عَلَّمَهُ الْبَيَانَ
Dia mengajarinya pandai menjelaskan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- عَلَّمَهُ الْبَيَانَ'allamahu l-bayaanaDia mengajarinya pandai menjelaskan
Terjemahan per kata (2 kata)
- عَلَّمَهُ'allamahudiajarkan kepadanya
- الْبَيَانَl-bayaanapandai menjelaskan
Inti bacaan
Sebelum berbicara di rapat atau menulis pesan, menimbang apakah kalimatnya menerangkan atau sekadar ingin menang membantu memakai karunia lisan dengan benar.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (عَلَّمَهُ الْبَيَانَ, 'allamahu l-bayaana) yang berarti "Dia mengajarinya pandai menjelaskan". Kata kerja 'allama sama dengan 55:2, dan kali ini membawa akhiran -hu, "-nya", yang kembali kepada al-insaan di 55:3. Kata al-bayaan berakar ب-ي-ن, akar yang dipakai untuk kejelasan dan perbuatan membuat sesuatu menjadi jelas.
Kata bayaan tercatat di 3 ayat. Di 3:138 disebut (هَٰذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ, haadzaa bayaanun li-n-naasi) yang berarti "inilah keterangan bagi manusia", disertai petunjuk dan pelajaran bagi orang-orang bertakwa. Di 75:19 disebut (ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ, tsumma inna 'alaynaa bayaanahu) yang berarti "kemudian sesungguhnya atas Kamilah penjelasannya". Di dua ayat itu bayaan menyebut keterangan yang disampaikan lewat wahyu, sedangkan di ayat ini bayaan menjadi kemampuan yang diajarkan kepada manusia.
Rangkaian 75:17-19 memuat dua kata yang juga bertemu di pembuka surah ini. Di 75:17 disebut (إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ, inna 'alaynaa jam'ahu wa-qur'aanahu) yang berarti "sesungguhnya atas Kamilah mengumpulkannya dan membacakannya", lalu 75:19 menyebut penjelasannya. Kata qur'aan dan bayaan hadir di 75:17-19 dan di 55:2-4. Di Surah Al-Qiyaamah keduanya disebut sebagai tanggungan Allah atas wahyu, dan di surah ini keduanya disebut sebagai pengajaran-Nya.
Akar ب-ي-ن juga menyebut tugas para utusan. Di 14:4 setiap rasul diutus dengan bahasa kaumnya (لِيُبَيِّنَ لَهُمْ, li-yubayyina lahum) yang berarti "agar dia menjelaskan kepada mereka", dan di 16:44 Nabi diberi peringatan (لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ, li-tubayyina li-n-naasi maa nuzzila ilayhim) yang berarti "agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka". Di 16:89 kitab itu sendiri disebut (تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ, tibyaanan li-kulli syay'in) yang berarti "sebagai penjelasan bagi segala sesuatu".
Akar yang sama juga dipakai untuk kemampuan yang disalahgunakan atau direndahkan. Di 16:4 manusia disebut (خَصِيمٌ مُبِينٌ, khashiimun mubiinun) yang berarti "pembantah yang nyata", dan di 43:52 Firaun merendahkan Musa dengan (وَلَا يَكَادُ يُبِينُ, wa-laa yakaadu yubiinu) yang berarti "dan hampir tidak dapat menjelaskan".
Pola pengajaran yang disusul penyampaian juga terlihat pada Adam. Di 2:31 Adam diajari nama-nama, dan di 2:33 Allah memerintahkannya menyampaikan nama-nama itu kepada para malaikat, (يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ, yaa aadamu anbi'hum bi-asmaa'ihim) yang berarti "wahai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu". Pengetahuan yang diajarkan Allah kepada Adam tidak berhenti padanya, dan kemampuan untuk memberitahukannya menjadi bagian dari pengajaran itu.
Tafsiran
Ayat ini menutup kelompok pembuka surah. Al-Qur'an diajarkan, manusia diciptakan, lalu manusia diajari kemampuan menjelaskan. Ketiga ayat itu membentuk satu gerakan, dari kejelasan yang diturunkan sampai kemampuan manusia untuk menerima dan meneruskannya. Dengan kemampuan itu manusia dapat memahami bacaan yang diajarkan dan menyampaikannya kepada orang lain, sebagaimana Adam diajari nama-nama lalu diminta memberitahukannya kepada para malaikat (2:31-33).
Pertemuan qur'aan dan bayaan di 75:17-19 dan di 55:2-4 memperlihatkan dari mana kejelasan itu bermula. Di 75:19 penjelasan wahyu disebut sebagai tanggungan Allah, dan di ayat ini kemampuan menjelaskan disebut sebagai pengajaran-Nya kepada manusia. Kejelasan yang dimiliki manusia berasal dari Dia yang lebih dulu menjelaskan.
Tugas para utusan di 14:4 dan 16:44 memakai akar yang sama. Kemampuan yang diajarkan di ayat ini menjadi sarana penyampaian risalah, karena seorang rasul diutus dengan bahasa kaumnya agar dapat menjelaskan. Di sisi lain 16:4 dan 43:52 memperlihatkan bahwa kemampuan itu dapat dipakai untuk membantah, dan kekurangannya dapat dijadikan bahan ejekan. Ayat ini menyebut kemampuan menjelaskan sebagai nikmat, dan cara pemakaiannya diserahkan kepada manusia yang diajari.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut kemampuan menjelaskan sebagai sesuatu yang diajarkan-Nya. Orang yang pandai berbicara mudah menganggap kecakapannya hasil usahanya sendiri, lalu memandang rendah orang yang terbata-bata. Ayat ini menempatkan kecakapan itu dalam daftar nikmat Ar-Rahman, sejajar dengan penciptaan manusia. Kesadaran bahwa kemampuan menyusun kata berasal dari pengajaran-Nya dapat menumbuhkan rendah hati pada orang yang fasih dan rasa syukur pada setiap orang yang dapat mengungkapkan maksudnya.
- Manusia yang diciptakan dari setetes mani disebut pembantah yang nyata di 16:4, dengan akar yang sama dengan bayaan. Kemampuan yang diajarkan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dapat dipakai untuk memenangkan perdebatan, mengaburkan kesalahan, atau membela diri tanpa dasar. Setiap percakapan menjadi tempat kemampuan itu dipakai ke salah satu arah. Kemampuan menjelaskan yang diajarkan Allah dipakai untuk apa dalam percakapan-percakapan hari ini, untuk memperjelas atau untuk memenangkan?
- Firaun merendahkan Musa di 43:52 sebagai orang yang hampir tidak dapat menjelaskan, dan di 20:27-28 Musa sendiri berdoa agar kekakuan lidahnya dilepaskan supaya perkataannya dipahami. Doa itu dikabulkan di 20:36. Orang yang kesulitan berbicara di depan orang lain tidak kehilangan tempatnya dalam ayat ini. Kemampuan menjelaskan diajarkan oleh Allah, dan Dia mengabulkan permintaan Musa untuk memperbaikinya, sehingga seseorang dapat memohon kepada-Nya agar diajari lebih baik lagi.
- Setiap rasul diutus dengan bahasa kaumnya agar dapat menjelaskan kepada mereka (14:4). Menjelaskan berarti memakai bahasa yang dimengerti pendengar, dan kebenaran yang disampaikan dengan bahasa asing bagi pendengarnya tidak sampai kepada mereka. Orang tua yang berbicara kepada anak, guru kepada murid, atau siapa pun yang menyampaikan kabar baik kepada orang lain dapat bercermin pada ayat itu. Allah mengutus para rasul dengan bahasa kaum mereka, dan kejelasan menuntut penyampai yang mau turun ke bahasa pendengarnya.
- Penjelasan wahyu disebut Allah sebagai tanggungan-Nya di 75:19. Orang yang merasa kesulitan memahami Al-Qur'an dapat bersandar kepada janji itu sambil terus membaca dan bertanya. Pemahaman yang datang kemudian tidak lahir dari kecerdasan pembaca semata. Kemampuan menjelaskan yang diajarkan di ayat ini dan penjelasan yang dijanjikan di 75:19 berasal dari sumber yang sama, sehingga permohonan untuk dimudahkan memahami termasuk doa yang pantas dipanjatkan sebelum membaca.
- Di 2:159 Allah mengecam orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan-Nya berupa bukti-bukti yang jelas, (مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ, min ba'di maa bayyannaahu li-n-naasi) yang berarti "setelah Kami jelaskan kepada manusia". Kemampuan menjelaskan membawa tanggung jawab untuk tidak menyembunyikan kejelasan yang sudah diterima. Diam ketika kebenaran perlu disampaikan, atau menyampaikannya dengan kata-kata yang sengaja dikaburkan, berlawanan dengan nikmat yang disebut ayat ini.