كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كُلِّهَا فَأَخَذْنَاهُمْ أَخْذَ عَزِيزٍ مُقْتَدِرٍ

Mereka mendustakan semua tanda-tanda Kami. Maka, Kami mengazab mereka dengan azab yang digdaya lagi berkuasa penuh.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كُلِّهَاkadzdzabuu bi-aayaatinaa kullihaamereka mendustakan semua tanda-tanda Kami
  2. فَأَخَذْنَاهُمْ أَخْذَ عَزِيزٍ مُقْتَدِرٍfa-akhadznaahum akhdza 'aziizin muqtadirinmaka, Kami mengazab mereka dengan azab yang digdaya lagi berkuasa penuh

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. كَذَّبُواkadzdzabuumendustakan
  2. بِآيَاتِنَاbi-aayaatinaapada tanda-tanda Kami
  3. كُلِّهَاkullihaaseluruhnya
  4. فَأَخَذْنَاهُمْfa-akhadznaahummaka Kami menimpakan kepada mereka
  5. أَخْذَakhdzahukuman
  6. عَزِيزٍ'aziizinMahaperkasa
  7. مُقْتَدِرٍmuqtadirinYang Mahakuasa

Inti bacaan

Susunan serupa di 20:56 menegaskan bahwa Firaun ditunjuki segenap ayat-Nya. Hukuman di sini dicirikan lewat Penimpanya, 'aziiz dan muqtadir; kata kedua itu hadir lagi pada penutup surah untuk Raja tempat kaum takwa bernaung.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كُلِّهَا, kadzdzabuu bi-aayaatinaa kullihaa) yang berarti "mereka mendustakan semua tanda-tanda Kami". Susunan aayaatinaa dengan kata kull, "semua", tercatat di 2 ayat, dan keduanya tentang Firaun dan keluarganya. Di 20:56 Allah berfirman (وَلَقَدْ أَرَيْنَاهُ آيَاتِنَا كُلَّهَا, wa-la-qad araynaahu aayaatinaa kullahaa) yang berarti "sungguh Kami telah memperlihatkan kepadanya tanda-tanda Kami semuanya", lalu Firaun mendustakan dan enggan. Kedua ayat itu saling melengkapi. Di 20:56 semua tanda diperlihatkan, dan di ayat ini semua tanda didustakan.

Kata kerja kadzdzabuu berbentuk jamak, sedangkan empat kisah sebelumnya dibuka dengan kadzdzabat, bentuk tunggal feminin yang menunjuk kaum sebagai satu kesatuan. Susunan "mendustakan tanda-tanda Kami" dipakai untuk keluarga Firaun juga di 3:11, (كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ, kadzdzabuu bi-aayaatinaa fa-akhadzahumu llaahu bi-dzunuubihim) yang berarti "mereka mendustakan tanda-tanda Kami, maka Allah menyiksa mereka karena dosa-dosa mereka". Urutannya sama dengan ayat ini, pendustaan lalu timpaan. Susunan ka-da'bi aali fir'awna, "seperti keadaan keluarga Firaun", tercatat di 3 ayat (3:11, 8:52, dan 8:54), sehingga keluarga Firaun menjadi ukuran untuk menggambarkan kaum-kaum lain.

Kalimat kedua berbunyi (فَأَخَذْنَاهُمْ أَخْذَ عَزِيزٍ مُقْتَدِرٍ, fa-akhadznaahum akhdza 'aziizin muqtadirin) yang berarti "maka, Kami mengazab mereka dengan azab yang digdaya lagi berkuasa penuh". Kata kerja akhadza yang berarti "mengambil" disusul kata benda dari akar yang sama, akhdz. Kata benda akhdz tercatat di 5 ayat, dan di 73:16 susunan yang sama dipakai untuk Firaun, (فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا, fa-akhadznaahu akhdzan wabiilan) yang berarti "lalu Kami renggut dia dengan siksaan yang berat". Di 11:102 kata itu disandarkan kepada Tuhan, (إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ, inna akhdzahu aliimun syadiidun) yang berarti "sesungguhnya timpaan-Nya pedih lagi keras".

Di ayat ini akhdz disandarkan kepada dua kata sifat dalam susunan (أَخْذَ عَزِيزٍ مُقْتَدِرٍ, akhdza 'aziizin muqtadirin) yang berarti "timpaan Yang Digdaya lagi Berkuasa penuh". Susunan itu menyebut timpaan sebagai milik Pelakunya, dan terjemahan ayat ini meringkasnya menjadi sifat azab itu sendiri. Di 73:16 timpaan diberi sifat "berat", sedangkan di ayat ini timpaan disifati lewat pelakunya. Akar ع-ز-ز tercatat di surah ini di ayat ini saja.

Kata (مُقْتَدِرٍ, muqtadirin) berakar ق-د-ر dan tercatat di 4 ayat, antara lain 18:45, (وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا, wa-kaana llaahu 'alaa kulli syay'in muqtadiran) yang berarti "dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu". Dua dari keempatnya berada di surah ini, di ayat ini dan di ayat penutup surah, (عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ, 'inda maliikin muqtadirin) yang berarti "di sisi Raja yang berkuasa penuh" (54:55). Akar ق-د-ر tercatat di 4 ayat surah ini, yaitu 54:12, 54:42, 54:49, dan 54:55.

Tafsiran

Ayat ini menutup kisah keluarga Firaun dengan dua kalimat, pendustaan dan timpaan, tanpa menyebut laut atau tenggelamnya mereka. Kisah-kisah sebelumnya menguraikan bentuk azab, air yang tercurah (54:11), angin yang sangat kencang (54:19), satu suara menggelegar (54:31), dan badai batu (54:34). Kisah kelima menyebut timpaan lewat Pelakunya, Yang Digdaya lagi Berkuasa penuh. Firaun pernah berkata (أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ, anaa rabbukumu l-a'laa) yang berarti "akulah Tuhan kalian yang mahatinggi" (79:24), dan timpaan atas keluarganya disifati dengan kekuasaan yang sesungguhnya.

Kata kull, "semua", menandai bahwa pendustaan itu tidak menyisakan tanda yang diterima. Tanda-tanda itu diperlihatkan kepada Firaun (20:56), dan paceklik bertahun-tahun (7:130) termasuk jalan yang dibukakan bagi keluarganya. Timpaan terakhir datang sesudah semua jalan itu ditolak.

Kata muqtadir mengikat ayat ini dengan akhir surah. Kekuasaan yang sama menimpa keluarga Firaun di 54:42, dan di 54:55 orang-orang bertakwa ditempatkan di sisi Raja yang berkuasa itu. Surah ini memperlihatkan satu sifat Allah yang bekerja ke dua arah, sesuai dengan sikap orang yang menghadapinya. Di Asy-Syu'ara setiap kisah ditutup dengan sebutan al-'aziiz yang disandingkan dengan ar-rahiim (26:175), sebagaimana dicatat di 54:40. Di ayat ini 'aziiz disandingkan dengan muqtadir, dua sebutan kekuasaan, dan yang diceritakan di sini timpaan atas orang-orang yang mendustakan semua tanda.

Renungan dan Hikmah

  • Keluarga Firaun mendustakan semua tanda, dan 20:56 menyebut semua tanda itu sudah diperlihatkan. Ketika setiap bukti ditolak, persoalannya tidak lagi terletak pada kurangnya bukti. Orang yang sudah memutuskan untuk menolak akan menemukan alasan untuk setiap tanda yang datang. Kebiasaan itu dapat tumbuh diam-diam dalam urusan kecil, menolak setiap nasihat dengan alasan yang berbeda. Tanda-tanda Allah mana yang selama ini ditolak satu per satu dengan alasan yang selalu tersedia?
  • Firaun menyebut dirinya tuhan yang mahatinggi (79:24), dan timpaan atas keluarganya disifati dengan dua nama, Yang Digdaya lagi Berkuasa penuh. Kekuasaan manusia, sebesar apa pun, berada di bawah kekuasaan Allah yang tidak dipinjam dari siapa pun dan tidak berkurang oleh pengakuan siapa pun. Jabatan dan pengaruh mudah membuat orang lupa batas kekuasaannya sendiri. Kekuasaan kecil apa yang sedang dipegang, dan apakah pemegangnya ingat bahwa kekuasaan itu berada di bawah kekuasaan-Nya?
  • Keluarga Firaun dijadikan ukuran untuk kaum-kaum lain di 3:11, 8:52, dan 8:54, "seperti keadaan keluarga Firaun". Di 8:54 semuanya, keluarga Firaun dan orang-orang sebelum mereka, disebut orang-orang zalim. Pola mereka dapat terulang pada siapa pun yang mendustakan tanda-tanda Allah, tanpa harus bertakhta di Mesir. Sikap menolak kebenaran karena merasa berkuasa tidak mengenal zaman. Kebiasaan mana dari keluarga Firaun yang mungkin sedang terulang dalam ukuran kecil di rumah, kantor, atau lingkungan sendiri?
  • Sebelum timpaan terakhir, semua tanda diperlihatkan kepada Firaun (20:56), dan di 20:44 Musa dan Harun diperintahkan berbicara kepadanya dengan kata-kata yang lembut, agar dia ingat atau takut. Allah membuka banyak pintu sebelum menutupnya. Kesempatan yang panjang mudah disalahpahami sebagai tanda bahwa tidak akan ada akibat. Pintu mana dari-Nya yang sedang terbuka hari ini, dan sampai kapan orang merasa boleh menunda untuk memasukinya?
  • Kata muqtadir dipakai di ayat ini untuk timpaan atas keluarga Firaun dan di 54:55 untuk Raja yang di sisi-Nya orang-orang bertakwa ditempatkan. Kekuasaan Allah yang sama menimpa orang yang mendustakan dan menaungi orang yang bertakwa. Arah kekuasaan itu terasa berbeda karena sikap orang yang menghadapinya, sedangkan kekuasaannya satu. Dari arah mana kekuasaan Allah sedang dihadapi, sebagai timpaan yang ditakuti atau sebagai naungan yang dirindukan?
  • Surah ini tidak menceritakan laut dan tenggelamnya keluarga Firaun. Pembaca yang mengenal kisah itu dari surah lain mengisi rinciannya sendiri, dan surah ini menunjuk pelajarannya, pendustaan dan akibatnya. Rincian kebinasaan orang lain sering lebih menarik untuk dibicarakan daripada sebabnya, padahal sebab itulah yang dapat dihindari. Ketika mendengar kejatuhan seseorang, apakah yang lebih dulu dicari sebab yang dapat dijadikan pelajaran, atau rincian yang dapat diceritakan?