Ayat 54:49

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍinnaa kulla syay'in khalaqnaahu bi-qadarinsesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
  2. كُلَّkullasetiap
  3. شَيْءٍsyay'insesuatu
  4. خَلَقْنَاهُkhalaqnaahuKami menciptakannya
  5. بِقَدَرٍbi-qadarindengan ukuran

Inti bacaan

Bi-qadar di ayat-ayat lain menyertai air dan rezeki yang diturunkan (23:18, 42:27, 15:21); di sini cakupannya segala ciptaan. 25:2 memisahkan penciptaan dan penakaran dengan fa-, ayat ini menyatukannya dengan bi-. 33:38 mempertemukan amr dan qadar, seperti 54:49-50.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ, innaa kulla syay'in khalaqnaahu bi-qadarin) yang berarti "sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran". Susunannya mendahulukan (كُلَّ شَيْءٍ, kulla syay'in) yang berarti "segala sesuatu" sebelum kata kerja, lalu kata kerja khalaqnaahu memuat kata ganti -hu yang merujuk kembali kepadanya. Segala sesuatu disebut lebih dulu, kemudian disebut bahwa Kami menciptakannya.

Pembuka innaa, "sesungguhnya Kami", tercatat di surah ini dalam ucapan Allah di 5 ayat. Di 54:19, 54:31, dan 54:34 pembuka itu diikuti arsalnaa, "Kami mengirim", untuk angin, suara menggelegar, dan badai batu, dan di 54:27 untuk unta betina yang dikirim sebagai ujian. Di ayat ini pembuka yang sama diikuti pernyataan tentang penciptaan.

Kata qadar dengan partikel bi-, seperti (بِقَدَرٍ, bi-qadarin) yang berarti "dengan ukuran", tercatat di 6 ayat. Di 5 ayat lainnya susunan itu menyertai sesuatu yang diturunkan, air hujan di 23:18 dan 43:11, rezeki di 42:27, aliran lembah di 13:17, dan perbendaharaan segala sesuatu di 15:21, (وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ, wa-maa nunazziluhu illaa bi-qadarin ma'luumin) yang berarti "dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu". Di ayat ini ukuran itu diperluas kepada segala sesuatu yang diciptakan. Di surah ini akar ق-د-ر sudah muncul di 54:12, ketika air langit dan air bumi bertemu sesuai ketetapan yang telah ditentukan.

Susunan serupa tercatat di 25:2, (وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا, wa-khalaqa kulla syay'in fa-qaddarahu taqdiiran) yang berarti "dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukurannya dengan setepat-tepatnya". Di 25:2 penciptaan dan penetapan ukuran disebut berurutan dengan partikel fa-, sedangkan di ayat ini ukuran melekat pada penciptaan dengan partikel bi-. Di 65:3 tercatat (قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا, qad ja'ala llaahu li-kulli syay'in qadran) yang berarti "sungguh Allah telah menjadikan bagi setiap sesuatu ukurannya".

Kata qadar dalam berbagai bentuknya tercatat di 10 ayat, dan maknanya meliputi ukuran benda dan ukuran waktu. Di 77:22 janin berada di dalam rahim (إِلَىٰ قَدَرٍ مَعْلُومٍ, ilaa qadarin ma'luumin) yang berarti "sampai waktu yang ditentukan". Di 33:38 kata itu bertemu dengan kata amr, (وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا, wa-kaana amru llaahi qadaran maqduuran) yang berarti "dan ketetapan Allah adalah ketetapan yang pasti terlaksana". Pertemuan qadar dan amr di 33:38 terulang di surah ini pada dua ayat yang bersebelahan, qadar di ayat ini dan amr di 54:50.

Tafsiran

Ayat ini datang sesudah gambaran para pendosa yang diseret ke dalam api, dan menempatkan gambaran itu di bawah ukuran. Angin, suara, dan badai batu di surah ini dikirim dengan pembuka yang sama, innaa arsalnaa (54:19, 54:31, 54:34), dan ayat ini memakai pembuka itu untuk menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan dengan ukuran. Kebinasaan kaum-kaum itu tidak digambarkan sebagai ledakan kemarahan tanpa takaran.

Air bah di 54:12 sudah disebut bertemu sesuai ketetapan yang telah ditentukan, dan ayat ini meluaskan pernyataan itu kepada segala sesuatu. Waktu Saat itu (54:46), peringatan yang datang kepada setiap kaum, dan masa tangguh sebelum azab termasuk dalam cakupan kata kull syay'. Tidak ada bagian dari kisah-kisah itu yang berada di luar ukuran.

Ayat-ayat lain yang memakai bi-qadar kebanyakan berbicara tentang air dan rezeki yang diturunkan, sehingga ukuran di ayat ini mencakup nikmat maupun azab. Dengan ayat ini surah beralih dari gambaran akibat kepada pernyataan tentang Pencipta yang mengukur, dan 54:50 menyusul dengan cepatnya perintah-Nya. Makna waktu pada kata qadar, seperti di 77:22, membuat ukuran di ayat ini meliputi saat terjadinya sesuatu, sehingga ketepatan waktu Saat itu termasuk dalam ukuran yang sama.

Renungan dan Hikmah

  • Segala sesuatu diciptakan dengan ukuran, termasuk kejadian yang terasa kebetulan. Peristiwa yang datang tiba-tiba sering dibaca sebagai kekacauan tanpa arah. Ayat ini menyatakan bahwa Allah menetapkan ukuran bagi segala sesuatu, dan pernyataan itu memberi ketenangan bagi orang yang menghadapi kejadian yang tidak dipahaminya. Ukuran itu tidak selalu terlihat oleh manusia, tetapi keberadaannya dinyatakan, dan di 65:3 pernyataan itu disebut bersama tawakal. Kejadian mana yang selama ini dianggap kebetulan, padahal berada dalam ukuran-Nya?
  • Di 42:27 Allah menyebut bahwa seandainya rezeki dilapangkan bagi hamba-hamba-Nya, mereka akan melampaui batas, sehingga Dia menurunkannya dengan ukuran yang Dia kehendaki. Takaran rezeki dapat terasa sempit, padahal takaran itu termasuk penjagaan. Orang sering meminta lebih tanpa bertanya apakah dirinya siap menanggungnya. Rezeki mana yang terasa kurang hari ini, dan apakah takaran itu mungkin sedang menjaga diri dari sesuatu?
  • Air hujan di 23:18 disebut diturunkan dengan ukuran, lalu ditempatkan di bumi, dan Allah menyebut diri-Nya kuasa melenyapkannya. Air yang mengalir di pipa dan sumur berasal dari takaran itu. Orang yang mengelola air sedang mengurus titipan yang diukur Allah, dan pemborosan air mengabaikan ukuran yang sudah ditetapkan. Pengelolaan yang cermat dapat menjadi cara menghormati takaran-Nya. Bagaimana air yang dipakai hari ini diperlakukan, sebagai milik sendiri atau sebagai titipan yang terukur?
  • Azab atas lima kaum di surah ini datang dengan ukuran, dan ayat ini menyatakannya sesudah gambaran api. Keadilan Allah tidak melampaui takaran perbuatan manusia, dan di 6:160 keburukan tidak dibalas kecuali seimbang dengannya. Orang sering membalas kesalahan orang lain melampaui ukuran kesalahannya, karena marah atau karena merasa berkuasa. Ukuran yang dipakai Allah dapat menjadi cermin bagi cara manusia membalas. Balasan mana yang pernah diberikan melampaui ukuran kesalahan orang lain?
  • Di 57:22-23 Allah menyebut bahwa musibah sudah tertulis sebelum terjadi, agar manusia tidak bersedih berlebihan atas yang luput dan tidak terlalu gembira atas yang diberikan. Ukuran yang ditetapkan Allah memberi dasar bagi sikap yang tenang dalam kehilangan maupun keberhasilan. Orang yang memahami takaran tidak mudah terombang-ambing oleh perubahan keadaan. Kehilangan atau keberhasilan mana yang pernah mengguncang diri melampaui ukurannya?
  • Segala sesuatu diciptakan dengan ukuran, termasuk diri setiap orang, kekuatannya, waktunya, dan kesanggupannya. Di 2:286 Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kesanggupannya. Orang dapat lelah karena memikul sesuatu di luar ukurannya, atau lalai karena memikul kurang dari ukurannya. Mengenal ukuran diri termasuk mengenal ciptaan Allah. Beban mana yang sedang dipikul melampaui ukuran diri, dan kewajiban mana yang dipikul kurang dari kesanggupan yang diberikan-Nya?

Ayat 54:50

وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ

Perintah Kami hanyalah sekali saja seperti kejapan mata.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌwa-maa amrunaa illaa waahidatunperintah Kami hanyalah sekali saja
  2. كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِka-lamhin bi-l-bashariseperti kejapan mata

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. أَمْرُنَاamrunaaperintah Kami
  3. إِلَّاillaakecuali
  4. وَاحِدَةٌwaahidatunsatu
  5. كَلَمْحٍka-lamhinseperti kedipan
  6. بِالْبَصَرِbi-l-basharidengan penglihatan

Inti bacaan

Lamh tercatat di 16:77 untuk urusan Saat itu, disusul aqrab yang seakar dengan iqtarabat (54:1). Waahidah menggemakan satu suara atas Tsamud (54:31). Dalam Surah Hud, jaa'a amrunaa menandai datangnya azab di lima kisah.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ, wa-maa amrunaa illaa waahidatun) yang berarti "dan perintah Kami tidak lain kecuali sekali". Susunan maa dan illaa, penafian lalu pengecualian, membatasi perintah itu pada satu kali. Kata (أَمْرُنَا, amrunaa) yang berarti "perintah Kami" dipakai di banyak kisah. Di Surah Hud susunan (جَاءَ أَمْرُنَا, jaa'a amrunaa) yang berarti "perintah Kami datang" menandai saat azab tiba dalam lima kisah, yaitu kisah Nuh (11:40), Hud (11:58), Saleh (11:66), Lut (11:82), dan Syuaib (11:94).

Di surah ini akar أ-م-ر tercatat di 3 ayat. Di 54:3 tercatat (وَكُلُّ أَمْرٍ مُسْتَقِرٌّ, wa-kullu amrin mustaqirrun) yang berarti "padahal setiap urusan telah tetap", dan di 54:12 air bah bertemu sesuai ketetapan yang telah ditentukan. Di ayat ini kata yang sama disandarkan kepada Allah dengan akhiran -naa, "Kami".

Kata (وَاحِدَةٌ, waahidatun) berbentuk feminin, dan kata benda yang disifatinya tidak disebut. Kata yang sama menyifati azab atas Tsamud di 54:31, satu suara menggelegar, seperti diuraikan di ayat itu. Di 79:13 kata itu menyifati hardikan, (فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ, fa-innamaa hiya zajratun waahidatun) yang berarti "maka sesungguhnya itu satu hardikan". Terjemahan ayat ini tidak menambahkan kata benda yang tidak tertulis.

Di dua ayat lain perintah Allah digambarkan bersama kehendak-Nya. Di 36:82 tercatat (إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا, innamaa amruhu idzaa araada syay'an) yang berarti "sesungguhnya perintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu", lalu disebut bahwa Dia berfirman kepadanya, "Jadilah", maka jadilah sesuatu itu. Di 2:117 gambaran yang sama menyertai penetapan suatu perkara. Kedua ayat itu memakai kata amr seperti ayat ini, dan keduanya menyebut pelaksanaan yang tidak berjarak dari kehendak. Ayat ini tidak menyebut firman "Jadilah", dan terjemahannya tidak menambahkannya.

Kalimat kedua berbunyi (كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ, ka-lamhin bi-l-bashari) yang berarti "seperti kejapan mata". Akar ل-م-ح tercatat di 2 ayat. Di 16:77 kata yang sama menggambarkan urusan Saat itu, (كَلَمْحِ الْبَصَرِ, ka-lamhi l-bashari) yang berarti "seperti sekejap mata", disusul (أَوْ هُوَ أَقْرَبُ, aw huwa aqrabu) yang berarti "atau bahkan lebih cepat". Kata aqrab berakar ق-ر-ب dan bermakna kedekatan, akar yang sama dengan iqtarabat di 54:1. Di 16:77 kata lamh disandarkan langsung kepada al-bashar, sedangkan di ayat ini lamh tanpa kata sandang dan disambung dengan partikel bi-. Kata bashar, "penglihatan", berakar ب-ص-ر, dan di surah ini akar itu tercatat di 54:7, ketika pandangan orang-orang yang keluar dari kubur tertunduk.

Tafsiran

Ayat ini berpasangan dengan 54:49. Ayat sebelumnya menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan dengan ukuran, dan ayat ini menyatakan bahwa perintah Allah terlaksana sekali, secepat kejapan mata. Ukuran yang cermat dan pelaksanaan yang seketika disebut berdampingan, sehingga ketelitian itu tidak menuntut waktu yang panjang.

Kaitan dengan 16:77 membawa ayat ini kembali kepada Saat itu. Di 16:77 urusan Saat itu disebut seperti sekejap mata, dan surah ini sudah menyebut Saat itu di awal (54:1) dan di 54:46. Golongan yang di 54:44 yakin akan menang, dan orang-orang yang menganggap Saat itu masih jauh, berhadapan dengan perintah yang terlaksana dalam sekejap.

Kisah-kisah di surah ini memperlihatkan hal yang sama. Nuh tinggal bersama kaumnya seribu tahun kurang lima puluh tahun (29:14), dan azab datang ketika pintu-pintu langit dibuka (54:11). Kaum Tsamud dibinasakan dengan satu suara (54:31). Masa tangguh dapat panjang, tetapi pelaksanaan perintah-Nya berlangsung sekali. Kaum-kaum yang membantah peringatan (54:36) bersikap seakan-akan masih ada waktu untuk menawar, dan ayat ini menyebut perintah yang terlaksana sekali, tanpa tahap dan tanpa pengulangan. Penafian dan pengecualian di awal ayat menutup ruang bagi anggapan bahwa pelaksanaan itu memerlukan waktu yang dapat ditawar.

Renungan dan Hikmah

  • Perintah Allah terlaksana secepat kejapan mata. Keadaan hidup dapat berubah dalam sekejap, kesehatan, harta, atau orang-orang yang dicintai. Orang sering merencanakan hidup seakan-akan perubahan besar selalu datang perlahan dan memberi tanda. Ayat ini mengingatkan bahwa ketetapan Allah tidak membutuhkan waktu panjang untuk terlaksana, dan kejapan mata terlalu singkat untuk dipakai menunda. Keadaan mana yang selama ini dianggap tetap, padahal dapat berubah dalam sekejap dengan perintah-Nya?
  • Dalam lima kisah di Surah Hud, perintah Allah datang sesudah peringatan-peringatan disampaikan para utusan, lalu terlaksana seketika. Kaum-kaum itu memiliki waktu untuk berubah, dan waktu itu berakhir tanpa tawar-menawar. Masa tangguh mudah disangka tanda bahwa perintah tidak akan datang. Allah memberi waktu dengan murah hati, dan waktu itu tetap ada batasnya. Masa tangguh mana yang sedang dijalani hari ini, dan untuk apa masa itu dipakai?
  • Di 36:82 urusan-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu, cukup dengan firman "Jadilah". Kebangkitan dan Saat itu terasa jauh dan sulit dibayangkan oleh manusia. Bagi Allah semua itu terlaksana dengan satu perintah. Ukuran sulit dan mudah yang dipakai manusia tidak berlaku bagi kekuasaan-Nya. Di 36:81 pertanyaan tentang kuasa menciptakan yang serupa manusia dijawab, "Tentu saja, dan Dialah Sang Pencipta lagi Sang Berilmu." Janji Allah mana yang selama ini diragukan karena terasa mustahil menurut ukuran manusia?
  • Kejapan mata dipakai sebagai ukuran waktu, dan setiap orang berkedip berkali-kali tanpa menyadarinya. Di 54:7 pandangan orang-orang yang keluar dari kubur tertunduk, dan akar yang sama dipakai di ayat ini. Mata yang hari ini berkedip dengan ringan kelak tertunduk di hadapan Saat itu. Waktu sekejap yang tidak diperhatikan dapat menjadi pengingat tentang cepatnya perintah Allah. Apa yang dilihat mata hari ini, dan apakah pandangan itu siap dipertanggungjawabkan?
  • Perintah Allah terlaksana sekali. Manusia sering perlu diingatkan berkali-kali sebelum bergerak, dan surah ini mengulang refrain tentang Al-Qur'an yang dimudahkan empat kali. Pengulangan itu kemurahan bagi pembaca, dan setiap pengulangan membuka kesempatan baru, sedangkan perintah-Nya atas alam tidak membutuhkan pengulangan. Perbedaan itu memperlihatkan kesabaran Allah terhadap manusia yang lambat. Nasihat mana yang sudah didengar berulang kali dan masih menunggu untuk dilaksanakan?
  • Di 16:77 urusan Saat itu disebut seperti sekejap mata atau bahkan lebih cepat, dan kata aqrab di ayat itu bermakna lebih dekat. Orang cenderung membayangkan akhir sebagai sesuatu yang jauh dan masih lama. Ayat ini dan pasangannya di surah 16 memperlihatkan bahwa jarak itu tidak sepanjang yang dibayangkan. Kesadaran tentang dekatnya akhir dapat mengubah cara seseorang memakai hari ini. Seandainya Saat itu sedekat sekejap mata, urusan mana yang akan segera diselesaikan hari ini?