إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman dan sungai,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍinna l-muttaqiina fii jannaatin wa-naharinsesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman dan sungai

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. الْمُتَّقِينَl-muttaqiinaorang-orang yang bertakwa
  3. فِيfiidi
  4. جَنَّاتٍjannaatintaman-taman
  5. وَنَهَرٍwa-naharindan sungai

Inti bacaan

Susunannya sejajar dengan 54:47, sehingga para pendosa dan orang-orang bertakwa berhadapan dalam dua kalimat serupa. Muttaqiin seakar dengan perintah menjaga diri dari api (66:6). Nahar tunggal juga hadir di 2:249 sebagai ujian dan di 18:33 di kebun yang kemudian roboh.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (إِنَّ الْمُتَّقِينَ, inna l-muttaqiina) yang berarti "sesungguhnya orang-orang yang bertakwa". Kata muttaqiin berbentuk pelaku dari bentuk kedelapan akar و-ق-ي, akar yang tercatat di 237 ayat. Arti dasarnya terbaca dari Al-Qur'an sendiri. Di 66:6 orang-orang beriman diperintah (قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا, quu anfusakum wa-ahliikum naaran) yang berarti "jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api", dan di 52:18, sesudah ayat tentang orang-orang bertakwa di taman-taman, disebut (وَوَقَاهُمْ رَبُّهُمْ, wa-waqaahum rabbuhum) yang berarti "dan Tuhan mereka menjaga mereka". Muttaqiin berarti orang-orang yang menjaga diri, dan di surah ini akar و-ق-ي tidak dipakai di ayat lain.

Susunan ayat ini sejajar dengan 54:47, (إِنَّ الْمُجْرِمِينَ فِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ, inna l-mujrimiina fii dhalaalin wa-su'urin) yang berarti "sesungguhnya para pendosa berada dalam kesesatan dan kegilaan". Kedua ayat memakai inna, kata sebutan jamak dengan kata sandang, kata depan fii, lalu dua kata benda tanpa kata sandang yang digabung dengan wa-. Susunan inna l-mujrimiina fii tercatat di 2 ayat, sedangkan inna l-muttaqiina fii tercatat di 6 ayat.

Keenam ayat itu menyebut tempat orang-orang bertakwa dengan pasangan kata yang berbeda-beda. Di 15:45 dan 51:15 pasangannya (فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ, fii jannaatin wa-'uyuunin) yang berarti "dalam taman-taman dan mata air". Di 52:17 pasangannya taman-taman dan kenikmatan, di 77:41 naungan dan mata air, dan di 44:51 tempat yang aman. Di ayat ini pasangannya (جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ, jannaatin wa-naharin) yang berarti "taman-taman dan sungai". Ke-55 ayat Al-Qamar berakhir dengan huruf ر, dan nahar menutup ayat ini dengan bunyi yang sama.

Kata jannaat berakar ج-ن-ن, dan di surah ini akar itu dipakai di dua tempat. Di 54:9 kaum Nuh berkata tentang utusan mereka (وَقَالُوا مَجْنُونٌ, wa-qaaluu majnuunun) yang berarti "dan mereka berkata, 'orang gila'". Di ayat ini akar yang sama menyebut taman-taman bagi orang-orang bertakwa.

Kata nahar dalam bentuk tunggal tercatat di 3 ayat, sedangkan bentuk jamaknya, anhaar, tercatat di 48 ayat, kebanyakan dalam gambaran taman yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di 2:249 sebuah sungai menjadi ujian, (إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ, inna llaaha mubtaliikum bi-naharin) yang berarti "sesungguhnya Allah akan menguji kalian dengan sebuah sungai". Di 18:33 sungai dialirkan di celah dua kebun milik orang yang kemudian menyesal ketika kebunnya roboh (18:42). Di antara gambaran taman bagi orang-orang bertakwa, bentuk tunggal nahar tidak dipakai di ayat lain.

Tafsiran

Ayat ini membalik adegan. Sesudah deret panjang tentang kaum-kaum yang mendustakan, penyeretan ke Saqar, dan catatan amal, orang-orang bertakwa disebut untuk pertama kalinya dalam surah ini. Balasan bagi orang yang bersyukur sudah disinggung di 54:35 dalam kisah keluarga Lut, dan di ayat ini balasan itu diluaskan kepada seluruh orang yang menjaga diri. Kesejajarannya dengan 54:47 menempatkan dua golongan berhadapan, para pendosa dalam kesesatan dan kegilaan dan orang-orang bertakwa dalam taman-taman dan sungai.

Kalimatnya tidak memakai kata kerja atau penanda waktu. Ayat 54:48 dibuka dengan yawma, "pada hari", sedangkan ayat ini menyatakan keadaan orang-orang bertakwa tanpa menyebut kapan keadaan itu dimulai. Keadaan itu disampaikan sebagai kepastian, dengan penegas inna di depannya.

Air hadir dalam surah ini dengan tiga peran sebelum ayat ini. Di 54:11-12 air tercurah dari langit dan memancar dari bumi untuk menenggelamkan kaum Nuh. Di 54:28 air dibagi di antara kaum Tsamud dan unta betina yang dikirim sebagai cobaan bagi mereka (54:27). Di ayat ini air mengalir sebagai sungai di taman orang-orang bertakwa. Air yang sama menjadi azab, ujian, dan balasan, tergantung pada kaum yang menerimanya.

Akar ج-ن-ن mengikat awal dan akhir deret kisah. Utusan pertama dalam surah ini dituduh majnuun oleh kaumnya, dan jalan yang ditempuhnya bersama orang-orang yang menjaga diri berujung pada jannaat.

Renungan dan Hikmah

  • Takwa dalam ayat ini bertumpu pada akar yang berarti menjaga, dan penjagaan selalu mengandaikan adanya sesuatu yang dihindari. Ayat 54:48 baru saja menyebut sentuhan Saqar, dan 66:6 memerintahkan orang-orang beriman menjaga diri dan keluarga mereka dari api. Sebutan orang-orang bertakwa di ayat ini menunjuk mereka yang menjaga diri dari api itu selama masih di dunia. Di 52:18 Allah sendiri disebut menjaga mereka dari azab neraka, sehingga penjagaan yang mereka lakukan atas diri sendiri dijawab dengan penjagaan dari-Nya.
  • Dua ayat dalam satu surah memakai susunan yang sama. Para pendosa berada di dalam kesesatan dan kegilaan, dan orang-orang bertakwa berada di dalam taman-taman dan sungai. Kata fii, "di dalam", dipakai untuk keduanya, dan setiap orang sedang berada di dalam sesuatu. Allah membuka kedua kalimat itu dengan penegas yang sama, inna, sehingga kedua keadaan itu sama pastinya. Kesesatan di 54:47 dapat dibaca sebagai keadaan yang sudah dialami para pendosa sebelum hari penyeretan, dan penjagaan diri orang-orang bertakwa juga dimulai sebelum mereka memasuki taman. Di dalam apa seseorang sedang berada hari ini?
  • Air yang menenggelamkan kaum Nuh, air yang dibagi sebagai ujian bagi Tsamud, dan sungai di taman orang-orang bertakwa berasal dari ciptaan yang sama. Allah tidak menyebut perbedaan pada airnya. Perbedaannya terletak pada kaum yang menerimanya, pada pendustaan atau penjagaan diri mereka. Nikmat yang sama dapat menjadi ujian bagi satu orang dan balasan bagi orang lain, dan cara nikmat itu diterima menentukan perannya.
  • Di 18:33 seorang pemilik kebun menikmati sungai yang mengalir di celah dua kebunnya, lalu merasa kebunnya tidak akan binasa (18:35). Di 18:42 kebun itu roboh dan buahnya dibinasakan. Taman yang dibangun dengan rasa aman palsu dapat hilang. Taman di ayat ini disebutkan Allah sebagai tempat orang-orang bertakwa, dan tidak ada kabar tentang kerobohannya. Kebun dunia boleh dinikmati selama pemiliknya ingat dari mana sungainya mengalir.
  • Di 2:249 sebuah sungai dijadikan ujian. Orang yang minum darinya tidak termasuk golongan Talut, kecuali yang menciduk seciduk dengan tangannya. Takwa di dunia sering berupa menahan diri di tepi sungai, mengambil secukupnya dari sesuatu yang halal dan menyenangkan. Di ayat ini sungai disebut sebagai balasan. Allah menyebut sungai di ayat ini tanpa syarat seciduk, dan orang yang dahulu menahan diri dipertemukan dengan sungai itu.
  • Kalimat ayat ini pendek sesudah gambaran kebinasaan yang panjang. Kisah lima kaum menghabiskan puluhan ayat, sedangkan orang-orang bertakwa mendapat dua ayat di penutup surah. Allah tidak menyeimbangkan panjangnya, dan yang sedikit itu terasa lega bagi orang yang sudah membaca seluruh deret azab. Kelegaan itu datang dari kepastian yang dibawa inna di awal kalimat, dan panjang penjelasan tidak diperlukan untuk itu.