فَنَادَوْا صَاحِبَهُمْ فَتَعَاطَىٰ فَعَقَرَ

Maka, mereka memanggil kawan mereka, lalu ia mengambil dan menyembelihnya.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَنَادَوْا صَاحِبَهُمْfa-naadaw shaahibahummaka, mereka memanggil kawan mereka
  2. فَتَعَاطَىٰ فَعَقَرَfa-ta'aathaa fa-'aqaralalu ia mengambil dan menyembelihnya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَنَادَوْاfa-naadawmaka mereka menyeru
  2. صَاحِبَهُمْshaahibahumkawan mereka
  3. فَتَعَاطَىٰfa-ta'aathaalalu ia menangkap
  4. فَعَقَرَfa-'aqaralalu ia menyembelih

Inti bacaan

Rangkaian fa-naadaw, fa-ta'aathaa, fa-'aqara berlangsung tanpa jeda. Pelakunya seorang, dan 91:12 menamainya asyqaahaa. Di 7:77, 11:65, 26:157, dan 91:14 perbuatan itu dinisbatkan kepada seluruh Tsamud.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari empat kata dan memuat tiga kata kerja, masing-masing didahului huruf fa. Kata kerja pertama muncul dalam (فَنَادَوْا صَاحِبَهُمْ, fa-naadaw shaahibahum) yang berarti "maka, mereka memanggil kawan mereka". Kata naadaw berakar ن-د-و, dan susunan fa-naadaw tercatat di 2 ayat. Di 38:3 susunan itu dipakai untuk generasi-generasi yang dibinasakan, (فَنَادَوْا وَلَاتَ حِينَ مَنَاصٍ, fa-naadaw wa-laata hiina manaashin) yang berarti "lalu, mereka berteriak, padahal bukanlah saat untuk melepaskan diri". Di sana panggilan itu permintaan tolong ketika azab sudah tiba, dan di ayat ini panggilan itu mendatangkan orang yang akan melanggar.

Kata (صَاحِبَهُمْ, shaahibahum) berakar ص-ح-ب, akar yang berkaitan dengan menyertai. Al-Qur'an memakai kata shaahib untuk utusan di tengah kaumnya, misalnya di 53:2, (مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ, maa dhalla shaahibukum) yang berarti "kawan kalian tidak sesat", dan di 81:22, (وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ, wa-maa shaahibukum bi-majnuunin) yang berarti "dan teman kalian bukanlah orang gila". Di ayat ini kata yang sama menunjuk orang dari kalangan Tsamud yang mereka panggil. Al-Qur'an tidak menyebut namanya. Di 91:12 dia disebut dengan sifatnya, (إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا, idzi nba'atsa asyqaahaa) yang berarti "ketika bangkit orang yang tercelaka di antara mereka".

Kata kerja kedua, (فَتَعَاطَىٰ, fa-ta'aathaa), diterjemahkan "lalu ia mengambil". Kata itu berakar ع-ط-و, dan bentuk ini tercatat di ayat ini saja. Di tempat lain akar yang sama dipakai untuk memberi, misalnya di 92:5, (فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ, fa-ammaa man a'thaa wa-ttaqaa) yang berarti "maka adapun orang yang memberi dan bertakwa", dan di 20:50 tentang Tuhan, (الَّذِي أَعْطَىٰ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ, lladzii a'thaa kulla syay'in khalqahu) yang berarti "yang memberi segala sesuatu bentuk penciptaannya". Di ayat ini akar pemberian hadir sebagai tangan yang terulur untuk mengambil. Apa yang diambil tidak tertulis di ayat ini, dan terjemahan membiarkannya tanpa sasaran.

Kata kerja ketiga, (فَعَقَرَ, fa-'aqara), diterjemahkan "dan menyembelihnya" dan berakar ع-ق-ر. Perbuatan itu disebut di 5 ayat. Di ayat ini kata kerjanya tunggal, satu orang yang menyembelih, sedangkan di 4 ayat lainnya jamak, misalnya di 7:77, (فَعَقَرُوا النَّاقَةَ, fa-'aqaruu n-naaqata) yang berarti "lalu mereka menyembelih unta betina itu", dan di 91:14, (فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا, fa-kadzdzabuuhu fa-'aqaruuhaa) yang berarti "namun mereka mendustakannya lalu menyembelihnya". Dua ayat lainnya, 11:65 dan 26:157, juga memakai bentuk jamak.

Tafsiran

Ayat ini memuat pelanggaran yang diperingatkan di 54:27-28, dan menceritakannya dengan sangat ringkas. Tiga kata kerja yang beruntun dengan huruf fa memperlihatkan jarak yang pendek antara panggilan dan penyembelihan. Aturan yang diberitahukan di ayat sebelumnya dilanggar di ayat berikutnya.

Pergantian tunggal dan jamak di antara ayat-ayat tentang peristiwa ini menjawab pertanyaan siapa yang menanggung perbuatan itu. Di ayat ini tangan yang menyembelih milik satu orang, dan orang itu datang karena dipanggil. Di empat ayat lain perbuatan itu disandarkan kepada mereka semua, dan 91:14 menyebut kehancuran menimpa mereka karena dosa mereka. Panggilan di awal ayat menjelaskan mengapa perbuatan satu orang dihitung sebagai perbuatan kaum. Di 7:77 penyembelihan itu disandingkan dengan kedurhakaan mereka terhadap perintah Tuhan mereka. Unta itu unta Allah (11:64), dan menyembelihnya berarti menentang Pemiliknya.

Ayat ini juga berdiri berhadapan dengan 54:27. Saleh diperintahkan menunggu dan bersabar, sedangkan kaumnya tidak menunggu akhir cobaan itu dan memanggil kawan mereka untuk mengakhirinya. Di 7:77, sesudah penyembelihan, mereka menantang Saleh mendatangkan apa yang dia janjikan kepada mereka. Kesabaran yang diminta dari utusan dibalas dengan ketidaksabaran kaum yang menantang azab.

Renungan dan Hikmah

  • Tangan yang menyembelih di ayat ini milik satu orang, dan Al-Qur'an di empat tempat lain menyebut mereka semua menyembelih. Mereka yang memanggil, mendorong, atau merestui ikut memikul perbuatan itu. Orang sering merasa bersih karena tidak mengerjakan sendiri keburukan yang terjadi. Dorongan, sorakan, dan persetujuan diam-diam tercatat bersama perbuatan yang didorongnya, dan di hadapan Allah pemanggil dan yang dipanggil sama-sama ditanya. Perbuatan siapa yang pernah didorong dari belakang tanpa merasa ikut menanggungnya?
  • Orang yang menyembelih unta itu disebut kawan mereka, dan persahabatan itu dipakai untuk memanggilnya kepada keburukan. Di 25:28 seseorang menyesal pada hari kemudian, (لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا, laytanii lam attakhidz fulaanan khaliilan) yang berarti "sekiranya aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrab", dan 43:67 menyebut teman-teman akrab saling bermusuhan pada hari itu kecuali orang-orang yang bertakwa kepada Allah. Persahabatan diuji oleh arah ajakannya. Ke mana kawan-kawan terdekat biasanya mengajak, dan ke mana kita mengajak mereka?
  • Di 26:157 Allah menceritakan akibat pertama perbuatan itu, (فَأَصْبَحُوا نَادِمِينَ, fa-ashbahuu naadimiina) yang berarti "maka mereka menjadi orang-orang yang menyesal". Penyesalan datang sesudah unta itu mati, ketika perbuatan tidak dapat dibatalkan lagi, dan ayat sesudahnya menyebut azab tetap menimpa mereka. Ada perbuatan yang dapat diperbaiki dan ada perbuatan yang tidak dapat ditarik kembali. Perbuatan jenis kedua menuntut pertimbangan sebelum tangan bergerak. Keputusan apa yang sedang ditimbang hari ini, dan apakah akibatnya dapat ditarik kembali?
  • Akar kata kerja fa-ta'aathaa di tempat lain dipakai untuk memberi, termasuk pemberian Allah kepada segala sesuatu (20:50). Di ayat ini akar yang sama menggambarkan tangan yang terulur untuk membinasakan. Tangan yang sama dapat memberi dan dapat merusak, dan keduanya bermula dari gerak yang serupa. Tsamud menerima unta itu sebagai pemberian, lalu mengulurkan tangan untuk mengakhirinya. Hari ini tangan lebih sering terulur untuk memberi atau untuk mengambil?
  • Tsamud tidak mampu membantah unta itu, sebab tanda itu hidup dan dapat dilihat. Mereka memilih melenyapkannya, dan 17:59 menyebut perbuatan itu kezaliman, (فَظَلَمُوا بِهَا, fa-zhalamuu bihaa) yang berarti "tetapi mereka menzaliminya". Pengingat dari Allah yang tidak dapat dibantah kadang disingkirkan dari pandangan, dengan menjauhi orang yang mengingatkan atau menutup kitab yang menegur. Tanda itu hilang dari depan mata, sementara kebenarannya tetap berlaku. Pengingat mana yang pernah disingkirkan karena tidak dapat dijawab?
  • Tiga kata kerja di ayat ini beruntun tanpa jeda, dipanggil, mengambil, menyembelih. Di antara panggilan dan perbuatan ada saat ketika orang yang dipanggil masih dapat menolak. Kawan Tsamud itu tidak memakai kesempatan tersebut, dan Al-Qur'an menyebutnya orang yang tercelaka (91:12). Setiap ajakan kepada keburukan menyisakan saat semacam itu, sekecil apa pun. Ketika ajakan datang, adakah jeda yang cukup untuk mengingat Allah sebelum tangan bergerak?