Ayat 54:34

إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا إِلَّا آلَ لُوطٍ ۖ نَجَّيْنَاهُمْ بِسَحَرٍ

Sesungguhnya Kami mengirim atas mereka badai batu, kecuali keluarga Lut; Kami selamatkan mereka pada waktu sebelum fajar,

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًاinnaa arsalnaa 'alayhim haashibansesungguhnya Kami mengirim atas mereka badai batu
  2. إِلَّا آلَ لُوطٍillaa aala luuthinkecuali keluarga Lut
  3. نَجَّيْنَاهُمْ بِسَحَرٍnajjaynaahum bi-saharinKami selamatkan mereka pada waktu sebelum fajar

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
  2. أَرْسَلْنَاarsalnaaKami mengutus
  3. عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
  4. حَاصِبًاhaashibanbadai kerikil
  5. إِلَّاillaakecuali
  6. آلَaalakeluarga
  7. لُوطٍluuthinLut
  8. نَجَّيْنَاهُمْnajjaynaahumKami menyelamatkan mereka
  9. بِسَحَرٍbi-saharindi waktu sahur

Inti bacaan

Azab dan penyelamatan berdampingan. Haashib tercatat 4 kali, selalu sesudah kata kerja arsala. Sahar sebagai waktu tercatat di 3 ayat, dua lainnya waktu istighfar (3:17, 51:18). Doa Lut di 26:169 dijawab dengan kata kerja yang sama di 26:170.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا, innaa arsalnaa 'alayhim haashiban) yang berarti "sesungguhnya Kami mengirim atas mereka badai batu". Tiga kata pertamanya sama dengan pembuka 54:31, dan susunan itu sudah dibahas di sana. Kata haashib berakar ح-ص-ب, akar yang tercatat di 5 ayat. Kata haashib sendiri muncul di 4 ayat, yaitu 17:68, 29:40, 54:34, dan 67:17, dan di keempatnya kata itu menjadi sasaran kata kerja mengirim. Di 21:98 akar yang sama menunjuk bahan bakar, (حَصَبُ جَهَنَّمَ, hashabu jahannama) yang berarti "bahan bakar Jahanam".

Di 17:68 dan 67:17 haashib muncul dalam pertanyaan kepada pembaca, misalnya (أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا, an yursila 'alaykum haashiban) yang berarti "bahwa Dia akan mengirimkan kepada kalian badai batu" (67:17). Terjemahan 17:68 memakai "badai kerikil". Di surah lain azab kaum Lut digambarkan sebagai hujan batu, (وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ, wa-amtharnaa 'alayhaa hijaaratan min sijjiilin) yang berarti "dan Kami menghujani mereka dengan batu-batu dari tanah liat yang dibakar" (11:82), dan di 51:33 batu-batu dari tanah liat.

Pengecualian di ayat ini berbunyi (إِلَّا آلَ لُوطٍ, illaa aala luuthin) yang berarti "kecuali keluarga Lut". Susunan aala luuthin tercatat di 4 ayat, yaitu 15:59, 15:61, 27:56, dan 54:34, dan illaa aala luuthin di 2 ayat, 15:59 dan ayat ini. Di 15:59-60 pengecualian itu punya pengecualian sendiri, (إِلَّا امْرَأَتَهُ, illaa mra'atahu) yang berarti "kecuali istrinya" (15:60). Ayat ini tidak menyebut istri itu, dan 7:83 serta 29:32 menyebutnya termasuk orang-orang yang tertinggal.

Kalimat terakhir berbunyi (نَجَّيْنَاهُمْ بِسَحَرٍ, najjaynaahum bi-saharin) yang berarti "Kami selamatkan mereka pada waktu sebelum fajar". Kata kerja najjaynaa tercatat di 31 ayat. Kata sahar dalam arti waktu tercatat di 3 ayat. Selain di sini, bentuk jamaknya muncul di 3:17 dan 51:18, (وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ, wa-bi-l-ashaari hum yastaghfiruuna) yang berarti "dan pada akhir malam mereka memohon ampunan". Akar س-ح-ر tercatat di 59 ayat, dan di 56 ayat lainnya akar itu berkaitan dengan sihir, termasuk di 54:2.

Dalam kisah Lut di seluruh Al-Qur'an, akar ن-ج-و yang menjadi asal najjaynaa tercatat di 11 ayat. Di 21:71 Lut diselamatkan bersama Ibrahim ke tanah yang diberkahi, dan di 21:74 dia diselamatkan dari negeri yang mengerjakan perbuatan keji. Di 26:169 Lut sendiri memohon (رَبِّ نَجِّنِي وَأَهْلِي مِمَّا يَعْمَلُونَ, rabbi najjinii wa-ahlii mimmaa ya'maluuna) yang berarti "Tuhanku, selamatkanlah aku dan keluargaku dari apa yang mereka perbuat", dan ayat sesudahnya, (فَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ أَجْمَعِينَ, fa-najjaynaahu wa-ahlahu ajma'iina) yang berarti "maka Kami selamatkan dia dan seluruh keluarganya" (26:170), memakai kata kerja yang sama dengan permohonannya.

Tafsiran

Ayat ini menyebut azab dan penyelamatan dalam satu kalimat. Di surah ini penyelamatan pihak utusan disebut dua kali, untuk Nuh yang diangkut di atas bahtera (54:13) dan untuk keluarga Lut di ayat ini. Dalam kisah Ad dan Tsamud di surah ini penyelamatan itu tidak diceritakan, walaupun 11:58 dan 11:66 menyebut Hud dan Saleh diselamatkan bersama orang-orang yang beriman.

Waktu penyelamatan dan waktu azab disebut terpisah. Keluarga Lut diselamatkan pada waktu sahar, dan di 54:38 azab menimpa kaumnya pada pagi hari. Di 11:81 para utusan memerintahkan Lut pergi bersama keluarganya pada sebagian malam, lalu berkata (إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ, inna maw'idahumu sh-shubhu) yang berarti "sesungguhnya waktu mereka yang dijanjikan tiba pada subuh". Penyelamatan mendahului azab, dan jarak di antara keduanya tidak lebih dari sisa malam itu.

Pengecualian di ayat ini memisahkan keluarga Lut dari kaumnya dengan satu kata, illaa. Di 29:32 Ibrahim menyebut bahwa Lut ada di negeri itu, dan para utusan menjawab (نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَنْ فِيهَا, nahnu a'lamu bi-man fiihaa) yang berarti "kami lebih tahu siapa yang ada di kota itu". Azab yang menimpa seluruh negeri tidak mengenai orang-orang yang sudah dipisahkan, dan pemisahan itu dikerjakan sebelum azab turun.

Renungan dan Hikmah

  • Keluarga Lut diselamatkan, dan istrinya tidak termasuk (15:60). Di 66:10 istri Nuh dan istri Lut dijadikan perumpamaan bagi orang-orang yang kufur. Keduanya hidup di bawah dua hamba Allah yang saleh, dan kedekatan itu tidak menolong mereka sedikit pun dari Allah. Hubungan keluarga dengan orang saleh tidak menggantikan pilihan pribadi. Setiap orang dinilai dari jalannya sendiri, dan tinggal serumah dengan seorang utusan tidak mengubah ketentuan itu. Apa yang selama ini diandalkan dari kedekatan dengan orang baik, sementara pilihan sendiri belum ditata?
  • Keluarga Lut diselamatkan pada waktu sahar, waktu yang di 3:17 dan 51:18 disebut sebagai saat orang-orang bertakwa memohon ampunan kepada Allah. Akhir malam sunyi, dan sebagian besar orang tertidur. Waktu yang sama menjadi waktu penyelamatan bagi satu keluarga dan waktu memohon ampunan bagi hamba-hamba yang lain. Dalam kesibukan siang, akhir malam sering terlewat begitu saja. Adakah bagian dari malam yang disisihkan untuk memohon ampunan kepada-Nya?
  • Badai batu yang menimpa kaum Lut disebut lagi dalam pertanyaan kepada pembaca, (أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ, am amintum man fii s-samaa'i) yang berarti "atau, apakah kalian merasa aman dari Dia yang di langit" (67:17). Kisah itu tidak dibiarkan menjadi cerita tentang orang lain. Rasa aman yang tumbuh karena hidup berjalan lancar dapat membuat orang lupa bahwa ketetapan Allah dapat datang dari arah yang tidak diduga. Rasa aman macam apa yang hari ini membuat peringatan-Nya terasa jauh?
  • Di 11:81 Lut diperintahkan pergi bersama keluarganya pada sebagian malam, dengan pesan (وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ, wa-laa yaltafit minkum ahadun) yang berarti "dan janganlah seorang pun di antara kalian menoleh". Meninggalkan keburukan menuntut kesediaan untuk tidak menoleh kepada apa yang ditinggalkan. Hati yang masih menoleh sering menarik kaki untuk kembali, dan istri Lut disebut sebagai pengecualian dalam kalimat yang sama. Keburukan apa yang sudah ditinggalkan tetapi masih sering ditoleh dengan rindu?
  • Ibrahim khawatir tentang Lut yang tinggal di negeri itu, dan jawabannya (29:32) memperlihatkan bahwa Allah mengetahui siapa yang ada di dalamnya. Orang-orang yang taat dipisahkan sebelum azab turun. Kekhawatiran tentang nasib orang baik di tengah lingkungan yang buruk wajar, dan jawaban itu menenangkan tanpa meniadakan kewajiban untuk menjaga diri. Siapa yang hari ini sedang dikhawatirkan, dan sudahkah dia dititipkan kepada Allah dalam doa?
  • Ketika kaumnya mendesak, para utusan berkata kepada Lut bahwa (لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ, lan yashiluu ilayka) yang berarti "mereka tidak akan sampai kepadamu" (11:81). Lut sudah merasa terkepung, dan perlindungan Allah telah hadir di rumahnya dalam rupa tamu yang belum dia kenali. Pertolongan dapat hadir sebelum disadari, dan Lut baru mengetahui siapa tamunya ketika keadaan sudah genting. Dalam keadaan terdesak, adakah perlindungan Allah yang sudah dekat tetapi belum dikenali?

Ayat 54:35

نِعْمَةً مِنْ عِنْدِنَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي مَنْ شَكَرَ

sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. نِعْمَةً مِنْ عِنْدِنَاni'matan min 'indinaasebagai nikmat dari Kami
  2. كَذَٰلِكَ نَجْزِي مَنْ شَكَرَka-dzaalika najzii man syakarademikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. نِعْمَةًni'matannikmat
  2. مِنْmindari
  3. عِنْدِنَا'indinaadi sisi Kami
  4. كَذَٰلِكَka-dzaalikademikianlah
  5. نَجْزِيnajziiKami membalas
  6. مَنْmanorang yang
  7. شَكَرَsyakarabersyukur

Inti bacaan

Selamatnya keluarga Lut dinamai pemberian dan ganjaran sekaligus. Rumusan ka-dzaalika najzii biasanya menyasar muhsinin; di sini sasarannya orang bersyukur, kebalikan kafuur di 35:36. Bandingkan 14:7 dan 34:13.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (نِعْمَةً مِنْ عِنْدِنَا, ni'matan min 'indinaa) yang berarti "sebagai nikmat dari Kami", keterangan bagi penyelamatan keluarga Lut di 54:34. Kata ni'mah berakar ن-ع-م dan tercatat di 49 ayat. Susunan min 'indinaa tercatat di 7 ayat, dan di 18:65 serta 21:84 susunan itu melekat pada rahmat, (رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا, rahmatan min 'indinaa) yang berarti "rahmat dari Kami". Di 21:84 rahmat itu berupa keluarga Ayyub yang dikembalikan kepadanya, dan di ayat ini nikmat itu berupa keluarga Lut yang diselamatkan. Di kedua ayat itu pemberian dari sisi Allah berupa keluarga.

Di tiga ayat lain min 'indinaa melekat pada kebenaran yang datang kepada kaum yang menolaknya, yaitu 10:76, 28:48, dan 40:25. Di 10:76 kaum Firaun menyambut kebenaran itu dengan (إِنَّ هَٰذَا لَسِحْرٌ مُبِينٌ, inna haadzaa la-sihrun mubiinun) yang berarti "sesungguhnya ini benar-benar sihir yang nyata", dan di 28:48 kebenaran yang sama disebut dua sihir. Apa yang datang dari sisi Allah dapat diterima sebagai nikmat, sebagaimana keluarga Lut menerimanya, atau ditolak sebagai sihir, sebagaimana surah ini mencatat tuduhan sihir di 54:2.

Kalimat kedua berbunyi (كَذَٰلِكَ نَجْزِي مَنْ شَكَرَ, ka-dzaalika najzii man syakara) yang berarti "demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur". Susunan ka-dzaalika najzii tercatat di 19 ayat, dan pihak yang dibalas berbeda-beda. Di 9 ayat pihak itu orang-orang yang berbuat kebaikan, misalnya 6:84, 12:22, dan 37:80. Di ayat-ayat lain pihak itu para pendosa (7:40, 10:13, 46:25), orang-orang zalim (7:41, 12:75, 21:29), orang-orang yang mengada-adakan kebohongan (7:152), orang yang melampaui batas (20:127), dan setiap orang yang sangat kufur (35:36). Orang yang bersyukur disebut dalam susunan ini di ayat ini saja.

Lawan dari syukur disebut dalam susunan yang sama di 35:36, (كَذَٰلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ, ka-dzaalika najzii kulla kafuurin) yang berarti "demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kufur". Pasangan syukur dan kufur muncul dalam satu kalimat di 27:40, (أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ, a-asykuru am akfuru) yang berarti "apakah aku bersyukur atau berbuat kufur". Susunan man syakara tercatat di 2 ayat, 27:40 dan ayat ini.

Ayat ini tidak menjelaskan bentuk syukur keluarga Lut. Keterangan terdekat ada di 51:36, (فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ, fa-maa wajadnaa fiihaa ghayra baytin mina l-muslimiina) yang berarti "Kami tidak mendapati di dalamnya, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri". Di negeri itu satu rumah berserah diri kepada Allah, dan di ayat ini penghuni rumah itu disebut orang-orang yang bersyukur.

Tafsiran

Ayat ini memberi dua nama kepada penyelamatan yang sama. Penyelamatan itu nikmat dari sisi Allah, dan sekaligus balasan bagi orang yang bersyukur. Keduanya tidak bertentangan. Syukur menjawab nikmat, dan balasan atas syukur berupa nikmat lagi, sebagaimana dinyatakan di 14:7, (لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ, la-in syakartum la-aziidannakum) yang berarti "sungguh jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah bagi kalian".

Ayat 14:7 berlanjut dengan (إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ, inna 'adzaabii la-syadiidun) yang berarti "sesungguhnya azab-Ku benar-benar keras" bagi yang kufur. Kata azab-Ku di sana sama dengan kata yang diulang surah ini di 54:16, 54:18, 54:21, 54:30, dan sesudah ayat ini di 54:37 dan 54:39. Dalam kisah kaum Lut kedua ujung 14:7 hadir berdampingan. Kaumnya menerima azab-Ku, dan keluarga Lut menerima nikmat sebagai balasan atas syukur.

Kata ka-dzaalika, "demikianlah", membuka balasan itu bagi pihak di luar keluarga Lut. Ketentuan yang berlaku bagi keluarga itu berlaku bagi siapa pun yang bersyukur. Di 34:13 Allah menyebut (وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ, wa-qaliilun min 'ibaadiya sy-syakuuru) yang berarti "dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur", dan satu rumah di tengah negeri Lut memperlihatkan betapa sedikit jumlah itu.

Renungan dan Hikmah

  • Allah mendapati satu rumah orang-orang yang berserah diri di negeri kaum Lut (51:36), dan 34:13 menyebut sedikit sekali hamba-Nya yang bersyukur. Syukur jarang menjadi kebiasaan orang banyak. Orang yang bersyukur di tengah lingkungan yang ingkar mudah merasa sendirian, dan jumlah yang sedikit tidak mengurangi nilainya di sisi Allah. Keluarga Lut bersyukur tanpa menunggu kaumnya ikut bersyukur. Apakah syukur hari ini masih bertahan ketika orang-orang di sekitar tidak menjalaninya?
  • Sulaiman berkata di 27:40, (وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ, wa-man syakara fa-innamaa yasykuru li-nafsihi) yang berarti "siapa yang bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri". Allah tidak membutuhkan syukur manusia, dan syukur itu kembali kepada orang yang menjalaninya. Keluarga Lut bersyukur, dan merekalah yang diselamatkan. Syukur sering dianggap kewajiban yang membebani, seakan-akan Allah yang memerlukannya. Bagaimana syukur akan terasa bila dipahami sebagai sesuatu yang kembali kepada diri sendiri?
  • Di 14:7 Allah berjanji menambah nikmat bagi yang bersyukur. Keluarga Lut hidup dengan nikmat iman di tengah kaum yang ingkar, lalu menerima nikmat keselamatan. Syukur membuka pintu bagi nikmat berikutnya, dan keluhan sering menutup mata dari nikmat yang sudah ada. Orang yang menghitung kekurangan jarang melihat tambahan yang datang, sebab perhatiannya tertuju pada yang belum dimiliki. Nikmat mana yang sudah diterima hari ini dan belum disyukuri?
  • Di ayat ini keluarga yang diselamatkan disebut nikmat dari Allah, dan di 21:84 keluarga yang dikembalikan kepada Ayyub disebut rahmat dari-Nya. Keluarga yang utuh dan selamat mudah dianggap keadaan biasa sampai keadaan itu terancam. Ayyub menerima kembali keluarganya sesudah kehilangan, dan Lut menerima keselamatan keluarganya di tengah kebinasaan. Ayat ini menamai keselamatan keluarga dengan nama yang tepat, pemberian dari sisi Allah. Kapan terakhir kali keluarga yang ada di sekitar disyukuri sebagai pemberian dari-Nya?
  • Perumpamaan di 16:112 menggambarkan sebuah negeri yang aman dan tenteram, yang rezekinya datang berlimpah, lalu (فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ, fa-kafarat bi-an'umi llaahi) yang berarti "tetapi ia kufur terhadap nikmat-nikmat Allah". Kaum Lut menerima nikmat yang sama dengan keluarga Lut, negeri tempat tinggal dan kehadiran seorang utusan di tengah mereka, lalu memilih jalan yang lain. Kemakmuran dapat menjadi jalan syukur atau jalan kufur, dan arahnya ditentukan oleh cara penerimanya memakai kelapangan itu. Kelapangan hari ini sedang mengarahkan kepada syukur, atau kepada lupa?
  • Kata ka-dzaalika menjadikan penyelamatan keluarga Lut sebuah ketentuan. Allah membalas setiap orang yang bersyukur dengan cara yang sesuai, dan ketentuan itu tidak berhenti pada satu keluarga di satu masa. Pembaca tidak perlu menunggu kisah yang sama untuk mendapat bagian dari ketentuan itu, sebab Allah menepati ketentuan-Nya di setiap masa. Balasan yang sama terbuka bagi siapa pun yang memilih bersyukur hari ini. Syukur seperti apa yang dapat dijalani hari ini di tengah keadaan sendiri?