وَلَقَدْ رَاوَدُوهُ عَنْ ضَيْفِهِ فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ
Dan sungguh, mereka telah membujuknya mengenai tamunya, lalu Kami butakan mata mereka; maka, rasakanlah azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku!
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَلَقَدْ رَاوَدُوهُ عَنْ ضَيْفِهِwa-la-qad raawaduuhu 'an dhayfihidan sungguh, mereka telah membujuknya mengenai tamunya
- فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْfa-thamasnaa a'yunahumlalu Kami butakan mata mereka
- فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِfa-dzuuquu 'adzaabii wa-nudzurimaka, rasakanlah azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku
Terjemahan per kata (9 kata)
- وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
- رَاوَدُوهُraawaduuhumereka membujuknya
- عَنْ'andari
- ضَيْفِهِdhayfihitamunya
- فَطَمَسْنَاfa-thamasnaamaka Kami menghapus
- أَعْيُنَهُمْa'yunahummata mereka
- فَذُوقُواfa-dzuuquumaka rasakanlah kalian
- عَذَابِي'adzaabiiazab-Ku
- وَنُذُرِwa-nudzuridan peringatan-peringatan-Ku
Inti bacaan
Raawada dengan 'an berpola seperti 12:61: membujuk penjaga agar melepas yang dijaga. Tamu yang dimuliakan Ibrahim (51:24) diburu di negeri Lut. Pembutaan tercatat di sini saja; 36:66 menyebutnya sebagai kemungkinan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَلَقَدْ رَاوَدُوهُ عَنْ ضَيْفِهِ, wa-la-qad raawaduuhu 'an dhayfihi) yang berarti "dan sungguh, mereka telah membujuknya mengenai tamunya". Kata kerja raawada berakar ر-و-د, akar yang juga melahirkan araada, "menghendaki". Bentuk raawada tercatat di 7 ayat, dan 6 di antaranya berada di surah Yusuf. Di 5 ayat surah itu kata kerja ini disusul keterangan "mengenai dirinya" untuk bujukan terhadap Yusuf, sebagian besar dari istri al-Aziz (12:23, 12:26, 12:30, 12:32, dan 12:51). Di ayat keenam, 12:61, saudara-saudara Yusuf berkata (سَنُرَاوِدُ عَنْهُ أَبَاهُ, sa-nuraawidu 'anhu abaahu) yang berarti "kami akan membujuk ayahnya tentangnya".
Susunan 12:61 serupa dengan ayat ini. Sasaran bujukan di kedua ayat itu orang yang menjaga, ayah di 12:61 dan Lut di sini. Kata 'an menunjuk orang yang hendak diambil dari penjagaannya, adik Yusuf di sana dan tamu Lut di sini. Terjemahan "membujuk" menangkap usaha yang ditujukan kepada pihak lain agar melepaskan sesuatu yang dijaganya.
Kata (ضَيْفِهِ, dhayfihi) yang berarti "tamunya" berakar ض-ي-ف, dan akar ini tercatat di 6 ayat. Bentuknya tunggal, padahal tamu Lut lebih dari seorang, sebab di 11:77 mereka disebut rusulunaa, "utusan-utusan Kami". Lut sendiri menunjuk mereka dengan kata yang sama di 15:68, (إِنَّ هَٰؤُلَاءِ ضَيْفِي, inna haa'ulaa'i dhayfii) yang berarti "sesungguhnya mereka tamuku", dan di 11:78 Lut memohon (وَلَا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي, wa-laa tukhzuuni fii dhayfii) yang berarti "dan janganlah kalian menghinakan aku di hadapan tamuku".
Dua ayat lain memakai kata yang sama untuk tamu Ibrahim, 15:51 dan 51:24, (ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ, dhayfi ibraahiima l-mukramiina) yang berarti "tamu Ibrahim yang dimuliakan". Di 15:58 dan 51:32 tamu-tamu itu menyatakan diri diutus kepada kaum yang berdosa, dan di 15:61 para utusan itu tiba di keluarga Lut. Tamu-tamu yang dimuliakan di rumah Ibrahim itu juga tamu-tamu yang diburu di negeri Lut. Kemunculan keenam, 18:77, menceritakan penduduk sebuah negeri yang menolak menjamu dua orang pengembara, (فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا, fa-abaw an yudhayyifuuhumaa) yang berarti "tetapi mereka menolak menjamu keduanya". Akar ini mencakup tamu yang dimuliakan, tamu yang ditolak, dan tamu yang hendak dihinakan.
Kalimat kedua berbunyi (فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ, fa-thamasnaa a'yunahum) yang berarti "lalu Kami butakan mata mereka". Akar ط-م-س tercatat di 5 ayat, dan di kelimanya menunjuk penghapusan rupa sesuatu sampai tidak lagi tampak atau tidak lagi berfungsi. Di 4:47 sasarannya wajah, (نَطْمِسَ وُجُوهًا, nathmisa wujuuhan) yang berarti "Kami menghapus wajah-wajah", di 10:88 harta Firaun dan para pemukanya dalam doa Musa, dan di 77:8 bintang-bintang, (فَإِذَا النُّجُومُ طُمِسَتْ, fa-idzaa n-nujuumu thumisat) yang berarti "maka apabila bintang-bintang dihapuskan".
Di 36:66 sasarannya mata, (وَلَوْ نَشَاءُ لَطَمَسْنَا عَلَىٰ أَعْيُنِهِمْ, wa-law nasyaa'u la-thamasnaa 'alaa a'yunihim) yang berarti "dan seandainya Kami menghendaki, pastilah Kami menghapus penglihatan mereka". Di 36:66 penghapusan mata disebut sebagai kemungkinan dengan kata law, "seandainya", dan di ayat ini sebagai kejadian. Dalam kisah kaum Lut di surah-surah lain, akar ط-م-س tidak muncul, sehingga pembutaan ini tercatat di ayat ini saja.
Kalimat ketiga berbunyi (فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ, fa-dzuuquu 'adzaabii wa-nudzuri) yang berarti "maka, rasakanlah azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku". Dua kalimat sebelumnya berbicara tentang mereka dengan kata ganti orang ketiga, dan kalimat ini berbicara kepada mereka dengan perintah orang kedua jamak. Perbedaan antara perintah ini dan pertanyaan fa-kayfa kaana di kisah-kisah sebelumnya sudah diuraikan di 54:16. Di ayat ini perintah itu datang sesudah pembutaan dan sebelum pagi yang diceritakan 54:38.
Tafsiran
Ayat ini memuat tiga langkah dalam satu rangkaian: bujukan kaum, tindakan Allah, dan perintah untuk merasakan. Bujukan itu ditujukan kepada Lut, dan sasaran sebenarnya tamu-tamunya. Di 11:80 Lut berkata (لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً, law anna lii bikum quwwatan) yang berarti "sekiranya aku mempunyai kekuatan untuk menghalangi kalian", dan di 11:81 para utusan menjawab bahwa kaumnya tidak akan sampai kepadanya. Kedua ayat itu dapat dibaca bersama ayat ini. Lut tidak memiliki kekuatan untuk menghalangi, dan penghalangnya datang dari Allah dalam bentuk mata yang dihapus.
Perintah "rasakanlah" langsung menyusul pembutaan, sehingga pembutaan itu sudah disebut azab. Azab dirasakan dua kali dalam kisah ini, dan perintah yang sama diucapkan pada keduanya (54:37 dan 54:39). Pembutaan menimpa orang-orang yang membujuk Lut, dan azab pagi menimpa seluruh kaum kecuali keluarga Lut (54:34).
Surah ini juga tidak menamai perbuatan kaum Lut. Kata faahisyah dipakai untuk perbuatan itu di 7:80, 27:54, dan 29:28, sedangkan di surah ini perbuatan mereka tampil lewat satu tindakan, bujukan terhadap tuan rumah agar menyerahkan tamunya. Tindakan itu cukup untuk memperlihatkan watak sebuah kaum, sebab tamu yang singgah di rumah seseorang berada di bawah penjagaannya.
Renungan dan Hikmah
- Lut memohon agar dirinya tidak dihinakan di hadapan tamunya (11:78). Bagi Lut, penghinaan terhadap tamu sama dengan penghinaan terhadap dirinya. Tamu yang singgah di bawah atap seseorang ikut membawa kehormatan tuan rumahnya, dan tuan rumah yang baik menjaga mereka seperti menjaga dirinya sendiri. Kewajiban itu terasa berat ketika orang banyak menekan dari luar, dan Lut menanggungnya tanpa kekuatan yang cukup (11:80). Siapa yang hari ini berada di bawah penjagaan kita, dan seberapa sungguh penjagaan itu dipertahankan ketika tekanan datang?
- Utusan-utusan Allah yang sama dimuliakan di rumah Ibrahim (51:24) dan diburu di negeri Lut. Tamunya tidak berubah, dan yang berbeda watak orang-orang yang menerimanya. Cara sebuah masyarakat menyambut orang asing memperlihatkan isi hatinya lebih jujur daripada cara mereka memperlakukan kawan sendiri. Orang yang datang tanpa kedudukan dan tanpa kerabat sering menjadi ukuran yang tidak disadari. Bagaimana orang asing yang singgah disambut, dan apakah penyambutan itu layak dilihat Allah?
- Kata kerja raawada dipakai untuk bujukan terhadap Yusuf, dan di 12:32 Yusuf disebut menjaga diri. Lut juga dibujuk dan tetap bertahan. Keburukan tidak selalu datang dengan paksaan; sering kali datang sebagai bujukan yang diulang-ulang, yang lama-lama terasa wajar. Keteguhan diuji lewat bujukan seperti itu, dan pertolongan Allah datang kepada Yusuf dan kepada Lut sesudah keduanya bertahan. Bujukan mana yang hari ini sedang diulang-ulang sampai hampir terasa wajar?
- Mata orang-orang yang datang untuk mengambil tamu Lut dihapus. Di 36:66 Allah menyatakan bahwa hal yang sama dapat terjadi kepada siapa pun seandainya Dia menghendaki. Penglihatan itu pemberian, dan pemberian dapat diambil kembali. Kaum Lut kehilangan penglihatan tepat ketika memakainya untuk mencari yang dilarang. Mata yang sama dapat dipakai untuk membaca tanda-tanda Allah atau untuk mengejar apa yang merusak. Ke mana mata ini diarahkan hari ini, dan apakah arah itu layak bagi pemberian-Nya?
- Lut berkata bahwa dirinya tidak memiliki kekuatan untuk menghalangi kaumnya dan tidak memiliki kerabat kuat untuk berlindung (11:80). Pengakuan itu tidak disusul kekalahan. Para utusan menyatakan bahwa kaumnya tidak akan sampai kepadanya (11:81), dan ayat ini menceritakan mata mereka dihapus. Ketidakberdayaan di hadapan orang banyak tidak berarti ditinggalkan Allah. Pada saat merasa tidak punya kekuatan apa pun, kepada siapa sandaran itu diarahkan?
- Di 15:67 penduduk kota itu datang ke rumah Lut (يَسْتَبْشِرُونَ, yastabsyiruuna) yang berarti "dengan gembira". Pelanggaran yang dikerjakan beramai-ramai dapat terasa seperti perayaan, dan kegembiraan orang banyak menutupi rasa malu masing-masing. Kaum Lut datang dengan gembira, dan ayat ini mengakhiri kegembiraan itu dengan mata yang dihapus. Kegembiraan yang lahir dari melanggar batas Allah mudah dikira kebebasan. Kegembiraan mana yang perlu diperiksa ulang karena lahir dari melanggar batas-Nya?