فَقَالُوا أَبَشَرًا مِنَّا وَاحِدًا نَتَّبِعُهُ إِنَّا إِذًا لَفِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ
maka mereka berkata, “Apakah seorang manusia dari kita, satu orang, yang akan kita ikuti? Sesungguhnya jika begitu, kita benar-benar dalam kesesatan dan kegilaan.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- فَقَالُواfa-qaaluumaka, mereka berkata
- أَبَشَرًا مِنَّا وَاحِدًا نَتَّبِعُهُa-basyaran minnaa waahidan nattabi'uhuapakah seorang manusia dari kita, satu orang, yang akan kita ikuti
- إِنَّا إِذًا لَفِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍinnaa idzan la-fii dhalaalin wa-su'urinsesungguhnya jika begitu, kita benar-benar dalam kesesatan dan kegilaan
Terjemahan per kata (10 kata)
- فَقَالُواfa-qaaluulalu mereka berkata
- أَبَشَرًاa-basyaranapakah seorang manusia
- مِنَّاminnaadari kami
- وَاحِدًاwaahidansatu
- نَتَّبِعُهُnattabi'uhukami mengikutinya
- إِنَّاinnaasesungguhnya kami
- إِذًاidzanjika demikian
- لَفِيla-fiibenar-benar dalam
- ضَلَالٍdhalaalinkesesatan
- وَسُعُرٍwa-su'urindan kegilaan
Inti bacaan
Basyarun mitslunaa diucapkan para penolak di 4 ayat, dan basyarun mitslukum tercatat di 6 ayat, tiga oleh penolak dan tiga oleh utusan. Su'ur tercatat di 54:24 dan 54:47 saja, sedangkan akarnya muncul di 19 ayat, 16 sebagai sa'iir.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini mengutip ucapan Tsamud dan dibuka dengan (فَقَالُوا, fa-qaaluu) yang berarti "maka mereka berkata". Huruf fa mengaitkan ucapan itu dengan pendustaan di 54:23, sehingga kalimat yang menyusul terbaca sebagai isi pendustaan itu. Pertanyaan mereka dibuka dengan (أَبَشَرًا, a-basyaran) yang berarti "apakah seorang manusia". Huruf a di depannya menandai pertanyaan, dan kata basyar berakar ب-ش-ر serta tercatat di 37 ayat. Kata itu berdiri di awal kalimat, mendahului kata kerja (نَتَّبِعُهُ, nattabi'uhu) yang berarti "kita ikuti dia", dan akhiran -hu pada kata kerja itu menunjuk kembali kepadanya. Susunan itu menaruh sosok yang akan diikuti di depan, sebelum perbuatan mengikutinya disebut.
Keberatan terhadap utusan yang berupa manusia tercatat di banyak kisah. Rumusan (بَشَرٌ مِثْلُنَا, basyarun mitslunaa) yang berarti "manusia seperti kami" diucapkan para penolak di 4 ayat, yaitu 14:10, 26:154, 26:186, dan 36:15. Di 26:154 rumusan itu diucapkan Tsamud sendiri kepada Saleh, disusul permintaan agar dia mendatangkan tanda. Rumusan (بَشَرٌ مِثْلُكُمْ, basyarun mitslukum) yang berarti "manusia seperti kalian" tercatat di 6 ayat, dan pengucapnya dua pihak. Di 21:3, 23:24, dan 23:33 para penolak mengucapkannya kepada sesamanya untuk menjauhkan mereka dari utusan, sedangkan di 14:11, 18:110, dan 41:6 para utusan mengucapkannya tentang diri mereka sendiri.
Dua kata berikutnya mempersempit keberatan itu. Kata (مِنَّا, minnaa) yang berarti "dari kita" menempatkan utusan di tengah kaumnya sendiri, orang yang mereka kenal. Kata (وَاحِدًا, waahidan) yang berarti "satu orang" mempertentangkan dia dengan mereka yang banyak. Kata waahid di 18:110 menyifati Tuhan, (إِلَٰهٌ وَاحِدٌ, ilaahun waahidun) yang berarti "Tuhan Yang Esa", dan di 38:5 keesaan itu pula yang dipersoalkan para penolak, (أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا, a-ja'ala l-aaliha ilaahan waahidan) yang berarti "apakah ia menjadikan tuhan-tuhan sebagai Tuhan yang satu?". Di 54:24 keberatan terhadap yang satu tertuju kepada utusan, dan di 38:5 kepada Tuhan yang diserukan utusan.
Kalimat kedua menyatakan akibat yang mereka bayangkan, (إِنَّا إِذًا لَفِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ, innaa idzan la-fii dhalaalin wa-su'urin) yang berarti "sesungguhnya jika begitu, kita benar-benar dalam kesesatan dan kegilaan". Kata idzan mengikat keadaan itu pada syarat yang baru disebut, mengikuti seorang manusia dari kalangan sendiri. Kata dhalaal berakar ض-ل-ل. Kata su'ur berakar س-ع-ر, akar yang tercatat di 19 ayat, dan 16 di antaranya berupa sa'iir, api yang menyala-nyala, misalnya di 4:10, (وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا, wa-sa-yashlawna sa'iiran) yang berarti "dan mereka akan memasuki api yang menyala-nyala". Kata su'ur sendiri tercatat di 2 ayat, di ayat ini dan di 54:47, dan terjemahan memilih "kegilaan" untuk keduanya.
Tafsiran
Ayat ini menyusun penolakan Tsamud sebagai penalaran. Utusan itu manusia, dia berasal dari kalangan mereka sendiri, dan dia seorang diri. Masing-masing keterangan mengurangi bobotnya di mata mereka, dan ketiganya berujung pada kesimpulan bahwa mengikutinya berarti tersesat. Mereka menolak sambil merasa sedang menjaga diri dari kesesatan.
Para utusan di 14:11 menjawab keberatan yang sama dengan mengakui bagian pertamanya. Mereka manusia seperti kaumnya, (وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ, wa-laakinna llaaha yamunnu 'alaa man yasyaa'u min 'ibaadihi) yang berarti "tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya". Kemanusiaan utusan tidak dibantah, dan persoalannya dipindahkan kepada kehendak Allah.
Pasangan kata di ujung ayat ini muncul lagi di 54:47, (إِنَّ الْمُجْرِمِينَ فِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ, inna l-mujrimiina fii dhalaalin wa-su'urin) yang berarti "sesungguhnya para pendosa berada dalam kesesatan dan kegilaan". Tsamud memakai kedua kata itu untuk menggambarkan keadaan yang akan menimpa mereka seandainya mengikuti utusan. Surah ini memakai kedua kata yang sama untuk keadaan para pendosa, dan ayat sesudahnya (54:48) menyebut mereka diseret ke dalam api atas wajah mereka. Keadaan yang mereka takutkan bila mengikuti ternyata menjadi keadaan orang-orang yang menolak.
Renungan dan Hikmah
- Sebelum Saleh menyeru mereka, Tsamud memandangnya dengan penuh harapan. Mereka berkata (قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَٰذَا, qad kunta fiinaa marjuwwan qabla haadzaa) yang berarti "sebelum ini engkau benar-benar orang yang diharapkan di tengah kami" (11:62). Orang yang sama berubah di mata mereka menjadi seorang manusia dari kalangan sendiri yang tidak layak diikuti, dan perubahan itu terjadi ketika dia menyampaikan seruan Allah. Penghargaan terhadap seseorang dapat bertahan selama dia tidak menyentuh kebiasaan yang dipegang. Apakah penilaian terhadap seseorang berubah ketika dia mulai menyampaikan sesuatu yang tidak ingin didengar?
- Keberatan Tsamud mempertentangkan satu orang dengan mereka yang banyak, sehingga kebenaran diukur dengan jumlah. Di 6:116 Allah berfirman kepada utusan-Nya (وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ, wa-in tuthi' aktsara man fii l-ardhi yudhilluuka 'an sabiili llaahi) yang berarti "dan jika engkau menaati kebanyakan orang di bumi, mereka menyesatkanmu dari jalan Allah". Tsamud takut tersesat karena mengikuti satu orang, dan ayat itu menyebut kesesatan yang datang dari mengikuti kebanyakan. Suara yang banyak memberi rasa aman, dan rasa aman itu belum tentu menunjuk arah yang benar. Kapan terakhir kali sebuah keyakinan diperiksa tanpa melihat berapa banyak orang yang memegangnya?
- Penalaran Tsamud berujung pada kekhawatiran tersesat, sebuah alasan yang terdengar bertanggung jawab. Penolakan terhadap seruan Allah dapat tampil sebagai kehati-hatian, dan kehati-hatian itu terasa sebagai kebajikan bagi yang memegangnya. Kekhawatiran yang jujur mendorong pemiliknya memeriksa lebih jauh, sedangkan kekhawatiran Tsamud berhenti pada kesimpulan sebelum pemeriksaan dimulai. Ketakutan akan salah langkah dapat menjadi alasan untuk tidak pernah melangkah ke arah yang Allah tunjukkan. Kekhawatiran apa yang selama ini menahan langkah ke arah yang sudah diketahui benar?
- Di 17:94 Allah berfirman bahwa tidak ada yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk datang kecuali ucapan mereka (أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا, a-ba'atsa llaahu basyaran rasuulan) yang berarti "apakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?". Penghalangnya terletak pada anggapan tentang bagaimana seharusnya utusan Allah tampil. Anggapan itu menuntut sosok yang luar biasa, dan menolak petunjuk yang datang lewat manusia biasa. Petunjuk Allah dapat sampai lewat orang yang tampak biasa saja, dan anggapan tentang rupa pembawanya dapat menutup jalan kepadanya. Siapa saja yang pernah diabaikan nasihatnya karena dia tampak terlalu biasa?
- Tsamud menolak mengikuti seorang manusia dari kalangan mereka. Kata kerja yang sama muncul di 2:170 dalam jawaban orang-orang yang diajak mengikuti wahyu, (بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا, bal nattabi'u maa alfaynaa 'alayhi aabaa'anaa) yang berarti "bahkan kami mengikuti apa yang kami dapati pada leluhur kami". Penolakan untuk mengikuti satu orang tidak berarti bebas dari mengikuti. Tempat mengikutinya berpindah, dari utusan Allah kepada kebiasaan leluhur. Setiap orang mengikuti sesuatu, dan persoalannya terletak pada apa yang diikuti. Apa yang sedang diikuti tanpa pernah dipilih secara sadar?
- Di 18:110 utusan Allah diperintahkan berkata (قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ, qul innamaa anaa basyarun mitslukum) yang berarti "katakanlah, sesungguhnya aku seorang manusia seperti kalian", lalu menyebut bahwa dia menerima wahyu dan menyeru kepada amal saleh. Keadaan yang dijadikan Tsamud alasan menolak diakui terang-terangan oleh utusan itu sendiri. Di 17:95 Allah menyebut bahwa sekiranya di bumi ada malaikat yang berjalan dengan tenang, Dia akan menurunkan malaikat sebagai rasul bagi mereka. Utusan diutus sesuai dengan kaum yang diserunya, sehingga seruannya dapat diteladani oleh sesama manusia.