Ayat 54:41

وَلَقَدْ جَاءَ آلَ فِرْعَوْنَ النُّذُرُ

Dan sungguh, peringatan-peringatan telah datang kepada keluarga Firaun,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَلَقَدْ جَاءَ آلَ فِرْعَوْنَ النُّذُرُwa-la-qad jaa'a aala fir'awna n-nudzurudan sungguh, peringatan-peringatan telah datang kepada keluarga Firaun

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
  2. جَاءَjaa'adatang
  3. آلَaalakeluarga
  4. فِرْعَوْنَfir'awnaFiraun
  5. النُّذُرُn-nudzuruperingatan-peringatan

Inti bacaan

Kisah kelima dibuka dengan kedatangan, berbeda dari empat pembuka sebelumnya yang memakai kadzdzabat. An-nudzur menjadi pelaku seperti di 54:5, tempat peringatan disebut tidak mencukupkan. Sebutan aal mencakup kerabat dan pendukung, dan 40:28 mencatat seorang beriman dari lingkaran itu.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَلَقَدْ جَاءَ آلَ فِرْعَوْنَ النُّذُرُ, wa-la-qad jaa'a aala fir'awna n-nudzuru) yang berarti "dan sungguh, peringatan-peringatan telah datang kepada keluarga Firaun". Susunannya menempatkan sasaran sebelum pelaku. Kata kerja jaa'a, "telah datang", langsung disusul aala fir'awna, orang-orang yang didatangi, dan pelakunya, an-nudzuru, berada di akhir. Susunan serupa tercatat di 35:37, (وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ, wa-jaa'akumu n-nadziiru) yang berarti "dan telah datang kepada kalian pemberi peringatan", yang diucapkan kepada penghuni neraka yang memohon dikeluarkan.

Kata nudzur tercatat di 11 ayat surah ini. Di 6 ayat kata itu disandingkan dengan azab dalam susunan 'adzaabii wa-nudzuri, "azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku" (54:16, 18, 21, 30, 37, 39), dan di 3 ayat kata itu menjadi sesuatu yang didustakan atau dibantah (54:23, 33, 36). Di 2 ayat kata itu menjadi pelaku sebuah kata kerja. Ayat pertama di pembukaan surah, (فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ, fa-maa tughni n-nudzuru) yang berarti "tetapi peringatan-peringatan tidak mencukupkan" (54:5), dan ayat kedua di sini. Di awal surah peringatan-peringatan disebut tidak mencukupkan, dan di kisah terakhir peringatan-peringatan itu disebut datang.

Sebutan (آلَ فِرْعَوْنَ, aala fir'awna) tercatat di 13 ayat. Kata aal dipakai juga di surah ini untuk keluarga Lut yang diselamatkan, (إِلَّا آلَ لُوطٍ, illaa aala luuthin) yang berarti "kecuali keluarga Lut" (54:34). Terjemahan di situs ini memakai "keluarga" di ayat ini dan "pengikut" di 8:52 dan 8:54, sebab kata aal mencakup orang-orang di sekitar seseorang, kerabat maupun pendukungnya. Di 40:28 tercatat (رَجُلٌ مُؤْمِنٌ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ, rajulun mu'minun min aali fir'awna) yang berarti "seorang lelaki beriman dari keluarga Firaun", sehingga lingkaran Firaun pun tidak seluruhnya sama.

Pemberi peringatan kepada keluarga Firaun tidak disebut namanya di surah ini, dan nama Musa tidak muncul di satu ayat pun dari surah 54. Di surah lain Musa dan Harun diutus bersama, (إِنَّا رَسُولَا رَبِّكَ, innaa rasuulaa rabbika) yang berarti "sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu" (20:47), dan di 17:101 Musa diberi (تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ, tis'a aayaatin bayyinaatin) yang berarti "sembilan tanda yang jelas". Di surah ini utusan dan tanda-tanda itu tercakup dalam satu sebutan, an-nudzur.

Di surah lain keluarga Firaun tercatat menerima peringatan dalam bentuk lain sebelum azab. Di 7:130 Allah berfirman (وَلَقَدْ أَخَذْنَا آلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِينَ, wa-la-qad akhadznaa aala fir'awna bi-s-siniina) yang berarti "dan sungguh Kami timpakan kepada keluarga Firaun paceklik bertahun-tahun", lalu menyebut tujuannya, agar mereka mengambil pelajaran. Kesulitan itu termasuk peringatan yang datang kepada mereka sebelum timpaan terakhir.

Tafsiran

Ayat ini membuka kisah kelima dan terakhir dengan cara yang berbeda dari empat kisah sebelumnya. Kisah Nuh (54:9), Ad (54:18), Tsamud (54:23), dan kaum Lut (54:33) dibuka dengan pendustaan, dan kisah keluarga Firaun dibuka dengan kedatangan. Dengan menjadikan peringatan sebagai pelaku, ayat ini menempatkan peringatan sebagai pihak yang bergerak menuju orang-orang yang diperingatkan. Keluarga Firaun tidak mencari peringatan itu, dan peringatan itu yang mendatangi mereka.

Kisah ini juga yang terpendek di surah ini, dua ayat saja (54:41-42), tanpa nama utusan dan tanpa percakapan. Kisah Firaun diceritakan panjang di surah-surah lain, dan surah ini menyebut dua hal yang cukup untuk pelajarannya, peringatan yang datang dan tanda-tanda yang didustakan. Ringkasnya kisah ini menandai peralihan. Sesudah kisah ini tidak ada lagi kalimat tentang Al-Qur'an yang dimudahkan, dan surah ini berpaling kepada orang-orang yang diajak bicara (54:43).

Kaitan dengan 54:5 memberi bingkai bagi seluruh rangkaian kisah. Di awal surah peringatan-peringatan disebut tidak mencukupkan bagi orang-orang yang berpaling, dan lima kisah sesudahnya memperlihatkan hal itu satu per satu. Kisah kelima dibuka dengan kata yang sama dalam kedudukan yang sama, sehingga pembaca kembali ke pernyataan awal dengan contoh yang sudah lengkap.

Renungan dan Hikmah

  • Peringatan datang kepada keluarga Firaun tanpa mereka minta. Allah mengirim peringatan kepada orang yang tidak mencarinya, termasuk penghuni istana yang merasa tidak membutuhkannya. Peringatan dapat datang lewat kata-kata seorang utusan, lewat paceklik (7:130), atau lewat kejadian yang mengusik rasa aman. Kedatangannya tidak menunggu kesiapan orang yang didatangi. Peringatan apa yang akhir-akhir ini datang tanpa diminta, dan apakah sudah diterima sebagai kiriman dari-Nya?
  • Kata aal mencakup orang-orang di sekitar Firaun, kerabat maupun pendukungnya, dan peringatan datang kepada mereka semua. Orang yang berada di lingkaran kekuasaan mudah merasa bahwa tanggung jawab berada di pundak pemimpinnya saja. Ayat ini menyebut keluarga Firaun sebagai penerima peringatan, dan 54:42 menyebut mereka mendustakan semua tanda. Lingkaran mana yang sedang diikuti, dan apakah keikutsertaan itu dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah?
  • Di 40:28 seorang lelaki beriman dari keluarga Firaun membela utusan Allah di hadapan kaumnya. Lelaki itu berbicara dari dalam lingkaran yang sama dengan orang-orang yang mendustakan. Ayat itu menyebut dirinya menyembunyikan iman, dan pada saat yang menentukan dirinya tetap berbicara. Keberanian seperti itu lebih berat daripada keberanian di tengah kawan yang sepaham, sebab taruhannya kedudukan dan keselamatan. Di lingkungan mana kebenaran perlu dibela oleh orang dari dalam, dan apakah suara itu masih berani diucapkan?
  • Nama Musa tidak disebut di surah ini. Pelajaran kisah Firaun di sini bertumpu pada peringatan yang datang dan tanda-tanda yang didustakan, tanpa menyebut siapa pembawanya. Orang sering menilai sebuah nasihat dari siapa yang menyampaikannya, lalu menolak isinya karena tidak menyukai pembawanya. Peringatan dari Allah tetap peringatan, siapa pun yang membawanya. Nasihat mana yang pernah ditolak karena pembawanya, padahal isinya benar?
  • Di 7:130 keluarga Firaun ditimpa paceklik bertahun-tahun agar mereka mengambil pelajaran. Kesulitan itu datang sebelum timpaan terakhir dan berfungsi sebagai peringatan. Kekurangan dalam hidup dapat dibaca sebagai beban semata atau sebagai pesan dari Allah yang mengajak berpikir ulang. Kesulitan yang sama menimpa banyak orang, dan tidak semua membacanya sebagai peringatan. Kekurangan apa yang sedang dialami, dan pesan apa dari-Nya yang mungkin tersimpan di dalamnya?
  • Surah ini dibuka dengan pernyataan bahwa peringatan-peringatan tidak mencukupkan (54:5), dan kisah kelima dibuka dengan peringatan yang datang. Peringatan tidak kurang jumlahnya; yang kurang kesediaan untuk menerimanya, dan Allah tetap mengirimkan peringatan-Nya kepada mereka. Keluarga Firaun menerima peringatan dalam bentuk sembilan tanda yang jelas (17:101), dan tetap berpaling. Seberapa banyak peringatan dari Allah yang dibutuhkan sebelum sebuah hati mau berubah?

Ayat 54:42

كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كُلِّهَا فَأَخَذْنَاهُمْ أَخْذَ عَزِيزٍ مُقْتَدِرٍ

Mereka mendustakan semua tanda-tanda Kami. Maka, Kami mengazab mereka dengan azab yang digdaya lagi berkuasa penuh.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كُلِّهَاkadzdzabuu bi-aayaatinaa kullihaamereka mendustakan semua tanda-tanda Kami
  2. فَأَخَذْنَاهُمْ أَخْذَ عَزِيزٍ مُقْتَدِرٍfa-akhadznaahum akhdza 'aziizin muqtadirinmaka, Kami mengazab mereka dengan azab yang digdaya lagi berkuasa penuh

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. كَذَّبُواkadzdzabuumendustakan
  2. بِآيَاتِنَاbi-aayaatinaapada tanda-tanda Kami
  3. كُلِّهَاkullihaaseluruhnya
  4. فَأَخَذْنَاهُمْfa-akhadznaahummaka Kami menimpakan kepada mereka
  5. أَخْذَakhdzahukuman
  6. عَزِيزٍ'aziizinMahaperkasa
  7. مُقْتَدِرٍmuqtadirinYang Mahakuasa

Inti bacaan

Susunan serupa di 20:56 menegaskan bahwa Firaun ditunjuki segenap ayat-Nya. Hukuman di sini dicirikan lewat Penimpanya, 'aziiz dan muqtadir; kata kedua itu hadir lagi pada penutup surah untuk Raja tempat kaum takwa bernaung.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كُلِّهَا, kadzdzabuu bi-aayaatinaa kullihaa) yang berarti "mereka mendustakan semua tanda-tanda Kami". Susunan aayaatinaa dengan kata kull, "semua", tercatat di 2 ayat, dan keduanya tentang Firaun dan keluarganya. Di 20:56 Allah berfirman (وَلَقَدْ أَرَيْنَاهُ آيَاتِنَا كُلَّهَا, wa-la-qad araynaahu aayaatinaa kullahaa) yang berarti "sungguh Kami telah memperlihatkan kepadanya tanda-tanda Kami semuanya", lalu Firaun mendustakan dan enggan. Kedua ayat itu saling melengkapi. Di 20:56 semua tanda diperlihatkan, dan di ayat ini semua tanda didustakan.

Kata kerja kadzdzabuu berbentuk jamak, sedangkan empat kisah sebelumnya dibuka dengan kadzdzabat, bentuk tunggal feminin yang menunjuk kaum sebagai satu kesatuan. Susunan "mendustakan tanda-tanda Kami" dipakai untuk keluarga Firaun juga di 3:11, (كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ, kadzdzabuu bi-aayaatinaa fa-akhadzahumu llaahu bi-dzunuubihim) yang berarti "mereka mendustakan tanda-tanda Kami, maka Allah menyiksa mereka karena dosa-dosa mereka". Urutannya sama dengan ayat ini, pendustaan lalu timpaan. Susunan ka-da'bi aali fir'awna, "seperti keadaan keluarga Firaun", tercatat di 3 ayat (3:11, 8:52, dan 8:54), sehingga keluarga Firaun menjadi ukuran untuk menggambarkan kaum-kaum lain.

Kalimat kedua berbunyi (فَأَخَذْنَاهُمْ أَخْذَ عَزِيزٍ مُقْتَدِرٍ, fa-akhadznaahum akhdza 'aziizin muqtadirin) yang berarti "maka, Kami mengazab mereka dengan azab yang digdaya lagi berkuasa penuh". Kata kerja akhadza yang berarti "mengambil" disusul kata benda dari akar yang sama, akhdz. Kata benda akhdz tercatat di 5 ayat, dan di 73:16 susunan yang sama dipakai untuk Firaun, (فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا, fa-akhadznaahu akhdzan wabiilan) yang berarti "lalu Kami renggut dia dengan siksaan yang berat". Di 11:102 kata itu disandarkan kepada Tuhan, (إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ, inna akhdzahu aliimun syadiidun) yang berarti "sesungguhnya timpaan-Nya pedih lagi keras".

Di ayat ini akhdz disandarkan kepada dua kata sifat dalam susunan (أَخْذَ عَزِيزٍ مُقْتَدِرٍ, akhdza 'aziizin muqtadirin) yang berarti "timpaan Yang Digdaya lagi Berkuasa penuh". Susunan itu menyebut timpaan sebagai milik Pelakunya, dan terjemahan ayat ini meringkasnya menjadi sifat azab itu sendiri. Di 73:16 timpaan diberi sifat "berat", sedangkan di ayat ini timpaan disifati lewat pelakunya. Akar ع-ز-ز tercatat di surah ini di ayat ini saja.

Kata (مُقْتَدِرٍ, muqtadirin) berakar ق-د-ر dan tercatat di 4 ayat, antara lain 18:45, (وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا, wa-kaana llaahu 'alaa kulli syay'in muqtadiran) yang berarti "dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu". Dua dari keempatnya berada di surah ini, di ayat ini dan di ayat penutup surah, (عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ, 'inda maliikin muqtadirin) yang berarti "di sisi Raja yang berkuasa penuh" (54:55). Akar ق-د-ر tercatat di 4 ayat surah ini, yaitu 54:12, 54:42, 54:49, dan 54:55.

Tafsiran

Ayat ini menutup kisah keluarga Firaun dengan dua kalimat, pendustaan dan timpaan, tanpa menyebut laut atau tenggelamnya mereka. Kisah-kisah sebelumnya menguraikan bentuk azab, air yang tercurah (54:11), angin yang sangat kencang (54:19), satu suara menggelegar (54:31), dan badai batu (54:34). Kisah kelima menyebut timpaan lewat Pelakunya, Yang Digdaya lagi Berkuasa penuh. Firaun pernah berkata (أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ, anaa rabbukumu l-a'laa) yang berarti "akulah Tuhan kalian yang mahatinggi" (79:24), dan timpaan atas keluarganya disifati dengan kekuasaan yang sesungguhnya.

Kata kull, "semua", menandai bahwa pendustaan itu tidak menyisakan tanda yang diterima. Tanda-tanda itu diperlihatkan kepada Firaun (20:56), dan paceklik bertahun-tahun (7:130) termasuk jalan yang dibukakan bagi keluarganya. Timpaan terakhir datang sesudah semua jalan itu ditolak.

Kata muqtadir mengikat ayat ini dengan akhir surah. Kekuasaan yang sama menimpa keluarga Firaun di 54:42, dan di 54:55 orang-orang bertakwa ditempatkan di sisi Raja yang berkuasa itu. Surah ini memperlihatkan satu sifat Allah yang bekerja ke dua arah, sesuai dengan sikap orang yang menghadapinya. Di Asy-Syu'ara setiap kisah ditutup dengan sebutan al-'aziiz yang disandingkan dengan ar-rahiim (26:175), sebagaimana dicatat di 54:40. Di ayat ini 'aziiz disandingkan dengan muqtadir, dua sebutan kekuasaan, dan yang diceritakan di sini timpaan atas orang-orang yang mendustakan semua tanda.

Renungan dan Hikmah

  • Keluarga Firaun mendustakan semua tanda, dan 20:56 menyebut semua tanda itu sudah diperlihatkan. Ketika setiap bukti ditolak, persoalannya tidak lagi terletak pada kurangnya bukti. Orang yang sudah memutuskan untuk menolak akan menemukan alasan untuk setiap tanda yang datang. Kebiasaan itu dapat tumbuh diam-diam dalam urusan kecil, menolak setiap nasihat dengan alasan yang berbeda. Tanda-tanda Allah mana yang selama ini ditolak satu per satu dengan alasan yang selalu tersedia?
  • Firaun menyebut dirinya tuhan yang mahatinggi (79:24), dan timpaan atas keluarganya disifati dengan dua nama, Yang Digdaya lagi Berkuasa penuh. Kekuasaan manusia, sebesar apa pun, berada di bawah kekuasaan Allah yang tidak dipinjam dari siapa pun dan tidak berkurang oleh pengakuan siapa pun. Jabatan dan pengaruh mudah membuat orang lupa batas kekuasaannya sendiri. Kekuasaan kecil apa yang sedang dipegang, dan apakah pemegangnya ingat bahwa kekuasaan itu berada di bawah kekuasaan-Nya?
  • Keluarga Firaun dijadikan ukuran untuk kaum-kaum lain di 3:11, 8:52, dan 8:54, "seperti keadaan keluarga Firaun". Di 8:54 semuanya, keluarga Firaun dan orang-orang sebelum mereka, disebut orang-orang zalim. Pola mereka dapat terulang pada siapa pun yang mendustakan tanda-tanda Allah, tanpa harus bertakhta di Mesir. Sikap menolak kebenaran karena merasa berkuasa tidak mengenal zaman. Kebiasaan mana dari keluarga Firaun yang mungkin sedang terulang dalam ukuran kecil di rumah, kantor, atau lingkungan sendiri?
  • Sebelum timpaan terakhir, semua tanda diperlihatkan kepada Firaun (20:56), dan di 20:44 Musa dan Harun diperintahkan berbicara kepadanya dengan kata-kata yang lembut, agar dia ingat atau takut. Allah membuka banyak pintu sebelum menutupnya. Kesempatan yang panjang mudah disalahpahami sebagai tanda bahwa tidak akan ada akibat. Pintu mana dari-Nya yang sedang terbuka hari ini, dan sampai kapan orang merasa boleh menunda untuk memasukinya?
  • Kata muqtadir dipakai di ayat ini untuk timpaan atas keluarga Firaun dan di 54:55 untuk Raja yang di sisi-Nya orang-orang bertakwa ditempatkan. Kekuasaan Allah yang sama menimpa orang yang mendustakan dan menaungi orang yang bertakwa. Arah kekuasaan itu terasa berbeda karena sikap orang yang menghadapinya, sedangkan kekuasaannya satu. Dari arah mana kekuasaan Allah sedang dihadapi, sebagai timpaan yang ditakuti atau sebagai naungan yang dirindukan?
  • Surah ini tidak menceritakan laut dan tenggelamnya keluarga Firaun. Pembaca yang mengenal kisah itu dari surah lain mengisi rinciannya sendiri, dan surah ini menunjuk pelajarannya, pendustaan dan akibatnya. Rincian kebinasaan orang lain sering lebih menarik untuk dibicarakan daripada sebabnya, padahal sebab itulah yang dapat dihindari. Ketika mendengar kejatuhan seseorang, apakah yang lebih dulu dicari sebab yang dapat dijadikan pelajaran, atau rincian yang dapat diceritakan?