
  2. مُرْسِلُوmursiluuyang mengirimkan
  3. النَّاقَةِn-naaqatiunta betina
  4. فِتْنَةًfitnatanujian
  5. لَهُمْlahumbagi mereka
  6. فَارْتَقِبْهُمْfa-rtaqibhummaka tunggulah mereka
  7. وَاصْطَبِرْwa-shthabirdan bersabarlah

Inti bacaan

Tanda yang dituntut Tsamud (26:154) dikirim sebagai cobaan. Naaqah tercatat di 7 ayat, semuanya kisah Tsamud. Perintah irtaqib muncul di 4 ayat, dan bentuk ishthabir di 3 ayat saja dibanding ishbir di 19 ayat.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (إِنَّا مُرْسِلُو النَّاقَةِ, innaa mursiluu n-naaqati) yang berarti "sesungguhnya Kami mengirim unta betina". Kata mursiluu berakar ر-س-ل dan berbentuk pelaku, "yang mengirim", bentuk yang tidak terikat pada waktu lampau. Di 27:35 bentuk pelaku dari kata kerja yang sama dipakai untuk kiriman yang belum berangkat, (وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ, wa-innii mursilatun ilayhim bi-hadiyyatin) yang berarti "dan sesungguhnya aku akan mengirim kepada mereka suatu hadiah". Akar yang sama dipakai untuk Saleh sendiri. Di 7:75 para pemuka Tsamud bertanya kepada orang-orang beriman apakah mereka tahu bahwa Saleh (مُرْسَلٌ مِنْ رَبِّهِ, mursalun min rabbihi) yang berarti "diutus oleh Tuhannya". Kaum itu menerima dua kiriman yang disebut dengan akar yang sama, seorang utusan dan seekor unta.

Kata naaqah tercatat di 7 ayat, dan ketujuhnya berada dalam kisah Tsamud. Di 11:64 unta itu disebut (هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً, haadzihi naaqatu llaahi lakum aayatan) yang berarti "inilah unta betina Allah sebagai tanda bagi kalian", dan di 17:59 (وَآتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً, wa-aataynaa tsamuuda n-naaqata mubshiratan) yang berarti "dan Kami telah berikan kepada kaum Tsamud unta betina yang jelas". Di ayat ini sebutannya lain, (فِتْنَةً لَهُمْ, fitnatan lahum) yang berarti "sebagai cobaan bagi mereka". Kata fitnah tercatat di 34 ayat. Di 21:35 kata itu dipakai untuk cobaan dengan keburukan dan kebaikan sekaligus, (وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً, wa-nabluukum bi-sy-syarri wa-l-khayri fitnatan) yang berarti "dan Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan". Unta yang sama disebut tanda di satu tempat dan cobaan di tempat lain.

Perintah kepada utusan terdiri dari dua kata kerja. Kata kerja pertama, (فَارْتَقِبْهُمْ, fa-rtaqibhum) yang berarti "maka, tunggulah mereka", berakar ر-ق-ب, akar yang tercatat di 20 ayat, dan bentuk kata kerja ini tercatat di 4 ayat. Di 44:59 perintah yang sama diikuti keterangan bahwa pihak lain pun menunggu, (فَارْتَقِبْ إِنَّهُمْ مُرْتَقِبُونَ, fa-rtaqib innahum murtaqibuuna) yang berarti "maka, tunggulah; sesungguhnya mereka pun sedang menunggu". Akar yang sama melahirkan sebutan bagi Allah di 4:1, (إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا, inna llaaha kaana 'alaykum raqiiban) yang berarti "sesungguhnya Allah pengawas atas kalian". Dalam akar ini menunggu berdekatan dengan mengawasi.

Kata kerja kedua, (وَاصْطَبِرْ, wa-shthabir) yang berarti "dan bersabarlah", berakar ص-ب-ر. Perintah bersabar dalam bentuk biasa, ishbir, tercatat di 19 ayat, sedangkan bentuk ishthabir tercatat di 3 ayat, di 19:65 untuk ibadah, di 20:132 untuk salat, dan di ayat ini untuk menghadapi kaum. Di 20:132 terjemahannya menambahkan keterangan, (وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا, wa-shthabir 'alayhaa) yang berarti "dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya". Ketiga tempat itu menyangkut kesabaran yang dijaga terus-menerus, dalam ibadah, dalam salat, dan dalam menghadapi kaum.

Tafsiran

Ayat ini beralih dari jawaban atas tuduhan kepada tindakan. Tsamud pernah menuntut tanda, (فَأْتِ بِآيَةٍ, fa-ti bi-aayatin) yang berarti "maka, datangkanlah tanda" (26:154), dan ayat ini memperlihatkan tuntutan itu dipenuhi. Tanda yang mereka minta datang sebagai cobaan. Unta itu membuktikan bahwa utusan mereka benar, dan sekaligus menguji apa yang akan mereka perbuat terhadapnya. Isi cobaan itu dirinci di 54:28, dalam aturan pembagian air.

Perintah kepada Saleh tidak menyuruhnya berdebat. Dia diminta menunggu dan bersabar, sejalan dengan 54:26 yang menangguhkan jawaban atas tuduhan. Surah ini dibuka dengan perintah lain kepada utusan yang menerima Al-Qur'an, (فَتَوَلَّ عَنْهُمْ, fa-tawalla 'anhum) yang berarti "maka, berpalinglah dari mereka" (54:6). Di sana perintah berpaling datang sesudah penolakan yang berulang (54:2-3). Di sini cobaan baru dimulai, dan utusan diminta tetap mengamati kaumnya selama cobaan itu berlangsung.

Urutan dalam ayat ini juga bermakna. Pengiriman unta disebut lebih dulu, lalu tujuannya, lalu perintah kepada utusan. Saleh tidak diminta berbuat apa pun terhadap unta itu. Tanda itu dikirim Allah, dan cobaannya berlangsung antara Tsamud dan unta tersebut. Tugas Saleh sebatas mengamati dan menahan diri, dan pada ayat berikutnya menyampaikan aturan. Di 11:64 dan 91:13 unta itu disebut unta Allah, sehingga cobaan itu menguji sikap Tsamud terhadap sesuatu yang dinisbatkan kepada-Nya.

Renungan dan Hikmah

  • Tsamud meminta tanda, dan Allah mengirimkannya. Permintaan yang dikabulkan tidak mengakhiri urusan mereka, sebab tanda itu datang bersama tanggung jawab. Sesudah unta itu hadir, mereka tidak lagi dapat berkata bahwa bukti tidak ada, dan setiap perlakuan terhadapnya menjadi bagian dari ujian. Hal yang sama berlaku bagi permintaan yang dipanjatkan kepada Allah hari ini. Doa yang dikabulkan membuka babak baru, ketika pemberian itu diuji dalam cara menerimanya. Apa yang sudah diminta dan sudah diberikan, dan bagaimana pemberian itu diperlakukan?
  • Unta itu tanda dari Allah dan sekaligus cobaan, dan 21:35 menyebut kebaikan sebagai cobaan di samping keburukan. Cobaan lebih mudah dikenali ketika datang sebagai kesulitan. Ketika datang sebagai nikmat, cobaan itu sering tidak terasa, karena pikiran sibuk menikmati dan lupa bertanya apa yang diminta dari penerimanya. Kesehatan, harta, dan kesempatan termasuk dalam kelompok itu. Nikmat mana yang selama ini dinikmati tanpa pernah disadari sebagai ujian?
  • Di 25:20 Allah berfirman (وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ, wa-ja'alnaa ba'dhakum li-ba'dhin fitnatan a-tashbiruuna) yang berarti "dan Kami menjadikan sebagian kalian sebagai ujian bagi sebagian yang lain, maukah kalian bersabar?". Kata cobaan dan sabar bertemu di sana, sebagaimana fitnah dan perintah bersabar bertemu di ayat ini. Saleh menjadi cobaan bagi kaumnya, dan kaumnya menjadi cobaan bagi Saleh. Orang-orang di sekitar kita pun dapat menjadi ujian kesabaran, sebagaimana kita menjadi ujian bagi mereka. Siapa yang sedang menguji kesabaran hari ini, dan siapa yang sedang diuji oleh sikap kita?
  • Syuaib berkata kepada kaumnya yang menolak (وَارْتَقِبُوا إِنِّي مَعَكُمْ رَقِيبٌ, wa-rtaqibuu innii ma'akum raqiibun) yang berarti "dan amatilah, sesungguhnya aku pun mengamati bersama kalian" (11:93). Dia tidak mengusir dan tidak memaksa. Kedua pihak sama-sama menunggu apa yang akan Allah tetapkan. Perselisihan tentang kebenaran tidak selalu dapat diselesaikan hari ini, dan menunggu bersama tanpa permusuhan menjadi pilihan yang tersedia. Dalam perselisihan yang sedang dijalani, adakah ruang untuk menunggu tanpa menyerang?
  • Saleh diperintahkan mengamati kaumnya, dan pengamatannya terbatas pada masa dia hidup di tengah mereka. Di 5:117 Isa berkata kepada Allah (كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ, kunta anta r-raqiiba 'alayhim) yang berarti "Engkaulah pengawas atas mereka", sesudah masa kesaksiannya berakhir. Pengawasan seorang utusan berakhir, sedangkan pengawasan Allah terus berlangsung. Orang yang merasa tidak ada yang melihat sedang lupa bahwa Pengawas itu tidak pernah pergi. Bagaimana sikap di saat sendirian berubah bila pengawasan itu diingat?
  • Bentuk ishthabir dipakai untuk ibadah, untuk salat, dan untuk menghadapi kaum yang menolak. Ketiganya membutuhkan kesabaran yang dijaga hari demi hari, dan kesabaran semacam itu tidak datang sendiri. Menunggu sambil tidak membalas, beribadah sambil tidak bosan, dan menyeru sambil tidak putus asa sama-sama menuntut usaha. Perintah Allah kepada Saleh memakai bentuk yang di 20:132 diterjemahkan dengan tambahan sungguh-sungguh, seakan mengakui beratnya beban itu. Kesabaran mana yang hari ini sedang dipertahankan dengan susah payah?

Ayat 54:28

وَنَبِّئْهُمْ أَنَّ الْمَاءَ قِسْمَةٌ بَيْنَهُمْ ۖ كُلُّ شِرْبٍ مُحْتَضَرٌ

Dan beritahukanlah kepada mereka bahwa air dibagi di antara mereka; setiap giliran minum dihadiri.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَنَبِّئْهُمْ أَنَّ الْمَاءَ قِسْمَةٌ بَيْنَهُمْwa-nabbi'hum anna l-maa'a qismatun baynahumdan beritahukanlah kepada mereka bahwa air dibagi di antara mereka
  2. كُلُّ شِرْبٍ مُحْتَضَرٌkullu syirbin muhtadharunsetiap giliran minum dihadiri

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. وَنَبِّئْهُمْwa-nabbi'humdan beritakanlah kepada mereka
  2. أَنَّannabahwa
  3. الْمَاءَl-maa'aair
  4. قِسْمَةٌqismatunpembagian
  5. بَيْنَهُمْbaynahumdi antara mereka
  6. كُلُّkullusetiap
  7. شِرْبٍsyirbinminum
  8. مُحْتَضَرٌmuhtadharundihadiri

Inti bacaan

Cobaan unta diwujudkan dalam giliran air yang diberitahukan lebih dulu. Qismah tercatat di 3 ayat, syirb sebagai giliran di 2 ayat (26:155 dan ayat ini), dan muhtadhar hanya di sini, berbeda akar dengan muhtazhir di 54:31.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan perintah kedua dari Allah kepada Saleh, (وَنَبِّئْهُمْ, wa-nabbi'hum) yang berarti "dan beritahukanlah kepada mereka". Kata nabbi' berakar ن-ب-أ, akar yang sama dengan naba', berita. Perintah nabbi' tercatat di 4 ayat. Di 12:36 perintah itu datang dari dua orang yang meminta penjelasan kepada Yusuf, dan di tiga ayat lainnya perintah itu datang dari Allah. Di 15:49 isinya ampunan, (نَبِّئْ عِبَادِي, nabbi' 'ibaadii) yang berarti "kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku" bahwa Dia Sang Pengampun, Sang Pengasih. Di 15:51 isinya kisah tamu-tamu Ibrahim, dan di ayat ini isinya aturan tentang air.

Isi pemberitahuan itu (أَنَّ الْمَاءَ قِسْمَةٌ بَيْنَهُمْ, anna l-maa'a qismatun baynahum) yang berarti "bahwa air dibagi di antara mereka". Kata qismah berakar ق-س-م dan tercatat di 3 ayat. Di 4:8 kata itu menunjuk pembagian harta peninggalan, (وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ, wa-idzaa hadhara l-qismata) yang berarti "dan apabila hadir pada pembagian itu", dan di 53:22 pembagian yang disusun para penolak, (قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ, qismatun dhiizaa) yang berarti "suatu pembagian yang tidak adil". Pihak-pihak yang berbagi air di ayat ini diterangkan di 26:155, (لَهَا شِرْبٌ وَلَكُمْ شِرْبُ يَوْمٍ مَعْلُومٍ, lahaa syirbun wa-lakum syirbu yawmin ma'luumin) yang berarti "baginya giliran minum, dan bagi kalian giliran minum pada hari yang ditentukan". Air itu dibagi antara unta dan kaum, bergiliran menurut hari.

Kalimat kedua berbunyi (كُلُّ شِرْبٍ مُحْتَضَرٌ, kullu syirbin muhtadharun) yang berarti "setiap giliran minum dihadiri". Kata benda syirb dalam arti giliran minum tercatat di 2 ayat, 26:155 dan ayat ini. Di 91:13 giliran yang sama disebut dengan kata lain, (نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا, naaqata llaahi wa-suqyaahaa) yang berarti "unta betina Allah, dan giliran minumnya". Kata muhtadhar berakar ح-ض-ر, dan bentuk ini tercatat di ayat ini saja. Teksnya tidak menyebut siapa yang hadir. Dibaca bersama 26:155, kalimat itu terbaca sebagai aturan bahwa setiap pihak datang ke air pada gilirannya sendiri. Di 4:8 akar ح-ض-ر dan kata qismah juga bertemu, kehadiran pada sebuah pembagian.

Tiga ayat sesudahnya muncul kata yang bunyinya hampir sama, (الْمُحْتَظِرِ, l-muhtazhiri) yang berarti "pembuat kandang" (54:31). Kata itu berakar ح-ظ-ر, akar yang berkaitan dengan menghalangi dan memagari, dan di 17:20 dipakai untuk pemberian Tuhan yang tidak terhalang. Muhtadhar dan muhtazhir berbeda satu huruf dan berbeda akar. Muhtadhar menggambarkan giliran minum yang dihadiri, dan muhtazhir muncul dalam gambaran akhir kaum yang melanggar giliran itu.

Tafsiran

Ayat ini mengisi cobaan di 54:27 dengan aturan yang dapat dijalani. Cobaan itu menyentuh kebutuhan sehari-hari, air minum, dan berulang setiap hari. Pada hari giliran unta, kaum Tsamud harus menahan diri dari air, dan pada hari giliran mereka, air itu untuk mereka. Kesediaan menahan diri pada hari yang bukan giliran mereka menjadi ukuran cobaan itu, dan ukuran itu diperiksa pada setiap giliran selama unta itu hidup di tengah mereka.

Aturan itu disampaikan sebagai pemberitahuan. Kata kerja nabbi'hum menjadikan Tsamud pihak yang sudah tahu, sehingga pelanggaran di 54:29 terjadi sesudah pengetahuan, tidak karena ketidaktahuan. Di 11:64 Saleh menambahkan (فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ, fa-dzaruuhaa ta'kul fii ardhi llaahi) yang berarti "biarkanlah dia makan di bumi Allah". Bumi tempat unta itu makan disebut bumi Allah, dan air yang dibagi berada di bumi yang sama. Pembagian itu datang dari Pemilik bumi dan airnya, dan kaum Tsamud diminta menerima bagian yang ditetapkan untuk mereka.

Aturan giliran itu disertai larangan. Di 26:156 Saleh melarang mereka menyentuh unta itu dengan keburukan, dan larangan itu diikuti ancaman azab pada hari yang agung. Aturan giliran menjaga air, dan larangan itu menjaga unta. Pelanggaran di ayat sesudahnya mengenai keduanya sekaligus, sebab unta yang disembelih tidak lagi datang pada gilirannya.

Renungan dan Hikmah

  • Air yang dibagi di ayat ini mengalir di bumi yang di 11:64 disebut bumi Allah. Kaum Tsamud memahat gunung dan membangun istana (7:74), dan mudah bagi mereka merasa bahwa air di negeri itu milik mereka. Aturan giliran mengingatkan bahwa mereka menerima air sebagai titipan dan harus berbagi dengan makhluk lain yang juga Allah kirimkan. Air yang hari ini mengalir ke rumah-rumah pun datang dari sumber yang sama, dan pembagiannya menyangkut banyak pihak yang tidak tampak. Bagaimana air dipakai bila diingat bahwa ada pihak lain yang juga berhak atasnya?
  • Aturan di ayat ini menuntut kesabaran pada hari yang bukan giliran sendiri. Menahan diri sekali mudah dijalani, sedangkan menahan diri pada setiap giliran yang berulang menuntut keteguhan yang lain. Kehidupan bersama penuh dengan giliran semacam itu, dalam antrean, dalam pembagian waktu, dan dalam kesempatan yang datang silih berganti. Kesediaan menunggu giliran menjadi ujian kecil yang berulang, dan Allah menguji Tsamud lewat ujian kecil semacam itu. Dalam giliran apa kesabaran sering habis lebih dulu?
  • Allah memerintahkan Saleh memberitahukan aturan itu kepada kaumnya, sehingga tidak ada yang dapat berkata bahwa mereka tidak tahu. Pengetahuan tentang aturan menambah berat tanggung jawab atas pelanggarannya. Orang yang sudah membaca perintah dan larangan Allah berada dalam kedudukan yang sama dengan Tsamud sesudah diberi tahu. Ketidaktahuan tidak lagi dapat dijadikan alasan, dan yang tersisa pilihan untuk taat atau melanggar. Apa yang sudah diketahui dari kitab-Nya dan masih dilanggar dengan alasan lupa?
  • Para penolak di 53:22 disebut menyusun pembagian yang tidak adil. Manusia cepat mengenali pembagian yang merugikan dirinya dan lambat mengenali pembagian yang merugikan orang lain. Pembagian air di ayat ini ditetapkan Allah, dan bagi Tsamud pembagian itu terasa mengurangi hak mereka. Menerima pembagian dari Allah, termasuk yang tidak berpihak kepada diri sendiri, menuntut kepercayaan bahwa Dia tidak zalim. Pembagian mana dalam hidup ini yang sampai sekarang masih sulit diterima?
  • Kata pembagian dan kehadiran bertemu di ayat ini, dan keduanya bertemu pula di 4:8. Di sana Allah memerintahkan agar kerabat, anak yatim, dan orang miskin yang hadir pada pembagian harta peninggalan diberi bagian dan diajak bicara dengan perkataan yang patut. Kehadiran mereka pada pembagian memberi mereka tempat, walaupun mereka tidak disebut sebagai penerima tetap. Setiap pembagian dihadiri orang-orang yang berharap, dan cara memperlakukan mereka ikut dinilai. Ketika membagi sesuatu, siapa saja yang hadir dan belum terlihat?
  • Cobaan Tsamud masuk lewat kebutuhan yang tidak dapat ditunda, air minum. Ujian yang menyentuh kebutuhan pokok menguji ketaatan pada saat keinginan sedang kuat, sebab rasa haus tidak mudah ditawar. Pada hari giliran unta, sumber air ada di depan mata, dan larangan Allah berdiri di antara mereka dan air itu. Ketaatan yang teruji dalam keadaan lapang belum tentu bertahan dalam keadaan butuh. Ketaatan kepada Allah seperti apa yang masih bertahan ketika kebutuhan sedang mendesak?

Ayat 54:29

فَنَادَوْا صَاحِبَهُمْ فَتَعَاطَىٰ فَعَقَرَ

Maka, mereka memanggil kawan mereka, lalu ia mengambil dan menyembelihnya.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَنَادَوْا صَاحِبَهُمْfa-naadaw shaahibahummaka, mereka memanggil kawan mereka
  2. فَتَعَاطَىٰ فَعَقَرَfa-ta'aathaa fa-'aqaralalu ia mengambil dan menyembelihnya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَنَادَوْاfa-naadawmaka mereka menyeru
  2. صَاحِبَهُمْshaahibahumkawan mereka
  3. فَتَعَاطَىٰfa-ta'aathaalalu ia menangkap
  4. فَعَقَرَfa-'aqaralalu ia menyembelih

Inti bacaan

Rangkaian fa-naadaw, fa-ta'aathaa, fa-'aqara berlangsung tanpa jeda. Pelakunya seorang, dan 91:12 menamainya asyqaahaa. Di 7:77, 11:65, 26:157, dan 91:14 perbuatan itu dinisbatkan kepada seluruh Tsamud.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari empat kata dan memuat tiga kata kerja, masing-masing didahului huruf fa. Kata kerja pertama muncul dalam (فَنَادَوْا صَاحِبَهُمْ, fa-naadaw shaahibahum) yang berarti "maka, mereka memanggil kawan mereka". Kata naadaw berakar ن-د-و, dan susunan fa-naadaw tercatat di 2 ayat. Di 38:3 susunan itu dipakai untuk generasi-generasi yang dibinasakan, (فَنَادَوْا وَلَاتَ حِينَ مَنَاصٍ, fa-naadaw wa-laata hiina manaashin) yang berarti "lalu, mereka berteriak, padahal bukanlah saat untuk melepaskan diri". Di sana panggilan itu permintaan tolong ketika azab sudah tiba, dan di ayat ini panggilan itu mendatangkan orang yang akan melanggar.

Kata (صَاحِبَهُمْ, shaahibahum) berakar ص-ح-ب, akar yang berkaitan dengan menyertai. Al-Qur'an memakai kata shaahib untuk utusan di tengah kaumnya, misalnya di 53:2, (مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ, maa dhalla shaahibukum) yang berarti "kawan kalian tidak sesat", dan di 81:22, (وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ, wa-maa shaahibukum bi-majnuunin) yang berarti "dan teman kalian bukanlah orang gila". Di ayat ini kata yang sama menunjuk orang dari kalangan Tsamud yang mereka panggil. Al-Qur'an tidak menyebut namanya. Di 91:12 dia disebut dengan sifatnya, (إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا, idzi nba'atsa asyqaahaa) yang berarti "ketika bangkit orang yang tercelaka di antara mereka".

Kata kerja kedua, (فَتَعَاطَىٰ, fa-ta'aathaa), diterjemahkan "lalu ia mengambil". Kata itu berakar ع-ط-و, dan bentuk ini tercatat di ayat ini saja. Di tempat lain akar yang sama dipakai untuk memberi, misalnya di 92:5, (فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ, fa-ammaa man a'thaa wa-ttaqaa) yang berarti "maka adapun orang yang memberi dan bertakwa", dan di 20:50 tentang Tuhan, (الَّذِي أَعْطَىٰ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ, lladzii a'thaa kulla syay'in khalqahu) yang berarti "yang memberi segala sesuatu bentuk penciptaannya". Di ayat ini akar pemberian hadir sebagai tangan yang terulur untuk mengambil. Apa yang diambil tidak tertulis di ayat ini, dan terjemahan membiarkannya tanpa sasaran.

Kata kerja ketiga, (فَعَقَرَ, fa-'aqara), diterjemahkan "dan menyembelihnya" dan berakar ع-ق-ر. Perbuatan itu disebut di 5 ayat. Di ayat ini kata kerjanya tunggal, satu orang yang menyembelih, sedangkan di 4 ayat lainnya jamak, misalnya di 7:77, (فَعَقَرُوا النَّاقَةَ, fa-'aqaruu n-naaqata) yang berarti "lalu mereka menyembelih unta betina itu", dan di 91:14, (فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا, fa-kadzdzabuuhu fa-'aqaruuhaa) yang berarti "namun mereka mendustakannya lalu menyembelihnya". Dua ayat lainnya, 11:65 dan 26:157, juga memakai bentuk jamak.

Tafsiran

Ayat ini memuat pelanggaran yang diperingatkan di 54:27-28, dan menceritakannya dengan sangat ringkas. Tiga kata kerja yang beruntun dengan huruf fa memperlihatkan jarak yang pendek antara panggilan dan penyembelihan. Aturan yang diberitahukan di ayat sebelumnya dilanggar di ayat berikutnya.

Pergantian tunggal dan jamak di antara ayat-ayat tentang peristiwa ini menjawab pertanyaan siapa yang menanggung perbuatan itu. Di ayat ini tangan yang menyembelih milik satu orang, dan orang itu datang karena dipanggil. Di empat ayat lain perbuatan itu disandarkan kepada mereka semua, dan 91:14 menyebut kehancuran menimpa mereka karena dosa mereka. Panggilan di awal ayat menjelaskan mengapa perbuatan satu orang dihitung sebagai perbuatan kaum. Di 7:77 penyembelihan itu disandingkan dengan kedurhakaan mereka terhadap perintah Tuhan mereka. Unta itu unta Allah (11:64), dan menyembelihnya berarti menentang Pemiliknya.

Ayat ini juga berdiri berhadapan dengan 54:27. Saleh diperintahkan menunggu dan bersabar, sedangkan kaumnya tidak menunggu akhir cobaan itu dan memanggil kawan mereka untuk mengakhirinya. Di 7:77, sesudah penyembelihan, mereka menantang Saleh mendatangkan apa yang dia janjikan kepada mereka. Kesabaran yang diminta dari utusan dibalas dengan ketidaksabaran kaum yang menantang azab.

Renungan dan Hikmah

  • Tangan yang menyembelih di ayat ini milik satu orang, dan Al-Qur'an di empat tempat lain menyebut mereka semua menyembelih. Mereka yang memanggil, mendorong, atau merestui ikut memikul perbuatan itu. Orang sering merasa bersih karena tidak mengerjakan sendiri keburukan yang terjadi. Dorongan, sorakan, dan persetujuan diam-diam tercatat bersama perbuatan yang didorongnya, dan di hadapan Allah pemanggil dan yang dipanggil sama-sama ditanya. Perbuatan siapa yang pernah didorong dari belakang tanpa merasa ikut menanggungnya?
  • Orang yang menyembelih unta itu disebut kawan mereka, dan persahabatan itu dipakai untuk memanggilnya kepada keburukan. Di 25:28 seseorang menyesal pada hari kemudian, (لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا, laytanii lam attakhidz fulaanan khaliilan) yang berarti "sekiranya aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrab", dan 43:67 menyebut teman-teman akrab saling bermusuhan pada hari itu kecuali orang-orang yang bertakwa kepada Allah. Persahabatan diuji oleh arah ajakannya. Ke mana kawan-kawan terdekat biasanya mengajak, dan ke mana kita mengajak mereka?
  • Di 26:157 Allah menceritakan akibat pertama perbuatan itu, (فَأَصْبَحُوا نَادِمِينَ, fa-ashbahuu naadimiina) yang berarti "maka mereka menjadi orang-orang yang menyesal". Penyesalan datang sesudah unta itu mati, ketika perbuatan tidak dapat dibatalkan lagi, dan ayat sesudahnya menyebut azab tetap menimpa mereka. Ada perbuatan yang dapat diperbaiki dan ada perbuatan yang tidak dapat ditarik kembali. Perbuatan jenis kedua menuntut pertimbangan sebelum tangan bergerak. Keputusan apa yang sedang ditimbang hari ini, dan apakah akibatnya dapat ditarik kembali?
  • Akar kata kerja fa-ta'aathaa di tempat lain dipakai untuk memberi, termasuk pemberian Allah kepada segala sesuatu (20:50). Di ayat ini akar yang sama menggambarkan tangan yang terulur untuk membinasakan. Tangan yang sama dapat memberi dan dapat merusak, dan keduanya bermula dari gerak yang serupa. Tsamud menerima unta itu sebagai pemberian, lalu mengulurkan tangan untuk mengakhirinya. Hari ini tangan lebih sering terulur untuk memberi atau untuk mengambil?
  • Tsamud tidak mampu membantah unta itu, sebab tanda itu hidup dan dapat dilihat. Mereka memilih melenyapkannya, dan 17:59 menyebut perbuatan itu kezaliman, (فَظَلَمُوا بِهَا, fa-zhalamuu bihaa) yang berarti "tetapi mereka menzaliminya". Pengingat dari Allah yang tidak dapat dibantah kadang disingkirkan dari pandangan, dengan menjauhi orang yang mengingatkan atau menutup kitab yang menegur. Tanda itu hilang dari depan mata, sementara kebenarannya tetap berlaku. Pengingat mana yang pernah disingkirkan karena tidak dapat dijawab?
  • Tiga kata kerja di ayat ini beruntun tanpa jeda, dipanggil, mengambil, menyembelih. Di antara panggilan dan perbuatan ada saat ketika orang yang dipanggil masih dapat menolak. Kawan Tsamud itu tidak memakai kesempatan tersebut, dan Al-Qur'an menyebutnya orang yang tercelaka (91:12). Setiap ajakan kepada keburukan menyisakan saat semacam itu, sekecil apa pun. Ketika ajakan datang, adakah jeda yang cukup untuk mengingat Allah sebelum tangan bergerak?