وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ

Segala yang kecil atau yang besar tertulis.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍwa-kullu shaghiirin wa-kabiirinsegala yang kecil atau yang besar
  2. مُسْتَطَرٌmustatharuntertulis

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَكُلُّwa-kulludan setiap
  2. صَغِيرٍshaghiirinyang kecil
  3. وَكَبِيرٍwa-kabiirindan yang besar
  4. مُسْتَطَرٌmustatharuntertulis

Inti bacaan

Pasangan kecil dan besar di 2:282, 9:121, 10:61, 18:49, dan 34:3 selalu berkaitan dengan catatan, dan yang kecil selalu disebut lebih dulu. Mustathar seakar dengan asaathiir, sebutan para penolak wahyu untuk dongeng orang terdahulu. Susunannya sejajar dengan wa-kullu amrin mustaqirr di 54:3.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ, wa-kullu shaghiirin wa-kabiirin) yang berarti "segala yang kecil atau yang besar". Kata kull kembali menjadi pokok kalimat, seperti di 54:52, dan kali ini yang dicakupnya disebut dengan dua sifat, shaghiir, "kecil", dari akar ص-غ-ر, dan kabiir, "besar", dari akar ك-ب-ر. Kata benda yang disifati tidak disebut, dan kata ganti "mereka" yang ada di 54:52 juga tidak muncul lagi. Ayat sebelumnya membatasi catatan pada yang mereka perbuat, sedangkan ayat ini melepas batas itu sehingga cakupannya meliputi segala sesuatu yang dapat disebut kecil atau besar.

Kedua akar itu bertemu di 7 ayat. Di 7:13 keduanya dipakai untuk kesombongan dan kehinaan, dan di 6 ayat lainnya keduanya dipasangkan sebagai kecil dan besar yang dicatat atau dituliskan. Di 2:282 utang diperintahkan untuk ditulis, kecil ataupun besar. Di 9:121 disebut (نَفَقَةً صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً, nafaqatan shaghiiratan wa-laa kabiiratan) yang berarti "infak, baik yang kecil maupun yang besar", yang dituliskan bagi pemberinya. Di 10:61 dan 34:3 disebut bahwa tidak ada yang lebih kecil atau lebih besar kecuali dalam kitab yang nyata. Di 18:49 para pendosa mengeluhkan kitab yang (لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا, laa yughaadiru shaghiiratan wa-laa kabiiratan illaa ahshaahaa) yang berarti "tidak meninggalkan yang kecil dan yang besar, kecuali mencatatnya". Dalam keenam ayat itu yang kecil disebut lebih dulu.

Ayat ini ditutup dengan (مُسْتَطَرٌ, mustatharun) yang berarti "tertulis". Kata ini berakar س-ط-ر dan berupa kata sifat pasif dari bentuk kedelapan. Bentuk mustathar tidak tercatat di ayat lain, tetapi akarnya tercatat di 16 ayat. Bentuk masthuur, "yang tertulis", hadir di 17:58, 33:6, dan 52:2. Di 17:58 bentuk itu menutup kabar tentang negeri-negeri yang akan dibinasakan, (كَانَ ذَٰلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا, kaana dzaalika fii l-kitaabi masthuuran) yang berarti "yang demikian itu tertulis di dalam Kitab". Di 68:1 akar yang sama menyebut apa yang dituliskan dengan pena, dan di 52:37 serta 88:22 bentuk musaythir dipakai untuk arti menguasai.

Sembilan ayat lain memakai bentuk asaathiir, dan kesembilannya berupa ucapan orang-orang yang menolak wahyu. Di 16:24 mereka menjawab pertanyaan tentang apa yang diturunkan Tuhan dengan (أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ, asaathiiru l-awwaliina) yang berarti "dongeng-dongeng orang terdahulu". Di 25:5 tuduhan itu dilengkapi dengan (أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا, asaathiiru l-awwaliina ktatabahaa) yang berarti "dongeng-dongeng orang terdahulu yang ia tuliskan", sehingga akar س-ط-ر dan tulisan bertemu di dalam tuduhan mereka sendiri.

Susunan ayat ini sejajar dengan 54:3, (وَكُلُّ أَمْرٍ مُسْتَقِرٌّ, wa-kullu amrin mustaqirrun) yang berarti "padahal setiap urusan telah tetap". Kedua kalimat dibuka dengan wa-kullu, disusul kata benda tanpa kata sandang, lalu ditutup dengan kata bentukan berawalan mus-. Kalimat pertama berada di bagian pembuka surah dan kalimat kedua di bagian penutupnya.

Tafsiran

Ayat ini melepas batas yang masih ada di 54:52. Di sana catatan menyangkut segala yang mereka perbuat, sedangkan di sini pelaku tidak disebut dan cakupannya segala yang kecil dan besar. Empat kata cukup untuk merangkum seluruh catatan tanpa pengecualian, dan keringkasan itu sepadan dengan isinya, karena tidak ada golongan yang perlu dirinci ketika semuanya tercakup.

Kata mustathar menjawab tuduhan yang berulang dalam Al-Qur'an. Para penolak wahyu di sembilan ayat menyebutnya asaathiir, tulisan orang-orang terdahulu yang dianggap dongeng. Akar yang sama di ayat ini menyebut segala yang kecil dan besar sebagai sesuatu yang tertulis. Tulisan yang mereka remehkan sebagai dongeng lama berhadapan dengan tulisan tentang segala yang terjadi, termasuk diri mereka sendiri, dan tulisan yang kedua tidak dapat ditolak dengan sebutan dongeng.

Kesejajaran dengan 54:3 mengikat pembuka dan penutup surah. Di 54:3 orang-orang yang mendustakan mengikuti hawa nafsu mereka, padahal setiap urusan telah tetap. Di ayat ini segala yang kecil dan besar tertulis. Ketetapan di bagian awal dan tulisan di bagian akhir memperlihatkan dua sisi dari keteraturan yang sama, dan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu di 54:3 ternyata bergerak di dalam urusan yang sudah tetap dan tercatat. Di 18:49 catatan semacam itu diletakkan di hadapan para pendosa, dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan hadir di hadapan mereka.

Renungan dan Hikmah

  • Dalam keenam ayat yang memasangkan kecil dan besar sebagai sesuatu yang dicatat, Al-Qur'an selalu menyebut yang kecil lebih dulu. Perhatian manusia biasanya tertuju pada perkara besar, dan perkara kecil dibiarkan lewat karena dianggap tidak berarti. Urutan dalam ayat-ayat itu menempatkan yang kecil di barisan depan. Allah tidak membiarkan yang kecil luput, dan orang yang terbiasa menjaga perkara kecil sedang berjalan searah dengan catatan itu.
  • Catatan itu menyimpan kebaikan sebagaimana menyimpan keburukan. Di 9:121 infak yang kecil maupun yang besar, bahkan setiap lembah yang dilintasi, dituliskan agar Allah membalasnya dengan yang lebih baik daripada apa yang dikerjakan. Senyum yang diberikan kepada orang yang sedang susah, langkah menuju tempat yang jauh untuk menolong, atau sedekah yang terlalu kecil untuk diceritakan tidak hilang. Semuanya mustathar, tertulis, bersama perbuatan besar yang lebih mudah diingat orang.
  • Manusia menakar besar kecilnya perbuatan dengan ukurannya sendiri. Di 24:15 Allah menegur orang-orang yang menyebarkan kabar tanpa pengetahuan, (وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ, wa-tahsabuunahu hayyinan wa-huwa 'inda llaahi 'azhiimun) yang berarti "dan kalian menganggapnya remeh, padahal di sisi Allah itu perkara yang agung". Label "kecil" yang dipasang manusia tidak menentukan letak sebuah perbuatan di dalam catatan. Letak itu ditentukan oleh ukuran di sisi-Nya.
  • Peringatan sering ditolak dengan cara yang sama sejak dulu, dengan menyebutnya cerita lama yang tidak relevan lagi. Para penolak wahyu memakai kata asaathiir untuk itu. Cara itu dapat dipakai terhadap kisah kaum lain, tetapi tidak dapat dipakai terhadap catatan perbuatan sendiri. Siapa pun boleh menganggap kisah kaum Nuh sebagai dongeng, dan catatan tentang dirinya tetap tertulis tanpa menunggu persetujuannya. Allah tidak meminta pengakuan pelaku sebelum sebuah perbuatan dicatat.
  • Di 99:7-8 kebaikan dan kejahatan seberat zarah sama-sama akan dilihat oleh pelakunya. Ayat ini menjelaskan mengapa keduanya dapat dilihat kembali, karena semuanya tertulis. Tidak ada perbuatan yang terlalu kecil untuk diperlihatkan kembali kepada pelakunya pada hari itu, dan Allah memperlihatkannya kepada pelakunya sendiri tanpa perlu menunggu kesaksian orang lain. Kesadaran itu dapat membuat seseorang lebih teliti tanpa harus menjadi gelisah, karena catatan yang sama juga menyimpan kebaikan-kebaikan kecil yang pernah dikerjakannya.
  • Manusia suka membuat daftar tentang apa yang dihitung dan apa yang tidak, dosa besar di satu kolom dan kesalahan kecil yang dianggap wajar di kolom lain. Ayat ini tidak memberi daftar semacam itu. Allah menyebut segala yang kecil dan yang besar dalam satu tarikan, lalu menutupnya dengan satu kata. Bagaimana rasanya menjalani sehari penuh dengan kesadaran bahwa tidak ada kolom yang terlewat dari pencatatan?