Ayat 55:2

عَلَّمَ الْقُرْآنَ

telah mengajarkan Al-Qur'an.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. عَلَّمَ الْقُرْآنَ'allama l-qur'aanatelah mengajarkan Al-Qur'an

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. عَلَّمَ'allamamengajarkan
  2. الْقُرْآنَl-qur'aanaAl-Qur'an

Inti bacaan

Menyediakan waktu tetap untuk mempelajari Al-Qur'an, sedikit demi sedikit secara ajek, serupa menghadiri kelas yang tidak pernah libur dengan Pengajar yang selalu hadir.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (عَلَّمَ الْقُرْآنَ, 'allama l-qur'aana) yang berarti "telah mengajarkan Al-Qur'an". Kata kerja 'allama berakar ع-ل-م, akar yang sama dengan 'ilm, pengetahuan, dan bentuknya menyebut perbuatan membuat pihak lain mengetahui. Di 96:5 kedua bentuk itu bertemu dalam satu kalimat, (عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ, 'allama l-insaana maa lam ya'lam) yang berarti "Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya", sehingga 'allama terbaca sebagai perbuatan yang mengisi ketidaktahuan pihak lain.

Kata al-qur'aan berakar ق-ر-أ, akar untuk membaca, dan di 75:18 kata yang sama dipakai dalam arti bacaan, (فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ, fa-ttabi' qur'aanahu) yang berarti "ikutilah bacaannya". Di ayat ini kata itu memakai kata sandang, sehingga yang disebut bacaan yang sudah dikenal, kitab yang sedang dibaca oleh orang yang membaca ayat ini. Di surah ini kata al-qur'aan hadir sekali, di ayat kedua.

Di banyak ayat Allah disebut mengajar, dan pihak yang diajar ikut disebut. Di 2:31 Adam diajari nama-nama, (وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا, wa-'allama aadama l-asmaa'a kullahaa) yang berarti "dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya". Di 4:113 Nabi diajari apa yang belum diketahuinya, dan di 96:5 manusia diajari apa yang tidak diketahuinya. Di ayat ini kata kerja itu langsung disusul apa yang diajarkan, al-qur'aan, dan pihak yang diajar tidak disebut. Di 55:4 kata kerja yang sama membawa akhiran -hu yang menunjuk manusia, sehingga perbedaan kedua ayat itu terlihat dari satu akhiran.

Susunan 'allama l-qur'aan tercatat di ayat ini saja. Surah sebelumnya empat kali menyebut Al-Qur'an sebagai bacaan yang dimudahkan, (وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ, wa-la-qad yassarnaa l-qur'aana li-dz-dzikri) yang berarti "dan sungguh, Kami telah memudahkan Al-Qur'an untuk peringatan" (54:17, 54:22, 54:32, 54:40). Surah ini membuka rangkaian nikmatnya dengan Al-Qur'an yang diajarkan, sehingga dua surah yang berurutan menyebut kitab yang sama dari dua sisi, kemudahannya dan pengajarannya.

Ayat ini disebut sebelum penciptaan manusia di 55:3. Susunan yang memuat unsur serupa ada di awal Surah Al-'Alaq dengan urutan berlawanan. Di sana penciptaan disebut lebih dahulu, (خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ, khalaqa l-insaana min 'alaqin) yang berarti "menciptakan manusia dari sesuatu yang melekat" (96:2), lalu pengajaran menyusul di 96:4-5, (الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ, alladzii 'allama bi-l-qalami) yang berarti "yang mengajar dengan pena". Di surah ini pengajaran Al-Qur'an mendahului penciptaan, dan pengajaran kedua, kemampuan menjelaskan, menyusul sesudahnya di 55:4.

Tafsiran

Ayat ini menyebut perbuatan pertama Ar-Rahman, dan perbuatan itu berupa pengajaran. Letaknya sebelum penciptaan manusia tidak mengikuti urutan waktu, karena manusia yang diajar harus ada lebih dulu. Dengan mendahulukan pengajaran, ayat-ayat pembuka ini menempatkan Al-Qur'an di depan seluruh daftar nikmat, di depan keberadaan manusia sendiri, di depan matahari dan bulan, dan di depan langit serta timbangan.

Sasaran pengajaran di ayat ini dibiarkan terbuka, dan surah ini menyapa dua golongan dengan bentuk dua, kalian berdua, sejak 55:13. Di 55:33 kedua golongan itu dipanggil sebagai (يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ, yaa ma'syara l-jinni wa-l-insi) yang berarti "wahai golongan jin dan manusia". Di 72:1 segolongan jin berkata telah mendengar bacaan yang menakjubkan. Kalimat 'allama l-qur'aan dibiarkan tanpa sasaran, dan kalimat yang terbuka itu dapat menampung siapa saja yang sampai kepada Al-Qur'an.

Perintah pertama dalam surah ini baru datang di 55:9, sesudah pengajaran, penciptaan, kemampuan menjelaskan, dan keteraturan langit disebut. Urutan itu memperlihatkan pengajaran yang mendahului tuntutan. Manusia diberi bacaan dan kemampuan memahami lebih dulu, lalu diminta menegakkan timbangan dengan adil.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menempatkan pengajaran Al-Qur'an di urutan pertama daftar nikmat-Nya, di depan penciptaan manusia dan di depan matahari serta bulan. Ketika seseorang menghitung nikmat dalam hidupnya, daftarnya biasanya dimulai dari kesehatan, keluarga, dan rezeki. Al-Qur'an sering tercatat jauh di belakang, atau tidak tercatat sama sekali karena sudah dianggap biasa, padahal dari Al-Qur'an itulah seseorang belajar mengenali nikmat-nikmat yang lain. Di urutan ke berapa Al-Qur'an berada dalam daftar nikmat yang disyukuri seseorang hari ini?
  • Surah Al-Qamar empat kali menyebut Al-Qur'an dimudahkan untuk peringatan, dan ayat ini menyebutnya diajarkan. Kemudahan itu tidak menghapus kebutuhan untuk belajar, sebagaimana jalan yang mudah tetap perlu ditempuh langkah demi langkah. Orang yang merasa Al-Qur'an terlalu sulit dipahami dapat mengingat bahwa Allah sendiri disebut sebagai pengajarnya, dan orang yang merasa sudah memahaminya dapat mengingat bahwa pengajaran selalu menyisakan pelajaran berikutnya. Kedua sisi itu mengajak untuk kembali membaca dengan sikap seorang murid.
  • Kalimat ayat ini berhenti pada apa yang diajarkan, tanpa sasaran. Tidak ada syarat keturunan, bahasa, atau kedudukan yang tertulis di dalam kalimatnya. Orang yang merasa dirinya jauh dari agama, atau merasa tidak pantas membuka kitab karena masa lalunya, tidak dikeluarkan dari kalimat ini. Pintu pengajaran yang dibuka Ar-Rahman di ayat kedua surah ini tetap terbuka bagi siapa saja yang datang untuk belajar, kapan pun orang itu datang.
  • Perintah pertama surah ini, menegakkan timbangan dengan adil, baru muncul di 55:9. Sebelum itu Allah menyebut pengajaran, penciptaan, kemampuan menjelaskan, dan keteraturan langit. Urutan itu dapat menjadi cermin bagi orang yang memegang tanggung jawab atas orang lain. Orang tua, guru, atau atasan sering menuntut lebih dulu dan menjelaskan belakangan, padahal pihak yang dituntut belum tentu pernah diberi pemahaman. Ayat-ayat pembuka ini menempatkan pengajaran di depan tuntutan.
  • Menyebut Al-Qur'an sebagai sesuatu yang diajarkan berarti ada Pengajar di balik setiap bacaan. Membaca Al-Qur'an dapat dijalani sebagai kegiatan menyelesaikan target halaman, dan dapat juga dijalani sebagai duduk di hadapan Pengajar yang sedang mengajar. Sikap yang kedua membuat pembaca berhenti pada ayat yang belum dipahaminya, bertanya, dan kembali lagi esok hari. Allah menyebut diri-Nya mengajar, dan murid yang baik datang dengan kesiapan untuk diubah oleh pelajaran.
  • Di 72:1 segolongan jin yang baru mendengar Al-Qur'an berkata bahwa mereka mendengar bacaan yang menakjubkan. Orang yang sudah mendengar bacaan yang sama sejak kecil sering kehilangan rasa takjub itu, karena bunyinya sudah akrab di telinga. Ayat ini menyebut pengajaran Al-Qur'an sebagai nikmat pertama dari Ar-Rahman. Membaca ulang dengan kesadaran bahwa bacaan itu diajarkan oleh-Nya dapat mengembalikan sebagian rasa takjub yang dirasakan segolongan jin itu ketika bacaan yang sama sampai ke telinga mereka.

Ayat 55:3

خَلَقَ الْإِنْسَانَ

Dia menciptakan manusia,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. خَلَقَ الْإِنْسَانَkhalaqa l-insaanaDia menciptakan manusia

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. خَلَقَkhalaqamenciptakan
  2. الْإِنْسَانَl-insaanamanusia

Inti bacaan

Merawat tubuh dan akal dengan tidur cukup, makan secukupnya, dan terus menimba ilmu termasuk wujud terima kasih atas penciptaan diri.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (خَلَقَ الْإِنْسَانَ, khalaqa l-insaana) yang berarti "Dia menciptakan manusia". Kata kerja khalaqa berakar خ-ل-ق, dan kata al-insaan berakar أ-ن-س. Susunan khalaqa l-insaan, kata kerja aktif yang langsung disusul al-insaan sebagai sasarannya, tercatat di 4 ayat: 16:4, 55:3, 55:14, dan 96:2. Di tiga ayat lain susunan itu disusul penyebutan bahan. Di 16:4 bahannya (مِنْ نُطْفَةٍ, min nuthfatin) yang berarti "dari setetes mani", di 96:2 (مِنْ عَلَقٍ, min 'alaqin) yang berarti "dari sesuatu yang melekat", dan di 55:14 (مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ, min shalshaalin ka-l-fakhkhaari) yang berarti "dari tanah liat kering seperti tembikar". Di ayat ini kalimatnya berhenti pada al-insaan.

Dengan kata ganti Kami, susunan khalaqnaa l-insaan tercatat di 6 ayat. Di 15:26 dan 23:12 bahannya disebut, dan di 76:2 disebut setetes mani yang bercampur. Di tiga ayat lainnya yang menyusul berupa keadaan dan pengetahuan, (لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ, la-qad khalaqnaa l-insaana fii ahsani taqwiimin) yang berarti "sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk" di 95:4, susah payah di 90:4, dan pengetahuan-Nya tentang bisikan hati manusia di 50:16.

Salah satu dari tiga ayat khalaqa l-insaan yang menyebut bahan, 55:14, berada di surah ini juga, sebelas ayat sesudah ayat ini. Surah Ar-Rahman menyebut penciptaan manusia dua kali, sekali tanpa bahan di 55:3 dan sekali dengan bahan di 55:14. Di tempat kedua penciptaan manusia dipasangkan dengan penciptaan jin, (وَخَلَقَ الْجَانَّ, wa-khalaqa l-jaanna) yang berarti "dan Dia menciptakan jin", yang bahannya juga disebut (55:15). Kata al-insaan di surah ini hadir di dua ayat itu saja.

Al-Qur'an juga menyebut penciptaan manusia dengan bentuk pasif, dan di sana yang disebut berupa watak. Di 4:28 disebut (وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا, wa-khuliqa l-insaanu dha'iifan) yang berarti "dan manusia diciptakan lemah", di 21:37 manusia diciptakan tergesa-gesa, dan di 70:19 (إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا, inna l-insaana khuliqa haluu'an) yang berarti "sesungguhnya manusia diciptakan berkeluh kesah". Ayat-ayat itu menerangkan penciptaan manusia dengan bahan atau dengan watak, sedangkan ayat ini menyebut penciptaannya tanpa keterangan tambahan.

Kata (الْإِنْسَانَ, l-insaana) yang berarti "manusia" memakai kata sandang dan tidak menunjuk golongan tertentu. Kata itu mencakup orang beriman dan orang yang mendustakan, dan cakupan seluas itu sejalan dengan 55:2 yang menyebut pengajaran tanpa menyebut penerimanya. Bentuk kata kerjanya sama dengan 55:2 dan 55:4, lampau dan tanpa pelaku yang disebut ulang, sehingga ketiga ayat itu tersambung kepada nama di ayat pertama.

Tafsiran

Ayat ini menyebut penciptaan manusia di antara dua pengajaran. Sebelumnya Al-Qur'an diajarkan (55:2), dan sesudahnya manusia diajari kemampuan menjelaskan (55:4). Di tengah rangkaian tentang mengajar, keterangan yang diperlukan tentang manusia berupa keberadaannya sebagai pihak yang dapat diajari. Bahan penciptaannya ditunda sampai 55:14, tempat surah ini membandingkan manusia dengan jin dan karena itu memerlukan penyebutan bahan keduanya.

Letak itu memberi dua gambaran tentang manusia dalam satu surah. Di 55:3 manusia hadir sebagai penerima pengajaran yang diapit dua pemberian. Di 55:14 manusia hadir sebagai makhluk dari tanah liat kering, berdampingan dengan jin dari nyala api. Kedua gambaran itu benar, dan surah ini memakai masing-masing di tempat yang sesuai dengan maksudnya.

Penciptaan manusia juga tercatat sebagai nikmat. Surah ini kelak bertanya 31 kali tentang nikmat mana yang didustakan, dan keberadaan manusia sendiri termasuk dalam daftar yang mendahului pertanyaan pertama di 55:13. Di 16:4 manusia yang diciptakan dari setetes mani kemudian menjadi (خَصِيمٌ مُبِينٌ, khashiimun mubiinun) yang berarti "pembantah yang nyata". Ayat itu memperlihatkan kemungkinan bahwa makhluk yang diciptakan dan diajari berbalik membantah Penciptanya, dan kemungkinan itu yang membuat pertanyaan di 55:13 bermakna.

Renungan dan Hikmah

  • Di ayat ini Allah menyebut penciptaan manusia tanpa menyebut bahannya, dan yang ditonjolkan berupa kedudukannya di antara dua pengajaran. Orang sering mengukur dirinya atau orang lain dari asal-usul, keturunan, tempat lahir, atau kedudukan keluarganya. Ayat ini memandang manusia dari apa yang diberikan kepadanya dan apa yang dapat dipelajarinya. Seseorang yang merasa rendah karena asal-usulnya dapat membaca ayat ini sebagai penegasan bahwa dirinya tercatat dalam daftar nikmat Ar-Rahman, sejajar dengan matahari dan bulan.
  • Di ayat lain Allah menyebut bahan penciptaan manusia, setetes mani di 16:4 dan tanah liat kering di 55:14. Ayat 16:4 melanjutkan bahwa makhluk dari setetes mani itu kemudian menjadi pembantah yang nyata. Ingatan tentang asal yang sederhana dapat menjaga seseorang dari kesombongan ketika kemampuannya bertambah. Kapan terakhir kali seseorang teringat dari apa dirinya dibuat, di tengah rasa bangga atas kecakapan yang dimilikinya?
  • Kelemahan manusia disebut terang di 4:28, dan di 21:37 manusia disebut diciptakan tergesa-gesa. Watak-watak itu termasuk dalam manusia yang penciptaannya disebut di ayat ini sebagai bagian dari daftar nikmat. Seseorang yang kecewa pada kelemahan dirinya dapat mengingat bahwa Allah menyebut penciptaannya dengan kelemahan itu sebagai pemberian, dan bahwa 4:28 dibuka dengan kehendak-Nya untuk meringankan. Kelemahan dapat diterima sebagai titik awal belajar, sejalan dengan letak ayat ini di antara dua pengajaran.
  • Manusia di ayat ini berdiri di antara Al-Qur'an yang diajarkan dan kemampuan menjelaskan yang diajarkan kepadanya. Hidup seseorang dapat dibaca dengan susunan yang sama, menerima sesuatu yang berharga lalu meneruskannya kepada orang lain dengan jelas. Sebagian orang berhenti di tahap menerima, mengumpulkan pengetahuan tanpa pernah membagikannya. Allah menaruh manusia di tengah dua pengajaran, dan letak itu mengisyaratkan arah perjalanan dari yang pertama menuju yang kedua.
  • Kata al-insaan di ayat ini mencakup seluruh manusia tanpa membedakan golongan. Orang yang beriman dan orang yang mendustakan sama-sama diciptakan, dan penciptaan itu disebut sebagai nikmat bagi keduanya. Pertanyaan yang berulang di surah ini ditujukan kepada semua pihak yang menerima nikmat itu. Kesadaran bahwa setiap orang yang ditemui hari ini juga termasuk dalam kalimat khalaqa l-insaan dapat melunakkan cara seseorang memandang orang yang berbeda dengannya.
  • Keberadaan diri jarang dihitung sebagai nikmat, karena keberadaan itu mendahului setiap hitungan yang pernah dibuat seseorang. Surah ini menyebut penciptaan manusia di urutan kedua dalam daftar nikmat, sebelum matahari dan bulan. Bangun di pagi hari dengan napas yang masih berjalan termasuk dalam pemberian yang disebut ayat ini. Allah memasukkan keberadaan manusia ke dalam daftar yang kemudian ditanyakan, sehingga rasa syukur dapat dimulai dari kenyataan bahwa seseorang ada.

Ayat 55:4

عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

Dia mengajarinya pandai menjelaskan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. عَلَّمَهُ الْبَيَانَ'allamahu l-bayaanaDia mengajarinya pandai menjelaskan

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. عَلَّمَهُ'allamahudiajarkan kepadanya
  2. الْبَيَانَl-bayaanapandai menjelaskan

Inti bacaan

Sebelum berbicara di rapat atau menulis pesan, menimbang apakah kalimatnya menerangkan atau sekadar ingin menang membantu memakai karunia lisan dengan benar.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (عَلَّمَهُ الْبَيَانَ, 'allamahu l-bayaana) yang berarti "Dia mengajarinya pandai menjelaskan". Kata kerja 'allama sama dengan 55:2, dan kali ini membawa akhiran -hu, "-nya", yang kembali kepada al-insaan di 55:3. Kata al-bayaan berakar ب-ي-ن, akar yang dipakai untuk kejelasan dan perbuatan membuat sesuatu menjadi jelas.

Kata bayaan tercatat di 3 ayat. Di 3:138 disebut (هَٰذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ, haadzaa bayaanun li-n-naasi) yang berarti "inilah keterangan bagi manusia", disertai petunjuk dan pelajaran bagi orang-orang bertakwa. Di 75:19 disebut (ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ, tsumma inna 'alaynaa bayaanahu) yang berarti "kemudian sesungguhnya atas Kamilah penjelasannya". Di dua ayat itu bayaan menyebut keterangan yang disampaikan lewat wahyu, sedangkan di ayat ini bayaan menjadi kemampuan yang diajarkan kepada manusia.

Rangkaian 75:17-19 memuat dua kata yang juga bertemu di pembuka surah ini. Di 75:17 disebut (إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ, inna 'alaynaa jam'ahu wa-qur'aanahu) yang berarti "sesungguhnya atas Kamilah mengumpulkannya dan membacakannya", lalu 75:19 menyebut penjelasannya. Kata qur'aan dan bayaan hadir di 75:17-19 dan di 55:2-4. Di Surah Al-Qiyaamah keduanya disebut sebagai tanggungan Allah atas wahyu, dan di surah ini keduanya disebut sebagai pengajaran-Nya.

Akar ب-ي-ن juga menyebut tugas para utusan. Di 14:4 setiap rasul diutus dengan bahasa kaumnya (لِيُبَيِّنَ لَهُمْ, li-yubayyina lahum) yang berarti "agar dia menjelaskan kepada mereka", dan di 16:44 Nabi diberi peringatan (لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ, li-tubayyina li-n-naasi maa nuzzila ilayhim) yang berarti "agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka". Di 16:89 kitab itu sendiri disebut (تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ, tibyaanan li-kulli syay'in) yang berarti "sebagai penjelasan bagi segala sesuatu".

Akar yang sama juga dipakai untuk kemampuan yang disalahgunakan atau direndahkan. Di 16:4 manusia disebut (خَصِيمٌ مُبِينٌ, khashiimun mubiinun) yang berarti "pembantah yang nyata", dan di 43:52 Firaun merendahkan Musa dengan (وَلَا يَكَادُ يُبِينُ, wa-laa yakaadu yubiinu) yang berarti "dan hampir tidak dapat menjelaskan".

Pola pengajaran yang disusul penyampaian juga terlihat pada Adam. Di 2:31 Adam diajari nama-nama, dan di 2:33 Allah memerintahkannya menyampaikan nama-nama itu kepada para malaikat, (يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ, yaa aadamu anbi'hum bi-asmaa'ihim) yang berarti "wahai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu". Pengetahuan yang diajarkan Allah kepada Adam tidak berhenti padanya, dan kemampuan untuk memberitahukannya menjadi bagian dari pengajaran itu.

Tafsiran

Ayat ini menutup kelompok pembuka surah. Al-Qur'an diajarkan, manusia diciptakan, lalu manusia diajari kemampuan menjelaskan. Ketiga ayat itu membentuk satu gerakan, dari kejelasan yang diturunkan sampai kemampuan manusia untuk menerima dan meneruskannya. Dengan kemampuan itu manusia dapat memahami bacaan yang diajarkan dan menyampaikannya kepada orang lain, sebagaimana Adam diajari nama-nama lalu diminta memberitahukannya kepada para malaikat (2:31-33).

Pertemuan qur'aan dan bayaan di 75:17-19 dan di 55:2-4 memperlihatkan dari mana kejelasan itu bermula. Di 75:19 penjelasan wahyu disebut sebagai tanggungan Allah, dan di ayat ini kemampuan menjelaskan disebut sebagai pengajaran-Nya kepada manusia. Kejelasan yang dimiliki manusia berasal dari Dia yang lebih dulu menjelaskan.

Tugas para utusan di 14:4 dan 16:44 memakai akar yang sama. Kemampuan yang diajarkan di ayat ini menjadi sarana penyampaian risalah, karena seorang rasul diutus dengan bahasa kaumnya agar dapat menjelaskan. Di sisi lain 16:4 dan 43:52 memperlihatkan bahwa kemampuan itu dapat dipakai untuk membantah, dan kekurangannya dapat dijadikan bahan ejekan. Ayat ini menyebut kemampuan menjelaskan sebagai nikmat, dan cara pemakaiannya diserahkan kepada manusia yang diajari.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut kemampuan menjelaskan sebagai sesuatu yang diajarkan-Nya. Orang yang pandai berbicara mudah menganggap kecakapannya hasil usahanya sendiri, lalu memandang rendah orang yang terbata-bata. Ayat ini menempatkan kecakapan itu dalam daftar nikmat Ar-Rahman, sejajar dengan penciptaan manusia. Kesadaran bahwa kemampuan menyusun kata berasal dari pengajaran-Nya dapat menumbuhkan rendah hati pada orang yang fasih dan rasa syukur pada setiap orang yang dapat mengungkapkan maksudnya.
  • Manusia yang diciptakan dari setetes mani disebut pembantah yang nyata di 16:4, dengan akar yang sama dengan bayaan. Kemampuan yang diajarkan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dapat dipakai untuk memenangkan perdebatan, mengaburkan kesalahan, atau membela diri tanpa dasar. Setiap percakapan menjadi tempat kemampuan itu dipakai ke salah satu arah. Kemampuan menjelaskan yang diajarkan Allah dipakai untuk apa dalam percakapan-percakapan hari ini, untuk memperjelas atau untuk memenangkan?
  • Firaun merendahkan Musa di 43:52 sebagai orang yang hampir tidak dapat menjelaskan, dan di 20:27-28 Musa sendiri berdoa agar kekakuan lidahnya dilepaskan supaya perkataannya dipahami. Doa itu dikabulkan di 20:36. Orang yang kesulitan berbicara di depan orang lain tidak kehilangan tempatnya dalam ayat ini. Kemampuan menjelaskan diajarkan oleh Allah, dan Dia mengabulkan permintaan Musa untuk memperbaikinya, sehingga seseorang dapat memohon kepada-Nya agar diajari lebih baik lagi.
  • Setiap rasul diutus dengan bahasa kaumnya agar dapat menjelaskan kepada mereka (14:4). Menjelaskan berarti memakai bahasa yang dimengerti pendengar, dan kebenaran yang disampaikan dengan bahasa asing bagi pendengarnya tidak sampai kepada mereka. Orang tua yang berbicara kepada anak, guru kepada murid, atau siapa pun yang menyampaikan kabar baik kepada orang lain dapat bercermin pada ayat itu. Allah mengutus para rasul dengan bahasa kaum mereka, dan kejelasan menuntut penyampai yang mau turun ke bahasa pendengarnya.
  • Penjelasan wahyu disebut Allah sebagai tanggungan-Nya di 75:19. Orang yang merasa kesulitan memahami Al-Qur'an dapat bersandar kepada janji itu sambil terus membaca dan bertanya. Pemahaman yang datang kemudian tidak lahir dari kecerdasan pembaca semata. Kemampuan menjelaskan yang diajarkan di ayat ini dan penjelasan yang dijanjikan di 75:19 berasal dari sumber yang sama, sehingga permohonan untuk dimudahkan memahami termasuk doa yang pantas dipanjatkan sebelum membaca.
  • Di 2:159 Allah mengecam orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan-Nya berupa bukti-bukti yang jelas, (مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ, min ba'di maa bayyannaahu li-n-naasi) yang berarti "setelah Kami jelaskan kepada manusia". Kemampuan menjelaskan membawa tanggung jawab untuk tidak menyembunyikan kejelasan yang sudah diterima. Diam ketika kebenaran perlu disampaikan, atau menyampaikannya dengan kata-kata yang sengaja dikaburkan, berlawanan dengan nikmat yang disebut ayat ini.

Ayat 55:5

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

Matahari dan bulan menurut perhitungan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍasy-syamsu wa-l-qamaru bi-husbaaninmatahari dan bulan menurut perhitungan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. الشَّمْسُasy-syamsumatahari
  2. وَالْقَمَرُwa-l-qamarudan bulan
  3. بِحُسْبَانٍbi-husbaanindengan perhitungan

Inti bacaan

Menepati janji temu, melunasi utang pada tanggalnya, dan datang tepat waktu meneladani ketepatan matahari dan bulan dalam hitungan yang ditetapkan-Nya.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ, asy-syamsu wa-l-qamaru bi-husbaanin) yang berarti "matahari dan bulan menurut perhitungan". Kalimat ini tidak memuat kata kerja. Matahari dan bulan disebut sebagai pokok kalimat, dan keterangannya berupa bi-husbaan, "dengan perhitungan". Terjemahan ini tidak menambahkan kata kerja seperti "beredar", karena ayatnya menyatakan keadaan matahari dan bulan tanpa menyebut gerak.

Kata husbaan berakar ح-س-ب dan tercatat di 3 ayat. Di 6:96 kata itu juga menyertai matahari dan bulan, (وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا, wa-sy-syamsa wa-l-qamara husbaanan) yang berarti "dan matahari dan bulan untuk perhitungan", dan ayat itu ditutup dengan (ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ, dzaalika taqdiiru l-'aziizi l-'aliimi) yang berarti "itulah ketetapan Sang Digdaya lagi Sang Berilmu". Ungkapan penutup itu dipakai lagi di 36:38, sesudah (وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا, wa-sy-syamsu tajrii li-mustaqarrin lahaa) yang berarti "dan matahari berjalan menuju tempat ketetapannya", lalu 36:39 menyebut bulan yang ditetapkan tempat-tempat peredarannya sampai kembali seperti tandan kurma yang tua. Di 18:40 kata yang sama menyebut sesuatu yang dikirim dari langit ke atas kebun, (حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ, husbaanan mina s-samaa'i) yang berarti "bencana dari langit". Akar ح-س-ب juga membentuk hisaab, perhitungan, yang di banyak ayat menyebut perhitungan amal.

Kegunaan hitungan itu disebut di 10:5. Bulan diberi tempat-tempat peredaran (لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ, li-ta'lamuu 'adada s-siniina wa-l-hisaaba) yang berarti "agar kalian mengetahui bilangan tahun dan perhitungan", dan 17:12 memuat ungkapan yang sama. Di 2:189 bulan-bulan sabit disebut (مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ, mawaaqiitu li-n-naasi wa-l-hajji) yang berarti "waktu-waktu bagi manusia dan haji".

Matahari dan bulan disebut berdampingan di 15 ayat. Di beberapa di antaranya gerak keduanya dinyatakan dengan kata kerja. Di 13:2, 35:13, dan 39:5 disebut (كُلٌّ يَجْرِي, kullun yajrii) yang berarti "masing-masing beredar", disusul batas waktu yang ditentukan, dan di 36:40 disebut (وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ, wa-kullun fii falakin yasbahuuna) yang berarti "dan masing-masing beredar pada garis edarnya". Ayat ini menyebut keduanya tanpa kata kerja gerak, dan keterangannya berhenti pada hitungan. Di surah ini kata syams dan qamar hadir di ayat ini saja.

Ayat ini masih tersusun tanpa kata sambung wa- di awalnya, seperti 55:2-4. Kata sambung itu baru membuka ayat di 55:6, dan ayat itu memuat kata kerja yang tidak ada di ayat ini, (يَسْجُدَانِ, yasjudaani) yang berarti "keduanya sujud", untuk bintang dan pepohonan.

Tafsiran

Ayat ini memindahkan pandangan dari manusia ke langit. Tiga ayat sebelumnya menyebut pengajaran dan penciptaan manusia, dan ayat ini menyebut dua benda langit yang terlihat jelas setiap hari. Rangkaian itu berlanjut ke bintang dan pepohonan (55:6), langit yang ditinggikan dan timbangan (55:7), lalu larangan melampaui batas dalam timbangan dan perintah menegakkannya dengan adil (55:8-9). Keteraturan di langit disebut lebih dulu, dan tuntutan keadilan kepada manusia menyusul sesudahnya.

Susunan ayat yang tidak memuat gerak menyatakan hitungan matahari dan bulan sebagai keadaan yang tetap. Di ayat-ayat lain keduanya disebut beredar menuju batas waktu (13:2), sedangkan di sini yang ditonjolkan ketepatannya. Hitungan itu dapat dipakai manusia untuk mengetahui bilangan tahun (10:5) dan waktu-waktu ibadah (2:189), sehingga keteraturan langit masuk ke dalam daftar nikmat Ar-Rahman sebagai sesuatu yang menopang kehidupan sehari-hari.

Bulan juga hadir di ayat pertama surah sebelumnya, (وَانْشَقَّ الْقَمَرُ, wa-nsyaqqa l-qamaru) yang berarti "dan bulan pun terbelah" (54:1), sebagai tanda dekatnya Saat itu. Di surah ini bulan yang sama disebut bersama hitungannya. Dua surah yang berurutan memperlihatkan bulan dalam dua keadaan, sebagai tanda keteraturan yang berlaku sekarang dan sebagai tanda akhir keteraturan itu. Surah ini sendiri kelak menyebut langit yang terbelah (55:37), sehingga hitungan yang disebut di ayat ini berlaku sampai batas waktu yang ditetapkan untuknya.

Renungan dan Hikmah

  • Setiap penanggalan, jadwal tanam, dan waktu ibadah bertumpu pada hitungan matahari dan bulan. Di 2:189 bulan-bulan sabit disebut sebagai waktu-waktu bagi manusia dan haji. Manusia menyusun kalender dengan membaca hitungan yang sudah berjalan jauh sebelum kelahirannya, hitungan yang tidak pernah diciptakannya. Allah menyebut hitungan itu dalam daftar nikmat-Nya, sehingga setiap kali seseorang melihat jam atau kalender, orang itu sedang memakai pemberian yang disebut ayat ini.
  • Matahari terbit setiap pagi tanpa pernah terlambat, dan bulan berganti bentuk menurut hitungan yang sama setiap bulan. Sesuatu yang selalu tepat lama-lama berhenti diperhatikan, seperti udara yang baru terasa ketika sesak. Ayat ini menyebut keteraturan itu dengan tegas sebagai bagian dari nikmat Ar-Rahman. Rasa syukur dapat dimulai dari hal yang tidak pernah gagal, karena hal yang selalu hadir lebih mudah terlupakan daripada hal yang sesekali hilang.
  • Matahari dan bulan disebut tanpa ukuran, jarak, atau kekuatan cahayanya. Keterangan yang diberikan berupa hitungan yang mengikat keduanya. Tiga ayat kemudian timbangan disebut diletakkan agar manusia tidak melampaui batas di dalamnya (55:7-8). Benda-benda langit berjalan dalam hitungan yang ditetapkan Allah, dan manusia diminta menjaga ukuran dalam urusannya sendiri. Kalau matahari dan bulan tidak keluar dari hitungannya, batas mana yang sedang dilampaui seseorang dalam timbangan hidupnya?
  • Di 10:5 hitungan bulan disebut sebagai sarana untuk mengetahui bilangan tahun. Bilangan tahun itu mencakup umur setiap orang. Di 13:2 matahari dan bulan disebut beredar sampai batas waktu yang ditentukan, dan umur manusia juga berjalan menuju batas waktunya. Setiap matahari terbit menambah satu hari yang sudah terpakai. Allah menyebut hitungan itu sebagai nikmat, dan kesadaran tentang hari yang terhitung dapat mendorong seseorang mengisi harinya dengan lebih sungguh-sungguh.
  • Ayat tentang hitungan yang tepat ini datang sesudah nama Ar-Rahman di ayat pertama. Kasih sayang tidak selalu tampil sebagai kelembutan, dan sebagian wujudnya berupa kepastian yang dapat disandari. Petani menanam karena musim dapat diperkirakan, dan musafir berangkat karena siang dan malam datang menurut hitungan. Allah menyediakan keteraturan yang tidak berubah-ubah menurut suasana, dan keteraturan itu memberi manusia ruang untuk merencanakan hidupnya dengan tenang.
  • Bulan yang disebut bersama hitungannya di ayat ini disebut terbelah di 54:1 sebagai tanda dekatnya Saat itu. Keteraturan yang terlihat setiap malam tidak berlaku selamanya. Orang yang terbiasa dengan hari-hari yang berjalan tertib mudah mengira bahwa semuanya akan terus begitu. Allah menyebut hitungan matahari dan bulan sebagai nikmat, dan di surah yang sama menyebut langit yang kelak terbelah (55:37), sehingga nikmat keteraturan itu terbaca sebagai pemberian yang memiliki batas waktu.
  • Kata husbaan yang di ayat ini menyertai matahari dan bulan dipakai di 18:40 untuk bencana dari langit yang dimohonkan atas sebuah kebun. Keteraturan yang menenangkan dan musibah yang datang tiba-tiba disebut dengan kata yang sama. Kebun di 18:42 memang roboh, dan pemiliknya menyesal sambil membolak-balikkan kedua telapak tangannya. Peristiwa yang terasa acak bagi manusia tetap berada dalam ukuran yang ditetapkan Allah, dan kesadaran itu dapat menjaga seseorang dari rasa aman yang berlebihan ketika hidup berjalan tertib.