أَأُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنْ بَيْنِنَا بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌ
Apakah peringatan dilemparkan kepadanya di antara kita? Bahkan, ia seorang pendusta lagi sombong.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَأُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنْ بَيْنِنَاa-ulqiya dz-dzikru 'alayhi min bayninaaapakah peringatan dilemparkan kepadanya di antara kita
- بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌbal huwa kadzdzaabun asyirunbahkan, ia seorang pendusta lagi sombong
Terjemahan per kata (9 kata)
- أَأُلْقِيَa-ulqiyaapakah diturunkan
- الذِّكْرُdz-dzikruperingatan
- عَلَيْهِ'alayhiatasnya
- مِنْmindari
- بَيْنِنَاbayninaadi antara kami
- بَلْbalbahkan
- هُوَhuwaia
- كَذَّابٌkadzdzaabunpendusta besar
- أَشِرٌasyirunyang sombong
Inti bacaan
Min bayninaa tercatat di 4 ayat, tiga untuk keberatan atas pilihan, termasuk 38:8 yang hampir sama bunyinya. Kadzdzaab tercatat di 5 ayat dan asyir di 2, keduanya diulang di 54:26 dengan kata sandang al-.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini melanjutkan ucapan Tsamud dengan pertanyaan kedua, (أَأُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنْ بَيْنِنَا, a-ulqiya dz-dzikru 'alayhi min bayninaa) yang berarti "apakah peringatan dilemparkan kepadanya di antara kita?". Kata kerja ulqiya berakar ل-ق-ي dan berbentuk pasif, sehingga pelaku yang menyampaikan tidak disebut. Kata kerja yang sama dengan huruf 'alaa dipakai Allah untuk wahyu yang Dia sampaikan kepada utusan-Nya. Di 73:5 Dia berfirman (إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا, innaa sa-nulqii 'alayka qawlan tsaqiilan) yang berarti "sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat". Di sana terjemahannya "menurunkan", dan di ayat ini "dilemparkan". Perbedaan terjemahan itu mengikuti siapa yang berbicara, Allah tentang perbuatan-Nya sendiri di 73:5 dan para penolak tentang sesuatu yang mereka ragukan di 54:25.
Kata (الذِّكْرُ, dz-dzikru) di sini menunjuk wahyu yang dibawa utusan, dan terjemahannya "peringatan"; kaitannya dengan dzikr di ujung setiap kisah surah ini dibahas di 54:17. Keterangan (مِنْ بَيْنِنَا, min bayninaa) yang berarti "di antara kita" tercatat di 4 ayat. Di 41:5 keterangan itu dipakai untuk tabir antara para penolak dan utusan, dan di tiga ayat lainnya, termasuk ayat ini, untuk keberatan yang serupa. Di 38:8 pertanyaannya hampir sama dengan ayat ini, dengan kata kerja lain, (أَأُنْزِلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ مِنْ بَيْنِنَا, a-unzila 'alayhi dz-dzikru min bayninaa) yang berarti "apakah peringatan diturunkan kepadanya di antara kita?". Di 6:53 keberatan itu tertuju kepada orang-orang beriman, (أَهَٰؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا, a-haa'ulaa'i manna llaahu 'alayhim min bayninaa) yang berarti "apakah mereka ini yang diberi anugerah oleh Allah di antara kita?". Ketiganya mempersoalkan pilihan, mengapa dia atau mereka yang dipilih.
Kata (بَلْ, bal) yang berarti "bahkan" memindahkan ucapan mereka dari bertanya kepada menuduh. Tuduhannya terdiri dari dua kata. Kata (كَذَّابٌ, kadzdzaabun) yang berarti "pendusta" berakar ك-ذ-ب dan tercatat di 5 ayat, yaitu 38:4, 40:24, 40:28, 54:25, dan 54:26. Di 38:4 kata itu dipasangkan dengan penyihir, (سَاحِرٌ كَذَّابٌ, saahirun kadzdzaabun) yang berarti "penyihir yang banyak berdusta", dan di 40:24 Firaun, Haman, dan Qarun memakai sebutan yang sama untuk Musa. Kata (أَشِرٌ, asyirun) yang berarti "sombong" berakar أ-ش-ر dan tercatat di 2 ayat, di ayat ini dan di 54:26. Kedua kata itu diulang di ayat sesudahnya dengan kata sandang al-, sehingga tuduhan yang diucapkan Tsamud di sini dijawab dengan kata-kata mereka sendiri.
Pertanyaan mereka mengandung dua kata ganti yang berlawanan. Akhiran -hi pada (عَلَيْهِ, 'alayhi) menunjuk utusan sebagai satu orang, dan akhiran -naa pada (بَيْنِنَا, bayninaa) menunjuk mereka sebagai kelompok. Pembedaan yang sama sudah muncul di 54:24, antara satu orang yang diikuti dan kita yang mengikuti. Di 7:63 Nuh dan di 7:69 Hud menjawab keberatan serupa dengan pertanyaan balik, apakah kaumnya heran bahwa peringatan dari Tuhan datang (عَلَىٰ رَجُلٍ مِنْكُمْ, 'alaa rajulin minkum) yang berarti "kepada seorang laki-laki dari golongan kalian". Rumusan para utusan memakai minkum, "dari kalian", sedangkan rumusan Tsamud memakai min bayninaa, "di antara kita", dan keduanya menunjuk kenyataan yang sama dari dua pihak.
Tafsiran
Ayat ini memindahkan keberatan Tsamud dari sosok utusan kepada wahyu yang dibawanya. Di 54:24 mereka mempersoalkan siapa yang harus diikuti, dan di sini mereka mempersoalkan mengapa wahyu sampai kepadanya dan tidak kepada yang lain di antara mereka. Pertanyaan itu menyiratkan bahwa kalau wahyu memang turun, ada orang lain yang menurut mereka lebih pantas menerimanya.
Al-Qur'an menjawab pertanyaan semacam itu di tempat lain dengan menunjuk kehendak Allah. Di 40:15 Allah disebut (يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ, yulqii r-ruuha min amrihi 'alaa man yasyaa'u min 'ibaadihi) yang berarti "Dia menurunkan Ruh dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya". Kata kerjanya dari akar yang sama dengan ulqiya di ayat ini, dan jawabannya tertuju tepat pada titik yang dipersoalkan Tsamud, siapa yang menerima.
Sesudah pertanyaan itu, Tsamud tidak menunggu jawaban. Kata bal membawa mereka langsung kepada vonis, utusan itu pendusta lagi sombong. Pertanyaan yang dibiarkan tanpa jawaban lalu ditutup dengan tuduhan memperlihatkan bahwa pertanyaan itu sejak awal tidak mencari keterangan. Tuduhan sombong pun berbalik arah. Di 7:75 para penolak di antara Tsamud disebut (الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا, l-mala'u lladziina stakbaruu) yang berarti "pemuka-pemuka yang menyombongkan diri", sehingga sebutan sombong yang mereka lekatkan kepada Saleh lebih dulu melekat pada diri mereka.
Renungan dan Hikmah
- Keberatan min bayninaa menyimpan pertanyaan yang tidak diucapkan, mengapa dia dan bukan kami. Di 43:31 pertanyaan itu diucapkan terang, (لَوْلَا نُزِّلَ هَٰذَا الْقُرْآنُ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ, lawlaa nuzzila haadzaa l-qur'aanu 'alaa rajulin mina l-qaryatayni 'azhiimin) yang berarti "mengapa Al-Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang pembesar dari dua negeri itu?". Ukuran yang mereka pakai berupa kedudukan dan kebesaran di mata masyarakat. Rasa tidak rela ketika orang lain menerima karunia Allah dapat lahir dari ukuran yang sama. Siapa yang diam-diam dianggap tidak pantas menerima kebaikan yang Allah berikan kepadanya?
- Tsamud mempersoalkan wahyu yang datang kepada seorang di antara mereka. Di 3:164 keadaan yang sama disebut karunia, (لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ, la-qad manna llaahu 'alaa l-mu'miniina idz ba'atsa fiihim rasuulan min anfusihim) yang berarti "sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman, ketika Dia mengutus di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri". Utusan yang berbicara dengan bahasa kaumnya (14:4) dan hidup di tengah mereka dapat diteladani dari dekat. Kedekatan yang bagi Tsamud menjadi alasan meremehkan disebut Allah sebagai pemberian. Pandangan terhadap orang dekat yang membawa kebaikan menentukan apakah kedekatan itu dirasakan sebagai karunia atau sebagai beban.
- Dalam dua ayat ucapan Tsamud, isi wahyu tidak disinggung sama sekali. Mereka membicarakan pembawanya saja, seorang manusia, dari kalangan sendiri, seorang diri, pendusta, dan sombong. Kebenaran dari Allah dapat ditolak tanpa pernah ditimbang isinya, cukup dengan meruntuhkan kepercayaan kepada orang yang membawanya. Cara ini hemat tenaga, sebab membantah isi menuntut pemeriksaan, sedangkan meremehkan orang cukup dengan satu sebutan. Seruan apa yang pernah ditolak tanpa isinya sempat didengar sampai selesai?
- Di 28:68 Allah berfirman (وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ, wa-rabbuka yakhluqu maa yasyaa'u wa-yakhtaaru) yang berarti "dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih", lalu menyatakan bahwa pilihan itu tidak berada di tangan mereka. Keberatan Tsamud menempatkan diri mereka sebagai penilai atas pilihan Allah. Sikap yang sama dapat muncul dalam urusan sehari-hari, ketika pembagian rezeki, kemampuan, atau kesempatan dirasa tidak tepat sasaran. Menerima bahwa Allah memilih tanpa meminta persetujuan manusia melepaskan hati dari beban menilai sesuatu di luar wewenangnya.
- Di 38:4 para penolak (وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ, wa-'ajibuu an jaa'ahum mundzirun minhum) yang berarti "dan mereka heran karena datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka", lalu keheranan itu segera berubah menjadi tuduhan. Keheranan dapat menjadi pintu untuk bertanya lebih jauh, dan dapat pula ditutup dengan kesimpulan yang tergesa. Tsamud mengambil jalan kedua, dari pertanyaan langsung kepada sebutan pendusta. Rasa heran terhadap hal yang datang dari Allah menyimpan kesempatan untuk mengenal-Nya lebih dekat. Ke mana rasa heran itu dibawa, kepada pertanyaan yang sungguh-sungguh atau kepada vonis yang cepat?
- Wahyu yang dipersoalkan Tsamud disebut Allah di 73:5 sebagai perkataan yang berat bagi penerimanya. Dari luar, terpilih terlihat sebagai kehormatan. Dari dalam, pilihan itu datang bersama beban, dan Saleh memikulnya sampai disebut pendusta oleh kaumnya sendiri. Orang yang memandang kedudukan orang lain dari jauh jarang melihat beratnya. Bagaimana pandangan terhadap orang-orang yang memikul amanah berubah bila beban mereka ikut ditimbang?