خَلَقَ الْإِنْسَانَ
Dia menciptakan manusia,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- خَلَقَ الْإِنْسَانَkhalaqa l-insaanaDia menciptakan manusia
Terjemahan per kata (2 kata)
- خَلَقَkhalaqamenciptakan
- الْإِنْسَانَl-insaanamanusia
Inti bacaan
Merawat tubuh dan akal dengan tidur cukup, makan secukupnya, dan terus menimba ilmu termasuk wujud terima kasih atas penciptaan diri.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (خَلَقَ الْإِنْسَانَ, khalaqa l-insaana) yang berarti "Dia menciptakan manusia". Kata kerja khalaqa berakar خ-ل-ق, dan kata al-insaan berakar أ-ن-س. Susunan khalaqa l-insaan, kata kerja aktif yang langsung disusul al-insaan sebagai sasarannya, tercatat di 4 ayat: 16:4, 55:3, 55:14, dan 96:2. Di tiga ayat lain susunan itu disusul penyebutan bahan. Di 16:4 bahannya (مِنْ نُطْفَةٍ, min nuthfatin) yang berarti "dari setetes mani", di 96:2 (مِنْ عَلَقٍ, min 'alaqin) yang berarti "dari sesuatu yang melekat", dan di 55:14 (مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ, min shalshaalin ka-l-fakhkhaari) yang berarti "dari tanah liat kering seperti tembikar". Di ayat ini kalimatnya berhenti pada al-insaan.
Dengan kata ganti Kami, susunan khalaqnaa l-insaan tercatat di 6 ayat. Di 15:26 dan 23:12 bahannya disebut, dan di 76:2 disebut setetes mani yang bercampur. Di tiga ayat lainnya yang menyusul berupa keadaan dan pengetahuan, (لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ, la-qad khalaqnaa l-insaana fii ahsani taqwiimin) yang berarti "sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk" di 95:4, susah payah di 90:4, dan pengetahuan-Nya tentang bisikan hati manusia di 50:16.
Salah satu dari tiga ayat khalaqa l-insaan yang menyebut bahan, 55:14, berada di surah ini juga, sebelas ayat sesudah ayat ini. Surah Ar-Rahman menyebut penciptaan manusia dua kali, sekali tanpa bahan di 55:3 dan sekali dengan bahan di 55:14. Di tempat kedua penciptaan manusia dipasangkan dengan penciptaan jin, (وَخَلَقَ الْجَانَّ, wa-khalaqa l-jaanna) yang berarti "dan Dia menciptakan jin", yang bahannya juga disebut (55:15). Kata al-insaan di surah ini hadir di dua ayat itu saja.
Al-Qur'an juga menyebut penciptaan manusia dengan bentuk pasif, dan di sana yang disebut berupa watak. Di 4:28 disebut (وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا, wa-khuliqa l-insaanu dha'iifan) yang berarti "dan manusia diciptakan lemah", di 21:37 manusia diciptakan tergesa-gesa, dan di 70:19 (إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا, inna l-insaana khuliqa haluu'an) yang berarti "sesungguhnya manusia diciptakan berkeluh kesah". Ayat-ayat itu menerangkan penciptaan manusia dengan bahan atau dengan watak, sedangkan ayat ini menyebut penciptaannya tanpa keterangan tambahan.
Kata (الْإِنْسَانَ, l-insaana) yang berarti "manusia" memakai kata sandang dan tidak menunjuk golongan tertentu. Kata itu mencakup orang beriman dan orang yang mendustakan, dan cakupan seluas itu sejalan dengan 55:2 yang menyebut pengajaran tanpa menyebut penerimanya. Bentuk kata kerjanya sama dengan 55:2 dan 55:4, lampau dan tanpa pelaku yang disebut ulang, sehingga ketiga ayat itu tersambung kepada nama di ayat pertama.
Tafsiran
Ayat ini menyebut penciptaan manusia di antara dua pengajaran. Sebelumnya Al-Qur'an diajarkan (55:2), dan sesudahnya manusia diajari kemampuan menjelaskan (55:4). Di tengah rangkaian tentang mengajar, keterangan yang diperlukan tentang manusia berupa keberadaannya sebagai pihak yang dapat diajari. Bahan penciptaannya ditunda sampai 55:14, tempat surah ini membandingkan manusia dengan jin dan karena itu memerlukan penyebutan bahan keduanya.
Letak itu memberi dua gambaran tentang manusia dalam satu surah. Di 55:3 manusia hadir sebagai penerima pengajaran yang diapit dua pemberian. Di 55:14 manusia hadir sebagai makhluk dari tanah liat kering, berdampingan dengan jin dari nyala api. Kedua gambaran itu benar, dan surah ini memakai masing-masing di tempat yang sesuai dengan maksudnya.
Penciptaan manusia juga tercatat sebagai nikmat. Surah ini kelak bertanya 31 kali tentang nikmat mana yang didustakan, dan keberadaan manusia sendiri termasuk dalam daftar yang mendahului pertanyaan pertama di 55:13. Di 16:4 manusia yang diciptakan dari setetes mani kemudian menjadi (خَصِيمٌ مُبِينٌ, khashiimun mubiinun) yang berarti "pembantah yang nyata". Ayat itu memperlihatkan kemungkinan bahwa makhluk yang diciptakan dan diajari berbalik membantah Penciptanya, dan kemungkinan itu yang membuat pertanyaan di 55:13 bermakna.
Renungan dan Hikmah
- Di ayat ini Allah menyebut penciptaan manusia tanpa menyebut bahannya, dan yang ditonjolkan berupa kedudukannya di antara dua pengajaran. Orang sering mengukur dirinya atau orang lain dari asal-usul, keturunan, tempat lahir, atau kedudukan keluarganya. Ayat ini memandang manusia dari apa yang diberikan kepadanya dan apa yang dapat dipelajarinya. Seseorang yang merasa rendah karena asal-usulnya dapat membaca ayat ini sebagai penegasan bahwa dirinya tercatat dalam daftar nikmat Ar-Rahman, sejajar dengan matahari dan bulan.
- Di ayat lain Allah menyebut bahan penciptaan manusia, setetes mani di 16:4 dan tanah liat kering di 55:14. Ayat 16:4 melanjutkan bahwa makhluk dari setetes mani itu kemudian menjadi pembantah yang nyata. Ingatan tentang asal yang sederhana dapat menjaga seseorang dari kesombongan ketika kemampuannya bertambah. Kapan terakhir kali seseorang teringat dari apa dirinya dibuat, di tengah rasa bangga atas kecakapan yang dimilikinya?
- Kelemahan manusia disebut terang di 4:28, dan di 21:37 manusia disebut diciptakan tergesa-gesa. Watak-watak itu termasuk dalam manusia yang penciptaannya disebut di ayat ini sebagai bagian dari daftar nikmat. Seseorang yang kecewa pada kelemahan dirinya dapat mengingat bahwa Allah menyebut penciptaannya dengan kelemahan itu sebagai pemberian, dan bahwa 4:28 dibuka dengan kehendak-Nya untuk meringankan. Kelemahan dapat diterima sebagai titik awal belajar, sejalan dengan letak ayat ini di antara dua pengajaran.
- Manusia di ayat ini berdiri di antara Al-Qur'an yang diajarkan dan kemampuan menjelaskan yang diajarkan kepadanya. Hidup seseorang dapat dibaca dengan susunan yang sama, menerima sesuatu yang berharga lalu meneruskannya kepada orang lain dengan jelas. Sebagian orang berhenti di tahap menerima, mengumpulkan pengetahuan tanpa pernah membagikannya. Allah menaruh manusia di tengah dua pengajaran, dan letak itu mengisyaratkan arah perjalanan dari yang pertama menuju yang kedua.
- Kata al-insaan di ayat ini mencakup seluruh manusia tanpa membedakan golongan. Orang yang beriman dan orang yang mendustakan sama-sama diciptakan, dan penciptaan itu disebut sebagai nikmat bagi keduanya. Pertanyaan yang berulang di surah ini ditujukan kepada semua pihak yang menerima nikmat itu. Kesadaran bahwa setiap orang yang ditemui hari ini juga termasuk dalam kalimat khalaqa l-insaan dapat melunakkan cara seseorang memandang orang yang berbeda dengannya.
- Keberadaan diri jarang dihitung sebagai nikmat, karena keberadaan itu mendahului setiap hitungan yang pernah dibuat seseorang. Surah ini menyebut penciptaan manusia di urutan kedua dalam daftar nikmat, sebelum matahari dan bulan. Bangun di pagi hari dengan napas yang masih berjalan termasuk dalam pemberian yang disebut ayat ini. Allah memasukkan keberadaan manusia ke dalam daftar yang kemudian ditanyakan, sehingga rasa syukur dapat dimulai dari kenyataan bahwa seseorang ada.