فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ

Maka, rasakanlah azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku!

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِfa-dzuuquu 'adzaabii wa-nudzurimaka, rasakanlah azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَذُوقُواfa-dzuuquumaka rasakanlah kalian
  2. عَذَابِي'adzaabiiazab-Ku
  3. وَنُذُرِwa-nudzuridan peringatan-peringatan-Ku

Inti bacaan

Keempat riwayat pertama masing-masing punya satu ayat tersendiri berpola 'adzaabii wa-nudzuri (54:16, 21, 30, 39). Akar ذ-و-ق meliputi rahmat (30:36) dan buah terlarang (7:22), dan 32:21 mengarahkan cicipan siksa ringan agar manusia berbalik.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri atas tiga kata, (فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ, fa-dzuuquu 'adzaabii wa-nudzuri) yang berarti "maka, rasakanlah azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku", dan bunyinya sama dengan bagian akhir 54:37. Pasangan 'adzaabii wa-nudzuri tercatat di 6 ayat, semuanya di surah ini, dan 4 di antaranya berdiri sebagai ayat tersendiri, yaitu 54:16, 54:21, 54:30, dan ayat ini. Masing-masing dari empat kisah pertama memiliki tepat satu ayat seperti itu, Nuh di 54:16, Ad di 54:21, Tsamud di 54:30, dan kaum Lut di sini. Tiga ayat pertama berupa pertanyaan fa-kayfa kaana, dan ayat keempat berupa perintah.

Kata kerja (فَذُوقُوا, fa-dzuuquu) berakar ذ-و-ق, dan bentuk perintah dzuuquu tercatat di 24 ayat. Di surah ini bentuk itu muncul lagi di 54:48, (ذُوقُوا مَسَّ سَقَرَ, dzuuquu massa saqara) yang berarti "rasakanlah sentuhan Saqar". Di 51:14 yang diperintahkan untuk dirasakan berupa cobaan, (ذُوقُوا فِتْنَتَكُمْ, dzuuquu fitnatakum) yang berarti "rasakanlah cobaan kalian".

Akar yang sama dipakai untuk rahmat. Susunan adzaqnaa, "Kami rasakan", tercatat di 7 ayat, dan di 30:36 yang dirasakan berupa rahmat, (وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً فَرِحُوا بِهَا, wa-idzaa adzaqnaa n-naasa rahmatan farihuu bihaa) yang berarti "apabila Kami mencicipkan suatu rahmat kepada manusia, mereka gembira karenanya". Di 7:22 kata kerja yang sama dipakai untuk Adam dan istrinya yang mencicipi pohon, (فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ, fa-lammaa dzaaqaa sy-syajarata) yang berarti "lalu ketika keduanya mencicipi pohon itu", dan sesudah mencicipinya aurat keduanya tampak. Di ketiga contoh itu merasakan berarti mengalami langsung sesuatu, baik rahmat maupun akibat perbuatan.

Di 32:21 merasakan azab diberi tujuan, (وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ, wa-la-nudziiqannahum mina l-'adzaabi l-adnaa) yang berarti "dan sungguh, akan Kami timpakan kepada mereka sebagian dari azab yang dekat", disusul "selain azab yang lebih besar, agar mereka kembali". Azab yang lebih kecil di ayat itu dirasakan agar orang kembali.

Kata (عَذَابِي, 'adzaabii) memuat akhiran -ii, "-Ku". Di surah ini akhiran orang pertama tunggal yang merujuk kepada Allah tercatat pada kata 'adzaabii di 6 ayat itu, sedangkan tindakan Allah yang lain disebut dengan "Kami", misalnya (فَطَمَسْنَا, fa-thamasnaa) yang berarti "lalu Kami butakan" di 54:37 dan (نَجَّيْنَاهُمْ, najjaynaahum) yang berarti "Kami selamatkan mereka" di 54:34. Kata nudzuri diterjemahkan "peringatan-peringatan-Ku", dengan akhiran yang sama meskipun tidak tertulis sebagai huruf.

Tafsiran

Ayat ini mengulang perintah 54:37, dan pengulangan itu menandai dua keadaan yang berbeda. Di 54:37 perintah itu diucapkan kepada orang-orang yang matanya dihapus, dan di ayat ini sesudah azab pagi yang tetap (54:38) menimpa seluruh kaum. Kata-katanya sama, sedangkan yang dirasakan bertambah. Kaum Lut diberi rasa pertama berupa pembutaan sebelum pagi, dan 32:21 menyebut rasa azab yang dekat sebagai kesempatan untuk kembali. Surah ini tidak menceritakan apa yang dikerjakan kaum Lut di antara kedua rasa itu.

Kata nudzur di ayat ini juga menutup lingkaran yang dibuka 54:36. Di sana kaum Lut membantah peringatan-peringatan, dan di sini peringatan-peringatan yang sama menjadi sesuatu yang dirasakan. Apa yang dahulu datang sebagai kata-kata dari Lut sampai kepada mereka sebagai pengalaman.

Letak ayat ini dalam susunan surah juga bermakna. Di kisah Nuh dan Ad, ayat tersendiri itu langsung diikuti kalimat tentang Al-Qur'an yang dimudahkan (54:17 dan 54:22), dan demikian pula di sini (54:40). Di kisah Tsamud, 54:30 lebih dulu diikuti gambaran azabnya (54:31). Pertanyaan di tiga kisah pertama mengajak pembaca menimbang, sedangkan perintah di sini ditujukan kepada kaum yang sedang mengalaminya. Pembaca mendengar perintah itu dari luar, sebagai saksi atas kalimat yang ditujukan Allah kepada kaum yang sedang dibinasakan.

Renungan dan Hikmah

  • Kaum Lut membantah peringatan-peringatan (54:36), lalu diperintahkan merasakan peringatan-peringatan itu (54:39). Pengetahuan yang datang lewat pendengaran dapat dibantah, sedangkan pengetahuan yang datang lewat rasa tidak dapat dibantah lagi. Peringatan dari Allah dalam bentuk kata-kata memberi kesempatan untuk belajar tanpa harus merasakan akibatnya lebih dulu. Pelajaran mana yang masih ditunda sampai harus dirasakan sendiri, padahal kata-katanya sudah sampai sejak lama?
  • Di 32:21 Allah menyatakan bahwa sebagian azab yang dekat dirasakan agar orang kembali. Kesulitan kecil dalam hidup dapat dibaca sebagai panggilan untuk kembali, sebelum pintu itu tertutup. Orang sering menganggap kesulitan sebagai kebetulan atau kesialan, lalu melanjutkan hidup tanpa menoleh. Orang-orang yang dibutakan itu tetap berada di negerinya sampai azab pagi datang. Kesulitan mana yang baru-baru ini dirasakan, dan apakah ada panggilan dari-Nya di dalamnya?
  • Di 30:36 Allah mencicipkan rahmat kepada manusia, dan mereka bergembira karenanya. Kata kerja yang sama dipakai untuk rahmat dan untuk azab, dan keduanya sama-sama datang dari-Nya. Rahmat yang dirasakan setiap hari, napas, makanan, orang-orang yang dicintai, mudah dianggap biasa sampai rasa itu hilang. Orang lebih cepat mengenali pahitnya kehilangan daripada manisnya pemberian yang masih ada. Rahmat apa yang hari ini sedang dirasakan tanpa disadari berasal dari Allah?
  • Perintah "rasakanlah" ditujukan kepada setiap orang dari kaum itu. Rasa tidak dapat diwakilkan, dan di 6:164 Allah berfirman bahwa seorang pemikul beban tidak memikul beban orang lain. Di dunia orang dapat bersembunyi di balik keramaian, mengikuti apa yang dikerjakan orang banyak. Di hadapan akibat, setiap orang merasakan bagiannya sendiri. Keputusan mana yang selama ini disandarkan kepada orang banyak, padahal akibatnya kelak dirasakan sendiri di hadapan Allah?
  • Adam dan istrinya mencicipi pohon yang dilarang, lalu aurat mereka tampak (7:22). Sesudah merasakan akibatnya, keduanya berkata kepada Allah bahwa mereka telah menzalimi diri sendiri dan memohon ampunan (7:23). Kaum Lut juga merasakan akibat, tetapi tidak ada doa seperti itu yang tercatat dari mereka. Rasa akibat yang sama dapat membawa orang kembali kepada-Nya atau membuatnya semakin jauh. Ketika akibat sebuah kesalahan terasa, ke mana langkah pertama diarahkan?
  • Perintah yang sama diucapkan dua kali dalam tiga ayat. Kaum Lut sudah dibinasakan, dan pengulangan itu sampai kepada pembaca yang masih hidup. Pelajaran yang penting sering perlu didengar lebih dari sekali sebelum benar-benar masuk ke hati, dan Allah mengulanginya tanpa jemu. Pengulangan itu sendiri sebuah kemurahan, sebab setiap ulangan membuka kesempatan baru bagi pembaca yang sebelumnya lalai. Pelajaran mana yang sudah berulang kali dibaca dalam Al-Qur'an, tetapi belum juga mengubah apa pun?