الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

Matahari dan bulan menurut perhitungan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍasy-syamsu wa-l-qamaru bi-husbaaninmatahari dan bulan menurut perhitungan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. الشَّمْسُasy-syamsumatahari
  2. وَالْقَمَرُwa-l-qamarudan bulan
  3. بِحُسْبَانٍbi-husbaanindengan perhitungan

Inti bacaan

Menepati janji temu, melunasi utang pada tanggalnya, dan datang tepat waktu meneladani ketepatan matahari dan bulan dalam hitungan yang ditetapkan-Nya.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ, asy-syamsu wa-l-qamaru bi-husbaanin) yang berarti "matahari dan bulan menurut perhitungan". Kalimat ini tidak memuat kata kerja. Matahari dan bulan disebut sebagai pokok kalimat, dan keterangannya berupa bi-husbaan, "dengan perhitungan". Terjemahan ini tidak menambahkan kata kerja seperti "beredar", karena ayatnya menyatakan keadaan matahari dan bulan tanpa menyebut gerak.

Kata husbaan berakar ح-س-ب dan tercatat di 3 ayat. Di 6:96 kata itu juga menyertai matahari dan bulan, (وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا, wa-sy-syamsa wa-l-qamara husbaanan) yang berarti "dan matahari dan bulan untuk perhitungan", dan ayat itu ditutup dengan (ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ, dzaalika taqdiiru l-'aziizi l-'aliimi) yang berarti "itulah ketetapan Sang Digdaya lagi Sang Berilmu". Ungkapan penutup itu dipakai lagi di 36:38, sesudah (وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا, wa-sy-syamsu tajrii li-mustaqarrin lahaa) yang berarti "dan matahari berjalan menuju tempat ketetapannya", lalu 36:39 menyebut bulan yang ditetapkan tempat-tempat peredarannya sampai kembali seperti tandan kurma yang tua. Di 18:40 kata yang sama menyebut sesuatu yang dikirim dari langit ke atas kebun, (حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ, husbaanan mina s-samaa'i) yang berarti "bencana dari langit". Akar ح-س-ب juga membentuk hisaab, perhitungan, yang di banyak ayat menyebut perhitungan amal.

Kegunaan hitungan itu disebut di 10:5. Bulan diberi tempat-tempat peredaran (لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ, li-ta'lamuu 'adada s-siniina wa-l-hisaaba) yang berarti "agar kalian mengetahui bilangan tahun dan perhitungan", dan 17:12 memuat ungkapan yang sama. Di 2:189 bulan-bulan sabit disebut (مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ, mawaaqiitu li-n-naasi wa-l-hajji) yang berarti "waktu-waktu bagi manusia dan haji".

Matahari dan bulan disebut berdampingan di 15 ayat. Di beberapa di antaranya gerak keduanya dinyatakan dengan kata kerja. Di 13:2, 35:13, dan 39:5 disebut (كُلٌّ يَجْرِي, kullun yajrii) yang berarti "masing-masing beredar", disusul batas waktu yang ditentukan, dan di 36:40 disebut (وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ, wa-kullun fii falakin yasbahuuna) yang berarti "dan masing-masing beredar pada garis edarnya". Ayat ini menyebut keduanya tanpa kata kerja gerak, dan keterangannya berhenti pada hitungan. Di surah ini kata syams dan qamar hadir di ayat ini saja.

Ayat ini masih tersusun tanpa kata sambung wa- di awalnya, seperti 55:2-4. Kata sambung itu baru membuka ayat di 55:6, dan ayat itu memuat kata kerja yang tidak ada di ayat ini, (يَسْجُدَانِ, yasjudaani) yang berarti "keduanya sujud", untuk bintang dan pepohonan.

Tafsiran

Ayat ini memindahkan pandangan dari manusia ke langit. Tiga ayat sebelumnya menyebut pengajaran dan penciptaan manusia, dan ayat ini menyebut dua benda langit yang terlihat jelas setiap hari. Rangkaian itu berlanjut ke bintang dan pepohonan (55:6), langit yang ditinggikan dan timbangan (55:7), lalu larangan melampaui batas dalam timbangan dan perintah menegakkannya dengan adil (55:8-9). Keteraturan di langit disebut lebih dulu, dan tuntutan keadilan kepada manusia menyusul sesudahnya.

Susunan ayat yang tidak memuat gerak menyatakan hitungan matahari dan bulan sebagai keadaan yang tetap. Di ayat-ayat lain keduanya disebut beredar menuju batas waktu (13:2), sedangkan di sini yang ditonjolkan ketepatannya. Hitungan itu dapat dipakai manusia untuk mengetahui bilangan tahun (10:5) dan waktu-waktu ibadah (2:189), sehingga keteraturan langit masuk ke dalam daftar nikmat Ar-Rahman sebagai sesuatu yang menopang kehidupan sehari-hari.

Bulan juga hadir di ayat pertama surah sebelumnya, (وَانْشَقَّ الْقَمَرُ, wa-nsyaqqa l-qamaru) yang berarti "dan bulan pun terbelah" (54:1), sebagai tanda dekatnya Saat itu. Di surah ini bulan yang sama disebut bersama hitungannya. Dua surah yang berurutan memperlihatkan bulan dalam dua keadaan, sebagai tanda keteraturan yang berlaku sekarang dan sebagai tanda akhir keteraturan itu. Surah ini sendiri kelak menyebut langit yang terbelah (55:37), sehingga hitungan yang disebut di ayat ini berlaku sampai batas waktu yang ditetapkan untuknya.

Renungan dan Hikmah

  • Setiap penanggalan, jadwal tanam, dan waktu ibadah bertumpu pada hitungan matahari dan bulan. Di 2:189 bulan-bulan sabit disebut sebagai waktu-waktu bagi manusia dan haji. Manusia menyusun kalender dengan membaca hitungan yang sudah berjalan jauh sebelum kelahirannya, hitungan yang tidak pernah diciptakannya. Allah menyebut hitungan itu dalam daftar nikmat-Nya, sehingga setiap kali seseorang melihat jam atau kalender, orang itu sedang memakai pemberian yang disebut ayat ini.
  • Matahari terbit setiap pagi tanpa pernah terlambat, dan bulan berganti bentuk menurut hitungan yang sama setiap bulan. Sesuatu yang selalu tepat lama-lama berhenti diperhatikan, seperti udara yang baru terasa ketika sesak. Ayat ini menyebut keteraturan itu dengan tegas sebagai bagian dari nikmat Ar-Rahman. Rasa syukur dapat dimulai dari hal yang tidak pernah gagal, karena hal yang selalu hadir lebih mudah terlupakan daripada hal yang sesekali hilang.
  • Matahari dan bulan disebut tanpa ukuran, jarak, atau kekuatan cahayanya. Keterangan yang diberikan berupa hitungan yang mengikat keduanya. Tiga ayat kemudian timbangan disebut diletakkan agar manusia tidak melampaui batas di dalamnya (55:7-8). Benda-benda langit berjalan dalam hitungan yang ditetapkan Allah, dan manusia diminta menjaga ukuran dalam urusannya sendiri. Kalau matahari dan bulan tidak keluar dari hitungannya, batas mana yang sedang dilampaui seseorang dalam timbangan hidupnya?
  • Di 10:5 hitungan bulan disebut sebagai sarana untuk mengetahui bilangan tahun. Bilangan tahun itu mencakup umur setiap orang. Di 13:2 matahari dan bulan disebut beredar sampai batas waktu yang ditentukan, dan umur manusia juga berjalan menuju batas waktunya. Setiap matahari terbit menambah satu hari yang sudah terpakai. Allah menyebut hitungan itu sebagai nikmat, dan kesadaran tentang hari yang terhitung dapat mendorong seseorang mengisi harinya dengan lebih sungguh-sungguh.
  • Ayat tentang hitungan yang tepat ini datang sesudah nama Ar-Rahman di ayat pertama. Kasih sayang tidak selalu tampil sebagai kelembutan, dan sebagian wujudnya berupa kepastian yang dapat disandari. Petani menanam karena musim dapat diperkirakan, dan musafir berangkat karena siang dan malam datang menurut hitungan. Allah menyediakan keteraturan yang tidak berubah-ubah menurut suasana, dan keteraturan itu memberi manusia ruang untuk merencanakan hidupnya dengan tenang.
  • Bulan yang disebut bersama hitungannya di ayat ini disebut terbelah di 54:1 sebagai tanda dekatnya Saat itu. Keteraturan yang terlihat setiap malam tidak berlaku selamanya. Orang yang terbiasa dengan hari-hari yang berjalan tertib mudah mengira bahwa semuanya akan terus begitu. Allah menyebut hitungan matahari dan bulan sebagai nikmat, dan di surah yang sama menyebut langit yang kelak terbelah (55:37), sehingga nikmat keteraturan itu terbaca sebagai pemberian yang memiliki batas waktu.
  • Kata husbaan yang di ayat ini menyertai matahari dan bulan dipakai di 18:40 untuk bencana dari langit yang dimohonkan atas sebuah kebun. Keteraturan yang menenangkan dan musibah yang datang tiba-tiba disebut dengan kata yang sama. Kebun di 18:42 memang roboh, dan pemiliknya menyesal sambil membolak-balikkan kedua telapak tangannya. Peristiwa yang terasa acak bagi manusia tetap berada dalam ukuran yang ditetapkan Allah, dan kesadaran itu dapat menjaga seseorang dari rasa aman yang berlebihan ketika hidup berjalan tertib.