عَلَّمَهُ الْبَيَانَ
Dia mengajarinya pandai menjelaskan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- عَلَّمَهُ الْبَيَانَ'allamahu l-bayaanaDia mengajarinya pandai menjelaskan
Terjemahan per kata (2 kata)
- عَلَّمَهُ'allamahudiajarkan kepadanya
- الْبَيَانَl-bayaanapandai menjelaskan
Inti bacaan
Nikmat ketiga: 'Dia mengajarinya pandai menjelaskan', kemampuan berbahasa dan mengartikulasikan pikiran diakui sebagai anugerah istimewa, dasar bagi penghargaan terhadap kemampuan komunikasi sebagai hal yang tidak boleh disepelekan.
Penjelasan pilihan kata
Kata yang menjadi isi pengajaran ini tak terulang. Bentuk “pandai menjelaskan” (الْبَيَانَ, al-bayaana) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya berkaitan dengan menjadi terang dan membuat terang. Jadi yang diajarkan bukan kemampuan mengeluarkan suara, melainkan kemampuan membuat sesuatu menjadi jelas bagi orang lain.
Pembedaan itu menentukan. Banyak makhluk bersuara, dan sebagian bahkan saling memberi tanda. Yang disebut di sini bukan itu. Membuat terang menuntut dua hal sekaligus: memahami sesuatu, dan menyusunnya sedemikian rupa sehingga orang lain ikut memahaminya. Yang kedua bukan kelanjutan otomatis dari yang pertama.
Kata kerjanya pun mengajari, bukan memberi. Perbedaan itu disebut dengan sengaja. Sesuatu yang diberikan tinggal dipakai; sesuatu yang diajarkan menuntut proses, dan proses itu bisa berjalan lambat, bisa terhenti, dan bisa dilalaikan. Kemampuan menjelaskan digambarkan sebagai hal yang dipelajari, bukan bakat yang melekat sejak lahir.
Letaknya sebagai anugerah ketiga menutup rangkaian pembuka surah ini dengan rapi. Yang pertama pengajaran kitab, yang kedua penciptaan manusia, yang ketiga pengajaran kemampuan menerangkan. Dua dari tiga tentang mengajar, dan yang di tengah menghubungkan keduanya. Kitab diajarkan lebih dahulu, lalu diadakan yang akan menerimanya, lalu yang menerima itu diberi kemampuan meneruskannya kepada orang lain. Dibaca begitu, ketiga ayat itu satu kalimat panjang tentang bagaimana keterangan berpindah.
Akar kata yang dipakai di sini muncul juga pada sebutan bagi kitab itu sendiri di tempat lain, yaitu ketika ia disebut penjelasan tuntas bagi segala sesuatu (تِبْيَانًا, tibyaanan) di 16:89, sebuah bentuk yang juga hanya sekali dipakai di seluruh Al-Qur'an. Jadi akar yang sama menamai sifat kitabnya dan kemampuan yang diajarkan kepada manusia. Yang menerangkan dan yang diberi kemampuan menerangkan berbagi satu akar kata, dan kesamaan itu bukan kebetulan bunyi.
Letaknya sesudah penciptaan pun berarti. Kalau kemampuan itu melekat sejak dijadikan, ia akan disebut bersama penciptaannya di ayat sebelumnya. Karena disebut terpisah dan sesudahnya, ia digambarkan sebagai sesuatu yang ditambahkan kepada makhluk yang sudah ada. Manusia diadakan lebih dahulu, baru diberi kemampuan menerangkan, dan urutan itu menyisakan kemungkinan bahwa seseorang bisa ada tanpa pernah benar-benar memakainya. Sesuatu yang ditambahkan memang selalu bisa dibiarkan menganggur, berbeda dari sesuatu yang melekat sejak semula, dan yang menganggur lama-lama tak lagi terasa pernah diberikan.
Tafsiran
Ayat ini menyebut anugerah ketiga, yaitu kemampuan menerangkan, dan pemilihan kata untuk menyebutnya menentukan seluruh bacaan. Yang diajarkan bukan bersuara dan bukan pula berbicara.
Kata yang dipakai hanya sekali muncul di seluruh kitab ini, dan akarnya berkaitan dengan menjadi terang serta membuat terang. Membuat terang menuntut dua hal sekaligus: memahami sesuatu, dan menyusunnya sedemikian rupa sehingga orang lain ikut memahaminya. Yang kedua bukan kelanjutan otomatis dari yang pertama, dan banyak orang yang memahami tetap tidak sanggup menerangkan.
Kata kerjanya pun mengajari, bukan memberi. Perbedaan itu memindahkan kemampuan menerangkan dari golongan bakat ke golongan hal yang dipelajari. Sesuatu yang diberikan tinggal dipakai; sesuatu yang diajarkan menuntut proses, dan proses bisa berjalan lambat, bisa terhenti, dan bisa dilalaikan.
Letaknya sebagai penutup rangkaian pembuka surah ini menyatukan ketiga ayat sebelumnya menjadi satu gerakan. Kitab diajarkan lebih dahulu, lalu diadakan yang akan menerimanya, lalu yang menerima itu diberi kemampuan meneruskannya kepada orang lain. Dibaca begitu, tiga ayat pendek di pembuka surah ini sesungguhnya satu kalimat panjang tentang bagaimana keterangan berpindah dari sumbernya sampai ke penerima sekaligus penerus.
Akar kata yang dipakai di sini muncul juga pada sebutan bagi kitab itu sendiri di tempat lain, yaitu ketika ia disebut penjelasan tuntas bagi segala sesuatu (16:89), sebuah bentuk yang hanya sekali dipakai di seluruh Al-Qur'an. Jadi akar yang sama menamai sifat kitabnya dan kemampuan yang diajarkan kepada manusia. Yang menerangkan dan yang diberi kemampuan menerangkan berbagi satu akar kata.
Kalau ketiga ayat pembuka ini dibaca sebagai satu gerakan, maka manusia berdiri di tengah bukan sebagai tujuan akhir melainkan sebagai penyambung. Ia menerima keterangan, lalu diberi kemampuan meneruskannya. Sebuah rangkaian yang dimulai dari pengajaran dan berakhir pada kemampuan mengajarkan menutup lingkarannya sendiri, dan lingkaran itu berhenti hanya kalau salah satu orang di dalamnya berhenti meneruskan.penerus.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut mengajari, bukan memberi. Bukan bakat. Diajarkan. Menyebutnya diajarkan juga berarti ada pengajarnya. Kemampuan yang dianggap bakat tidak menuntut hubungan dengan siapa pun, sedangkan kemampuan yang diajarkan selalu menyisakan pihak kedua yang tidak bisa dilupakan begitu saja.
- Yang diajarkan bukan berbicara, melainkan menjelaskan. Bersuara bisa banyak makhluk. Menerangkan tidak. Yang membedakan menerangkan dari bersuara adalah adanya maksud yang dipindahkan. Suara cuma perlu terdengar, sedangkan keterangan harus sampai. Yang diajarkan di sini bagian yang kedua, dan bagian itu bisa gagal sekalipun suaranya jelas.
- Nikmat ini disebut sesudah pengajaran kitab. Allah menaruhnya berdampingan. Diajari kitabnya, diajari juga menerangkannya. Menaruh keduanya berdampingan menyiratkan bahwa yang satu disiapkan untuk yang lain. Kemampuan menerangkan diberikan kepada makhluk yang sudah lebih dahulu diberi sesuatu yang layak diterangkan, dan urutan itu menentukan untuk apa kemampuan tersebut ada.
- Allah menyebutnya diajarkan, dan menyebutnya sesudah penciptaan, bukan bersamaan. Sesuatu yang ditambahkan sesudah ada selalu bisa dibiarkan menganggur, berbeda dari yang melekat sejak semula. Sesuatu yang ditambahkan juga bisa dipakai untuk hal yang bukan tujuannya. Kemampuan menerangkan bisa dipakai untuk mengaburkan, dan itu pemakaian yang justru menuntut kecakapan lebih tinggi daripada menerangkan dengan jujur.
- Allah menyebut kemampuan menerangkan itu diajarkan, bukan melekat sejak dijadikan, dan sesuatu yang ditambahkan selalu bisa dibiarkan menganggur. Kapan terakhir kali kita memakainya untuk membuat sesuatu menjadi jelas bagi orang lain? Kemampuan yang tidak dipakai tidak hilang, tetapi ia berhenti berkembang, dan lama-lama orangnya menyangka memang tidak pernah memilikinya.
- Kata الْبَيَانَ hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran, yaitu di ayat ini. Tidak ada tempat lain yang memakainya, sehingga tidak ada ayat pembanding yang bisa dipakai untuk mempersempit atau memperluas maksudnya. Yang tersedia cuma letaknya, dan letaknya berbicara banyak: ia disebut sesudah kitab diajarkan dan sesudah manusia diciptakan, sebagai pemberian ketiga dalam urutan pembuka surah ini. Kemampuan menyampaikan maksud kepada orang lain diletakkan Allah sejajar dengan penciptaan dan pengajaran kitab, bukan sebagai keterampilan tambahan yang boleh dimiliki sebagian orang saja. Akibatnya terasa pada cara kita menilai diri. Orang biasa berkata dirinya tidak pandai bicara lalu menganggap perkara itu selesai. Ayat ini tidak menyediakan pintu tersebut. Yang disebut bukan kepandaian menyusun kalimat yang indah, melainkan kemampuan membuat sesuatu menjadi terang bagi orang lain, dan kemampuan itu diberikan kepada semua, sekalipun kadarnya berbeda dari satu orang ke orang lain.