Ayat 54:27

إِنَّا مُرْسِلُو النَّاقَةِ فِتْنَةً لَهُمْ فَارْتَقِبْهُمْ وَاصْطَبِرْ

Sesungguhnya Kami mengirim unta betina sebagai cobaan bagi mereka; maka, tunggulah mereka dan bersabarlah.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّا مُرْسِلُو النَّاقَةِ فِتْنَةً لَهُمْinnaa mursiluu n-naaqati fitnatan lahumsesungguhnya Kami mengirim unta betina sebagai cobaan bagi mereka
  2. فَارْتَقِبْهُمْ وَاصْطَبِرْfa-rtaqibhum wa-shthabirmaka, tunggulah mereka dan bersabarlah

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
  2. مُرْسِلُوmursiluuyang mengirimkan
  3. النَّاقَةِn-naaqatiunta betina
  4. فِتْنَةًfitnatanujian
  5. لَهُمْlahumbagi mereka
  6. فَارْتَقِبْهُمْfa-rtaqibhummaka tunggulah mereka
  7. وَاصْطَبِرْwa-shthabirdan bersabarlah

Inti bacaan

Tanda yang dituntut Tsamud (26:154) dikirim sebagai cobaan. Naaqah tercatat di 7 ayat, semuanya kisah Tsamud. Perintah irtaqib muncul di 4 ayat, dan bentuk ishthabir di 3 ayat saja dibanding ishbir di 19 ayat.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (إِنَّا مُرْسِلُو النَّاقَةِ, innaa mursiluu n-naaqati) yang berarti "sesungguhnya Kami mengirim unta betina". Kata mursiluu berakar ر-س-ل dan berbentuk pelaku, "yang mengirim", bentuk yang tidak terikat pada waktu lampau. Di 27:35 bentuk pelaku dari kata kerja yang sama dipakai untuk kiriman yang belum berangkat, (وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ, wa-innii mursilatun ilayhim bi-hadiyyatin) yang berarti "dan sesungguhnya aku akan mengirim kepada mereka suatu hadiah". Akar yang sama dipakai untuk Saleh sendiri. Di 7:75 para pemuka Tsamud bertanya kepada orang-orang beriman apakah mereka tahu bahwa Saleh (مُرْسَلٌ مِنْ رَبِّهِ, mursalun min rabbihi) yang berarti "diutus oleh Tuhannya". Kaum itu menerima dua kiriman yang disebut dengan akar yang sama, seorang utusan dan seekor unta.

Kata naaqah tercatat di 7 ayat, dan ketujuhnya berada dalam kisah Tsamud. Di 11:64 unta itu disebut (هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً, haadzihi naaqatu llaahi lakum aayatan) yang berarti "inilah unta betina Allah sebagai tanda bagi kalian", dan di 17:59 (وَآتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً, wa-aataynaa tsamuuda n-naaqata mubshiratan) yang berarti "dan Kami telah berikan kepada kaum Tsamud unta betina yang jelas". Di ayat ini sebutannya lain, (فِتْنَةً لَهُمْ, fitnatan lahum) yang berarti "sebagai cobaan bagi mereka". Kata fitnah tercatat di 34 ayat. Di 21:35 kata itu dipakai untuk cobaan dengan keburukan dan kebaikan sekaligus, (وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً, wa-nabluukum bi-sy-syarri wa-l-khayri fitnatan) yang berarti "dan Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan". Unta yang sama disebut tanda di satu tempat dan cobaan di tempat lain.

Perintah kepada utusan terdiri dari dua kata kerja. Kata kerja pertama, (فَارْتَقِبْهُمْ, fa-rtaqibhum) yang berarti "maka, tunggulah mereka", berakar ر-ق-ب, akar yang tercatat di 20 ayat, dan bentuk kata kerja ini tercatat di 4 ayat. Di 44:59 perintah yang sama diikuti keterangan bahwa pihak lain pun menunggu, (فَارْتَقِبْ إِنَّهُمْ مُرْتَقِبُونَ, fa-rtaqib innahum murtaqibuuna) yang berarti "maka, tunggulah; sesungguhnya mereka pun sedang menunggu". Akar yang sama melahirkan sebutan bagi Allah di 4:1, (إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا, inna llaaha kaana 'alaykum raqiiban) yang berarti "sesungguhnya Allah pengawas atas kalian". Dalam akar ini menunggu berdekatan dengan mengawasi.

Kata kerja kedua, (وَاصْطَبِرْ, wa-shthabir) yang berarti "dan bersabarlah", berakar ص-ب-ر. Perintah bersabar dalam bentuk biasa, ishbir, tercatat di 19 ayat, sedangkan bentuk ishthabir tercatat di 3 ayat, di 19:65 untuk ibadah, di 20:132 untuk salat, dan di ayat ini untuk menghadapi kaum. Di 20:132 terjemahannya menambahkan keterangan, (وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا, wa-shthabir 'alayhaa) yang berarti "dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya". Ketiga tempat itu menyangkut kesabaran yang dijaga terus-menerus, dalam ibadah, dalam salat, dan dalam menghadapi kaum.

Tafsiran

Ayat ini beralih dari jawaban atas tuduhan kepada tindakan. Tsamud pernah menuntut tanda, (فَأْتِ بِآيَةٍ, fa-ti bi-aayatin) yang berarti "maka, datangkanlah tanda" (26:154), dan ayat ini memperlihatkan tuntutan itu dipenuhi. Tanda yang mereka minta datang sebagai cobaan. Unta itu membuktikan bahwa utusan mereka benar, dan sekaligus menguji apa yang akan mereka perbuat terhadapnya. Isi cobaan itu dirinci di 54:28, dalam aturan pembagian air.

Perintah kepada Saleh tidak menyuruhnya berdebat. Dia diminta menunggu dan bersabar, sejalan dengan 54:26 yang menangguhkan jawaban atas tuduhan. Surah ini dibuka dengan perintah lain kepada utusan yang menerima Al-Qur'an, (فَتَوَلَّ عَنْهُمْ, fa-tawalla 'anhum) yang berarti "maka, berpalinglah dari mereka" (54:6). Di sana perintah berpaling datang sesudah penolakan yang berulang (54:2-3). Di sini cobaan baru dimulai, dan utusan diminta tetap mengamati kaumnya selama cobaan itu berlangsung.

Urutan dalam ayat ini juga bermakna. Pengiriman unta disebut lebih dulu, lalu tujuannya, lalu perintah kepada utusan. Saleh tidak diminta berbuat apa pun terhadap unta itu. Tanda itu dikirim Allah, dan cobaannya berlangsung antara Tsamud dan unta tersebut. Tugas Saleh sebatas mengamati dan menahan diri, dan pada ayat berikutnya menyampaikan aturan. Di 11:64 dan 91:13 unta itu disebut unta Allah, sehingga cobaan itu menguji sikap Tsamud terhadap sesuatu yang dinisbatkan kepada-Nya.

Renungan dan Hikmah

  • Tsamud meminta tanda, dan Allah mengirimkannya. Permintaan yang dikabulkan tidak mengakhiri urusan mereka, sebab tanda itu datang bersama tanggung jawab. Sesudah unta itu hadir, mereka tidak lagi dapat berkata bahwa bukti tidak ada, dan setiap perlakuan terhadapnya menjadi bagian dari ujian. Hal yang sama berlaku bagi permintaan yang dipanjatkan kepada Allah hari ini. Doa yang dikabulkan membuka babak baru, ketika pemberian itu diuji dalam cara menerimanya. Apa yang sudah diminta dan sudah diberikan, dan bagaimana pemberian itu diperlakukan?
  • Unta itu tanda dari Allah dan sekaligus cobaan, dan 21:35 menyebut kebaikan sebagai cobaan di samping keburukan. Cobaan lebih mudah dikenali ketika datang sebagai kesulitan. Ketika datang sebagai nikmat, cobaan itu sering tidak terasa, karena pikiran sibuk menikmati dan lupa bertanya apa yang diminta dari penerimanya. Kesehatan, harta, dan kesempatan termasuk dalam kelompok itu. Nikmat mana yang selama ini dinikmati tanpa pernah disadari sebagai ujian?
  • Di 25:20 Allah berfirman (وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ, wa-ja'alnaa ba'dhakum li-ba'dhin fitnatan a-tashbiruuna) yang berarti "dan Kami menjadikan sebagian kalian sebagai ujian bagi sebagian yang lain, maukah kalian bersabar?". Kata cobaan dan sabar bertemu di sana, sebagaimana fitnah dan perintah bersabar bertemu di ayat ini. Saleh menjadi cobaan bagi kaumnya, dan kaumnya menjadi cobaan bagi Saleh. Orang-orang di sekitar kita pun dapat menjadi ujian kesabaran, sebagaimana kita menjadi ujian bagi mereka. Siapa yang sedang menguji kesabaran hari ini, dan siapa yang sedang diuji oleh sikap kita?
  • Syuaib berkata kepada kaumnya yang menolak (وَارْتَقِبُوا إِنِّي مَعَكُمْ رَقِيبٌ, wa-rtaqibuu innii ma'akum raqiibun) yang berarti "dan amatilah, sesungguhnya aku pun mengamati bersama kalian" (11:93). Dia tidak mengusir dan tidak memaksa. Kedua pihak sama-sama menunggu apa yang akan Allah tetapkan. Perselisihan tentang kebenaran tidak selalu dapat diselesaikan hari ini, dan menunggu bersama tanpa permusuhan menjadi pilihan yang tersedia. Dalam perselisihan yang sedang dijalani, adakah ruang untuk menunggu tanpa menyerang?
  • Saleh diperintahkan mengamati kaumnya, dan pengamatannya terbatas pada masa dia hidup di tengah mereka. Di 5:117 Isa berkata kepada Allah (كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ, kunta anta r-raqiiba 'alayhim) yang berarti "Engkaulah pengawas atas mereka", sesudah masa kesaksiannya berakhir. Pengawasan seorang utusan berakhir, sedangkan pengawasan Allah terus berlangsung. Orang yang merasa tidak ada yang melihat sedang lupa bahwa Pengawas itu tidak pernah pergi. Bagaimana sikap di saat sendirian berubah bila pengawasan itu diingat?
  • Bentuk ishthabir dipakai untuk ibadah, untuk salat, dan untuk menghadapi kaum yang menolak. Ketiganya membutuhkan kesabaran yang dijaga hari demi hari, dan kesabaran semacam itu tidak datang sendiri. Menunggu sambil tidak membalas, beribadah sambil tidak bosan, dan menyeru sambil tidak putus asa sama-sama menuntut usaha. Perintah Allah kepada Saleh memakai bentuk yang di 20:132 diterjemahkan dengan tambahan sungguh-sungguh, seakan mengakui beratnya beban itu. Kesabaran mana yang hari ini sedang dipertahankan dengan susah payah?

Ayat 54:28

وَنَبِّئْهُمْ أَنَّ الْمَاءَ قِسْمَةٌ بَيْنَهُمْ ۖ كُلُّ شِرْبٍ مُحْتَضَرٌ

Dan beritahukanlah kepada mereka bahwa air dibagi di antara mereka; setiap giliran minum dihadiri.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَنَبِّئْهُمْ أَنَّ الْمَاءَ قِسْمَةٌ بَيْنَهُمْwa-nabbi'hum anna l-maa'a qismatun baynahumdan beritahukanlah kepada mereka bahwa air dibagi di antara mereka
  2. كُلُّ شِرْبٍ مُحْتَضَرٌkullu syirbin muhtadharunsetiap giliran minum dihadiri

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. وَنَبِّئْهُمْwa-nabbi'humdan beritakanlah kepada mereka
  2. أَنَّannabahwa
  3. الْمَاءَl-maa'aair
  4. قِسْمَةٌqismatunpembagian
  5. بَيْنَهُمْbaynahumdi antara mereka
  6. كُلُّkullusetiap
  7. شِرْبٍsyirbinminum
  8. مُحْتَضَرٌmuhtadharundihadiri

Inti bacaan

Cobaan unta diwujudkan dalam giliran air yang diberitahukan lebih dulu. Qismah tercatat di 3 ayat, syirb sebagai giliran di 2 ayat (26:155 dan ayat ini), dan muhtadhar hanya di sini, berbeda akar dengan muhtazhir di 54:31.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan perintah kedua dari Allah kepada Saleh, (وَنَبِّئْهُمْ, wa-nabbi'hum) yang berarti "dan beritahukanlah kepada mereka". Kata nabbi' berakar ن-ب-أ, akar yang sama dengan naba', berita. Perintah nabbi' tercatat di 4 ayat. Di 12:36 perintah itu datang dari dua orang yang meminta penjelasan kepada Yusuf, dan di tiga ayat lainnya perintah itu datang dari Allah. Di 15:49 isinya ampunan, (نَبِّئْ عِبَادِي, nabbi' 'ibaadii) yang berarti "kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku" bahwa Dia Sang Pengampun, Sang Pengasih. Di 15:51 isinya kisah tamu-tamu Ibrahim, dan di ayat ini isinya aturan tentang air.

Isi pemberitahuan itu (أَنَّ الْمَاءَ قِسْمَةٌ بَيْنَهُمْ, anna l-maa'a qismatun baynahum) yang berarti "bahwa air dibagi di antara mereka". Kata qismah berakar ق-س-م dan tercatat di 3 ayat. Di 4:8 kata itu menunjuk pembagian harta peninggalan, (وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ, wa-idzaa hadhara l-qismata) yang berarti "dan apabila hadir pada pembagian itu", dan di 53:22 pembagian yang disusun para penolak, (قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ, qismatun dhiizaa) yang berarti "suatu pembagian yang tidak adil". Pihak-pihak yang berbagi air di ayat ini diterangkan di 26:155, (لَهَا شِرْبٌ وَلَكُمْ شِرْبُ يَوْمٍ مَعْلُومٍ, lahaa syirbun wa-lakum syirbu yawmin ma'luumin) yang berarti "baginya giliran minum, dan bagi kalian giliran minum pada hari yang ditentukan". Air itu dibagi antara unta dan kaum, bergiliran menurut hari.

Kalimat kedua berbunyi (كُلُّ شِرْبٍ مُحْتَضَرٌ, kullu syirbin muhtadharun) yang berarti "setiap giliran minum dihadiri". Kata benda syirb dalam arti giliran minum tercatat di 2 ayat, 26:155 dan ayat ini. Di 91:13 giliran yang sama disebut dengan kata lain, (نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا, naaqata llaahi wa-suqyaahaa) yang berarti "unta betina Allah, dan giliran minumnya". Kata muhtadhar berakar ح-ض-ر, dan bentuk ini tercatat di ayat ini saja. Teksnya tidak menyebut siapa yang hadir. Dibaca bersama 26:155, kalimat itu terbaca sebagai aturan bahwa setiap pihak datang ke air pada gilirannya sendiri. Di 4:8 akar ح-ض-ر dan kata qismah juga bertemu, kehadiran pada sebuah pembagian.

Tiga ayat sesudahnya muncul kata yang bunyinya hampir sama, (الْمُحْتَظِرِ, l-muhtazhiri) yang berarti "pembuat kandang" (54:31). Kata itu berakar ح-ظ-ر, akar yang berkaitan dengan menghalangi dan memagari, dan di 17:20 dipakai untuk pemberian Tuhan yang tidak terhalang. Muhtadhar dan muhtazhir berbeda satu huruf dan berbeda akar. Muhtadhar menggambarkan giliran minum yang dihadiri, dan muhtazhir muncul dalam gambaran akhir kaum yang melanggar giliran itu.

Tafsiran

Ayat ini mengisi cobaan di 54:27 dengan aturan yang dapat dijalani. Cobaan itu menyentuh kebutuhan sehari-hari, air minum, dan berulang setiap hari. Pada hari giliran unta, kaum Tsamud harus menahan diri dari air, dan pada hari giliran mereka, air itu untuk mereka. Kesediaan menahan diri pada hari yang bukan giliran mereka menjadi ukuran cobaan itu, dan ukuran itu diperiksa pada setiap giliran selama unta itu hidup di tengah mereka.

Aturan itu disampaikan sebagai pemberitahuan. Kata kerja nabbi'hum menjadikan Tsamud pihak yang sudah tahu, sehingga pelanggaran di 54:29 terjadi sesudah pengetahuan, tidak karena ketidaktahuan. Di 11:64 Saleh menambahkan (فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ, fa-dzaruuhaa ta'kul fii ardhi llaahi) yang berarti "biarkanlah dia makan di bumi Allah". Bumi tempat unta itu makan disebut bumi Allah, dan air yang dibagi berada di bumi yang sama. Pembagian itu datang dari Pemilik bumi dan airnya, dan kaum Tsamud diminta menerima bagian yang ditetapkan untuk mereka.

Aturan giliran itu disertai larangan. Di 26:156 Saleh melarang mereka menyentuh unta itu dengan keburukan, dan larangan itu diikuti ancaman azab pada hari yang agung. Aturan giliran menjaga air, dan larangan itu menjaga unta. Pelanggaran di ayat sesudahnya mengenai keduanya sekaligus, sebab unta yang disembelih tidak lagi datang pada gilirannya.

Renungan dan Hikmah

  • Air yang dibagi di ayat ini mengalir di bumi yang di 11:64 disebut bumi Allah. Kaum Tsamud memahat gunung dan membangun istana (7:74), dan mudah bagi mereka merasa bahwa air di negeri itu milik mereka. Aturan giliran mengingatkan bahwa mereka menerima air sebagai titipan dan harus berbagi dengan makhluk lain yang juga Allah kirimkan. Air yang hari ini mengalir ke rumah-rumah pun datang dari sumber yang sama, dan pembagiannya menyangkut banyak pihak yang tidak tampak. Bagaimana air dipakai bila diingat bahwa ada pihak lain yang juga berhak atasnya?
  • Aturan di ayat ini menuntut kesabaran pada hari yang bukan giliran sendiri. Menahan diri sekali mudah dijalani, sedangkan menahan diri pada setiap giliran yang berulang menuntut keteguhan yang lain. Kehidupan bersama penuh dengan giliran semacam itu, dalam antrean, dalam pembagian waktu, dan dalam kesempatan yang datang silih berganti. Kesediaan menunggu giliran menjadi ujian kecil yang berulang, dan Allah menguji Tsamud lewat ujian kecil semacam itu. Dalam giliran apa kesabaran sering habis lebih dulu?
  • Allah memerintahkan Saleh memberitahukan aturan itu kepada kaumnya, sehingga tidak ada yang dapat berkata bahwa mereka tidak tahu. Pengetahuan tentang aturan menambah berat tanggung jawab atas pelanggarannya. Orang yang sudah membaca perintah dan larangan Allah berada dalam kedudukan yang sama dengan Tsamud sesudah diberi tahu. Ketidaktahuan tidak lagi dapat dijadikan alasan, dan yang tersisa pilihan untuk taat atau melanggar. Apa yang sudah diketahui dari kitab-Nya dan masih dilanggar dengan alasan lupa?
  • Para penolak di 53:22 disebut menyusun pembagian yang tidak adil. Manusia cepat mengenali pembagian yang merugikan dirinya dan lambat mengenali pembagian yang merugikan orang lain. Pembagian air di ayat ini ditetapkan Allah, dan bagi Tsamud pembagian itu terasa mengurangi hak mereka. Menerima pembagian dari Allah, termasuk yang tidak berpihak kepada diri sendiri, menuntut kepercayaan bahwa Dia tidak zalim. Pembagian mana dalam hidup ini yang sampai sekarang masih sulit diterima?
  • Kata pembagian dan kehadiran bertemu di ayat ini, dan keduanya bertemu pula di 4:8. Di sana Allah memerintahkan agar kerabat, anak yatim, dan orang miskin yang hadir pada pembagian harta peninggalan diberi bagian dan diajak bicara dengan perkataan yang patut. Kehadiran mereka pada pembagian memberi mereka tempat, walaupun mereka tidak disebut sebagai penerima tetap. Setiap pembagian dihadiri orang-orang yang berharap, dan cara memperlakukan mereka ikut dinilai. Ketika membagi sesuatu, siapa saja yang hadir dan belum terlihat?
  • Cobaan Tsamud masuk lewat kebutuhan yang tidak dapat ditunda, air minum. Ujian yang menyentuh kebutuhan pokok menguji ketaatan pada saat keinginan sedang kuat, sebab rasa haus tidak mudah ditawar. Pada hari giliran unta, sumber air ada di depan mata, dan larangan Allah berdiri di antara mereka dan air itu. Ketaatan yang teruji dalam keadaan lapang belum tentu bertahan dalam keadaan butuh. Ketaatan kepada Allah seperti apa yang masih bertahan ketika kebutuhan sedang mendesak?