إِنَّا مُرْسِلُو النَّاقَةِ فِتْنَةً لَهُمْ فَارْتَقِبْهُمْ وَاصْطَبِرْ

Sesungguhnya Kami mengirim unta betina sebagai cobaan bagi mereka; maka, tunggulah mereka dan bersabarlah.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّا مُرْسِلُو النَّاقَةِ فِتْنَةً لَهُمْinnaa mursiluu n-naaqati fitnatan lahumsesungguhnya Kami mengirim unta betina sebagai cobaan bagi mereka
  2. فَارْتَقِبْهُمْ وَاصْطَبِرْfa-rtaqibhum wa-shthabirmaka, tunggulah mereka dan bersabarlah

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
  2. مُرْسِلُوmursiluuyang mengirimkan
  3. النَّاقَةِn-naaqatiunta betina
  4. فِتْنَةًfitnatanujian
  5. لَهُمْlahumbagi mereka
  6. فَارْتَقِبْهُمْfa-rtaqibhummaka tunggulah mereka
  7. وَاصْطَبِرْwa-shthabirdan bersabarlah

Inti bacaan

Tanda yang dituntut Tsamud (26:154) dikirim sebagai cobaan. Naaqah tercatat di 7 ayat, semuanya kisah Tsamud. Perintah irtaqib muncul di 4 ayat, dan bentuk ishthabir di 3 ayat saja dibanding ishbir di 19 ayat.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (إِنَّا مُرْسِلُو النَّاقَةِ, innaa mursiluu n-naaqati) yang berarti "sesungguhnya Kami mengirim unta betina". Kata mursiluu berakar ر-س-ل dan berbentuk pelaku, "yang mengirim", bentuk yang tidak terikat pada waktu lampau. Di 27:35 bentuk pelaku dari kata kerja yang sama dipakai untuk kiriman yang belum berangkat, (وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ, wa-innii mursilatun ilayhim bi-hadiyyatin) yang berarti "dan sesungguhnya aku akan mengirim kepada mereka suatu hadiah". Akar yang sama dipakai untuk Saleh sendiri. Di 7:75 para pemuka Tsamud bertanya kepada orang-orang beriman apakah mereka tahu bahwa Saleh (مُرْسَلٌ مِنْ رَبِّهِ, mursalun min rabbihi) yang berarti "diutus oleh Tuhannya". Kaum itu menerima dua kiriman yang disebut dengan akar yang sama, seorang utusan dan seekor unta.

Kata naaqah tercatat di 7 ayat, dan ketujuhnya berada dalam kisah Tsamud. Di 11:64 unta itu disebut (هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً, haadzihi naaqatu llaahi lakum aayatan) yang berarti "inilah unta betina Allah sebagai tanda bagi kalian", dan di 17:59 (وَآتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً, wa-aataynaa tsamuuda n-naaqata mubshiratan) yang berarti "dan Kami telah berikan kepada kaum Tsamud unta betina yang jelas". Di ayat ini sebutannya lain, (فِتْنَةً لَهُمْ, fitnatan lahum) yang berarti "sebagai cobaan bagi mereka". Kata fitnah tercatat di 34 ayat. Di 21:35 kata itu dipakai untuk cobaan dengan keburukan dan kebaikan sekaligus, (وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً, wa-nabluukum bi-sy-syarri wa-l-khayri fitnatan) yang berarti "dan Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan". Unta yang sama disebut tanda di satu tempat dan cobaan di tempat lain.

Perintah kepada utusan terdiri dari dua kata kerja. Kata kerja pertama, (فَارْتَقِبْهُمْ, fa-rtaqibhum) yang berarti "maka, tunggulah mereka", berakar ر-ق-ب, akar yang tercatat di 20 ayat, dan bentuk kata kerja ini tercatat di 4 ayat. Di 44:59 perintah yang sama diikuti keterangan bahwa pihak lain pun menunggu, (فَارْتَقِبْ إِنَّهُمْ مُرْتَقِبُونَ, fa-rtaqib innahum murtaqibuuna) yang berarti "maka, tunggulah; sesungguhnya mereka pun sedang menunggu". Akar yang sama melahirkan sebutan bagi Allah di 4:1, (إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا, inna llaaha kaana 'alaykum raqiiban) yang berarti "sesungguhnya Allah pengawas atas kalian". Dalam akar ini menunggu berdekatan dengan mengawasi.

Kata kerja kedua, (وَاصْطَبِرْ, wa-shthabir) yang berarti "dan bersabarlah", berakar ص-ب-ر. Perintah bersabar dalam bentuk biasa, ishbir, tercatat di 19 ayat, sedangkan bentuk ishthabir tercatat di 3 ayat, di 19:65 untuk ibadah, di 20:132 untuk salat, dan di ayat ini untuk menghadapi kaum. Di 20:132 terjemahannya menambahkan keterangan, (وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا, wa-shthabir 'alayhaa) yang berarti "dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya". Ketiga tempat itu menyangkut kesabaran yang dijaga terus-menerus, dalam ibadah, dalam salat, dan dalam menghadapi kaum.

Tafsiran

Ayat ini beralih dari jawaban atas tuduhan kepada tindakan. Tsamud pernah menuntut tanda, (فَأْتِ بِآيَةٍ, fa-ti bi-aayatin) yang berarti "maka, datangkanlah tanda" (26:154), dan ayat ini memperlihatkan tuntutan itu dipenuhi. Tanda yang mereka minta datang sebagai cobaan. Unta itu membuktikan bahwa utusan mereka benar, dan sekaligus menguji apa yang akan mereka perbuat terhadapnya. Isi cobaan itu dirinci di 54:28, dalam aturan pembagian air.

Perintah kepada Saleh tidak menyuruhnya berdebat. Dia diminta menunggu dan bersabar, sejalan dengan 54:26 yang menangguhkan jawaban atas tuduhan. Surah ini dibuka dengan perintah lain kepada utusan yang menerima Al-Qur'an, (فَتَوَلَّ عَنْهُمْ, fa-tawalla 'anhum) yang berarti "maka, berpalinglah dari mereka" (54:6). Di sana perintah berpaling datang sesudah penolakan yang berulang (54:2-3). Di sini cobaan baru dimulai, dan utusan diminta tetap mengamati kaumnya selama cobaan itu berlangsung.

Urutan dalam ayat ini juga bermakna. Pengiriman unta disebut lebih dulu, lalu tujuannya, lalu perintah kepada utusan. Saleh tidak diminta berbuat apa pun terhadap unta itu. Tanda itu dikirim Allah, dan cobaannya berlangsung antara Tsamud dan unta tersebut. Tugas Saleh sebatas mengamati dan menahan diri, dan pada ayat berikutnya menyampaikan aturan. Di 11:64 dan 91:13 unta itu disebut unta Allah, sehingga cobaan itu menguji sikap Tsamud terhadap sesuatu yang dinisbatkan kepada-Nya.

Renungan dan Hikmah

  • Tsamud meminta tanda, dan Allah mengirimkannya. Permintaan yang dikabulkan tidak mengakhiri urusan mereka, sebab tanda itu datang bersama tanggung jawab. Sesudah unta itu hadir, mereka tidak lagi dapat berkata bahwa bukti tidak ada, dan setiap perlakuan terhadapnya menjadi bagian dari ujian. Hal yang sama berlaku bagi permintaan yang dipanjatkan kepada Allah hari ini. Doa yang dikabulkan membuka babak baru, ketika pemberian itu diuji dalam cara menerimanya. Apa yang sudah diminta dan sudah diberikan, dan bagaimana pemberian itu diperlakukan?
  • Unta itu tanda dari Allah dan sekaligus cobaan, dan 21:35 menyebut kebaikan sebagai cobaan di samping keburukan. Cobaan lebih mudah dikenali ketika datang sebagai kesulitan. Ketika datang sebagai nikmat, cobaan itu sering tidak terasa, karena pikiran sibuk menikmati dan lupa bertanya apa yang diminta dari penerimanya. Kesehatan, harta, dan kesempatan termasuk dalam kelompok itu. Nikmat mana yang selama ini dinikmati tanpa pernah disadari sebagai ujian?
  • Di 25:20 Allah berfirman (وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ, wa-ja'alnaa ba'dhakum li-ba'dhin fitnatan a-tashbiruuna) yang berarti "dan Kami menjadikan sebagian kalian sebagai ujian bagi sebagian yang lain, maukah kalian bersabar?". Kata cobaan dan sabar bertemu di sana, sebagaimana fitnah dan perintah bersabar bertemu di ayat ini. Saleh menjadi cobaan bagi kaumnya, dan kaumnya menjadi cobaan bagi Saleh. Orang-orang di sekitar kita pun dapat menjadi ujian kesabaran, sebagaimana kita menjadi ujian bagi mereka. Siapa yang sedang menguji kesabaran hari ini, dan siapa yang sedang diuji oleh sikap kita?
  • Syuaib berkata kepada kaumnya yang menolak (وَارْتَقِبُوا إِنِّي مَعَكُمْ رَقِيبٌ, wa-rtaqibuu innii ma'akum raqiibun) yang berarti "dan amatilah, sesungguhnya aku pun mengamati bersama kalian" (11:93). Dia tidak mengusir dan tidak memaksa. Kedua pihak sama-sama menunggu apa yang akan Allah tetapkan. Perselisihan tentang kebenaran tidak selalu dapat diselesaikan hari ini, dan menunggu bersama tanpa permusuhan menjadi pilihan yang tersedia. Dalam perselisihan yang sedang dijalani, adakah ruang untuk menunggu tanpa menyerang?
  • Saleh diperintahkan mengamati kaumnya, dan pengamatannya terbatas pada masa dia hidup di tengah mereka. Di 5:117 Isa berkata kepada Allah (كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ, kunta anta r-raqiiba 'alayhim) yang berarti "Engkaulah pengawas atas mereka", sesudah masa kesaksiannya berakhir. Pengawasan seorang utusan berakhir, sedangkan pengawasan Allah terus berlangsung. Orang yang merasa tidak ada yang melihat sedang lupa bahwa Pengawas itu tidak pernah pergi. Bagaimana sikap di saat sendirian berubah bila pengawasan itu diingat?
  • Bentuk ishthabir dipakai untuk ibadah, untuk salat, dan untuk menghadapi kaum yang menolak. Ketiganya membutuhkan kesabaran yang dijaga hari demi hari, dan kesabaran semacam itu tidak datang sendiri. Menunggu sambil tidak membalas, beribadah sambil tidak bosan, dan menyeru sambil tidak putus asa sama-sama menuntut usaha. Perintah Allah kepada Saleh memakai bentuk yang di 20:132 diterjemahkan dengan tambahan sungguh-sungguh, seakan mengakui beratnya beban itu. Kesabaran mana yang hari ini sedang dipertahankan dengan susah payah?