وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا أَشْيَاعَكُمْ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Dan sungguh, Kami telah membinasakan orang-orang yang serupa dengan kalian; maka, adakah yang mengambil pelajaran?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا أَشْيَاعَكُمْwa-la-qad ahlaknaa asyyaa'akumdan sungguh, Kami telah membinasakan orang-orang yang serupa dengan kalian
  2. فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍfa-hal min muddakirinmaka, adakah yang mengambil pelajaran

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
  2. أَهْلَكْنَاahlaknaaKami binasakan
  3. أَشْيَاعَكُمْasyyaa'akumgolongan-golongan kalian
  4. فَهَلْfa-halmaka apakah
  5. مِنْmindari
  6. مُدَّكِرٍmuddakirinorang yang mengambil pelajaran

Inti bacaan

Ketiga ayat yang dibuka wa-la-qad ahlaknaa memakai akhiran -kum, "kalian". Asyyaa' seakar dengan syii'ah, himpunan orang yang searah, dan di 34:54 kata itu menunjuk golongan yang bernasib sama pada hari akhir. Refrein fa-hal min muddakir ditutup pada ayat ini.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا, wa-la-qad ahlaknaa) yang berarti "dan sungguh, Kami telah membinasakan". Gabungan penegas la- dan qad menyertai kata kerja bentuk lampau, sehingga kebinasaan itu disampaikan sebagai peristiwa yang sudah terjadi. Susunan wa-la-qad ahlaknaa tercatat di 3 ayat, dan ketiganya menyapa langsung dengan akhiran -kum, "kalian". Di 10:13 pihak yang dibinasakan disebut (الْقُرُونَ مِنْ قَبْلِكُمْ, l-quruuna min qablikum) yang berarti "generasi-generasi sebelum kalian", di 46:27 disebut (مَا حَوْلَكُمْ مِنَ الْقُرَىٰ, maa hawlakum mina l-quraa) yang berarti "negeri-negeri di sekitar kalian", dan di ayat ini disebut asyyaa'akum. Ayat pertama mengukur jarak dengan waktu, ayat kedua dengan tempat, dan ayat ini dengan keserupaan.

Kata (أَشْيَاعَكُمْ, asyyaa'akum) berakar ش-ي-ع, dan kata benda dari akar ini, syii'ah beserta jamaknya, tercatat di 10 ayat. Bentuk jamak asyyaa' tercatat di 2 ayat, dan di 34:54 bentuk itu hadir dalam (كَمَا فُعِلَ بِأَشْيَاعِهِمْ مِنْ قَبْلُ, ka-maa fu'ila bi-asyyaa'ihim min qablu) yang berarti "sebagaimana diperlakukan terhadap golongan serupa mereka sebelumnya". Pemakaian bentuk tunggalnya memperlihatkan dasar keserupaan itu, sebab di 37:83 Ibrahim digolongkan bersama Nuh, (وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ, wa-inna min syii'atihi) yang berarti "dan sesungguhnya, termasuk golongannya". Ibrahim punya kaum sendiri, yang diserunya di 37:85 bersama bapaknya, sehingga penggolongan itu bertumpu pada jalan yang ditempuh dan tidak pada garis keturunan. Di 15:10 para utusan disebut diutus (فِي شِيَعِ الْأَوَّلِينَ, fii syiya'i l-awwaliina) yang berarti "di kalangan golongan-golongan terdahulu", tempat kata yang sama menunjuk kelompok-kelompok manusia yang menerima utusan.

Ayat ini ditutup dengan (فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ, fa-hal min muddakirin) yang berarti "maka, adakah yang mengambil pelajaran". Kata muddakir berakar ذ-ك-ر, akar yang juga dipakai untuk adz-dzikr, "peringatan", di 54:17 dan 54:25. Kata itu tercatat di 6 ayat, dan keenamnya berada di surah ini: 54:15, 54:17, 54:22, 54:32, 54:40, dan 54:51. Ayat ini memuat kemunculannya yang terakhir.

Keenam kemunculan itu didahului wa-la-qad dan kata kerja lampau dengan pelaku Kami. Di 54:15 kalimatnya (وَلَقَدْ تَرَكْنَاهَا آيَةً, wa-la-qad taraknaahaa aayatan) yang berarti "sungguh, Kami telah meninggalkannya sebagai tanda". Di 54:17, 54:22, 54:32, dan 54:40 kalimatnya (وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ, wa-la-qad yassarnaa l-qur'aana li-dz-dzikri) yang berarti "sungguh, Kami telah memudahkan Al-Qur'an untuk peringatan". Di ayat ini kata kerjanya ahlaknaa. Tanda yang ditinggalkan, bacaan yang dimudahkan, dan kaum yang dibinasakan menjadi tiga pintu menuju pertanyaan yang sama.

Huruf fa- pada fa-hal menautkan pertanyaan itu dengan kabar sebelumnya. Karena kebinasaan golongan yang serupa sudah terjadi, pertanyaannya tertuju kepada yang masih hidup dan masih dapat mengambil pelajaran. Kata min sebelum muddakir hadir di keenam kemunculan, dan pertanyaannya tidak menyebut sasaran tertentu, sehingga siapa saja yang mengambil pelajaran termasuk di dalamnya.

Tafsiran

Ayat ini mengumpulkan kelima kisah dalam surah menjadi satu kalimat dan menghadapkannya kepada orang-orang yang disapa. Sejak 54:43 sapaan beralih ke kalian, dan pertanyaan di ayat itu, (أَكُفَّارُكُمْ خَيْرٌ مِنْ أُولَٰئِكُمْ, a-kuffaarukum khayrun min ulaa'ikum) yang berarti "apakah orang-orang kufar kalian lebih baik daripada mereka itu", mendapat jawabannya di sini dalam bentuk kabar bahwa golongan yang serupa dengan kalian sudah dibinasakan. Nama-nama kaum tidak diulang. Kaum Nuh, Ad, Tsamud, kaum Lut, dan keluarga Firaun sudah disebut berturut-turut dari 54:9 sampai 54:42, sehingga satu kata asyyaa'akum cukup untuk merangkum mereka semua.

Keserupaan yang dimaksud terbaca dari surah ini sendiri. Kelima kaum itu mendustakan (54:9, 54:18, 54:23, 54:33, 54:42), dan orang-orang yang digambarkan di 54:2-3 berpaling, menyebut tanda sebagai sihir, dan mendustakan pula. Jalan yang sama itulah yang membuat mereka digolongkan bersama.

Pertanyaan fa-hal min muddakir di ayat ini menutup deret yang dibuka di 54:15. Lima kemunculan sebelumnya menutup kisah satu kaum atau menyertai kemudahan Al-Qur'an, sedangkan kemunculan keenam menutup seluruh deret. Sesudahnya surah beralih ke catatan amal (54:52-53) dan balasan orang-orang bertakwa (54:54-55). Pertanyaan itu dibiarkan terbuka di dalam teks, dan jawabannya diserahkan kepada setiap orang yang sampai pada ayat ini.

Di 10:13, susunan pembuka yang sama ditutup dengan (كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ, ka-dzaalika najzii l-qawma l-mujrimiina) yang berarti "demikianlah Kami membalas kaum yang berdosa". Sebutan itu bertemu dengan 54:47, tempat para pendosa digambarkan berada dalam kesesatan dan kegilaan, sehingga kebinasaan di dunia dan keadaan pada Saat itu terbaca sebagai dua sisi dari satu jalan.

Renungan dan Hikmah

  • Keserupaan yang disebut ayat ini diukur dari jalan yang ditempuh. Ibrahim digolongkan bersama Nuh (37:83) walau datang dari kaum yang berbeda, sementara anak Nuh sendiri termasuk orang-orang yang ditenggelamkan (11:43). Garis keturunan tidak menjamin seseorang masuk golongan yang selamat, dan asal-usul yang buruk tidak mengunci seseorang di golongan yang binasa. Allah menggolongkan manusia menurut jalan yang dipilihnya, dan pilihan itu diperbarui setiap hari lewat keputusan-keputusan kecil yang jarang dianggap penting.
  • Manusia punya tiga cara untuk merasa aman dari nasib orang lain. Kejadian itu dianggap sudah lama, atau terjadi di tempat yang jauh, atau menimpa orang yang wataknya berbeda. Tiga ayat yang dibuka dengan wa-la-qad ahlaknaa menutup ketiganya berturut-turut. Kebinasaan itu terjadi sebelum kalian (10:13), di sekitar kalian (46:27), dan menimpa yang serupa dengan kalian. Ketika Allah sendiri yang menyebut keserupaan itu, kalimat "kami tidak seperti mereka" kehilangan pijakannya.
  • Kaum-kaum yang dibinasakan tidak lagi dapat mengambil pelajaran dari kebinasaan mereka sendiri. Pertanyaan fa-hal min muddakir tertuju kepada yang masih bernapas, yang masih sempat mengubah arah sebelum Saat yang dijanjikan (54:46). Kisah orang lain diceritakan kepada yang masih punya waktu, dan waktu itu termasuk bagian dari rahmat-Nya. Kesempatan belajar dari kejatuhan orang lain terasa murah karena harganya sudah dibayar oleh mereka.
  • Ancaman tentang masa depan mudah ditawar dengan harapan dan penundaan. Kabar tentang yang sudah terjadi tidak dapat ditawar dengan cara itu. Allah menyampaikan kebinasaan ini dengan kata kerja lampau dan penegas la-qad, sehingga kebinasaan itu hadir sebagai sejarah yang bisa ditelusuri. Kisah Nuh ditutup dengan kabar bahwa Kami meninggalkannya sebagai tanda (54:15), dan negeri kaum Lut menyisakan tanda yang nyata bagi kaum yang mengerti (29:35). Orang yang meragukan ancaman dipersilakan memeriksa jejaknya lebih dulu.
  • Empat kali pertanyaan fa-hal min muddakir didahului kabar bahwa Al-Qur'an dimudahkan untuk peringatan, dan kali terakhir didahului kabar kebinasaan. Pelajaran dapat diambil lewat bacaan yang dimudahkan Allah, tanpa kehilangan apa pun, atau lewat kebinasaan yang disaksikan pada orang lain. Pintu pertama terbuka setiap saat. Pintu kedua datang terlambat bagi yang tertimpa. Urutan dalam surah ini seakan memperlihatkan bahwa pintu yang ringan ditawarkan berulang kali sebelum pintu yang berat disebut.
  • Enam kali surah ini bertanya "adakah yang mengambil pelajaran?", dan teksnya tidak mencatat jawaban dari siapa pun. Pertanyaan yang tidak dijawab di dalam teks berpindah kepada setiap orang yang membacanya. Jawabannya tidak diucapkan dengan lisan. Jawaban itu terbaca dari arah yang ditempuh sesudah ayat ini selesai dibaca, dan jawaban itu ikut tercatat bersama segala yang diperbuat, seperti dikabarkan ayat sesudahnya (54:52).