أَمْ يَقُولُونَ نَحْنُ جَمِيعٌ مُنْتَصِرٌ

Ataukah mereka berkata, “Kami adalah golongan yang pasti menang”?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَمْ يَقُولُونَam yaquuluunaataukah mereka berkata
  2. نَحْنُ جَمِيعٌ مُنْتَصِرٌnahnu jamii'un muntashirunkami adalah golongan yang pasti menang

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. أَمْamataukah
  2. يَقُولُونَyaquuluunamereka berkata
  3. نَحْنُnahnukami
  4. جَمِيعٌjamii'unsemuanya
  5. مُنْتَصِرٌmuntashirunyang membela diri

Inti bacaan

Am yaquuluuna di sembilan ayat lain mengantar tuduhan terhadap utusan atau Al-Qur'an; di sini ucapan itu memuji diri sendiri. Nahnu yang jamak bertemu jamii' dan muntashir yang tunggal. Muntashir di 18:43, 28:81, dan 51:45 selalu dinafikan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَمْ يَقُولُونَ, am yaquuluuna) yang berarti "ataukah mereka berkata". Partikel am, "ataukah", melanjutkan dua pilihan di 54:43 dan membuka pilihan ketiga. Kata ganti berubah dari orang kedua, "kalian", di 54:43 menjadi orang ketiga, "mereka", di ayat ini. Ucapan mereka dikutip langsung, (نَحْنُ جَمِيعٌ مُنْتَصِرٌ, nahnu jamii'un muntashirun) yang berarti "kami adalah golongan yang pasti menang".

Susunan am yaquuluuna tercatat di 10 ayat. Di 9 ayat lainnya ucapan yang dikutip sesudahnya menyangkut utusan atau Al-Qur'an, misalnya tuduhan bahwa utusan itu mengada-adakannya (10:38, 11:13, 32:3), bahwa dirinya gila (23:70), atau bahwa dirinya seorang penyair (52:30). Di ayat ini ucapan yang dikutip menyangkut diri mereka sendiri. Susunan yang di tempat lain memperkenalkan penolakan terhadap pesan dipakai di sini untuk memperkenalkan rasa aman.

Kata (جَمِيعٌ, jamii'un) berakar ج-م-ع dan tercatat di 50 ayat, umumnya dalam arti "semua" atau "bersama-sama". Susunan nahnu jamii'un tercatat di ayat ini saja. Kata ganti nahnu berbentuk jamak, sedangkan jamii'un dan muntashirun berbentuk tunggal. Mereka berbicara tentang diri mereka sebagai satu tubuh. Di 59:14 Al-Qur'an memakai kata yang sama untuk menyingkap anggapan persatuan, (تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ, tahsabuhum jamii'an wa-quluubuhum syattaa) yang berarti "engkau mengira mereka bersatu, padahal hati mereka terpecah-belah".

Kata (مُنْتَصِرٌ, muntashirun) berakar ن-ص-ر dan berbentuk pelaku dengan pola ifta'ala. Bentuk ini tercatat di 4 ayat, dan di 3 ayat lainnya kata itu selalu dinafikan. Di 18:43 tentang pemilik kebun yang binasa, (وَمَا كَانَ مُنْتَصِرًا, wa-maa kaana muntashiran) yang berarti "dan ia tidak dapat membela dirinya". Di 28:81 tentang Qarun yang dibenamkan bersama rumahnya, (وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ, wa-maa kaana mina l-muntashiriina) yang berarti "dan ia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri". Di 51:45 kata itu dinafikan pada Tsamud, yang disebut tidak termasuk orang-orang yang dapat menolong diri sendiri. Di ayat ini kata itu muncul tanpa penafian, dalam mulut orang-orang yang yakin akan kemenangannya.

Akar ن-ص-ر dipakai juga untuk pertolongan yang datang dari Allah. Di 3:126 Allah berfirman (وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ, wa-maa n-nashru illaa min 'indi llaahi) yang berarti "dan tidak ada pertolongan kecuali dari sisi Allah". Di 18:43 dan 28:81 penafian muntashir didahului keterangan bahwa orang itu tidak memiliki golongan yang menolongnya selain Allah. Pertolongan dan kemampuan membela diri disebut dengan akar yang sama, dan keduanya disandarkan kepada Allah.

Tafsiran

Ayat ini menutup tiga pilihan yang dapat membuat orang merasa aman dari akibat. Pilihan pertama keunggulan (54:43), pilihan kedua jaminan tertulis (54:43), dan pilihan ketiga jumlah yang bersatu. Pilihan ketiga dikutip sebagai ucapan mereka sendiri, dan perpindahan dari "kalian" ke "mereka" menjadikan ucapan itu seperti dilaporkan kepada pihak lain. Pembaca diajak mendengar ucapan itu dari luar.

Ucapan itu memuat dua klaim, persatuan dan kemenangan. Kedua klaim dijawab di ayat berikutnya dengan kata-kata dari akar yang sama atau yang berlawanan. Mereka menyebut diri jamii', dan 54:45 menyebut mereka al-jam'; mereka menyebut diri muntashir, dan 54:45 menyebut golongan itu akan dikalahkan. Jawaban itu diberikan tanpa menunggu mereka menguji klaimnya, dan pembaca yang sudah mengikuti lima kisah dapat menduga arahnya.

Tiga ayat lain yang memakai kata muntashir memperlihatkan pola yang sama. Pemilik kebun mengira kebunnya tidak akan binasa (18:35), Qarun mengira kekayaannya didapat karena ilmunya (28:78), dan Tsamud diberi kesenangan sampai waktu tertentu (51:43). Ketiganya disebut tidak dapat membela diri ketika akibat datang (18:43, 28:81, 51:45). Ucapan di ayat ini mengulang keyakinan yang sudah terbukti keliru pada orang-orang sebelum mereka.

Renungan dan Hikmah

  • Mereka berkata, "Kami adalah golongan yang pasti menang," dan keyakinan itu bersandar pada jumlah. Kebersamaan memberi rasa aman, dan rasa aman itu dapat berubah menjadi keyakinan bahwa kebenaran berada di pihak yang banyak. Di 2:249 orang-orang yang yakin akan menemui Allah berkata bahwa berapa banyak golongan kecil mengalahkan golongan besar dengan izin-Nya. Keyakinan mana yang selama ini dipegang karena dipegang banyak orang, tanpa pernah diperiksa?
  • Di 59:14 Al-Qur'an menyingkap golongan yang tampak bersatu, padahal hati mereka terpecah-belah. Ayat yang sama menyebut permusuhan di antara mereka keras, sehingga kebersamaan mereka tampak dari luar saja. Kata jamii' yang mereka pakai untuk diri mereka dipakai di 59:14 untuk anggapan yang keliru. Di 3:103 kata yang sama dipakai untuk berpegang bersama-sama pada tali Allah dan tidak bercerai-berai. Di atas apa kebersamaan dalam lingkungan sendiri dibangun?
  • Di 3:126 Allah berfirman bahwa tidak ada pertolongan kecuali dari sisi-Nya. Mereka menyebut diri pasti menang tanpa menyebut dari mana kemenangan itu datang. Keyakinan akan kemenangan yang dipisahkan dari Allah bertumpu pada kekuatan sendiri, dan kekuatan sendiri ada ujungnya. Orang yang berhasil sering lupa menyebut sumber keberhasilannya. Keberhasilan mana yang selama ini dianggap hasil kekuatan sendiri, padahal pertolongannya datang dari-Nya?
  • Pemilik kebun di 18:42 membolak-balikkan kedua telapak tangannya ketika kebunnya roboh, lalu berkata, seandainya dahulu dirinya tidak mempersekutukan Tuhannya dengan siapa pun. Ayat sesudahnya menyebut dirinya tidak memiliki golongan yang menolongnya selain Allah dan tidak dapat membela diri (18:43). Penyesalan itu datang sesudah semua yang diandalkannya runtuh. Kata muntashir yang dinafikan pada dirinya diucapkan dengan yakin di ayat ini. Sandaran mana yang baru akan disadari rapuhnya sesudah runtuh, dan apakah penyesalan itu dapat didahului hari ini?
  • Mereka menyatakan kemenangan sebelum menghadapi apa pun, dan jawaban di 54:45 datang sebelum ujian itu terjadi. Keyakinan yang diucapkan terlalu dini sering lahir dari perbandingan dengan manusia lain, dan melupakan perbandingan dengan kekuasaan Allah. Ucapan seperti itu dapat terdengar dalam rapat, dalam persaingan, atau dalam pertengkaran kecil. Keyakinan mana yang sudah diucapkan dengan pasti, padahal akhirnya berada di tangan-Nya?
  • Al-Qur'an mengutip ucapan mereka apa adanya, "Kami adalah golongan yang pasti menang." Ucapan yang terdengar gagah di tengah kawan menjadi bahan pelajaran ketika dikutip di hadapan akibatnya. Di 50:18 setiap ucapan yang keluar disebut diawasi oleh pengawas yang selalu hadir, sehingga tidak ada ucapan yang lewat tanpa tercatat. Kesombongan dalam kata-kata sering tidak terasa oleh orang yang mengucapkannya. Ucapan mana dari diri sendiri yang tidak ingin didengar kembali di hadapan Allah?