Ayat 55:1

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

الرَّحْمَٰنُ

Ar-Rahmaan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. الرَّحْمَٰنُar-rahmaanuAr-Rahmaan

Terjemahan per kata (1 kata)

  1. الرَّحْمَٰنُar-rahmaanuAr-Rahman

Inti bacaan

Pembukaan Ar-Rahman dengan nama itu sendiri: 'Ar-Rahman', surah ini dibuka bukan dengan seruan atau perintah, melainkan penegasan identitas ilahi yang penuh kasih, kerangka yang mewarnai seluruh rangkaian nikmat yang akan disebutkan berikutnya.

Penjelasan pilihan kata

Surah Ar-Rahman tidak dibuka dengan huruf muqatta'aat, melainkan nama diri Allah itu sendiri sebagai subjek pembuka.

Surah ini satu-satunya yang dibuka dengan sebuah nama yang berdiri sendiri sebagai satu ayat penuh. Bukan huruf terpisah, bukan sumpah, dan bukan pujian. Hanya nama, dan nama itu (الرَّحْمَٰنُ, ar-rahmaanu) muncul dalam bentuk ini dua puluh satu kali di dalam Al-Qur'an, tersebar di sebelas surah (2:163, 19:61, 19:75, 19:88, 19:96, 20:5, 20:90, 20:109, 21:26, 21:112, 25:59, 25:60, 36:15, 36:23, 36:52, 43:20, 55:1, 59:22, 67:19, 67:29, 78:38).

Kedudukannya di dalam kalimat menentukan seluruh surah. Kata ini pelaku bagi ayat-ayat yang menyusul, dan ayat-ayat itu tidak mengulang penyebutan pelakunya. Yang mengajarkan Al-Qur'an, yang menciptakan manusia, dan yang mengajarinya pandai menjelaskan semuanya kembali kepada kata pertama ini. Satu kata memerintah rangkaian yang panjang.

Urutan pekerjaan yang menyusul pun tidak seperti yang diduga. Rangkaian “telah mengajarkan Al-Qur'an” (عَلَّمَ الْقُرْآنَ, 'allama l-qur'aana) di 55:2 disebut lebih dahulu daripada penciptaan manusia (خَلَقَ الْإِنْسَانَ, khalaqa l-insaana) di 55:3, dan hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an. Mengajar disebut sebelum menciptakan yang diajar. Susunan itu tidak menyalahi urutan waktu; ia menyatakan urutan kepentingan.

Yang menyusul sesudah penciptaan pun bukan pemberian rezeki atau kekuatan, melainkan “Dia mengajarinya pandai menjelaskan” (عَلَّمَهُ الْبَيَانَ, 'allamahu l-bayaana), rangkaian yang juga hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an. Jadi dari empat ayat pembuka surah ini, dua di antaranya tentang mengajar. Nama yang dipilih untuk membuka surah ternyata diperkenalkan lewat pekerjaan mengajar, bukan lewat kekuasaan atau pemberian materi.

Satu hal lagi yang mengikat seluruh surah kepada kata pertama ini. Pertanyaan yang berulang sepanjang surah, yaitu nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan, muncul tiga puluh satu kali dan seluruhnya hanya di surah ini. Tidak satu pun di tempat lain. Yang nikmatnya ditanyakan berulang-ulang itu adalah pemilik nama yang disebut di ayat pertama, dan pertanyaan itu tidak pernah menyebut nama-Nya lagi karena sudah disebut sekali di awal.

Kependekan ayat ini pun bukan kebetulan. Satu kata, tanpa kata kerja dan tanpa keterangan, dijadikan satu ayat penuh. Pembacanya dipaksa berhenti pada nama itu sebelum diberi apa pun untuk dikerjakan dengannya, dan perhentian sesingkat itu menghasilkan penekanan yang tak bisa dicapai kalimat yang panjang. Yang berhenti sebentar pada satu kata biasanya mengingatnya lebih lama.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan cara yang tidak dipakai di tempat lain mana pun: sebuah nama yang berdiri sendiri sebagai satu ayat penuh. Tidak ada kata kerja, tidak ada keterangan, dan tidak ada sumpah. Hanya nama, dan sesudah itu kalimatnya berhenti.

Kependekan itu bekerja sebagai penekanan. Pembacanya dipaksa berhenti pada satu kata sebelum diberi apa pun untuk dikerjakan dengannya. Dan nama yang dipilih bukan nama yang menunjuk kekuasaan atau keperkasaan, padahal surah yang menyusul penuh dengan gambaran tentang langit, bumi, laut, dan hari perhitungan.

Kedudukannya di dalam susunan kalimat menentukan seluruh surah. Kata ini pelaku bagi ayat-ayat yang menyusul, dan ayat-ayat itu tidak mengulang penyebutan pelakunya. Yang mengajarkan, yang menciptakan, yang mengajari pandai menjelaskan, semuanya kembali kepada satu kata di awal. Susunan seperti itu membuat seluruh daftar anugerah yang panjang itu bergantung pada satu nama yang disebut sekali.

Urutan pekerjaan yang menyusul pun membalik yang diduga. Mengajarkan Al-Qur'an disebut lebih dahulu daripada menciptakan manusia, dan sesudah penciptaan yang disebut bukan pemberian rezeki melainkan mengajari pandai menjelaskan. Dua dari empat ayat pembuka surah ini tentang mengajar, dan keduanya memakai rumusan yang masing-masing hanya sekali dipakai di seluruh kitab. Nama yang menunjuk kasih diperkenalkan lewat pekerjaan mengajar, bukan lewat pemberian materi.

Dan seluruh surah kembali kepada kata ini lewat pertanyaan yang berulang tiga puluh satu kali dan tidak pernah muncul di luar surah ini. Pertanyaan itu tidak menyebutkan nama-Nya lagi, sebab nama itu sudah berdiri sendirian di ayat pertama. Sebuah surah yang bertanya tiga puluh satu kali tentang nikmat siapa hanya perlu menyebut pemiliknya satu kali, di kata yang paling awal.

Renungan dan Hikmah

  • Pembukanya nama-Nya sendiri. Bukan huruf, bukan sumpah. Allah menyebut diri-Nya di kata pertama. Pembuka seperti ini juga meniadakan jarak yang biasanya ada di awal surah. Tidak ada pengantar, tidak ada sumpah, tidak ada suruhan menyampaikan. Yang pertama terdengar langsung nama-Nya, dan pembacanya sudah berhadapan sebelum sempat bersiap.
  • Nama yang dipilih Ar-Rahman, bukan nama kuasa. Yang mengajar dan memberi. Warnanya sudah ditentukan sejak kata pertama. Nama itu menentukan cara membaca seluruh daftar yang menyusul. Langit, bintang, laut, dan hari perhitungan semuanya dibaca sebagai pemberian, sebab pemberinya sudah diperkenalkan lebih dahulu dengan nama kasih dan bukan dengan nama kuasa.
  • Kata itu menjadi pelaku bagi ayat-ayat sesudahnya. Allah menaruhnya sebagai subjek. Yang mengajar, yang menciptakan, yang mengajarkan bicara. Karena pelakunya cuma disebut sekali, tiap ayat sesudahnya bergantung pada ayat pertama. Ayat yang dibaca terpisah kehilangan pelakunya dan berubah menjadi keterangan tentang alam saja. Susunan itu memaksa surah ini dibaca dari awal.
  • Pertanyaan yang berulang sepanjang surah ini tak pernah menyebut nama-Nya lagi, sebab sudah disebut sekali di ayat pertama. Satu kata di awal menaungi seluruh pertanyaan yang menyusul. Pertanyaan yang berulang itu menyebut karunia Tuhan kalian, dan Tuhan yang dimaksud sudah dinamai di kata pertama. Jadi setiap kali pertanyaan itu kembali, yang sebenarnya ditanyakan adalah karunia dari Yang Maha Pengasih, bukan dari kekuasaan yang jauh.
  • Allah membuka surah ini dengan nama-Nya sendiri, dan nama yang dipilih menunjuk kasih, bukan kuasa, padahal surahnya penuh gambaran langit dan hari perhitungan. Nama apa yang lebih dahulu terlintas di kepala kita ketika membayangkan Dia? Nama yang lebih dahulu terlintas biasanya nama yang paling sering kita dengar, bukan nama yang paling sering Dia pakai untuk diri-Nya. Kalau bayangan kita dibangun dari peringatan yang kita dengar dan bukan dari sebutan yang Dia pilih sendiri, maka yang kita takuti sebenarnya susunan orang, bukan Dia. Memeriksa hal itu tidak sulit: perhatikan nama apa yang muncul di kepala ketika sedang bersalah, dan bandingkan dengan nama yang dipakai untuk membuka surah ini. Selisih keduanya biasanya besar sekali, dan selisih itu bukan keterangan tentang Dia melainkan tentang dari mana kita belajar.
  • Dari seluruh surah dalam Al-Quran, hanya surah ini yang kata pertamanya berupa nama Allah dan tidak lebih dari itu, yaitu الرَّحْمَٰنُ. Ada dua surah lain yang dibuka dengan kata yang menyebut Dia, yaitu 25:1 dan 67:1, tetapi keduanya memakai kata kerja yang berarti Mahasuci Dia, bukan nama-Nya. Perbedaannya bukan main-main. Kata kerja menerangkan sesuatu tentang Dia, sedangkan nama cuma menyebut Dia. Surah ini dimulai tanpa keterangan apa pun, hanya sebutan, dan seluruh isinya menjadi keterangan bagi sebutan itu.

Ayat 55:2

عَلَّمَ الْقُرْآنَ

telah mengajarkan Al-Qur'an.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. عَلَّمَ الْقُرْآنَ'allama l-qur'aanatelah mengajarkan Al-Qur'an

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. عَلَّمَ'allamamengajarkan
  2. الْقُرْآنَl-qur'aanaAl-Qur'an

Inti bacaan

Nikmat pertama yang disebut: 'telah mengajarkan Al-Qur'an', penempatan pengajaran wahyu sebagai nikmat utama, mendahului bahkan penciptaan manusia itu sendiri, penegasan prioritas petunjuk atas eksistensi semata.

Penjelasan pilihan kata

Nama Al-Qur'an dipertahankan sesuai teks Arab.

Rangkaian yang menyusun ayat ini tak terulang. Bentuk “telah mengajarkan Al-Qur'an” (عَلَّمَ الْقُرْآنَ, 'allama l-qur'aana) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Kata keduanya (الْقُرْآنَ, l-qur'aana) memakai kata sandang, jadi yang diajarkan bukan sembarang bacaan melainkan yang sudah dikenal sebutannya. Dua kata saja, tanpa penyebutan pelaku dan tanpa penyebutan penerima. Pelakunya diambil dari ayat sebelumnya, dan penerimanya tidak disebut sama sekali.

Ketiadaan penerima itu bukan kelalaian. Kalau disebutkan kepada siapa diajarkan, jangkauannya akan tertutup pada mereka. Karena tidak disebutkan, pengajaran itu berdiri sebagai pekerjaan yang tidak dibatasi sasarannya. Bandingkan dengan ayat berikutnya yang menyebut penciptaan manusia (خَلَقَ الْإِنْسَانَ, khalaqa l-insaana) secara terang; di situ penerimanya disebut, di sini tidak.

Letaknya sebelum penciptaan manusia adalah hal yang paling menonjol pada ayat ini. Mengajarkan disebut lebih dahulu daripada mengadakan yang diajar. Susunan itu tidak menyalahi urutan waktu, sebab yang disusun bukan riwayat melainkan daftar. Dan pada daftar, yang disebut lebih dahulu biasanya yang dianggap lebih pokok.

Perbandingan dengan surah yang memuat tiga unsur serupa memperjelas hal itu. Di surah 96 disebut menciptakan manusia (96:2), lalu mengajar dengan pena (96:4), lalu mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (96:5). Tiga unsur yang sama, yaitu mencipta dan dua kali mengajar, tetapi urutannya berbeda. Di sana penciptaan lebih dahulu; di sini pengajaran. Perbedaan urutan pada bahan yang sama itulah yang hendak ditonjolkan masing-masing surah.

Ada satu hal lagi yang mengikat ayat ini kepada seluruh surahnya. Daftar anugerah yang dibuka di sini berjalan terus sampai matahari dan bulan yang beredar menurut perhitungan (55:5), bintang dan pepohonan yang tunduk (55:6), serta langit yang ditinggikan dan timbangan yang ditegakkan (55:7). Semuanya perkara besar yang kasatmata. Dan yang diletakkan paling depan, sebelum semua itu, justru sesuatu yang tak berwujud sama sekali, yaitu pengajaran.

Baru sesudah beberapa anugerah didaftar, pertanyaan yang menjadi ciri surah ini muncul untuk pertama kalinya di 55:13. Pertanyaan itu berulang tiga puluh satu kali dan tak pernah dipakai di luar surah ini. Letak kemunculan pertamanya, yaitu sesudah pengajaran dan penciptaan disebut lebih dahulu, menandai bahwa yang ditanyakan bukan hanya nikmat yang bisa dipegang. Yang paling awal didaftar justru yang paling tak berwujud, dan itu ikut masuk ke dalam pertanyaan yang diulang tiga puluh satu kali itu. Yang tak berwujud pun terhitung nikmat, dan ia yang didahulukan.

Tafsiran

Ayat ini menyebut anugerah pertama yang didaftar surah ini, dan yang paling patut diperhatikan adalah letaknya, bukan isinya. Pengajaran Al-Qur'an disebut sebelum penciptaan manusia.

Urutan seperti itu tidak menyalahi urutan waktu, sebab yang disusun bukan riwayat melainkan daftar. Dan pada sebuah daftar, yang disebut lebih dahulu biasanya yang dianggap lebih pokok. Kalau begitu bacaannya, maka yang ditonjolkan surah ini bukan keberadaan manusia melainkan keterangan yang disediakan untuknya.

Bentuk kalimatnya pun menyingkap sesuatu. Hanya dua kata, tanpa penyebutan pelaku dan tanpa penyebutan penerima. Pelakunya diambil dari ayat sebelumnya yang berdiri sendiri sebagai satu nama. Penerimanya tidak disebut sama sekali, dan ketiadaan itu membuka jangkauannya: kalau disebutkan kepada siapa diajarkan, pengajaran itu akan tertutup pada mereka.

Perbandingan dengan surah 96 mempertajam seluruh bacaan ini. Di sana ada tiga unsur yang sama, yaitu menciptakan manusia (96:2), mengajar dengan pena (96:4), dan mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (96:5). Bahan yang sama, urutan yang berbeda: di sana penciptaan lebih dahulu, di sini pengajaran. Dua surah menyusun unsur yang sama dengan urutan yang berlawanan, dan perbedaan urutan itulah yang menandai apa yang hendak ditonjolkan masing-masing.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut mengajarkan sebelum menyebut menciptakan. Yang diajarkan disebut dulu. Yang diciptakan kemudian. Urutan itu bukan urutan waktu kejadian, melainkan urutan penyebutan. Yang disebut lebih dahulu di dalam sebuah daftar biasanya yang dianggap paling menerangkan maksud daftar itu. Di sini yang dianggap paling menerangkan bukan penciptaan, melainkan pengajaran.
  • Urutannya tidak seperti dugaan. Biasanya ada dulu. Di sini diajari dulu. Kalau urutannya mengikuti dugaan biasa, ayat ini akan menyebut penciptaan lebih dahulu lalu pengajaran sesudahnya, dan pembaca akan membacanya sebagai riwayat. Karena dibalik, pembaca terpaksa membacanya sebagai pernyataan tentang apa yang paling utama.
  • Susunan itu dipilih Allah dengan sengaja. Bukan kebetulan urutan. Petunjuk didahulukan atas keberadaan. Menaruh petunjuk di depan juga mengubah kedudukan manusia di dalam surah ini. Ia bukan makhluk yang kebetulan kemudian diberi keterangan, melainkan makhluk yang keterangannya sudah tersedia sebelum ia disebut ada.
  • Allah menyebut pengajarannya tanpa menyebut kepada siapa diajarkan. Ketiadaan itu membuka jangkauannya. Kalau penerimanya disebut, pengajaran itu akan tertutup pada mereka saja. Ketiadaan penerima juga membuat kalimat ini tidak bisa dibaca sebagai riwayat masa lalu yang sudah selesai. Pengajaran tanpa penerima yang disebutkan adalah pengajaran yang masih berlangsung, dan siapa pun yang membaca sedang berdiri di dalamnya.
  • Allah menyebut mengajarkan Al-Quran sebelum menyebut menciptakan manusia. Kalau keterangan didahulukan atas keberadaan yang akan menerimanya, di mana letak membaca dan mempelajarinya dalam urutan kesibukan kita sehari-hari? Urutan kesibukan kita hampir selalu kebalikan dari urutan di ayat ini, dan itu bukan karena kita memutuskannya begitu, melainkan karena tidak pernah memutuskannya sama sekali.
  • Kata kerja mengajarkan muncul dua kali di pembuka surah ini, di ayat ini dan di 55:4, dan di antara keduanya berdiri penciptaan manusia di 55:3. Susunannya rapi: diajarkan kitabnya, diciptakan orangnya, diajarkan kemampuan menerangkannya. Manusia diletakkan persis di tengah dua pengajaran. Yang pertama datang kepadanya, dan yang kedua memungkinkannya meneruskan. Kalau salah satu dilepas, susunan itu runtuh: tanpa yang pertama tidak ada yang diteruskan, dan tanpa yang kedua yang diterima berhenti kepadanya saja. Susunan itu juga menerangkan mengapa Allah menyebut pengajaran dua kali dan penciptaan cuma sekali. Yang diulang bagian yang berhubungan dengan tugas, sedangkan yang disebut sekali bagian yang berhubungan dengan keberadaan. Manusia tidak diminta mengurus keberadaannya sendiri; ia diminta mengurus apa yang diterimanya dan apa yang diteruskannya, dan dua hal itulah yang disebut mengapitnya di sini, satu di sebelum dan satu di sesudah.

Ayat 55:3

خَلَقَ الْإِنْسَانَ

Dia menciptakan manusia,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. خَلَقَ الْإِنْسَانَkhalaqa l-insaanaDia menciptakan manusia

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. خَلَقَkhalaqamenciptakan
  2. الْإِنْسَانَl-insaanamanusia

Inti bacaan

Nikmat kedua: 'Dia menciptakan manusia', penciptaan disebut setelah pengajaran Al-Qur'an, urutan yang menyiratkan bahwa manusia diciptakan dalam kerangka yang sudah disediakan petunjuknya, bukan dibiarkan tanpa arah.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian yang dipakai di ayat ini muncul empat kali di dalam Al-Qur'an (16:4, 55:3, 55:14, 96:2), dan perbandingan keempatnya menerangkan sesuatu yang tidak terlihat kalau ayat ini dibaca sendirian. Bentuk “Dia menciptakan manusia” (خَلَقَ الْإِنْسَانَ, khalaqa l-insaana) di tiga tempat yang lain selalu disusul penyebutan bahannya: dari setetes mani (16:4), dari tanah kering seperti tembikar (55:14), dan dari sesuatu yang melekat (96:2).

Hanya di sini bahannya tidak disebut, dan yang tersisa cuma kata untuk manusianya (الْإِنْسَانَ, l-insaana). Kalimatnya berhenti pada penciptaannya saja. Dan yang menarik, salah satu dari tiga tempat yang menyebut bahan itu berada di surah ini juga, sebelas ayat kemudian (55:14). Jadi surah ini menyebut penciptaan manusia dua kali, sekali tanpa bahan dan sekali dengan bahan.

Perbedaan itu masuk akal kalau letaknya diperhatikan. Di sini penciptaan berdiri di antara dua pengajaran, yaitu pengajaran Al-Qur'an sebelumnya dan pengajaran pandai menjelaskan sesudahnya. Di tengah rangkaian tentang pengajaran, yang diperlukan hanya kenyataan bahwa manusia ada. Bahan penyusunnya justru akan mengalihkan perhatian.

Ketiadaan bahan itu juga mengubah kedudukan manusia di dalam daftar ini. Kalau bahannya disebut, yang tergambar makhluk yang dibentuk dari sesuatu yang rendah. Karena tidak disebut, yang tergambar penerima pengajaran yang diapit oleh dua pemberian. Kedua gambaran itu benar, dan surah ini memakai keduanya di dua tempat untuk maksud yang berbeda.

Kata yang dipakai untuk manusia di sini pun kata umum yang muncul di banyak tempat, bukan sebutan bagi golongan tertentu. Yang disebut bukan orang beriman, bukan pula satu kaum. Cakupan seluas itu sejalan dengan ayat sebelumnya yang menyebut pengajaran tanpa menyebut penerimanya.

Surah ini kelak menyebut penciptaan dua jenis makhluk secara berpasangan, yaitu manusia dari tanah kering (55:14) dan jin dari nyala api (55:15). Di situ bahannya disebut untuk keduanya, sebab yang hendak ditunjukkan justru perbedaannya. Di sini, di pembuka surah, tidak ada yang perlu dibedakan, dan karena itu bahannya pun tidak diperlukan.

Bentuk kata kerjanya pun sama dengan bentuk pada ayat sebelumnya dan ayat sesudahnya, yaitu bentuk lampau tanpa kata ganti pelaku yang diulang. Ketiga ayat itu bersambung sebagai satu kalimat panjang yang pelakunya disebut sekali saja di ayat pertama. Kalau salah satu dibaca sendirian, ia kehilangan pelakunya, dan itulah sebabnya ketiganya perlu dibaca berurutan sebagai satu rangkaian, bukan sebagai tiga pernyataan yang berdiri sendiri-sendiri.

Tafsiran

Ayat ini menyebut anugerah kedua, yaitu penciptaan manusia itu sendiri, dan yang paling berbicara justru apa yang tidak disebut di dalamnya.

Rangkaian yang dipakai muncul empat kali di dalam kitab ini, dan di tiga tempat yang lain penciptaan manusia selalu disusul penyebutan bahannya: dari setetes mani (16:4), dari tanah kering seperti tembikar (55:14), dan dari sesuatu yang melekat (96:2). Hanya di sini bahannya tidak disebut. Kalimatnya berhenti pada penciptaan saja.

Yang lebih menarik, salah satu dari tiga tempat itu berada di surah ini juga, sebelas ayat kemudian. Jadi surah ini menyebut penciptaan manusia dua kali dengan cara yang berbeda, sekali tanpa bahan dan sekali dengan bahan. Perbedaan itu disengaja, dan letaknya yang menjelaskan.

Di sini penciptaan berdiri di antara dua pengajaran, yaitu pengajaran Al-Qur'an sebelumnya dan pengajaran pandai menjelaskan sesudahnya. Di tengah rangkaian tentang mengajar, yang diperlukan hanya kenyataan bahwa manusia ada; bahan penyusunnya justru akan mengalihkan perhatian. Ketiadaan bahan itu mengubah kedudukan manusia di dalam daftar. Kalau bahannya disebut, yang tergambar makhluk yang dibentuk dari sesuatu yang rendah. Karena tidak disebut, yang tergambar penerima pengajaran yang diapit dua pemberian. Kedua gambaran itu benar, dan surah ini memakai keduanya di dua tempat untuk maksud yang berbeda.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian yang dipakai Allah di sini muncul empat kali di seluruh Al-Quran (16:4, 55:3, 55:14, 96:2), dan di tiga tempat lain selalu disusul penyebutan bahannya. Hanya di sini tidak. Kalimatnya berhenti pada penciptaannya saja. Ketiadaan bahan itu membuat kalimatnya sangat ringan dibaca. Ia lewat begitu saja di antara dua pengajaran, seakan keberadaan manusia bukan perkara yang perlu ditahan lama, padahal di tempat lain justru perkara itu yang diuraikan panjang.
  • Surah ini menyebut penciptaan manusia dua kali dengan cara berbeda, sekali tanpa bahan di sini dan sekali dengan bahan sebelas ayat kemudian. Dua cara, satu surah, dan letaknya yang menjelaskan bedanya. Yang di sini dipakai untuk menyambung, dan yang di 55:14 dipakai untuk menerangkan. Surah yang sama menyebut satu peristiwa dengan dua cara, dan letak masing-masing yang menentukan bentuknya.
  • Bentuk kata kerjanya sama dengan ayat sebelum dan sesudahnya, tanpa mengulang pelakunya. Pelakunya disebut sekali saja di ayat pertama surah. Kalau salah satu dibaca sendirian, ia kehilangan pelakunya. Cara menyusun seperti itu jarang dipakai dalam pembicaraan biasa, sebab pendengar mudah kehilangan pelakunya. Di sini justru itu yang dikehendaki: pembaca harus kembali ke awal untuk mengetahui siapa yang sedang dibicarakan.
  • Di tiga tempat lain Allah menyebut penciptaan manusia lengkap dengan bahannya. Hanya di sini tidak. Di tengah rangkaian tentang mengajar, yang diperlukan cuma kenyataan bahwa manusia ada. Yang diperlukan pada kedudukan ini cuma kenyataan bahwa ada pihak yang bisa diajari. Dari apa ia dibuat tidak menambah apa pun pada maksud itu, dan karena itu ditunda sampai sebelas ayat kemudian.
  • Allah menaruh penciptaan manusia tepat di antara dua pengajaran, dan tidak menyebut bahannya sama sekali. Kalau kita berdiri di antara apa yang diajarkan kepada kita dan apa yang bisa kita ajarkan, sudah sejauh mana kita bergerak dari yang pertama ke yang kedua? Jarak antara menerima dan meneruskan biasanya tidak pernah diukur orang, sebab tidak ada yang menagihnya.
  • Sesudah menyebut penciptaan manusia dan pengajaran menerangkan, surah ini langsung berpindah ke matahari dan bulan yang beredar menurut perhitungan. Perpindahan itu menaruh manusia dan benda langit dalam satu daftar yang sama. Keduanya disebut sebagai pemberian dari nama yang sama, dan keduanya berjalan menurut aturan yang tidak mereka susun sendiri. Bedanya cuma satu: matahari dan bulan tidak pernah keluar dari perhitungannya, sedangkan manusia diberi kemampuan menerangkan dan bersamaan dengan itu diberi kemungkinan menyimpang. Daftar yang sama menaungi keduanya, dan cuma satu yang ditanya. Allah menaruh keduanya berdampingan tanpa keterangan tambahan, dan letak itu sendiri sudah menjadi keterangannya bagi siapa pun yang membacanya berurutan.