Ayat 55:5

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

Matahari dan bulan menurut perhitungan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍasy-syamsu wa-l-qamaru bi-husbaaninmatahari dan bulan menurut perhitungan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. الشَّمْسُasy-syamsumatahari
  2. وَالْقَمَرُwa-l-qamarudan bulan
  3. بِحُسْبَانٍbi-husbaanindengan perhitungan

Inti bacaan

Menepati janji temu, melunasi utang pada tanggalnya, dan datang tepat waktu meneladani ketepatan matahari dan bulan dalam hitungan yang ditetapkan-Nya.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ, asy-syamsu wa-l-qamaru bi-husbaanin) yang berarti "matahari dan bulan menurut perhitungan". Kalimat ini tidak memuat kata kerja. Matahari dan bulan disebut sebagai pokok kalimat, dan keterangannya berupa bi-husbaan, "dengan perhitungan". Terjemahan ini tidak menambahkan kata kerja seperti "beredar", karena ayatnya menyatakan keadaan matahari dan bulan tanpa menyebut gerak.

Kata husbaan berakar ح-س-ب dan tercatat di 3 ayat. Di 6:96 kata itu juga menyertai matahari dan bulan, (وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا, wa-sy-syamsa wa-l-qamara husbaanan) yang berarti "dan matahari dan bulan untuk perhitungan", dan ayat itu ditutup dengan (ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ, dzaalika taqdiiru l-'aziizi l-'aliimi) yang berarti "itulah ketetapan Sang Digdaya lagi Sang Berilmu". Ungkapan penutup itu dipakai lagi di 36:38, sesudah (وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا, wa-sy-syamsu tajrii li-mustaqarrin lahaa) yang berarti "dan matahari berjalan menuju tempat ketetapannya", lalu 36:39 menyebut bulan yang ditetapkan tempat-tempat peredarannya sampai kembali seperti tandan kurma yang tua. Di 18:40 kata yang sama menyebut sesuatu yang dikirim dari langit ke atas kebun, (حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ, husbaanan mina s-samaa'i) yang berarti "bencana dari langit". Akar ح-س-ب juga membentuk hisaab, perhitungan, yang di banyak ayat menyebut perhitungan amal.

Kegunaan hitungan itu disebut di 10:5. Bulan diberi tempat-tempat peredaran (لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ, li-ta'lamuu 'adada s-siniina wa-l-hisaaba) yang berarti "agar kalian mengetahui bilangan tahun dan perhitungan", dan 17:12 memuat ungkapan yang sama. Di 2:189 bulan-bulan sabit disebut (مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ, mawaaqiitu li-n-naasi wa-l-hajji) yang berarti "waktu-waktu bagi manusia dan haji".

Matahari dan bulan disebut berdampingan di 15 ayat. Di beberapa di antaranya gerak keduanya dinyatakan dengan kata kerja. Di 13:2, 35:13, dan 39:5 disebut (كُلٌّ يَجْرِي, kullun yajrii) yang berarti "masing-masing beredar", disusul batas waktu yang ditentukan, dan di 36:40 disebut (وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ, wa-kullun fii falakin yasbahuuna) yang berarti "dan masing-masing beredar pada garis edarnya". Ayat ini menyebut keduanya tanpa kata kerja gerak, dan keterangannya berhenti pada hitungan. Di surah ini kata syams dan qamar hadir di ayat ini saja.

Ayat ini masih tersusun tanpa kata sambung wa- di awalnya, seperti 55:2-4. Kata sambung itu baru membuka ayat di 55:6, dan ayat itu memuat kata kerja yang tidak ada di ayat ini, (يَسْجُدَانِ, yasjudaani) yang berarti "keduanya sujud", untuk bintang dan pepohonan.

Tafsiran

Ayat ini memindahkan pandangan dari manusia ke langit. Tiga ayat sebelumnya menyebut pengajaran dan penciptaan manusia, dan ayat ini menyebut dua benda langit yang terlihat jelas setiap hari. Rangkaian itu berlanjut ke bintang dan pepohonan (55:6), langit yang ditinggikan dan timbangan (55:7), lalu larangan melampaui batas dalam timbangan dan perintah menegakkannya dengan adil (55:8-9). Keteraturan di langit disebut lebih dulu, dan tuntutan keadilan kepada manusia menyusul sesudahnya.

Susunan ayat yang tidak memuat gerak menyatakan hitungan matahari dan bulan sebagai keadaan yang tetap. Di ayat-ayat lain keduanya disebut beredar menuju batas waktu (13:2), sedangkan di sini yang ditonjolkan ketepatannya. Hitungan itu dapat dipakai manusia untuk mengetahui bilangan tahun (10:5) dan waktu-waktu ibadah (2:189), sehingga keteraturan langit masuk ke dalam daftar nikmat Ar-Rahman sebagai sesuatu yang menopang kehidupan sehari-hari.

Bulan juga hadir di ayat pertama surah sebelumnya, (وَانْشَقَّ الْقَمَرُ, wa-nsyaqqa l-qamaru) yang berarti "dan bulan pun terbelah" (54:1), sebagai tanda dekatnya Saat itu. Di surah ini bulan yang sama disebut bersama hitungannya. Dua surah yang berurutan memperlihatkan bulan dalam dua keadaan, sebagai tanda keteraturan yang berlaku sekarang dan sebagai tanda akhir keteraturan itu. Surah ini sendiri kelak menyebut langit yang terbelah (55:37), sehingga hitungan yang disebut di ayat ini berlaku sampai batas waktu yang ditetapkan untuknya.

Renungan dan Hikmah

  • Setiap penanggalan, jadwal tanam, dan waktu ibadah bertumpu pada hitungan matahari dan bulan. Di 2:189 bulan-bulan sabit disebut sebagai waktu-waktu bagi manusia dan haji. Manusia menyusun kalender dengan membaca hitungan yang sudah berjalan jauh sebelum kelahirannya, hitungan yang tidak pernah diciptakannya. Allah menyebut hitungan itu dalam daftar nikmat-Nya, sehingga setiap kali seseorang melihat jam atau kalender, orang itu sedang memakai pemberian yang disebut ayat ini.
  • Matahari terbit setiap pagi tanpa pernah terlambat, dan bulan berganti bentuk menurut hitungan yang sama setiap bulan. Sesuatu yang selalu tepat lama-lama berhenti diperhatikan, seperti udara yang baru terasa ketika sesak. Ayat ini menyebut keteraturan itu dengan tegas sebagai bagian dari nikmat Ar-Rahman. Rasa syukur dapat dimulai dari hal yang tidak pernah gagal, karena hal yang selalu hadir lebih mudah terlupakan daripada hal yang sesekali hilang.
  • Matahari dan bulan disebut tanpa ukuran, jarak, atau kekuatan cahayanya. Keterangan yang diberikan berupa hitungan yang mengikat keduanya. Tiga ayat kemudian timbangan disebut diletakkan agar manusia tidak melampaui batas di dalamnya (55:7-8). Benda-benda langit berjalan dalam hitungan yang ditetapkan Allah, dan manusia diminta menjaga ukuran dalam urusannya sendiri. Kalau matahari dan bulan tidak keluar dari hitungannya, batas mana yang sedang dilampaui seseorang dalam timbangan hidupnya?
  • Di 10:5 hitungan bulan disebut sebagai sarana untuk mengetahui bilangan tahun. Bilangan tahun itu mencakup umur setiap orang. Di 13:2 matahari dan bulan disebut beredar sampai batas waktu yang ditentukan, dan umur manusia juga berjalan menuju batas waktunya. Setiap matahari terbit menambah satu hari yang sudah terpakai. Allah menyebut hitungan itu sebagai nikmat, dan kesadaran tentang hari yang terhitung dapat mendorong seseorang mengisi harinya dengan lebih sungguh-sungguh.
  • Ayat tentang hitungan yang tepat ini datang sesudah nama Ar-Rahman di ayat pertama. Kasih sayang tidak selalu tampil sebagai kelembutan, dan sebagian wujudnya berupa kepastian yang dapat disandari. Petani menanam karena musim dapat diperkirakan, dan musafir berangkat karena siang dan malam datang menurut hitungan. Allah menyediakan keteraturan yang tidak berubah-ubah menurut suasana, dan keteraturan itu memberi manusia ruang untuk merencanakan hidupnya dengan tenang.
  • Bulan yang disebut bersama hitungannya di ayat ini disebut terbelah di 54:1 sebagai tanda dekatnya Saat itu. Keteraturan yang terlihat setiap malam tidak berlaku selamanya. Orang yang terbiasa dengan hari-hari yang berjalan tertib mudah mengira bahwa semuanya akan terus begitu. Allah menyebut hitungan matahari dan bulan sebagai nikmat, dan di surah yang sama menyebut langit yang kelak terbelah (55:37), sehingga nikmat keteraturan itu terbaca sebagai pemberian yang memiliki batas waktu.
  • Kata husbaan yang di ayat ini menyertai matahari dan bulan dipakai di 18:40 untuk bencana dari langit yang dimohonkan atas sebuah kebun. Keteraturan yang menenangkan dan musibah yang datang tiba-tiba disebut dengan kata yang sama. Kebun di 18:42 memang roboh, dan pemiliknya menyesal sambil membolak-balikkan kedua telapak tangannya. Peristiwa yang terasa acak bagi manusia tetap berada dalam ukuran yang ditetapkan Allah, dan kesadaran itu dapat menjaga seseorang dari rasa aman yang berlebihan ketika hidup berjalan tertib.

Ayat 55:6

وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ

dan bintang serta pepohonan bersujud,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُwa-n-najmu wa-sy-syajarudan bintang serta pepohonan
  2. يَسْجُدَانِyasjudaanibersujud

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَالنَّجْمُwa-n-najmudan bintang
  2. وَالشَّجَرُwa-sy-syajarudan pepohonan
  3. يَسْجُدَانِyasjudaanikeduanya bersujud

Inti bacaan

Mengawali pagi dengan melihat ke luar jendela, mengingat ciptaan yang sudah tunduk sejak subuh, kemudian bergegas mendirikan salat tanpa menunda-nunda.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ, wa-n-najmu wa-sy-syajaru yasjudaani) yang berarti "dan bintang serta pepohonan bersujud". Kata kerja yasjudaani berakar س-ج-د dan berbentuk dua, "keduanya bersujud", sesuai dengan dua pelaku yang disebut di depannya. Akar س-ج-د tercatat di 81 ayat, sedangkan bentuk yasjudaani tercatat di ayat ini saja. Di 55:2-4 pelaku setiap kata kerja kembali kepada Ar-Rahman, dan 55:5 tidak memuat kata kerja, sehingga yasjudaani menjadi kata kerja pertama dalam surah ini yang pelakunya ciptaan.

Kata (النَّجْمُ, an-najmu) yang berarti "bintang" dalam bentuk tunggal tercatat di 4 ayat. Di 86:3 kata itu hadir dalam (النَّجْمُ الثَّاقِبُ, an-najmu ts-tsaaqibu) yang berarti "bintang yang menembus", di 53:1 dalam (وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ, wa-n-najmi idzaa hawaa) yang berarti "demi bintang ketika terbenam", dan di 16:16 dalam (وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ, wa-bi-n-najmi hum yahtaduuna) yang berarti "dan dengan bintang-bintang mereka mendapat petunjuk". Di ketiga ayat itu najm menunjuk benda langit yang terbenam, menembus gelap, dan menjadi penunjuk arah, dan terjemahan ini memakai "bintang" di 55:6 dengan dasar yang sama. Letaknya sesudah matahari dan bulan di 55:5 sejalan dengan pembacaan itu.

Kata (وَالشَّجَرُ, wa-sy-syajaru) yang berarti "dan pepohonan" menyebut pohon sebagai kumpulan, dan kata ini tercatat di 7 ayat. Sebatang pohon disebut dengan bentuk tunggal syajarah, misalnya pohon yang dilarang didekati di 2:35. Di 22:18 bintang dan pepohonan berada dalam satu daftar yang bersujud, (وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ, wa-sy-syamsu wa-l-qamaru wa-n-nujuumu wa-l-jibaalu wa-sy-syajaru) yang berarti "juga matahari, bulan, bintang, gunung, pohon". Di sana bintang disebut dalam bentuk jamak, nujuum, dan daftarnya berlanjut sampai hewan melata dan kebanyakan manusia. Surah ini menyebut matahari dan bulan di 55:5, lalu bintang dan pepohonan di 55:6, sehingga empat unsur dari daftar 22:18 hadir dengan urutan yang sama di dua ayat ini.

Sasaran sujud seluruh ciptaan disebut di ayat-ayat lain. Di 13:15 kalimatnya dibuka dengan (وَلِلَّهِ يَسْجُدُ, wa-li-llaahi yasjudu) yang berarti "dan kepada Allah bersujud", lalu menyebut siapa yang ada di langit dan di bumi, dengan sukarela atau terpaksa, beserta bayang-bayang mereka pada waktu pagi dan petang. Di 16:48 bayang-bayang segala sesuatu berbolak-balik ke kanan dan ke kiri (سُجَّدًا لِلَّهِ, sujjadan li-llaahi) yang berarti "bersujud kepada Allah", dan di 16:49 serta 22:18 sasaran itu juga dinyatakan. Di 55:6 kata kerjanya berdiri tanpa sasaran, dan sasaran itu terbaca dari nama yang membuka rangkaian di 55:1.

Ayat ini juga ayat pertama dalam surah yang dibuka dengan kata sambung wa-, pada (وَالنَّجْمُ, wa-n-najmu) yang berarti "dan bintang". Sesudahnya kata sambung itu membuka 55:7, 55:9, 55:10, dan 55:12, sehingga daftar yang semula berupa kalimat-kalimat lepas di 55:2-5 mulai tersambung satu sama lain.

Tafsiran

Ayat ini menempatkan dua ciptaan yang berjauhan dalam satu kata kerja. Bintang berada di langit dan pepohonan berakar di tanah, dan keduanya disebut sebagai satu pasangan yang bersujud. Susunan 55:5-6 bergerak dari matahari dan bulan ke bintang, lalu sampai ke pepohonan, sehingga ketundukan ciptaan terbentang dari langit sampai ke bumi sebelum 55:7 kembali menyebut langit yang ditinggikan.

Di ayat-ayat lain sujud ciptaan digambarkan lewat keadaan yang dapat dilihat. Bayang-bayang pada pagi dan petang di 13:15 dan bayang-bayang yang berbolak-balik di 16:48 disebut bersujud, sehingga sujud itu terbaca pada keadaan ciptaan yang berjalan menurut ketentuan atasnya. Cara bintang dan pepohonan bersujud tidak diterangkan di ayat ini, dan surah ini menyebutnya sebagai kenyataan tanpa merinci rupanya.

Kesejajaran dengan 22:18 memperlihatkan satu perbedaan. Di sana daftar yang bersujud berakhir dengan (وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ, wa-katsiirun mina n-naasi) yang berarti "dan kebanyakan manusia", disusul kabar bahwa banyak pula yang pantas mendapat azab. Bintang dan pepohonan bersujud tanpa pengecualian, sedangkan manusia terbagi. Dua ayat sesudah ini, 55:8-9, surah ini untuk pertama kalinya menyapa "kalian" secara langsung dengan larangan dan perintah, karena golongan yang dapat memilih memerlukan seruan.

Renungan dan Hikmah

  • Di 22:18 matahari, bulan, bintang, gunung, pohon, dan hewan melata disebut bersujud kepada Allah, sedangkan manusia disebut "kebanyakan", dan banyak pula yang pantas mendapat azab. Pepohonan di halaman rumah dan bintang di atas atap tidak pernah absen dari sujud itu. Manusia berdiri di tengah ciptaan yang tunduk dan menjadi golongan yang dapat menolak. Kalau pohon yang tidak berakal pun disebut bersujud, di barisan mana seseorang menempatkan dirinya hari ini?
  • Bintang berada di tempat yang tidak terjangkau tangan, dan pepohonan berakar di tanah yang diinjak setiap hari. Ayat ini menyatukan keduanya dalam satu kata kerja, sehingga ketundukan kepada Allah terbentang dari yang terjauh sampai yang terdekat. Orang yang merasa jauh dari suasana ibadah dapat mulai dari yang dekat, dari pohon di tepi jalan yang disebut Al-Qur'an sedang bersujud. Pemandangan sehari-hari berubah menjadi pengingat ketika dibaca bersama ayat ini.
  • Bayang-bayang disebut bersujud di 13:15 dan 16:48, pada pagi dan petang, ke kanan dan ke kiri. Sujud ciptaan terlihat pada keadaannya yang berjalan menurut ketentuan Allah, tanpa jeda dan tanpa tawar-menawar. Manusia mengenal sujud sebagai gerakan dalam salat, dan ayat ini meluaskan pandangan itu kepada seluruh hari. Kepatuhan pada ketentuan-Nya ketika menimbang, berbicara, dan memutuskan sejalan dengan ketundukan yang sama, walau tidak disertai gerakan tubuh.
  • Tiga ayat pertama sesudah nama Ar-Rahman menyebut perbuatan-Nya, mengajar, menciptakan, dan mengajari. Ayat ini menyebut perbuatan pertama dari pihak ciptaan, dan perbuatan itu berupa sujud. Urutan itu memperlihatkan jawaban yang pantas atas pemberian, yaitu ketundukan kepada Pemberinya. Seseorang yang menerima banyak nikmat dalam sehari dapat bertanya bagaimana jawabannya sendiri tampak dalam sikap dan perbuatannya. Bintang dan pepohonan menjawab dengan keadaannya, sedangkan manusia yang diajari penjelasan di 55:4 dapat menjawab dengan kesadaran.
  • Di 16:16 bintang disebut sebagai penunjuk jalan bagi orang-orang yang bepergian. Bintang yang bersujud di ayat ini juga yang menuntun musafir di malam hari. Ketundukan dan kegunaan hadir pada benda yang sama, karena bintang tetap berada di tempat yang ditentukan Allah sehingga arahnya dapat diandalkan. Di 16:16 bintang disebut bersama tanda-tanda penunjuk jalan yang lain, dan keduanya disediakan bagi orang yang mencari arah. Orang yang teguh pada ketentuan-Nya sering menjadi pegangan bagi orang lain tanpa pernah berniat menjadi penunjuk jalan.
  • Pepohonan tumbuh di tempat benihnya jatuh, menjulang ke arah cahaya, dan berbuah pada musimnya. Ayat ini menyebut kehidupan yang tenang dan tetap itu sebagai sujud. Manusia sering gelisah ingin berada di tempat lain dan mengukur hidupnya dari seberapa jauh berpindah. Pohon bertahan di tempatnya sambil terus tumbuh, dan kesabaran seperti itu dapat ditiru siapa saja yang sedang menjalani keadaan yang belum bisa diubahnya.