وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ

dan bintang serta pepohonan tunduk,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُwa-n-najmu wa-sy-syajarudan bintang serta pepohonan
  2. يَسْجُدَانِyasjudaanitunduk

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَالنَّجْمُwa-n-najmudan bintang
  2. وَالشَّجَرُwa-sy-syajarudan pepohonan
  3. يَسْجُدَانِyasjudaanikeduanya tunduk

Inti bacaan

Mengawali pagi dengan melihat ke luar jendela, mengingat ciptaan yang sudah tunduk sejak subuh, kemudian bergegas mendirikan salat tanpa menunda-nunda.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ, wa-n-najmu wa-sy-syajaru yasjudaani) yang berarti "dan bintang serta pepohonan tunduk". Kata kerja yasjudaani berakar س-ج-د dan berbentuk dua, "keduanya tunduk", sesuai dengan dua pelaku yang disebut di depannya. Akar س-ج-د tercatat di 81 ayat, sedangkan bentuk yasjudaani tercatat di ayat ini saja. Di 55:2-4 pelaku setiap kata kerja kembali kepada Ar-Rahman, dan 55:5 tidak memuat kata kerja, sehingga yasjudaani menjadi kata kerja pertama dalam surah ini yang pelakunya ciptaan.

Kata (النَّجْمُ, an-najmu) yang berarti "bintang" dalam bentuk tunggal tercatat di 4 ayat. Di 86:3 kata itu hadir dalam (النَّجْمُ الثَّاقِبُ, an-najmu ts-tsaaqibu) yang berarti "bintang yang menembus", di 53:1 dalam (وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ, wa-n-najmi idzaa hawaa) yang berarti "demi bintang ketika terbenam", dan di 16:16 dalam (وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ, wa-bi-n-najmi hum yahtaduuna) yang berarti "dan dengan bintang-bintang mereka mendapat petunjuk". Di ketiga ayat itu najm menunjuk benda langit yang terbenam, menembus gelap, dan menjadi penunjuk arah, dan terjemahan ini memakai "bintang" di 55:6 dengan dasar yang sama. Letaknya sesudah matahari dan bulan di 55:5 sejalan dengan pembacaan itu.

Kata (وَالشَّجَرُ, wa-sy-syajaru) yang berarti "dan pepohonan" menyebut pohon sebagai kumpulan, dan kata ini tercatat di 7 ayat. Sebatang pohon disebut dengan bentuk tunggal syajarah, misalnya pohon yang dilarang didekati di 2:35. Di 22:18 bintang dan pepohonan berada dalam satu daftar yang bersujud, (وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ, wa-sy-syamsu wa-l-qamaru wa-n-nujuumu wa-l-jibaalu wa-sy-syajaru) yang berarti "juga matahari, bulan, bintang, gunung, pohon". Di sana bintang disebut dalam bentuk jamak, nujuum, dan daftarnya berlanjut sampai hewan melata dan kebanyakan manusia. Surah ini menyebut matahari dan bulan di 55:5, lalu bintang dan pepohonan di 55:6, sehingga empat unsur dari daftar 22:18 hadir dengan urutan yang sama di dua ayat ini.

Sasaran sujud seluruh ciptaan disebut di ayat-ayat lain. Di 13:15 kalimatnya dibuka dengan (وَلِلَّهِ يَسْجُدُ, wa-li-llaahi yasjudu) yang berarti "dan kepada Allah tunduk", lalu menyebut siapa yang ada di langit dan di bumi, dengan sukarela atau terpaksa, beserta bayang-bayang mereka pada waktu pagi dan petang. Di 16:48 bayang-bayang segala sesuatu berbolak-balik ke kanan dan ke kiri (سُجَّدًا لِلَّهِ, sujjadan li-llaahi) yang berarti "tunduk kepada Allah", dan di 16:49 serta 22:18 sasaran itu juga dinyatakan. Di 55:6 kata kerjanya berdiri tanpa sasaran, dan sasaran itu terbaca dari nama yang membuka rangkaian di 55:1.

Ayat ini juga ayat pertama dalam surah yang dibuka dengan kata sambung wa-, pada (وَالنَّجْمُ, wa-n-najmu) yang berarti "dan bintang". Sesudahnya kata sambung itu membuka 55:7, 55:9, 55:10, dan 55:12, sehingga daftar yang semula berupa kalimat-kalimat lepas di 55:2-5 mulai tersambung satu sama lain.

Tafsiran

Ayat ini menempatkan dua ciptaan yang berjauhan dalam satu kata kerja. Bintang berada di langit dan pepohonan berakar di tanah, dan keduanya disebut sebagai satu pasangan yang bersujud. Susunan 55:5-6 bergerak dari matahari dan bulan ke bintang, lalu sampai ke pepohonan, sehingga ketundukan ciptaan terbentang dari langit sampai ke bumi sebelum 55:7 kembali menyebut langit yang ditinggikan.

Di ayat-ayat lain sujud ciptaan digambarkan lewat keadaan yang dapat dilihat. Bayang-bayang pada pagi dan petang di 13:15 dan bayang-bayang yang berbolak-balik di 16:48 disebut bersujud, sehingga sujud itu terbaca pada keadaan ciptaan yang berjalan menurut ketentuan atasnya. Cara bintang dan pepohonan bersujud tidak diterangkan di ayat ini, dan surah ini menyebutnya sebagai kenyataan tanpa merinci rupanya.

Kesejajaran dengan 22:18 memperlihatkan satu perbedaan. Di sana daftar yang bersujud berakhir dengan (وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ, wa-katsiirun mina n-naasi) yang berarti "dan kebanyakan manusia", disusul kabar bahwa banyak pula yang pantas mendapat azab. Bintang dan pepohonan bersujud tanpa pengecualian, sedangkan manusia terbagi. Dua ayat sesudah ini, 55:8-9, surah ini untuk pertama kalinya menyapa "kalian" secara langsung dengan larangan dan perintah, karena golongan yang dapat memilih memerlukan seruan.

Renungan dan Hikmah

  • Di 22:18 matahari, bulan, bintang, gunung, pohon, dan hewan melata disebut bersujud kepada Allah, sedangkan manusia disebut "kebanyakan", dan banyak pula yang pantas mendapat azab. Pepohonan di halaman rumah dan bintang di atas atap tidak pernah absen dari sujud itu. Manusia berdiri di tengah ciptaan yang tunduk dan menjadi golongan yang dapat menolak. Kalau pohon yang tidak berakal pun disebut bersujud, di barisan mana seseorang menempatkan dirinya hari ini?
  • Bintang berada di tempat yang tidak terjangkau tangan, dan pepohonan berakar di tanah yang diinjak setiap hari. Ayat ini menyatukan keduanya dalam satu kata kerja, sehingga ketundukan kepada Allah terbentang dari yang terjauh sampai yang terdekat. Orang yang merasa jauh dari suasana ibadah dapat mulai dari yang dekat, dari pohon di tepi jalan yang disebut Al-Qur'an sedang bersujud. Pemandangan sehari-hari berubah menjadi pengingat ketika dibaca bersama ayat ini.
  • Bayang-bayang disebut bersujud di 13:15 dan 16:48, pada pagi dan petang, ke kanan dan ke kiri. Sujud ciptaan terlihat pada keadaannya yang berjalan menurut ketentuan Allah, tanpa jeda dan tanpa tawar-menawar. Manusia mengenal sujud sebagai gerakan dalam salat, dan ayat ini meluaskan pandangan itu kepada seluruh hari. Kepatuhan pada ketentuan-Nya ketika menimbang, berbicara, dan memutuskan sejalan dengan ketundukan yang sama, walau tidak disertai gerakan tubuh.
  • Tiga ayat pertama sesudah nama Ar-Rahman menyebut perbuatan-Nya, mengajar, menciptakan, dan mengajari. Ayat ini menyebut perbuatan pertama dari pihak ciptaan, dan perbuatan itu berupa sujud. Urutan itu memperlihatkan jawaban yang pantas atas pemberian, yaitu ketundukan kepada Pemberinya. Seseorang yang menerima banyak nikmat dalam sehari dapat bertanya bagaimana jawabannya sendiri tampak dalam sikap dan perbuatannya. Bintang dan pepohonan menjawab dengan keadaannya, sedangkan manusia yang diajari penjelasan di 55:4 dapat menjawab dengan kesadaran.
  • Di 16:16 bintang disebut sebagai penunjuk jalan bagi orang-orang yang bepergian. Bintang yang bersujud di ayat ini juga yang menuntun musafir di malam hari. Ketundukan dan kegunaan hadir pada benda yang sama, karena bintang tetap berada di tempat yang ditentukan Allah sehingga arahnya dapat diandalkan. Di 16:16 bintang disebut bersama tanda-tanda penunjuk jalan yang lain, dan keduanya disediakan bagi orang yang mencari arah. Orang yang teguh pada ketentuan-Nya sering menjadi pegangan bagi orang lain tanpa pernah berniat menjadi penunjuk jalan.
  • Pepohonan tumbuh di tempat benihnya jatuh, menjulang ke arah cahaya, dan berbuah pada musimnya. Ayat ini menyebut kehidupan yang tenang dan tetap itu sebagai sujud. Manusia sering gelisah ingin berada di tempat lain dan mengukur hidupnya dari seberapa jauh berpindah. Pohon bertahan di tempatnya sambil terus tumbuh, dan kesabaran seperti itu dapat ditiru siapa saja yang sedang menjalani keadaan yang belum bisa diubahnya.