نِعْمَةً مِنْ عِنْدِنَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي مَنْ شَكَرَ
sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- نِعْمَةً مِنْ عِنْدِنَاni'matan min 'indinaasebagai nikmat dari Kami
- كَذَٰلِكَ نَجْزِي مَنْ شَكَرَka-dzaalika najzii man syakarademikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur
Terjemahan per kata (7 kata)
- نِعْمَةًni'matannikmat
- مِنْmindari
- عِنْدِنَا'indinaadi sisi Kami
- كَذَٰلِكَka-dzaalikademikianlah
- نَجْزِيnajziiKami membalas
- مَنْmanorang yang
- شَكَرَsyakarabersyukur
Inti bacaan
Selamatnya keluarga Lut dinamai pemberian dan ganjaran sekaligus. Rumusan ka-dzaalika najzii biasanya menyasar muhsinin; di sini sasarannya orang bersyukur, kebalikan kafuur di 35:36. Bandingkan 14:7 dan 34:13.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (نِعْمَةً مِنْ عِنْدِنَا, ni'matan min 'indinaa) yang berarti "sebagai nikmat dari Kami", keterangan bagi penyelamatan keluarga Lut di 54:34. Kata ni'mah berakar ن-ع-م dan tercatat di 49 ayat. Susunan min 'indinaa tercatat di 7 ayat, dan di 18:65 serta 21:84 susunan itu melekat pada rahmat, (رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا, rahmatan min 'indinaa) yang berarti "rahmat dari Kami". Di 21:84 rahmat itu berupa keluarga Ayyub yang dikembalikan kepadanya, dan di ayat ini nikmat itu berupa keluarga Lut yang diselamatkan. Di kedua ayat itu pemberian dari sisi Allah berupa keluarga.
Di tiga ayat lain min 'indinaa melekat pada kebenaran yang datang kepada kaum yang menolaknya, yaitu 10:76, 28:48, dan 40:25. Di 10:76 kaum Firaun menyambut kebenaran itu dengan (إِنَّ هَٰذَا لَسِحْرٌ مُبِينٌ, inna haadzaa la-sihrun mubiinun) yang berarti "sesungguhnya ini benar-benar sihir yang nyata", dan di 28:48 kebenaran yang sama disebut dua sihir. Apa yang datang dari sisi Allah dapat diterima sebagai nikmat, sebagaimana keluarga Lut menerimanya, atau ditolak sebagai sihir, sebagaimana surah ini mencatat tuduhan sihir di 54:2.
Kalimat kedua berbunyi (كَذَٰلِكَ نَجْزِي مَنْ شَكَرَ, ka-dzaalika najzii man syakara) yang berarti "demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur". Susunan ka-dzaalika najzii tercatat di 19 ayat, dan pihak yang dibalas berbeda-beda. Di 9 ayat pihak itu orang-orang yang berbuat kebaikan, misalnya 6:84, 12:22, dan 37:80. Di ayat-ayat lain pihak itu para pendosa (7:40, 10:13, 46:25), orang-orang zalim (7:41, 12:75, 21:29), orang-orang yang mengada-adakan kebohongan (7:152), orang yang melampaui batas (20:127), dan setiap orang yang sangat kufur (35:36). Orang yang bersyukur disebut dalam susunan ini di ayat ini saja.
Lawan dari syukur disebut dalam susunan yang sama di 35:36, (كَذَٰلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ, ka-dzaalika najzii kulla kafuurin) yang berarti "demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kufur". Pasangan syukur dan kufur muncul dalam satu kalimat di 27:40, (أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ, a-asykuru am akfuru) yang berarti "apakah aku bersyukur atau berbuat kufur". Susunan man syakara tercatat di 2 ayat, 27:40 dan ayat ini.
Ayat ini tidak menjelaskan bentuk syukur keluarga Lut. Keterangan terdekat ada di 51:36, (فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ, fa-maa wajadnaa fiihaa ghayra baytin mina l-muslimiina) yang berarti "Kami tidak mendapati di dalamnya, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri". Di negeri itu satu rumah berserah diri kepada Allah, dan di ayat ini penghuni rumah itu disebut orang-orang yang bersyukur.
Tafsiran
Ayat ini memberi dua nama kepada penyelamatan yang sama. Penyelamatan itu nikmat dari sisi Allah, dan sekaligus balasan bagi orang yang bersyukur. Keduanya tidak bertentangan. Syukur menjawab nikmat, dan balasan atas syukur berupa nikmat lagi, sebagaimana dinyatakan di 14:7, (لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ, la-in syakartum la-aziidannakum) yang berarti "sungguh jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah bagi kalian".
Ayat 14:7 berlanjut dengan (إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ, inna 'adzaabii la-syadiidun) yang berarti "sesungguhnya azab-Ku benar-benar keras" bagi yang kufur. Kata azab-Ku di sana sama dengan kata yang diulang surah ini di 54:16, 54:18, 54:21, 54:30, dan sesudah ayat ini di 54:37 dan 54:39. Dalam kisah kaum Lut kedua ujung 14:7 hadir berdampingan. Kaumnya menerima azab-Ku, dan keluarga Lut menerima nikmat sebagai balasan atas syukur.
Kata ka-dzaalika, "demikianlah", membuka balasan itu bagi pihak di luar keluarga Lut. Ketentuan yang berlaku bagi keluarga itu berlaku bagi siapa pun yang bersyukur. Di 34:13 Allah menyebut (وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ, wa-qaliilun min 'ibaadiya sy-syakuuru) yang berarti "dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur", dan satu rumah di tengah negeri Lut memperlihatkan betapa sedikit jumlah itu.
Renungan dan Hikmah
- Allah mendapati satu rumah orang-orang yang berserah diri di negeri kaum Lut (51:36), dan 34:13 menyebut sedikit sekali hamba-Nya yang bersyukur. Syukur jarang menjadi kebiasaan orang banyak. Orang yang bersyukur di tengah lingkungan yang ingkar mudah merasa sendirian, dan jumlah yang sedikit tidak mengurangi nilainya di sisi Allah. Keluarga Lut bersyukur tanpa menunggu kaumnya ikut bersyukur. Apakah syukur hari ini masih bertahan ketika orang-orang di sekitar tidak menjalaninya?
- Sulaiman berkata di 27:40, (وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ, wa-man syakara fa-innamaa yasykuru li-nafsihi) yang berarti "siapa yang bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri". Allah tidak membutuhkan syukur manusia, dan syukur itu kembali kepada orang yang menjalaninya. Keluarga Lut bersyukur, dan merekalah yang diselamatkan. Syukur sering dianggap kewajiban yang membebani, seakan-akan Allah yang memerlukannya. Bagaimana syukur akan terasa bila dipahami sebagai sesuatu yang kembali kepada diri sendiri?
- Di 14:7 Allah berjanji menambah nikmat bagi yang bersyukur. Keluarga Lut hidup dengan nikmat iman di tengah kaum yang ingkar, lalu menerima nikmat keselamatan. Syukur membuka pintu bagi nikmat berikutnya, dan keluhan sering menutup mata dari nikmat yang sudah ada. Orang yang menghitung kekurangan jarang melihat tambahan yang datang, sebab perhatiannya tertuju pada yang belum dimiliki. Nikmat mana yang sudah diterima hari ini dan belum disyukuri?
- Di ayat ini keluarga yang diselamatkan disebut nikmat dari Allah, dan di 21:84 keluarga yang dikembalikan kepada Ayyub disebut rahmat dari-Nya. Keluarga yang utuh dan selamat mudah dianggap keadaan biasa sampai keadaan itu terancam. Ayyub menerima kembali keluarganya sesudah kehilangan, dan Lut menerima keselamatan keluarganya di tengah kebinasaan. Ayat ini menamai keselamatan keluarga dengan nama yang tepat, pemberian dari sisi Allah. Kapan terakhir kali keluarga yang ada di sekitar disyukuri sebagai pemberian dari-Nya?
- Perumpamaan di 16:112 menggambarkan sebuah negeri yang aman dan tenteram, yang rezekinya datang berlimpah, lalu (فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ, fa-kafarat bi-an'umi llaahi) yang berarti "tetapi ia kufur terhadap nikmat-nikmat Allah". Kaum Lut menerima nikmat yang sama dengan keluarga Lut, negeri tempat tinggal dan kehadiran seorang utusan di tengah mereka, lalu memilih jalan yang lain. Kemakmuran dapat menjadi jalan syukur atau jalan kufur, dan arahnya ditentukan oleh cara penerimanya memakai kelapangan itu. Kelapangan hari ini sedang mengarahkan kepada syukur, atau kepada lupa?
- Kata ka-dzaalika menjadikan penyelamatan keluarga Lut sebuah ketentuan. Allah membalas setiap orang yang bersyukur dengan cara yang sesuai, dan ketentuan itu tidak berhenti pada satu keluarga di satu masa. Pembaca tidak perlu menunggu kisah yang sama untuk mendapat bagian dari ketentuan itu, sebab Allah menepati ketentuan-Nya di setiap masa. Balasan yang sama terbuka bagi siapa pun yang memilih bersyukur hari ini. Syukur seperti apa yang dapat dijalani hari ini di tengah keadaan sendiri?