عَلَّمَ الْقُرْآنَ
telah mengajarkan Al-Qur'an.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- عَلَّمَ الْقُرْآنَ'allama l-qur'aanatelah mengajarkan Al-Qur'an
Terjemahan per kata (2 kata)
- عَلَّمَ'allamamengajarkan
- الْقُرْآنَl-qur'aanaAl-Qur'an
Inti bacaan
Menyediakan waktu tetap untuk mempelajari Al-Qur'an, sedikit demi sedikit secara ajek, serupa menghadiri kelas yang tidak pernah libur dengan Pengajar yang selalu hadir.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (عَلَّمَ الْقُرْآنَ, 'allama l-qur'aana) yang berarti "telah mengajarkan Al-Qur'an". Kata kerja 'allama berakar ع-ل-م, akar yang sama dengan 'ilm, pengetahuan, dan bentuknya menyebut perbuatan membuat pihak lain mengetahui. Di 96:5 kedua bentuk itu bertemu dalam satu kalimat, (عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ, 'allama l-insaana maa lam ya'lam) yang berarti "Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya", sehingga 'allama terbaca sebagai perbuatan yang mengisi ketidaktahuan pihak lain.
Kata al-qur'aan berakar ق-ر-أ, akar untuk membaca, dan di 75:18 kata yang sama dipakai dalam arti bacaan, (فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ, fa-ttabi' qur'aanahu) yang berarti "ikutilah bacaannya". Di ayat ini kata itu memakai kata sandang, sehingga yang disebut bacaan yang sudah dikenal, kitab yang sedang dibaca oleh orang yang membaca ayat ini. Di surah ini kata al-qur'aan hadir sekali, di ayat kedua.
Di banyak ayat Allah disebut mengajar, dan pihak yang diajar ikut disebut. Di 2:31 Adam diajari nama-nama, (وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا, wa-'allama aadama l-asmaa'a kullahaa) yang berarti "dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya". Di 4:113 Nabi diajari apa yang belum diketahuinya, dan di 96:5 manusia diajari apa yang tidak diketahuinya. Di ayat ini kata kerja itu langsung disusul apa yang diajarkan, al-qur'aan, dan pihak yang diajar tidak disebut. Di 55:4 kata kerja yang sama membawa akhiran -hu yang menunjuk manusia, sehingga perbedaan kedua ayat itu terlihat dari satu akhiran.
Susunan 'allama l-qur'aan tercatat di ayat ini saja. Surah sebelumnya empat kali menyebut Al-Qur'an sebagai bacaan yang dimudahkan, (وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ, wa-la-qad yassarnaa l-qur'aana li-dz-dzikri) yang berarti "dan sungguh, Kami telah memudahkan Al-Qur'an untuk peringatan" (54:17, 54:22, 54:32, 54:40). Surah ini membuka rangkaian nikmatnya dengan Al-Qur'an yang diajarkan, sehingga dua surah yang berurutan menyebut kitab yang sama dari dua sisi, kemudahannya dan pengajarannya.
Ayat ini disebut sebelum penciptaan manusia di 55:3. Susunan yang memuat unsur serupa ada di awal Surah Al-'Alaq dengan urutan berlawanan. Di sana penciptaan disebut lebih dahulu, (خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ, khalaqa l-insaana min 'alaqin) yang berarti "menciptakan manusia dari sesuatu yang melekat" (96:2), lalu pengajaran menyusul di 96:4-5, (الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ, alladzii 'allama bi-l-qalami) yang berarti "yang mengajar dengan pena". Di surah ini pengajaran Al-Qur'an mendahului penciptaan, dan pengajaran kedua, kemampuan menjelaskan, menyusul sesudahnya di 55:4.
Tafsiran
Ayat ini menyebut perbuatan pertama Ar-Rahman, dan perbuatan itu berupa pengajaran. Letaknya sebelum penciptaan manusia tidak mengikuti urutan waktu, karena manusia yang diajar harus ada lebih dulu. Dengan mendahulukan pengajaran, ayat-ayat pembuka ini menempatkan Al-Qur'an di depan seluruh daftar nikmat, di depan keberadaan manusia sendiri, di depan matahari dan bulan, dan di depan langit serta timbangan.
Sasaran pengajaran di ayat ini dibiarkan terbuka, dan surah ini menyapa dua golongan dengan bentuk dua, kalian berdua, sejak 55:13. Di 55:33 kedua golongan itu dipanggil sebagai (يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ, yaa ma'syara l-jinni wa-l-insi) yang berarti "wahai golongan jin dan manusia". Di 72:1 segolongan jin berkata telah mendengar bacaan yang menakjubkan. Kalimat 'allama l-qur'aan dibiarkan tanpa sasaran, dan kalimat yang terbuka itu dapat menampung siapa saja yang sampai kepada Al-Qur'an.
Perintah pertama dalam surah ini baru datang di 55:9, sesudah pengajaran, penciptaan, kemampuan menjelaskan, dan keteraturan langit disebut. Urutan itu memperlihatkan pengajaran yang mendahului tuntutan. Manusia diberi bacaan dan kemampuan memahami lebih dulu, lalu diminta menegakkan timbangan dengan adil.
Renungan dan Hikmah
- Allah menempatkan pengajaran Al-Qur'an di urutan pertama daftar nikmat-Nya, di depan penciptaan manusia dan di depan matahari serta bulan. Ketika seseorang menghitung nikmat dalam hidupnya, daftarnya biasanya dimulai dari kesehatan, keluarga, dan rezeki. Al-Qur'an sering tercatat jauh di belakang, atau tidak tercatat sama sekali karena sudah dianggap biasa, padahal dari Al-Qur'an itulah seseorang belajar mengenali nikmat-nikmat yang lain. Di urutan ke berapa Al-Qur'an berada dalam daftar nikmat yang disyukuri seseorang hari ini?
- Surah Al-Qamar empat kali menyebut Al-Qur'an dimudahkan untuk peringatan, dan ayat ini menyebutnya diajarkan. Kemudahan itu tidak menghapus kebutuhan untuk belajar, sebagaimana jalan yang mudah tetap perlu ditempuh langkah demi langkah. Orang yang merasa Al-Qur'an terlalu sulit dipahami dapat mengingat bahwa Allah sendiri disebut sebagai pengajarnya, dan orang yang merasa sudah memahaminya dapat mengingat bahwa pengajaran selalu menyisakan pelajaran berikutnya. Kedua sisi itu mengajak untuk kembali membaca dengan sikap seorang murid.
- Kalimat ayat ini berhenti pada apa yang diajarkan, tanpa sasaran. Tidak ada syarat keturunan, bahasa, atau kedudukan yang tertulis di dalam kalimatnya. Orang yang merasa dirinya jauh dari agama, atau merasa tidak pantas membuka kitab karena masa lalunya, tidak dikeluarkan dari kalimat ini. Pintu pengajaran yang dibuka Ar-Rahman di ayat kedua surah ini tetap terbuka bagi siapa saja yang datang untuk belajar, kapan pun orang itu datang.
- Perintah pertama surah ini, menegakkan timbangan dengan adil, baru muncul di 55:9. Sebelum itu Allah menyebut pengajaran, penciptaan, kemampuan menjelaskan, dan keteraturan langit. Urutan itu dapat menjadi cermin bagi orang yang memegang tanggung jawab atas orang lain. Orang tua, guru, atau atasan sering menuntut lebih dulu dan menjelaskan belakangan, padahal pihak yang dituntut belum tentu pernah diberi pemahaman. Ayat-ayat pembuka ini menempatkan pengajaran di depan tuntutan.
- Menyebut Al-Qur'an sebagai sesuatu yang diajarkan berarti ada Pengajar di balik setiap bacaan. Membaca Al-Qur'an dapat dijalani sebagai kegiatan menyelesaikan target halaman, dan dapat juga dijalani sebagai duduk di hadapan Pengajar yang sedang mengajar. Sikap yang kedua membuat pembaca berhenti pada ayat yang belum dipahaminya, bertanya, dan kembali lagi esok hari. Allah menyebut diri-Nya mengajar, dan murid yang baik datang dengan kesiapan untuk diubah oleh pelajaran.
- Di 72:1 segolongan jin yang baru mendengar Al-Qur'an berkata bahwa mereka mendengar bacaan yang menakjubkan. Orang yang sudah mendengar bacaan yang sama sejak kecil sering kehilangan rasa takjub itu, karena bunyinya sudah akrab di telinga. Ayat ini menyebut pengajaran Al-Qur'an sebagai nikmat pertama dari Ar-Rahman. Membaca ulang dengan kesadaran bahwa bacaan itu diajarkan oleh-Nya dapat mengembalikan sebagian rasa takjub yang dirasakan segolongan jin itu ketika bacaan yang sama sampai ke telinga mereka.