كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كُلِّهَا فَأَخَذْنَاهُمْ أَخْذَ عَزِيزٍ مُقْتَدِرٍ

Mereka mendustakan semua tanda-tanda Kami. Maka, Kami mengazab mereka dengan azab yang digdaya lagi berkuasa penuh.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كُلِّهَاkadzdzabuu bi-aayaatinaa kullihaamereka mendustakan semua tanda-tanda Kami
  2. فَأَخَذْنَاهُمْ أَخْذَ عَزِيزٍ مُقْتَدِرٍfa-akhadznaahum akhdza 'aziizin muqtadirinmaka, Kami mengazab mereka dengan azab yang digdaya lagi berkuasa penuh

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. كَذَّبُواkadzdzabuumendustakan
  2. بِآيَاتِنَاbi-aayaatinaapada tanda-tanda Kami
  3. كُلِّهَاkullihaaseluruhnya
  4. فَأَخَذْنَاهُمْfa-akhadznaahummaka Kami menimpakan kepada mereka
  5. أَخْذَakhdzahukuman
  6. عَزِيزٍ'aziizinMahaperkasa
  7. مُقْتَدِرٍmuqtadirinYang Mahakuasa

Inti bacaan

Penolakan menyeluruh dan konsekuensi setimpal: 'mereka mendustakan semua tanda-tanda Kami. Maka, Kami mengazab mereka dengan azab (Tuhan) yang digdaya lagi berkuasa penuh', penolakan total terhadap seluruh bukti yang diberikan dijawab dengan konsekuensi yang sepadan skalanya.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini meringkas seluruh kisah sebuah kaum menjadi dua kalimat, dan keduanya berupa sebab lalu akibat.

Sebabnya disebut menyeluruh: mereka mendustakan tanda-tanda Kami “semuanya”. Bukan sebagian, bukan yang paling sulit dipercaya saja. Kata itu menutup kemungkinan bahwa penolakannya bersifat memilih.

Akibatnya digambarkan dengan rangkaian yang hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, “azab yang digdaya lagi berkuasa penuh” (أَخْذَ عَزِيزٍ مُقْتَدِرٍ, akhdza 'aziizin muqtadirin). Yang menarik, kedua sifat itu biasanya menerangkan pelakunya, bukan perbuatannya. Di sini keduanya diberikan kepada hukumannya, sehingga hukuman itu digambarkan seolah membawa sifat yang menjatuhkannya. Bentuk katanya pun tanpa kata sandang, dan karena itu di dalam terjemahan ini keduanya tidak diberi gelar.

Yang perlu diperhatikan adalah kependekannya. Kisah yang di tempat lain terbentang panjang, di sini tinggal polanya saja. Surah ini memang bekerja begitu: beberapa kaum disebut berturut-turut dengan ringkas, dan di antara mereka disisipkan kalimat yang sama berulang-ulang tentang kitab yang dimudahkan. Yang ditawarkan bukan kisah yang lengkap, melainkan bentuk yang berulang.

Sebab yang disebut memakai kata yang menutup segala kemungkinan pemilihan. Ditambahkan kata “semuanya” (كُلِّهَا, kullihaa) sesudah penyebutan tanda-tanda, sehingga yang digambarkan bukan penolakan terhadap sebagian yang sulit dipercaya, melainkan penolakan menyeluruh. Sebuah penolakan yang memilih masih menyisakan dasar untuk berunding; penolakan yang menyeluruh tidak.

Bentuk akibatnya memakai kata kerja yang berarti mengambil atau menyambar dengan kuat, bukan menghukum. Kata benda dari akar yang sama dipakai lagi tepat sesudahnya sebagai penegasan, yaitu cara bahasa Arab menguatkan sesuatu dengan mengulang akarnya. Yang ditegaskan bukan beratnya, melainkan kepastiannya.

Dua sifat yang menyertainya biasanya menerangkan pelaku, bukan perbuatan. Di sini keduanya diberikan kepada pengambilannya. Susunan itu menghasilkan gambaran yang khas: hukuman digambarkan membawa serta sifat pihak yang menjatuhkannya, seolah yang datang bukan akibat melainkan kehadiran. Dan karena bentuknya tanpa kata sandang, di dalam terjemahan ini keduanya tidak diberi gelar.

Kependekan ayat ini pun bagian dari cara kerja surahnya. Kisah yang di tempat lain terbentang panjang di sini tinggal sebab dan akibat. Surah ini memang menyebut beberapa kaum berturut-turut dengan ringkas, dan di antara mereka disisipkan kalimat yang sama berulang-ulang tentang kitab yang dimudahkan. Yang ditawarkan bukan kisah yang lengkap, melainkan bentuk yang berulang, dan bentuk itu jauh lebih mudah dikenali pada zaman sendiri daripada rincian yang lengkap.

Tafsiran

Ayat ini meringkas seluruh kesudahan sebuah kaum menjadi dua kalimat, yaitu sebab lalu akibat, sebagai wujud kekuasaan yang tak tertandingi. Kependekannya bukan penghematan; ia cara kerja surahnya.

Sebabnya disebut menyeluruh dengan satu kata tambahan, yaitu semuanya. Kata itu menutup kemungkinan bahwa penolakan mereka bersifat memilih. Penolakan yang memilih masih menyisakan dasar untuk berunding, sebab masih ada bagian yang diterima. Penolakan yang menyeluruh tidak menyisakan apa pun untuk dibicarakan.

Akibatnya digambarkan dengan rangkaian yang hanya sekali muncul di seluruh kitab ini. Yang menarik pada susunannya, dua sifat yang biasanya menerangkan pelaku di sini diberikan kepada perbuatannya. Hukumannya digambarkan membawa serta sifat pihak yang menjatuhkannya, sehingga yang datang terasa bukan akibat melainkan kehadiran.

Yang paling patut direnungkan adalah pilihan meringkas itu sendiri. Kisah yang di tempat lain terbentang panjang di sini tinggal polanya. Surah ini memang menyebut beberapa kaum berturut-turut dengan ringkas, dan menyisipkan di antara mereka kalimat yang sama berulang-ulang tentang kitab yang dimudahkan untuk pelajaran. Yang ditawarkan bukan riwayat yang lengkap, melainkan bentuk yang berulang. Dan bentuk memang jauh lebih mudah dikenali pada zaman sendiri daripada rincian, sebab rincian selalu berbeda sedangkan bentuk tidak.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut mereka mendustakan semua tanda. Bukan sebagian. Yang ditolak seluruhnya, dan akibatnya sepadan. Kata semua di situ menutup pembacaan bahwa mereka cuma keliru pada satu perkara. Sesuatu yang ditolak seluruhnya menandakan penolakan itu bukan hasil pemeriksaan satu per satu, melainkan sikap yang sudah diambil sebelum tandanya datang.
  • Azabnya diberi dua sifat: digdaya lagi berkuasa penuh. Sifat untuk yang menyiksa. Hukumannya digambarkan seperti pelaku, bukan seperti alat. Menyifati hukuman dengan sifat yang biasanya dipakai untuk yang berkuasa membuat hukuman itu terbaca sebagai perbuatan, bukan sebagai kejadian alam. Ada yang melakukannya, dan pelakunya tidak berada di luar jangkauan pembicaraan.
  • Allah meringkas seluruh kisah Firaun jadi dua kalimat. Di surah ini. Yang panjang di tempat lain di sini tinggal polanya. Ayat sebelumnya cuma menyebut bahwa peringatan-peringatan telah datang kepada keluarga Firaun. Dua kalimat untuk seluruh riwayat yang di surah lain memakan puluhan ayat. Yang dibuang rinciannya, dan yang disisakan sebab dan akibatnya.
  • Allah memberikan sifat digdaya dan berkuasa penuh kepada hukumannya, bukan kepada pelakunya, sehingga hukuman itu membawa sifat yang menjatuhkannya. Kalau seluruh kisah panjang bisa diringkas jadi sebab dan akibat sependek ini, pola apa yang sedang ditawarkan untuk kita kenali pada zaman kita sendiri? Pola yang diringkas seperti itu memang dibuat supaya bisa dipasang di zaman mana pun, sebab yang tinggal cuma bagian yang tidak terikat waktu.
  • Rangkaian أَخْذَ عَزِيزٍ مُقْتَدِرٍ hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran, yaitu di ayat ini. Dua sifat itu masing-masing dipakai di banyak tempat lain untuk menyebut Allah, tetapi hanya di sini keduanya disandangkan kepada cara Dia mengambil. Yang disifati bukan pelakunya melainkan perbuatannya, dan susunan seperti itu membuat hukuman tersebut membawa serta keterangan tentang siapa yang menjatuhkannya. Tidak ada ruang untuk membacanya sebagai kemalangan yang kebetulan menimpa.
  • Ayat berikutnya berpaling dari Firaun kepada pendengarnya sendiri dan bertanya apakah orang-orang kafir di antara mereka lebih baik daripada mereka itu, ataukah mereka punya jaminan kebebasan di dalam kitab-kitab. Perpindahan itu yang membuat ringkasan tadi bekerja. Kisahnya dipendekkan bukan karena tidak penting, melainkan supaya cepat sampai pada pertanyaan yang sebenarnya, dan pertanyaan itu tidak ditujukan kepada Firaun. Menyingkat kisah adalah cara memindahkan sorotan. Selama rinciannya panjang, pembaca sibuk mengikuti jalan ceritanya dan merasa sedang membaca tentang orang lain. Begitu rinciannya dibuang, yang tersisa cuma pola, dan pola tidak punya nama sehingga bisa ditempelkan kepada siapa saja termasuk kepada yang sedang membacanya hari ini. Itu sebabnya kisah yang paling pendek justru yang paling sulit dihindari.