Ayat 55:3

خَلَقَ الْإِنْسَانَ

Dia menciptakan manusia,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. خَلَقَ الْإِنْسَانَkhalaqa l-insaanaDia menciptakan manusia

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. خَلَقَkhalaqamenciptakan
  2. الْإِنْسَانَl-insaanamanusia

Inti bacaan

Nikmat kedua: 'Dia menciptakan manusia', penciptaan disebut setelah pengajaran Al-Qur'an, urutan yang menyiratkan bahwa manusia diciptakan dalam kerangka yang sudah disediakan petunjuknya, bukan dibiarkan tanpa arah.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian yang dipakai di ayat ini muncul empat kali di dalam Al-Qur'an (16:4, 55:3, 55:14, 96:2), dan perbandingan keempatnya menerangkan sesuatu yang tidak terlihat kalau ayat ini dibaca sendirian. Bentuk “Dia menciptakan manusia” (خَلَقَ الْإِنْسَانَ, khalaqa l-insaana) di tiga tempat yang lain selalu disusul penyebutan bahannya: dari setetes mani (16:4), dari tanah kering seperti tembikar (55:14), dan dari sesuatu yang melekat (96:2).

Hanya di sini bahannya tidak disebut, dan yang tersisa cuma kata untuk manusianya (الْإِنْسَانَ, l-insaana). Kalimatnya berhenti pada penciptaannya saja. Dan yang menarik, salah satu dari tiga tempat yang menyebut bahan itu berada di surah ini juga, sebelas ayat kemudian (55:14). Jadi surah ini menyebut penciptaan manusia dua kali, sekali tanpa bahan dan sekali dengan bahan.

Perbedaan itu masuk akal kalau letaknya diperhatikan. Di sini penciptaan berdiri di antara dua pengajaran, yaitu pengajaran Al-Qur'an sebelumnya dan pengajaran pandai menjelaskan sesudahnya. Di tengah rangkaian tentang pengajaran, yang diperlukan hanya kenyataan bahwa manusia ada. Bahan penyusunnya justru akan mengalihkan perhatian.

Ketiadaan bahan itu juga mengubah kedudukan manusia di dalam daftar ini. Kalau bahannya disebut, yang tergambar makhluk yang dibentuk dari sesuatu yang rendah. Karena tidak disebut, yang tergambar penerima pengajaran yang diapit oleh dua pemberian. Kedua gambaran itu benar, dan surah ini memakai keduanya di dua tempat untuk maksud yang berbeda.

Kata yang dipakai untuk manusia di sini pun kata umum yang muncul di banyak tempat, bukan sebutan bagi golongan tertentu. Yang disebut bukan orang beriman, bukan pula satu kaum. Cakupan seluas itu sejalan dengan ayat sebelumnya yang menyebut pengajaran tanpa menyebut penerimanya.

Surah ini kelak menyebut penciptaan dua jenis makhluk secara berpasangan, yaitu manusia dari tanah kering (55:14) dan jin dari nyala api (55:15). Di situ bahannya disebut untuk keduanya, sebab yang hendak ditunjukkan justru perbedaannya. Di sini, di pembuka surah, tidak ada yang perlu dibedakan, dan karena itu bahannya pun tidak diperlukan.

Bentuk kata kerjanya pun sama dengan bentuk pada ayat sebelumnya dan ayat sesudahnya, yaitu bentuk lampau tanpa kata ganti pelaku yang diulang. Ketiga ayat itu bersambung sebagai satu kalimat panjang yang pelakunya disebut sekali saja di ayat pertama. Kalau salah satu dibaca sendirian, ia kehilangan pelakunya, dan itulah sebabnya ketiganya perlu dibaca berurutan sebagai satu rangkaian, bukan sebagai tiga pernyataan yang berdiri sendiri-sendiri.

Tafsiran

Ayat ini menyebut anugerah kedua, yaitu penciptaan manusia itu sendiri, dan yang paling berbicara justru apa yang tidak disebut di dalamnya.

Rangkaian yang dipakai muncul empat kali di dalam kitab ini, dan di tiga tempat yang lain penciptaan manusia selalu disusul penyebutan bahannya: dari setetes mani (16:4), dari tanah kering seperti tembikar (55:14), dan dari sesuatu yang melekat (96:2). Hanya di sini bahannya tidak disebut. Kalimatnya berhenti pada penciptaan saja.

Yang lebih menarik, salah satu dari tiga tempat itu berada di surah ini juga, sebelas ayat kemudian. Jadi surah ini menyebut penciptaan manusia dua kali dengan cara yang berbeda, sekali tanpa bahan dan sekali dengan bahan. Perbedaan itu disengaja, dan letaknya yang menjelaskan.

Di sini penciptaan berdiri di antara dua pengajaran, yaitu pengajaran Al-Qur'an sebelumnya dan pengajaran pandai menjelaskan sesudahnya. Di tengah rangkaian tentang mengajar, yang diperlukan hanya kenyataan bahwa manusia ada; bahan penyusunnya justru akan mengalihkan perhatian. Ketiadaan bahan itu mengubah kedudukan manusia di dalam daftar. Kalau bahannya disebut, yang tergambar makhluk yang dibentuk dari sesuatu yang rendah. Karena tidak disebut, yang tergambar penerima pengajaran yang diapit dua pemberian. Kedua gambaran itu benar, dan surah ini memakai keduanya di dua tempat untuk maksud yang berbeda.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian yang dipakai Allah di sini muncul empat kali di seluruh Al-Quran (16:4, 55:3, 55:14, 96:2), dan di tiga tempat lain selalu disusul penyebutan bahannya. Hanya di sini tidak. Kalimatnya berhenti pada penciptaannya saja. Ketiadaan bahan itu membuat kalimatnya sangat ringan dibaca. Ia lewat begitu saja di antara dua pengajaran, seakan keberadaan manusia bukan perkara yang perlu ditahan lama, padahal di tempat lain justru perkara itu yang diuraikan panjang.
  • Surah ini menyebut penciptaan manusia dua kali dengan cara berbeda, sekali tanpa bahan di sini dan sekali dengan bahan sebelas ayat kemudian. Dua cara, satu surah, dan letaknya yang menjelaskan bedanya. Yang di sini dipakai untuk menyambung, dan yang di 55:14 dipakai untuk menerangkan. Surah yang sama menyebut satu peristiwa dengan dua cara, dan letak masing-masing yang menentukan bentuknya.
  • Bentuk kata kerjanya sama dengan ayat sebelum dan sesudahnya, tanpa mengulang pelakunya. Pelakunya disebut sekali saja di ayat pertama surah. Kalau salah satu dibaca sendirian, ia kehilangan pelakunya. Cara menyusun seperti itu jarang dipakai dalam pembicaraan biasa, sebab pendengar mudah kehilangan pelakunya. Di sini justru itu yang dikehendaki: pembaca harus kembali ke awal untuk mengetahui siapa yang sedang dibicarakan.
  • Di tiga tempat lain Allah menyebut penciptaan manusia lengkap dengan bahannya. Hanya di sini tidak. Di tengah rangkaian tentang mengajar, yang diperlukan cuma kenyataan bahwa manusia ada. Yang diperlukan pada kedudukan ini cuma kenyataan bahwa ada pihak yang bisa diajari. Dari apa ia dibuat tidak menambah apa pun pada maksud itu, dan karena itu ditunda sampai sebelas ayat kemudian.
  • Allah menaruh penciptaan manusia tepat di antara dua pengajaran, dan tidak menyebut bahannya sama sekali. Kalau kita berdiri di antara apa yang diajarkan kepada kita dan apa yang bisa kita ajarkan, sudah sejauh mana kita bergerak dari yang pertama ke yang kedua? Jarak antara menerima dan meneruskan biasanya tidak pernah diukur orang, sebab tidak ada yang menagihnya.
  • Sesudah menyebut penciptaan manusia dan pengajaran menerangkan, surah ini langsung berpindah ke matahari dan bulan yang beredar menurut perhitungan. Perpindahan itu menaruh manusia dan benda langit dalam satu daftar yang sama. Keduanya disebut sebagai pemberian dari nama yang sama, dan keduanya berjalan menurut aturan yang tidak mereka susun sendiri. Bedanya cuma satu: matahari dan bulan tidak pernah keluar dari perhitungannya, sedangkan manusia diberi kemampuan menerangkan dan bersamaan dengan itu diberi kemungkinan menyimpang. Daftar yang sama menaungi keduanya, dan cuma satu yang ditanya. Allah menaruh keduanya berdampingan tanpa keterangan tambahan, dan letak itu sendiri sudah menjadi keterangannya bagi siapa pun yang membacanya berurutan.

Ayat 55:4

عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

Dia mengajarinya pandai menjelaskan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. عَلَّمَهُ الْبَيَانَ'allamahu l-bayaanaDia mengajarinya pandai menjelaskan

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. عَلَّمَهُ'allamahudiajarkan kepadanya
  2. الْبَيَانَl-bayaanapandai menjelaskan

Inti bacaan

Nikmat ketiga: 'Dia mengajarinya pandai menjelaskan', kemampuan berbahasa dan mengartikulasikan pikiran diakui sebagai anugerah istimewa, dasar bagi penghargaan terhadap kemampuan komunikasi sebagai hal yang tidak boleh disepelekan.

Penjelasan pilihan kata

Kata yang menjadi isi pengajaran ini tak terulang. Bentuk “pandai menjelaskan” (الْبَيَانَ, al-bayaana) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya berkaitan dengan menjadi terang dan membuat terang. Jadi yang diajarkan bukan kemampuan mengeluarkan suara, melainkan kemampuan membuat sesuatu menjadi jelas bagi orang lain.

Pembedaan itu menentukan. Banyak makhluk bersuara, dan sebagian bahkan saling memberi tanda. Yang disebut di sini bukan itu. Membuat terang menuntut dua hal sekaligus: memahami sesuatu, dan menyusunnya sedemikian rupa sehingga orang lain ikut memahaminya. Yang kedua bukan kelanjutan otomatis dari yang pertama.

Kata kerjanya pun mengajari, bukan memberi. Perbedaan itu disebut dengan sengaja. Sesuatu yang diberikan tinggal dipakai; sesuatu yang diajarkan menuntut proses, dan proses itu bisa berjalan lambat, bisa terhenti, dan bisa dilalaikan. Kemampuan menjelaskan digambarkan sebagai hal yang dipelajari, bukan bakat yang melekat sejak lahir.

Letaknya sebagai anugerah ketiga menutup rangkaian pembuka surah ini dengan rapi. Yang pertama pengajaran kitab, yang kedua penciptaan manusia, yang ketiga pengajaran kemampuan menerangkan. Dua dari tiga tentang mengajar, dan yang di tengah menghubungkan keduanya. Kitab diajarkan lebih dahulu, lalu diadakan yang akan menerimanya, lalu yang menerima itu diberi kemampuan meneruskannya kepada orang lain. Dibaca begitu, ketiga ayat itu satu kalimat panjang tentang bagaimana keterangan berpindah.

Akar kata yang dipakai di sini muncul juga pada sebutan bagi kitab itu sendiri di tempat lain, yaitu ketika ia disebut penjelasan tuntas bagi segala sesuatu (تِبْيَانًا, tibyaanan) di 16:89, sebuah bentuk yang juga hanya sekali dipakai di seluruh Al-Qur'an. Jadi akar yang sama menamai sifat kitabnya dan kemampuan yang diajarkan kepada manusia. Yang menerangkan dan yang diberi kemampuan menerangkan berbagi satu akar kata, dan kesamaan itu bukan kebetulan bunyi.

Letaknya sesudah penciptaan pun berarti. Kalau kemampuan itu melekat sejak dijadikan, ia akan disebut bersama penciptaannya di ayat sebelumnya. Karena disebut terpisah dan sesudahnya, ia digambarkan sebagai sesuatu yang ditambahkan kepada makhluk yang sudah ada. Manusia diadakan lebih dahulu, baru diberi kemampuan menerangkan, dan urutan itu menyisakan kemungkinan bahwa seseorang bisa ada tanpa pernah benar-benar memakainya. Sesuatu yang ditambahkan memang selalu bisa dibiarkan menganggur, berbeda dari sesuatu yang melekat sejak semula, dan yang menganggur lama-lama tak lagi terasa pernah diberikan.

Tafsiran

Ayat ini menyebut anugerah ketiga, yaitu kemampuan menerangkan, dan pemilihan kata untuk menyebutnya menentukan seluruh bacaan. Yang diajarkan bukan bersuara dan bukan pula berbicara.

Kata yang dipakai hanya sekali muncul di seluruh kitab ini, dan akarnya berkaitan dengan menjadi terang serta membuat terang. Membuat terang menuntut dua hal sekaligus: memahami sesuatu, dan menyusunnya sedemikian rupa sehingga orang lain ikut memahaminya. Yang kedua bukan kelanjutan otomatis dari yang pertama, dan banyak orang yang memahami tetap tidak sanggup menerangkan.

Kata kerjanya pun mengajari, bukan memberi. Perbedaan itu memindahkan kemampuan menerangkan dari golongan bakat ke golongan hal yang dipelajari. Sesuatu yang diberikan tinggal dipakai; sesuatu yang diajarkan menuntut proses, dan proses bisa berjalan lambat, bisa terhenti, dan bisa dilalaikan.

Letaknya sebagai penutup rangkaian pembuka surah ini menyatukan ketiga ayat sebelumnya menjadi satu gerakan. Kitab diajarkan lebih dahulu, lalu diadakan yang akan menerimanya, lalu yang menerima itu diberi kemampuan meneruskannya kepada orang lain. Dibaca begitu, tiga ayat pendek di pembuka surah ini sesungguhnya satu kalimat panjang tentang bagaimana keterangan berpindah dari sumbernya sampai ke penerima sekaligus penerus.

Akar kata yang dipakai di sini muncul juga pada sebutan bagi kitab itu sendiri di tempat lain, yaitu ketika ia disebut penjelasan tuntas bagi segala sesuatu (16:89), sebuah bentuk yang hanya sekali dipakai di seluruh Al-Qur'an. Jadi akar yang sama menamai sifat kitabnya dan kemampuan yang diajarkan kepada manusia. Yang menerangkan dan yang diberi kemampuan menerangkan berbagi satu akar kata.

Kalau ketiga ayat pembuka ini dibaca sebagai satu gerakan, maka manusia berdiri di tengah bukan sebagai tujuan akhir melainkan sebagai penyambung. Ia menerima keterangan, lalu diberi kemampuan meneruskannya. Sebuah rangkaian yang dimulai dari pengajaran dan berakhir pada kemampuan mengajarkan menutup lingkarannya sendiri, dan lingkaran itu berhenti hanya kalau salah satu orang di dalamnya berhenti meneruskan.penerus.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut mengajari, bukan memberi. Bukan bakat. Diajarkan. Menyebutnya diajarkan juga berarti ada pengajarnya. Kemampuan yang dianggap bakat tidak menuntut hubungan dengan siapa pun, sedangkan kemampuan yang diajarkan selalu menyisakan pihak kedua yang tidak bisa dilupakan begitu saja.
  • Yang diajarkan bukan berbicara, melainkan menjelaskan. Bersuara bisa banyak makhluk. Menerangkan tidak. Yang membedakan menerangkan dari bersuara adalah adanya maksud yang dipindahkan. Suara cuma perlu terdengar, sedangkan keterangan harus sampai. Yang diajarkan di sini bagian yang kedua, dan bagian itu bisa gagal sekalipun suaranya jelas.
  • Nikmat ini disebut sesudah pengajaran kitab. Allah menaruhnya berdampingan. Diajari kitabnya, diajari juga menerangkannya. Menaruh keduanya berdampingan menyiratkan bahwa yang satu disiapkan untuk yang lain. Kemampuan menerangkan diberikan kepada makhluk yang sudah lebih dahulu diberi sesuatu yang layak diterangkan, dan urutan itu menentukan untuk apa kemampuan tersebut ada.
  • Allah menyebutnya diajarkan, dan menyebutnya sesudah penciptaan, bukan bersamaan. Sesuatu yang ditambahkan sesudah ada selalu bisa dibiarkan menganggur, berbeda dari yang melekat sejak semula. Sesuatu yang ditambahkan juga bisa dipakai untuk hal yang bukan tujuannya. Kemampuan menerangkan bisa dipakai untuk mengaburkan, dan itu pemakaian yang justru menuntut kecakapan lebih tinggi daripada menerangkan dengan jujur.
  • Allah menyebut kemampuan menerangkan itu diajarkan, bukan melekat sejak dijadikan, dan sesuatu yang ditambahkan selalu bisa dibiarkan menganggur. Kapan terakhir kali kita memakainya untuk membuat sesuatu menjadi jelas bagi orang lain? Kemampuan yang tidak dipakai tidak hilang, tetapi ia berhenti berkembang, dan lama-lama orangnya menyangka memang tidak pernah memilikinya.
  • Kata الْبَيَانَ hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran, yaitu di ayat ini. Tidak ada tempat lain yang memakainya, sehingga tidak ada ayat pembanding yang bisa dipakai untuk mempersempit atau memperluas maksudnya. Yang tersedia cuma letaknya, dan letaknya berbicara banyak: ia disebut sesudah kitab diajarkan dan sesudah manusia diciptakan, sebagai pemberian ketiga dalam urutan pembuka surah ini. Kemampuan menyampaikan maksud kepada orang lain diletakkan Allah sejajar dengan penciptaan dan pengajaran kitab, bukan sebagai keterampilan tambahan yang boleh dimiliki sebagian orang saja. Akibatnya terasa pada cara kita menilai diri. Orang biasa berkata dirinya tidak pandai bicara lalu menganggap perkara itu selesai. Ayat ini tidak menyediakan pintu tersebut. Yang disebut bukan kepandaian menyusun kalimat yang indah, melainkan kemampuan membuat sesuatu menjadi terang bagi orang lain, dan kemampuan itu diberikan kepada semua, sekalipun kadarnya berbeda dari satu orang ke orang lain.