Ayat 55:1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
الرَّحْمَٰنُ
Ar-Rahman,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الرَّحْمَٰنُar-rahmaanuAr-Rahman
Terjemahan per kata (1 kata)
- الرَّحْمَٰنُar-rahmaanuAr-Rahman
Inti bacaan
Menyebut Ar-Rahman sebelum membuka mushaf atau memulai pekerjaan menempatkan kegiatan itu di bawah naungan kasih-Nya, sebagaimana surah ini menaruh nama itu di depan seluruh isinya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari satu kata, (الرَّحْمَٰنُ, ar-rahmaanu) yang berarti "Ar-Rahman". Kata ini berakar ر-ح-م, akar yang juga membentuk rahmah, kasih sayang, dan di surah ini akar itu tidak dipakai di ayat lain. Kata rahmaan tercatat di 56 ayat, dan di seluruh kemunculannya kata itu menyebut Allah. Enam belas di antaranya berada di Surah Maryam, sedangkan di surah ini kata itu hadir sekali, sebagai kata pertama.
Di 17:110 nama ini disebut berdampingan dengan nama Allah, (قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ, quli d'uu llaaha awi d'uu r-rahmaana) yang berarti "katakanlah, serulah Allah atau serulah Ar-Rahman", lalu ayat itu melanjutkan bahwa nama mana saja yang diseru, milik-Nya nama-nama yang terindah. Karena Al-Qur'an sendiri memperlakukannya sebagai nama yang diseru, terjemahan ini menuliskannya sebagai nama, Ar-Rahman, di ke-56 ayat itu.
Ayat yang dibuka dengan kata ini tercatat di tiga tempat. Di 1:3 kata itu menyambung 1:2 sebagai sebutan bagi Tuhan seisi alam, sedangkan di 20:5 dan di ayat ini kata itu berdiri di depan sebagai pokok kalimat. Di 20:5 keterangannya menyusul di ayat yang sama, (الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ, ar-rahmaanu 'alaa l-'arsyi stawaa) yang berarti "Ar-Rahman bersemayam di atas Arasy". Di surah ini ayat pertama berhenti pada nama itu, dan kata kerja pertama yang menerangkannya baru datang di 55:2.
Tiga ayat sesudahnya dibuka dengan kata kerja lampau, 'allama di 55:2, khalaqa di 55:3, dan 'allamahu di 55:4. Ketiganya berbentuk orang ketiga tunggal dan tidak disertai pelaku yang disebut dengan kata tersendiri, sehingga pelakunya kembali kepada ar-rahmaan. Keempat ayat dari 55:2 sampai 55:5 juga tidak dibuka dengan kata sambung wa-, dan kata sambung itu baru membuka ayat di 55:6, (وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ, wa-n-najmu wa-sy-syajaru) yang berarti "dan bintang serta pepohonan". Pembuka surah ini tersusun dari kalimat-kalimat pendek yang berjajar tanpa penghubung di awalnya, dan semuanya bertumpu pada satu nama di ayat pertama.
Ayat pertama yang terdiri dari satu kata tercatat di 26 surah. Sembilan belas di antaranya berupa huruf-huruf terpisah, seperti di 2:1 dan 36:1, empat berupa sumpah (52:1, 89:1, 93:1, 103:1), dan dua berupa kata benda yang langsung ditanyakan maknanya. Di 69:1-2 kata al-haaqqah disusul (مَا الْحَاقَّةُ, maa l-haaqqatu) yang berarti "apakah Kepastian itu?", dan pola yang sama dipakai di 101:1-2. Ayat pembuka surah ini berupa nama Allah, dan ayat-ayat sesudahnya menyambungnya dengan perbuatan.
Nama ini tidak diulang di sepanjang surah. Ciri surah ini berupa pertanyaan (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa) yang berarti "maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah". Pertanyaan itu tercatat di 31 ayat, semuanya di surah ini, dan kemunculan pertamanya berada di 55:13. Pertanyaan itu menyebut Dia dengan kata rabb, Tuhan, sedangkan nama yang membuka rangkaian nikmat itu ar-rahmaan.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan sebuah nama, dan seluruh rangkaian pemberian yang menyusul bertumpu kepadanya. Pengajaran Al-Qur'an, penciptaan manusia, kemampuan menjelaskan, matahari dan bulan, bintang dan pepohonan, langit yang ditinggikan, dan timbangan yang diletakkan disebut sesudah nama itu, dan tidak ada pelaku lain yang disebut di antara semuanya. Kasih yang terkandung dalam akar ر-ح-م diperlihatkan lewat daftar perbuatan, dan daftar itu dibuka dengan pengajaran.
Di 25:60 orang-orang yang disuruh sujud kepada Ar-Rahman menjawab dengan pertanyaan, (وَمَا الرَّحْمَٰنُ, wa-maa r-rahmaanu) yang berarti "dan apakah Ar-Rahman itu?", dan perintah itu menambah mereka menjauh. Surah ini dapat dibaca berdampingan dengan pertanyaan itu. Di 69:1-2 dan 101:1-2 kata pembuka surah disusul pertanyaan tentang maknanya, sedangkan di surah ini nama pembuka disusul perbuatan-perbuatan-Nya. Siapa pun yang bertanya tentang Ar-Rahman mendapati jawabannya terurai di dalam surah ini, dari pengajaran di 55:2 sampai taman-taman di bagian akhirnya.
Letaknya sesudah Surah Al-Qamar juga memberi warna. Surah sebelumnya ditutup dengan orang-orang bertakwa di sisi Raja yang berkuasa penuh (54:55), dan surah ini dibuka dengan nama yang berakar pada kasih. Surah ini sendiri ditutup dengan penyebutan nama pula, (تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ, tabaaraka smu rabbika) yang berarti "berkahlah nama Tuhanmu" (55:78), sehingga surah yang dibuka dengan sebuah nama berakhir dengan pujian atas nama.
Renungan dan Hikmah
- Allah membuka surah ini dengan nama yang berakar pada kasih, padahal isi surahnya juga memuat nyala api dan langit yang terbelah (55:35, 55:37). Ketika seseorang sedang merasa bersalah, gambaran tentang Dia yang lebih dulu terlintas sering berupa murka, karena gambaran itu yang lebih sering didengarnya. Surah ini memperkenalkan-Nya dengan urutan lain, kasih di depan dan peringatan di belakang. Nama apa yang lebih dulu terlintas ketika seseorang teringat kepada-Nya, dan dari mana gambaran itu terbentuk?
- Pertanyaan "apakah Ar-Rahman itu?" di 25:60 diajukan dengan nada menolak. Siapa pun dapat mengajukan pertanyaan yang sama dengan nada lain, karena ingin mengenal. Surah ini menjawabnya dengan menyebut perbuatan-perbuatan-Nya. Urutannya mulai dari kitab yang diajarkan dan manusia yang diciptakan, lalu matahari serta bulan dengan hitungannya. Pengenalan semacam itu tersedia setiap hari, karena perbuatan yang disebut surah ini hadir di sekitar setiap orang, dari cahaya pagi sampai kemampuannya menyusun kata.
- Perbuatan pertama yang disebut sesudah nama Ar-Rahman berupa mengajar (55:2). Kasih sayang sering dibayangkan sebagai memberi apa yang diminta dan menjauhkan dari kesulitan, sedangkan pengajaran menuntut waktu, kesabaran, dan kesediaan melihat murid keliru berkali-kali. Di pembuka surah ini Allah memperlihatkan kasih-Nya lewat pengajaran lebih dulu, sebelum menyebut penciptaan dan pemberian lain. Orang tua atau guru yang sabar mengajar sedang memantulkan sebagian kecil dari kasih yang disebut ayat ini.
- Di 17:110 Allah membolehkan seruan dengan nama Allah atau dengan nama Ar-Rahman, dan menyebut bahwa milik-Nya nama-nama yang terindah. Seseorang yang berdoa dalam keadaan takut dapat memanggil-Nya dengan nama kasih itu. Doa yang dibuka dengan nama Ar-Rahman membawa pengakuan tentang kepada siapa orang itu berharap. Pilihan nama dalam doa ikut membentuk rasa hati orang yang berdoa, dan 17:110 memberi keleluasaan untuk memilih nama yang sesuai dengan keadaannya.
- Ayat-ayat sesudah ini tidak lagi menyebut pelaku dengan kata tersendiri. Siapa pun yang membaca 55:5 terlepas dari 55:1 akan mendapati matahari dan bulan tanpa keterangan tentang siapa yang menetapkan hitungannya. Kehidupan sehari-hari sering berjalan dengan cara serupa, ketika nikmat datang terus dan pemberinya jarang teringat karena nama-Nya lama tidak disebut. Surah ini meletakkan nama itu di depan sekali, sehingga setiap nikmat yang menyusul terbaca sebagai pemberian dari Dia yang disebut di awal.
- Surah sebelumnya berakhir dengan sebutan Raja yang berkuasa penuh (54:55), dan surah ini dibuka dengan Ar-Rahman. Kedua sebutan itu menunjuk Dia yang sama. Kuasa tanpa kasih menakutkan, dan kasih tanpa kuasa tidak dapat menjamin apa pun. Orang-orang bertakwa di 54:55 berada di sisi Dia yang berkuasa, dan pembuka surah ini memperkenalkan Dia yang sama dengan nama kasih. Harapan dan rasa segan kepada-Nya bertumpu pada dua sifat itu sekaligus, dan keduanya tidak saling meniadakan.
Ayat 55:2
عَلَّمَ الْقُرْآنَ
telah mengajarkan Al-Qur'an.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- عَلَّمَ الْقُرْآنَ'allama l-qur'aanatelah mengajarkan Al-Qur'an
Terjemahan per kata (2 kata)
- عَلَّمَ'allamamengajarkan
- الْقُرْآنَl-qur'aanaAl-Qur'an
Inti bacaan
Menyediakan waktu tetap untuk mempelajari Al-Qur'an, sedikit demi sedikit secara ajek, serupa menghadiri kelas yang tidak pernah libur dengan Pengajar yang selalu hadir.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (عَلَّمَ الْقُرْآنَ, 'allama l-qur'aana) yang berarti "telah mengajarkan Al-Qur'an". Kata kerja 'allama berakar ع-ل-م, akar yang sama dengan 'ilm, pengetahuan, dan bentuknya menyebut perbuatan membuat pihak lain mengetahui. Di 96:5 kedua bentuk itu bertemu dalam satu kalimat, (عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ, 'allama l-insaana maa lam ya'lam) yang berarti "Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya", sehingga 'allama terbaca sebagai perbuatan yang mengisi ketidaktahuan pihak lain.
Kata al-qur'aan berakar ق-ر-أ, akar untuk membaca, dan di 75:18 kata yang sama dipakai dalam arti bacaan, (فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ, fa-ttabi' qur'aanahu) yang berarti "ikutilah bacaannya". Di ayat ini kata itu memakai kata sandang, sehingga yang disebut bacaan yang sudah dikenal, kitab yang sedang dibaca oleh orang yang membaca ayat ini. Di surah ini kata al-qur'aan hadir sekali, di ayat kedua.
Di banyak ayat Allah disebut mengajar, dan pihak yang diajar ikut disebut. Di 2:31 Adam diajari nama-nama, (وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا, wa-'allama aadama l-asmaa'a kullahaa) yang berarti "dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya". Di 4:113 Nabi diajari apa yang belum diketahuinya, dan di 96:5 manusia diajari apa yang tidak diketahuinya. Di ayat ini kata kerja itu langsung disusul apa yang diajarkan, al-qur'aan, dan pihak yang diajar tidak disebut. Di 55:4 kata kerja yang sama membawa akhiran -hu yang menunjuk manusia, sehingga perbedaan kedua ayat itu terlihat dari satu akhiran.
Susunan 'allama l-qur'aan tercatat di ayat ini saja. Surah sebelumnya empat kali menyebut Al-Qur'an sebagai bacaan yang dimudahkan, (وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ, wa-la-qad yassarnaa l-qur'aana li-dz-dzikri) yang berarti "dan sungguh, Kami telah memudahkan Al-Qur'an untuk peringatan" (54:17, 54:22, 54:32, 54:40). Surah ini membuka rangkaian nikmatnya dengan Al-Qur'an yang diajarkan, sehingga dua surah yang berurutan menyebut kitab yang sama dari dua sisi, kemudahannya dan pengajarannya.
Ayat ini disebut sebelum penciptaan manusia di 55:3. Susunan yang memuat unsur serupa ada di awal Surah Al-'Alaq dengan urutan berlawanan. Di sana penciptaan disebut lebih dahulu, (خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ, khalaqa l-insaana min 'alaqin) yang berarti "menciptakan manusia dari sesuatu yang melekat" (96:2), lalu pengajaran menyusul di 96:4-5, (الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ, alladzii 'allama bi-l-qalami) yang berarti "yang mengajar dengan pena". Di surah ini pengajaran Al-Qur'an mendahului penciptaan, dan pengajaran kedua, kemampuan menjelaskan, menyusul sesudahnya di 55:4.
Tafsiran
Ayat ini menyebut perbuatan pertama Ar-Rahman, dan perbuatan itu berupa pengajaran. Letaknya sebelum penciptaan manusia tidak mengikuti urutan waktu, karena manusia yang diajar harus ada lebih dulu. Dengan mendahulukan pengajaran, ayat-ayat pembuka ini menempatkan Al-Qur'an di depan seluruh daftar nikmat, di depan keberadaan manusia sendiri, di depan matahari dan bulan, dan di depan langit serta timbangan.
Sasaran pengajaran di ayat ini dibiarkan terbuka, dan surah ini menyapa dua golongan dengan bentuk dua, kalian berdua, sejak 55:13. Di 55:33 kedua golongan itu dipanggil sebagai (يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ, yaa ma'syara l-jinni wa-l-insi) yang berarti "wahai golongan jin dan manusia". Di 72:1 segolongan jin berkata telah mendengar bacaan yang menakjubkan. Kalimat 'allama l-qur'aan dibiarkan tanpa sasaran, dan kalimat yang terbuka itu dapat menampung siapa saja yang sampai kepada Al-Qur'an.
Perintah pertama dalam surah ini baru datang di 55:9, sesudah pengajaran, penciptaan, kemampuan menjelaskan, dan keteraturan langit disebut. Urutan itu memperlihatkan pengajaran yang mendahului tuntutan. Manusia diberi bacaan dan kemampuan memahami lebih dulu, lalu diminta menegakkan timbangan dengan adil.
Renungan dan Hikmah
- Allah menempatkan pengajaran Al-Qur'an di urutan pertama daftar nikmat-Nya, di depan penciptaan manusia dan di depan matahari serta bulan. Ketika seseorang menghitung nikmat dalam hidupnya, daftarnya biasanya dimulai dari kesehatan, keluarga, dan rezeki. Al-Qur'an sering tercatat jauh di belakang, atau tidak tercatat sama sekali karena sudah dianggap biasa, padahal dari Al-Qur'an itulah seseorang belajar mengenali nikmat-nikmat yang lain. Di urutan ke berapa Al-Qur'an berada dalam daftar nikmat yang disyukuri seseorang hari ini?
- Surah Al-Qamar empat kali menyebut Al-Qur'an dimudahkan untuk peringatan, dan ayat ini menyebutnya diajarkan. Kemudahan itu tidak menghapus kebutuhan untuk belajar, sebagaimana jalan yang mudah tetap perlu ditempuh langkah demi langkah. Orang yang merasa Al-Qur'an terlalu sulit dipahami dapat mengingat bahwa Allah sendiri disebut sebagai pengajarnya, dan orang yang merasa sudah memahaminya dapat mengingat bahwa pengajaran selalu menyisakan pelajaran berikutnya. Kedua sisi itu mengajak untuk kembali membaca dengan sikap seorang murid.
- Kalimat ayat ini berhenti pada apa yang diajarkan, tanpa sasaran. Tidak ada syarat keturunan, bahasa, atau kedudukan yang tertulis di dalam kalimatnya. Orang yang merasa dirinya jauh dari agama, atau merasa tidak pantas membuka kitab karena masa lalunya, tidak dikeluarkan dari kalimat ini. Pintu pengajaran yang dibuka Ar-Rahman di ayat kedua surah ini tetap terbuka bagi siapa saja yang datang untuk belajar, kapan pun orang itu datang.
- Perintah pertama surah ini, menegakkan timbangan dengan adil, baru muncul di 55:9. Sebelum itu Allah menyebut pengajaran, penciptaan, kemampuan menjelaskan, dan keteraturan langit. Urutan itu dapat menjadi cermin bagi orang yang memegang tanggung jawab atas orang lain. Orang tua, guru, atau atasan sering menuntut lebih dulu dan menjelaskan belakangan, padahal pihak yang dituntut belum tentu pernah diberi pemahaman. Ayat-ayat pembuka ini menempatkan pengajaran di depan tuntutan.
- Menyebut Al-Qur'an sebagai sesuatu yang diajarkan berarti ada Pengajar di balik setiap bacaan. Membaca Al-Qur'an dapat dijalani sebagai kegiatan menyelesaikan target halaman, dan dapat juga dijalani sebagai duduk di hadapan Pengajar yang sedang mengajar. Sikap yang kedua membuat pembaca berhenti pada ayat yang belum dipahaminya, bertanya, dan kembali lagi esok hari. Allah menyebut diri-Nya mengajar, dan murid yang baik datang dengan kesiapan untuk diubah oleh pelajaran.
- Di 72:1 segolongan jin yang baru mendengar Al-Qur'an berkata bahwa mereka mendengar bacaan yang menakjubkan. Orang yang sudah mendengar bacaan yang sama sejak kecil sering kehilangan rasa takjub itu, karena bunyinya sudah akrab di telinga. Ayat ini menyebut pengajaran Al-Qur'an sebagai nikmat pertama dari Ar-Rahman. Membaca ulang dengan kesadaran bahwa bacaan itu diajarkan oleh-Nya dapat mengembalikan sebagian rasa takjub yang dirasakan segolongan jin itu ketika bacaan yang sama sampai ke telinga mereka.
Ayat 55:3
خَلَقَ الْإِنْسَانَ
Dia menciptakan manusia,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- خَلَقَ الْإِنْسَانَkhalaqa l-insaanaDia menciptakan manusia
Terjemahan per kata (2 kata)
- خَلَقَkhalaqamenciptakan
- الْإِنْسَانَl-insaanamanusia
Inti bacaan
Merawat tubuh dan akal dengan tidur cukup, makan secukupnya, dan terus menimba ilmu termasuk wujud terima kasih atas penciptaan diri.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (خَلَقَ الْإِنْسَانَ, khalaqa l-insaana) yang berarti "Dia menciptakan manusia". Kata kerja khalaqa berakar خ-ل-ق, dan kata al-insaan berakar أ-ن-س. Susunan khalaqa l-insaan, kata kerja aktif yang langsung disusul al-insaan sebagai sasarannya, tercatat di 4 ayat: 16:4, 55:3, 55:14, dan 96:2. Di tiga ayat lain susunan itu disusul penyebutan bahan. Di 16:4 bahannya (مِنْ نُطْفَةٍ, min nuthfatin) yang berarti "dari setetes mani", di 96:2 (مِنْ عَلَقٍ, min 'alaqin) yang berarti "dari sesuatu yang melekat", dan di 55:14 (مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ, min shalshaalin ka-l-fakhkhaari) yang berarti "dari tanah liat kering seperti tembikar". Di ayat ini kalimatnya berhenti pada al-insaan.
Dengan kata ganti Kami, susunan khalaqnaa l-insaan tercatat di 6 ayat. Di 15:26 dan 23:12 bahannya disebut, dan di 76:2 disebut setetes mani yang bercampur. Di tiga ayat lainnya yang menyusul berupa keadaan dan pengetahuan, (لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ, la-qad khalaqnaa l-insaana fii ahsani taqwiimin) yang berarti "sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk" di 95:4, susah payah di 90:4, dan pengetahuan-Nya tentang bisikan hati manusia di 50:16.
Salah satu dari tiga ayat khalaqa l-insaan yang menyebut bahan, 55:14, berada di surah ini juga, sebelas ayat sesudah ayat ini. Surah Ar-Rahman menyebut penciptaan manusia dua kali, sekali tanpa bahan di 55:3 dan sekali dengan bahan di 55:14. Di tempat kedua penciptaan manusia dipasangkan dengan penciptaan jin, (وَخَلَقَ الْجَانَّ, wa-khalaqa l-jaanna) yang berarti "dan Dia menciptakan jin", yang bahannya juga disebut (55:15). Kata al-insaan di surah ini hadir di dua ayat itu saja.
Al-Qur'an juga menyebut penciptaan manusia dengan bentuk pasif, dan di sana yang disebut berupa watak. Di 4:28 disebut (وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا, wa-khuliqa l-insaanu dha'iifan) yang berarti "dan manusia diciptakan lemah", di 21:37 manusia diciptakan tergesa-gesa, dan di 70:19 (إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا, inna l-insaana khuliqa haluu'an) yang berarti "sesungguhnya manusia diciptakan berkeluh kesah". Ayat-ayat itu menerangkan penciptaan manusia dengan bahan atau dengan watak, sedangkan ayat ini menyebut penciptaannya tanpa keterangan tambahan.
Kata (الْإِنْسَانَ, l-insaana) yang berarti "manusia" memakai kata sandang dan tidak menunjuk golongan tertentu. Kata itu mencakup orang beriman dan orang yang mendustakan, dan cakupan seluas itu sejalan dengan 55:2 yang menyebut pengajaran tanpa menyebut penerimanya. Bentuk kata kerjanya sama dengan 55:2 dan 55:4, lampau dan tanpa pelaku yang disebut ulang, sehingga ketiga ayat itu tersambung kepada nama di ayat pertama.
Tafsiran
Ayat ini menyebut penciptaan manusia di antara dua pengajaran. Sebelumnya Al-Qur'an diajarkan (55:2), dan sesudahnya manusia diajari kemampuan menjelaskan (55:4). Di tengah rangkaian tentang mengajar, keterangan yang diperlukan tentang manusia berupa keberadaannya sebagai pihak yang dapat diajari. Bahan penciptaannya ditunda sampai 55:14, tempat surah ini membandingkan manusia dengan jin dan karena itu memerlukan penyebutan bahan keduanya.
Letak itu memberi dua gambaran tentang manusia dalam satu surah. Di 55:3 manusia hadir sebagai penerima pengajaran yang diapit dua pemberian. Di 55:14 manusia hadir sebagai makhluk dari tanah liat kering, berdampingan dengan jin dari nyala api. Kedua gambaran itu benar, dan surah ini memakai masing-masing di tempat yang sesuai dengan maksudnya.
Penciptaan manusia juga tercatat sebagai nikmat. Surah ini kelak bertanya 31 kali tentang nikmat mana yang didustakan, dan keberadaan manusia sendiri termasuk dalam daftar yang mendahului pertanyaan pertama di 55:13. Di 16:4 manusia yang diciptakan dari setetes mani kemudian menjadi (خَصِيمٌ مُبِينٌ, khashiimun mubiinun) yang berarti "pembantah yang nyata". Ayat itu memperlihatkan kemungkinan bahwa makhluk yang diciptakan dan diajari berbalik membantah Penciptanya, dan kemungkinan itu yang membuat pertanyaan di 55:13 bermakna.
Renungan dan Hikmah
- Di ayat ini Allah menyebut penciptaan manusia tanpa menyebut bahannya, dan yang ditonjolkan berupa kedudukannya di antara dua pengajaran. Orang sering mengukur dirinya atau orang lain dari asal-usul, keturunan, tempat lahir, atau kedudukan keluarganya. Ayat ini memandang manusia dari apa yang diberikan kepadanya dan apa yang dapat dipelajarinya. Seseorang yang merasa rendah karena asal-usulnya dapat membaca ayat ini sebagai penegasan bahwa dirinya tercatat dalam daftar nikmat Ar-Rahman, sejajar dengan matahari dan bulan.
- Di ayat lain Allah menyebut bahan penciptaan manusia, setetes mani di 16:4 dan tanah liat kering di 55:14. Ayat 16:4 melanjutkan bahwa makhluk dari setetes mani itu kemudian menjadi pembantah yang nyata. Ingatan tentang asal yang sederhana dapat menjaga seseorang dari kesombongan ketika kemampuannya bertambah. Kapan terakhir kali seseorang teringat dari apa dirinya dibuat, di tengah rasa bangga atas kecakapan yang dimilikinya?
- Kelemahan manusia disebut terang di 4:28, dan di 21:37 manusia disebut diciptakan tergesa-gesa. Watak-watak itu termasuk dalam manusia yang penciptaannya disebut di ayat ini sebagai bagian dari daftar nikmat. Seseorang yang kecewa pada kelemahan dirinya dapat mengingat bahwa Allah menyebut penciptaannya dengan kelemahan itu sebagai pemberian, dan bahwa 4:28 dibuka dengan kehendak-Nya untuk meringankan. Kelemahan dapat diterima sebagai titik awal belajar, sejalan dengan letak ayat ini di antara dua pengajaran.
- Manusia di ayat ini berdiri di antara Al-Qur'an yang diajarkan dan kemampuan menjelaskan yang diajarkan kepadanya. Hidup seseorang dapat dibaca dengan susunan yang sama, menerima sesuatu yang berharga lalu meneruskannya kepada orang lain dengan jelas. Sebagian orang berhenti di tahap menerima, mengumpulkan pengetahuan tanpa pernah membagikannya. Allah menaruh manusia di tengah dua pengajaran, dan letak itu mengisyaratkan arah perjalanan dari yang pertama menuju yang kedua.
- Kata al-insaan di ayat ini mencakup seluruh manusia tanpa membedakan golongan. Orang yang beriman dan orang yang mendustakan sama-sama diciptakan, dan penciptaan itu disebut sebagai nikmat bagi keduanya. Pertanyaan yang berulang di surah ini ditujukan kepada semua pihak yang menerima nikmat itu. Kesadaran bahwa setiap orang yang ditemui hari ini juga termasuk dalam kalimat khalaqa l-insaan dapat melunakkan cara seseorang memandang orang yang berbeda dengannya.
- Keberadaan diri jarang dihitung sebagai nikmat, karena keberadaan itu mendahului setiap hitungan yang pernah dibuat seseorang. Surah ini menyebut penciptaan manusia di urutan kedua dalam daftar nikmat, sebelum matahari dan bulan. Bangun di pagi hari dengan napas yang masih berjalan termasuk dalam pemberian yang disebut ayat ini. Allah memasukkan keberadaan manusia ke dalam daftar yang kemudian ditanyakan, sehingga rasa syukur dapat dimulai dari kenyataan bahwa seseorang ada.