وَنَبِّئْهُمْ أَنَّ الْمَاءَ قِسْمَةٌ بَيْنَهُمْ ۖ كُلُّ شِرْبٍ مُحْتَضَرٌ

Dan beritahukanlah kepada mereka bahwa air dibagi di antara mereka; setiap giliran minum dihadiri.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَنَبِّئْهُمْ أَنَّ الْمَاءَ قِسْمَةٌ بَيْنَهُمْwa-nabbi'hum anna l-maa'a qismatun baynahumdan beritahukanlah kepada mereka bahwa air dibagi di antara mereka
  2. كُلُّ شِرْبٍ مُحْتَضَرٌkullu syirbin muhtadharunsetiap giliran minum dihadiri

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. وَنَبِّئْهُمْwa-nabbi'humdan beritakanlah kepada mereka
  2. أَنَّannabahwa
  3. الْمَاءَl-maa'aair
  4. قِسْمَةٌqismatunpembagian
  5. بَيْنَهُمْbaynahumdi antara mereka
  6. كُلُّkullusetiap
  7. شِرْبٍsyirbinminum
  8. مُحْتَضَرٌmuhtadharundihadiri

Inti bacaan

Cobaan unta diwujudkan dalam giliran air yang diberitahukan lebih dulu. Qismah tercatat di 3 ayat, syirb sebagai giliran di 2 ayat (26:155 dan ayat ini), dan muhtadhar hanya di sini, berbeda akar dengan muhtazhir di 54:31.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan perintah kedua dari Allah kepada Saleh, (وَنَبِّئْهُمْ, wa-nabbi'hum) yang berarti "dan beritahukanlah kepada mereka". Kata nabbi' berakar ن-ب-أ, akar yang sama dengan naba', berita. Perintah nabbi' tercatat di 4 ayat. Di 12:36 perintah itu datang dari dua orang yang meminta penjelasan kepada Yusuf, dan di tiga ayat lainnya perintah itu datang dari Allah. Di 15:49 isinya ampunan, (نَبِّئْ عِبَادِي, nabbi' 'ibaadii) yang berarti "kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku" bahwa Dia Sang Pengampun, Sang Pengasih. Di 15:51 isinya kisah tamu-tamu Ibrahim, dan di ayat ini isinya aturan tentang air.

Isi pemberitahuan itu (أَنَّ الْمَاءَ قِسْمَةٌ بَيْنَهُمْ, anna l-maa'a qismatun baynahum) yang berarti "bahwa air dibagi di antara mereka". Kata qismah berakar ق-س-م dan tercatat di 3 ayat. Di 4:8 kata itu menunjuk pembagian harta peninggalan, (وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ, wa-idzaa hadhara l-qismata) yang berarti "dan apabila hadir pada pembagian itu", dan di 53:22 pembagian yang disusun para penolak, (قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ, qismatun dhiizaa) yang berarti "suatu pembagian yang tidak adil". Pihak-pihak yang berbagi air di ayat ini diterangkan di 26:155, (لَهَا شِرْبٌ وَلَكُمْ شِرْبُ يَوْمٍ مَعْلُومٍ, lahaa syirbun wa-lakum syirbu yawmin ma'luumin) yang berarti "baginya giliran minum, dan bagi kalian giliran minum pada hari yang ditentukan". Air itu dibagi antara unta dan kaum, bergiliran menurut hari.

Kalimat kedua berbunyi (كُلُّ شِرْبٍ مُحْتَضَرٌ, kullu syirbin muhtadharun) yang berarti "setiap giliran minum dihadiri". Kata benda syirb dalam arti giliran minum tercatat di 2 ayat, 26:155 dan ayat ini. Di 91:13 giliran yang sama disebut dengan kata lain, (نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا, naaqata llaahi wa-suqyaahaa) yang berarti "unta betina Allah, dan giliran minumnya". Kata muhtadhar berakar ح-ض-ر, dan bentuk ini tercatat di ayat ini saja. Teksnya tidak menyebut siapa yang hadir. Dibaca bersama 26:155, kalimat itu terbaca sebagai aturan bahwa setiap pihak datang ke air pada gilirannya sendiri. Di 4:8 akar ح-ض-ر dan kata qismah juga bertemu, kehadiran pada sebuah pembagian.

Tiga ayat sesudahnya muncul kata yang bunyinya hampir sama, (الْمُحْتَظِرِ, l-muhtazhiri) yang berarti "pembuat kandang" (54:31). Kata itu berakar ح-ظ-ر, akar yang berkaitan dengan menghalangi dan memagari, dan di 17:20 dipakai untuk pemberian Tuhan yang tidak terhalang. Muhtadhar dan muhtazhir berbeda satu huruf dan berbeda akar. Muhtadhar menggambarkan giliran minum yang dihadiri, dan muhtazhir muncul dalam gambaran akhir kaum yang melanggar giliran itu.

Tafsiran

Ayat ini mengisi cobaan di 54:27 dengan aturan yang dapat dijalani. Cobaan itu menyentuh kebutuhan sehari-hari, air minum, dan berulang setiap hari. Pada hari giliran unta, kaum Tsamud harus menahan diri dari air, dan pada hari giliran mereka, air itu untuk mereka. Kesediaan menahan diri pada hari yang bukan giliran mereka menjadi ukuran cobaan itu, dan ukuran itu diperiksa pada setiap giliran selama unta itu hidup di tengah mereka.

Aturan itu disampaikan sebagai pemberitahuan. Kata kerja nabbi'hum menjadikan Tsamud pihak yang sudah tahu, sehingga pelanggaran di 54:29 terjadi sesudah pengetahuan, tidak karena ketidaktahuan. Di 11:64 Saleh menambahkan (فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ, fa-dzaruuhaa ta'kul fii ardhi llaahi) yang berarti "biarkanlah dia makan di bumi Allah". Bumi tempat unta itu makan disebut bumi Allah, dan air yang dibagi berada di bumi yang sama. Pembagian itu datang dari Pemilik bumi dan airnya, dan kaum Tsamud diminta menerima bagian yang ditetapkan untuk mereka.

Aturan giliran itu disertai larangan. Di 26:156 Saleh melarang mereka menyentuh unta itu dengan keburukan, dan larangan itu diikuti ancaman azab pada hari yang agung. Aturan giliran menjaga air, dan larangan itu menjaga unta. Pelanggaran di ayat sesudahnya mengenai keduanya sekaligus, sebab unta yang disembelih tidak lagi datang pada gilirannya.

Renungan dan Hikmah

  • Air yang dibagi di ayat ini mengalir di bumi yang di 11:64 disebut bumi Allah. Kaum Tsamud memahat gunung dan membangun istana (7:74), dan mudah bagi mereka merasa bahwa air di negeri itu milik mereka. Aturan giliran mengingatkan bahwa mereka menerima air sebagai titipan dan harus berbagi dengan makhluk lain yang juga Allah kirimkan. Air yang hari ini mengalir ke rumah-rumah pun datang dari sumber yang sama, dan pembagiannya menyangkut banyak pihak yang tidak tampak. Bagaimana air dipakai bila diingat bahwa ada pihak lain yang juga berhak atasnya?
  • Aturan di ayat ini menuntut kesabaran pada hari yang bukan giliran sendiri. Menahan diri sekali mudah dijalani, sedangkan menahan diri pada setiap giliran yang berulang menuntut keteguhan yang lain. Kehidupan bersama penuh dengan giliran semacam itu, dalam antrean, dalam pembagian waktu, dan dalam kesempatan yang datang silih berganti. Kesediaan menunggu giliran menjadi ujian kecil yang berulang, dan Allah menguji Tsamud lewat ujian kecil semacam itu. Dalam giliran apa kesabaran sering habis lebih dulu?
  • Allah memerintahkan Saleh memberitahukan aturan itu kepada kaumnya, sehingga tidak ada yang dapat berkata bahwa mereka tidak tahu. Pengetahuan tentang aturan menambah berat tanggung jawab atas pelanggarannya. Orang yang sudah membaca perintah dan larangan Allah berada dalam kedudukan yang sama dengan Tsamud sesudah diberi tahu. Ketidaktahuan tidak lagi dapat dijadikan alasan, dan yang tersisa pilihan untuk taat atau melanggar. Apa yang sudah diketahui dari kitab-Nya dan masih dilanggar dengan alasan lupa?
  • Para penolak di 53:22 disebut menyusun pembagian yang tidak adil. Manusia cepat mengenali pembagian yang merugikan dirinya dan lambat mengenali pembagian yang merugikan orang lain. Pembagian air di ayat ini ditetapkan Allah, dan bagi Tsamud pembagian itu terasa mengurangi hak mereka. Menerima pembagian dari Allah, termasuk yang tidak berpihak kepada diri sendiri, menuntut kepercayaan bahwa Dia tidak zalim. Pembagian mana dalam hidup ini yang sampai sekarang masih sulit diterima?
  • Kata pembagian dan kehadiran bertemu di ayat ini, dan keduanya bertemu pula di 4:8. Di sana Allah memerintahkan agar kerabat, anak yatim, dan orang miskin yang hadir pada pembagian harta peninggalan diberi bagian dan diajak bicara dengan perkataan yang patut. Kehadiran mereka pada pembagian memberi mereka tempat, walaupun mereka tidak disebut sebagai penerima tetap. Setiap pembagian dihadiri orang-orang yang berharap, dan cara memperlakukan mereka ikut dinilai. Ketika membagi sesuatu, siapa saja yang hadir dan belum terlihat?
  • Cobaan Tsamud masuk lewat kebutuhan yang tidak dapat ditunda, air minum. Ujian yang menyentuh kebutuhan pokok menguji ketaatan pada saat keinginan sedang kuat, sebab rasa haus tidak mudah ditawar. Pada hari giliran unta, sumber air ada di depan mata, dan larangan Allah berdiri di antara mereka dan air itu. Ketaatan yang teruji dalam keadaan lapang belum tentu bertahan dalam keadaan butuh. Ketaatan kepada Allah seperti apa yang masih bertahan ketika kebutuhan sedang mendesak?