وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ

Perintah Kami hanyalah sekali saja seperti kejapan mata.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌwa-maa amrunaa illaa waahidatunperintah Kami hanyalah sekali saja
  2. كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِka-lamhin bi-l-bashariseperti kejapan mata

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. أَمْرُنَاamrunaaperintah Kami
  3. إِلَّاillaakecuali
  4. وَاحِدَةٌwaahidatunsatu
  5. كَلَمْحٍka-lamhinseperti kedipan
  6. بِالْبَصَرِbi-l-basharidengan penglihatan

Inti bacaan

Lamh tercatat di 16:77 untuk urusan Saat itu, disusul aqrab yang seakar dengan iqtarabat (54:1). Waahidah menggemakan satu suara atas Tsamud (54:31). Dalam Surah Hud, jaa'a amrunaa menandai datangnya azab di lima kisah.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ, wa-maa amrunaa illaa waahidatun) yang berarti "dan perintah Kami tidak lain kecuali sekali". Susunan maa dan illaa, penafian lalu pengecualian, membatasi perintah itu pada satu kali. Kata (أَمْرُنَا, amrunaa) yang berarti "perintah Kami" dipakai di banyak kisah. Di Surah Hud susunan (جَاءَ أَمْرُنَا, jaa'a amrunaa) yang berarti "perintah Kami datang" menandai saat azab tiba dalam lima kisah, yaitu kisah Nuh (11:40), Hud (11:58), Saleh (11:66), Lut (11:82), dan Syuaib (11:94).

Di surah ini akar أ-م-ر tercatat di 3 ayat. Di 54:3 tercatat (وَكُلُّ أَمْرٍ مُسْتَقِرٌّ, wa-kullu amrin mustaqirrun) yang berarti "padahal setiap urusan telah tetap", dan di 54:12 air bah bertemu sesuai ketetapan yang telah ditentukan. Di ayat ini kata yang sama disandarkan kepada Allah dengan akhiran -naa, "Kami".

Kata (وَاحِدَةٌ, waahidatun) berbentuk feminin, dan kata benda yang disifatinya tidak disebut. Kata yang sama menyifati azab atas Tsamud di 54:31, satu suara menggelegar, seperti diuraikan di ayat itu. Di 79:13 kata itu menyifati hardikan, (فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ, fa-innamaa hiya zajratun waahidatun) yang berarti "maka sesungguhnya itu satu hardikan". Terjemahan ayat ini tidak menambahkan kata benda yang tidak tertulis.

Di dua ayat lain perintah Allah digambarkan bersama kehendak-Nya. Di 36:82 tercatat (إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا, innamaa amruhu idzaa araada syay'an) yang berarti "sesungguhnya perintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu", lalu disebut bahwa Dia berfirman kepadanya, "Jadilah", maka jadilah sesuatu itu. Di 2:117 gambaran yang sama menyertai penetapan suatu perkara. Kedua ayat itu memakai kata amr seperti ayat ini, dan keduanya menyebut pelaksanaan yang tidak berjarak dari kehendak. Ayat ini tidak menyebut firman "Jadilah", dan terjemahannya tidak menambahkannya.

Kalimat kedua berbunyi (كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ, ka-lamhin bi-l-bashari) yang berarti "seperti kejapan mata". Akar ل-م-ح tercatat di 2 ayat. Di 16:77 kata yang sama menggambarkan urusan Saat itu, (كَلَمْحِ الْبَصَرِ, ka-lamhi l-bashari) yang berarti "seperti sekejap mata", disusul (أَوْ هُوَ أَقْرَبُ, aw huwa aqrabu) yang berarti "atau bahkan lebih cepat". Kata aqrab berakar ق-ر-ب dan bermakna kedekatan, akar yang sama dengan iqtarabat di 54:1. Di 16:77 kata lamh disandarkan langsung kepada al-bashar, sedangkan di ayat ini lamh tanpa kata sandang dan disambung dengan partikel bi-. Kata bashar, "penglihatan", berakar ب-ص-ر, dan di surah ini akar itu tercatat di 54:7, ketika pandangan orang-orang yang keluar dari kubur tertunduk.

Tafsiran

Ayat ini berpasangan dengan 54:49. Ayat sebelumnya menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan dengan ukuran, dan ayat ini menyatakan bahwa perintah Allah terlaksana sekali, secepat kejapan mata. Ukuran yang cermat dan pelaksanaan yang seketika disebut berdampingan, sehingga ketelitian itu tidak menuntut waktu yang panjang.

Kaitan dengan 16:77 membawa ayat ini kembali kepada Saat itu. Di 16:77 urusan Saat itu disebut seperti sekejap mata, dan surah ini sudah menyebut Saat itu di awal (54:1) dan di 54:46. Golongan yang di 54:44 yakin akan menang, dan orang-orang yang menganggap Saat itu masih jauh, berhadapan dengan perintah yang terlaksana dalam sekejap.

Kisah-kisah di surah ini memperlihatkan hal yang sama. Nuh tinggal bersama kaumnya seribu tahun kurang lima puluh tahun (29:14), dan azab datang ketika pintu-pintu langit dibuka (54:11). Kaum Tsamud dibinasakan dengan satu suara (54:31). Masa tangguh dapat panjang, tetapi pelaksanaan perintah-Nya berlangsung sekali. Kaum-kaum yang membantah peringatan (54:36) bersikap seakan-akan masih ada waktu untuk menawar, dan ayat ini menyebut perintah yang terlaksana sekali, tanpa tahap dan tanpa pengulangan. Penafian dan pengecualian di awal ayat menutup ruang bagi anggapan bahwa pelaksanaan itu memerlukan waktu yang dapat ditawar.

Renungan dan Hikmah

  • Perintah Allah terlaksana secepat kejapan mata. Keadaan hidup dapat berubah dalam sekejap, kesehatan, harta, atau orang-orang yang dicintai. Orang sering merencanakan hidup seakan-akan perubahan besar selalu datang perlahan dan memberi tanda. Ayat ini mengingatkan bahwa ketetapan Allah tidak membutuhkan waktu panjang untuk terlaksana, dan kejapan mata terlalu singkat untuk dipakai menunda. Keadaan mana yang selama ini dianggap tetap, padahal dapat berubah dalam sekejap dengan perintah-Nya?
  • Dalam lima kisah di Surah Hud, perintah Allah datang sesudah peringatan-peringatan disampaikan para utusan, lalu terlaksana seketika. Kaum-kaum itu memiliki waktu untuk berubah, dan waktu itu berakhir tanpa tawar-menawar. Masa tangguh mudah disangka tanda bahwa perintah tidak akan datang. Allah memberi waktu dengan murah hati, dan waktu itu tetap ada batasnya. Masa tangguh mana yang sedang dijalani hari ini, dan untuk apa masa itu dipakai?
  • Di 36:82 urusan-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu, cukup dengan firman "Jadilah". Kebangkitan dan Saat itu terasa jauh dan sulit dibayangkan oleh manusia. Bagi Allah semua itu terlaksana dengan satu perintah. Ukuran sulit dan mudah yang dipakai manusia tidak berlaku bagi kekuasaan-Nya. Di 36:81 pertanyaan tentang kuasa menciptakan yang serupa manusia dijawab, "Tentu saja, dan Dialah Sang Pencipta lagi Sang Berilmu." Janji Allah mana yang selama ini diragukan karena terasa mustahil menurut ukuran manusia?
  • Kejapan mata dipakai sebagai ukuran waktu, dan setiap orang berkedip berkali-kali tanpa menyadarinya. Di 54:7 pandangan orang-orang yang keluar dari kubur tertunduk, dan akar yang sama dipakai di ayat ini. Mata yang hari ini berkedip dengan ringan kelak tertunduk di hadapan Saat itu. Waktu sekejap yang tidak diperhatikan dapat menjadi pengingat tentang cepatnya perintah Allah. Apa yang dilihat mata hari ini, dan apakah pandangan itu siap dipertanggungjawabkan?
  • Perintah Allah terlaksana sekali. Manusia sering perlu diingatkan berkali-kali sebelum bergerak, dan surah ini mengulang refrain tentang Al-Qur'an yang dimudahkan empat kali. Pengulangan itu kemurahan bagi pembaca, dan setiap pengulangan membuka kesempatan baru, sedangkan perintah-Nya atas alam tidak membutuhkan pengulangan. Perbedaan itu memperlihatkan kesabaran Allah terhadap manusia yang lambat. Nasihat mana yang sudah didengar berulang kali dan masih menunggu untuk dilaksanakan?
  • Di 16:77 urusan Saat itu disebut seperti sekejap mata atau bahkan lebih cepat, dan kata aqrab di ayat itu bermakna lebih dekat. Orang cenderung membayangkan akhir sebagai sesuatu yang jauh dan masih lama. Ayat ini dan pasangannya di surah 16 memperlihatkan bahwa jarak itu tidak sepanjang yang dibayangkan. Kesadaran tentang dekatnya akhir dapat mengubah cara seseorang memakai hari ini. Seandainya Saat itu sedekat sekejap mata, urusan mana yang akan segera diselesaikan hari ini?