Ayat 55:7
وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ
dan langit Dia tinggikan, dan Dia meletakkan timbangan,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَاwa-s-samaa'a rafa'ahaadan langit, Dia tinggikan
- وَوَضَعَ الْمِيزَانَwa-wadha'a l-miizaanadan Dia meletakkan timbangan
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَالسَّمَاءَwa-s-samaa'adan langit
- رَفَعَهَاrafa'ahaameninggikannya
- وَوَضَعَwa-wadha'adan Dia meletakkan
- الْمِيزَانَl-miizaanatimbangan
Inti bacaan
Memeriksa ulang alat ukur yang dipakai sehari-hari, dari timbangan warung sampai rumus nilai di lembar kerja, agar angka yang keluar sesuai dengan kenyataan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ, wa-s-samaa'a rafa'ahaa wa-wadha'a l-miizaana) yang berarti "dan langit Dia tinggikan, dan Dia meletakkan timbangan". Kalimat pertama mendahulukan langit, lalu kata kerja rafa'ahaa menunjuknya kembali dengan akhiran -haa. Kalimat kedua mendahulukan kata kerja, wadha'a, lalu menyebut al-miizaan sesudahnya. Kedua kata kerja itu berlawanan arah, yang satu meninggikan dan yang lain meletakkan.
Kata kerja (رَفَعَهَا, rafa'ahaa) yang berarti "Dia meninggikannya" berakar ر-ف-ع. Peninggian langit juga disebut di 13:2, (رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا, rafa'a as-samaawaati bi-ghayri 'amadin tarawnahaa) yang berarti "meninggikan langit tanpa tiang yang kalian lihat", di 79:28, (رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا, rafa'a samkahaa fa-sawwaahaa) yang berarti "Dia meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya", dan di 88:18 dalam bentuk pertanyaan, (وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ, wa-ilaa s-samaa'i kayfa rufi'at) yang berarti "dan langit, bagaimana ia ditinggikan". Di keempat ayat itu langit disebut sebagai sesuatu yang ditinggikan oleh-Nya.
Kata kerja (وَوَضَعَ, wa-wadha'a) yang berarti "dan Dia meletakkan" berakar و-ض-ع, akar yang tercatat di 24 ayat. Di 21:47 akar yang sama menyertai timbangan pada hari Kiamat, (وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ, wa-nadha'u l-mawaaziina l-qistha) yang berarti "Kami akan meletakkan timbangan yang tepat", dan terjemahan ini memakai "meletakkan" di kedua ayat. Kata kerja wadha'a dipakai lagi di 55:10 untuk bumi, sehingga surah ini menyebut timbangan dan bumi dengan perbuatan yang sama. Kata "menegakkan" disediakan untuk aqiimuu di 55:9, kata kerja lain yang ditujukan kepada manusia.
Kata (الْمِيزَانَ, l-miizaana) yang berarti "timbangan" berakar و-ز-ن, akar yang tercatat di 21 ayat, dan bentuk tunggal miizaan tercatat di 9 ayat. Huruf و pada akar itu berubah menjadi ي dalam miizaan karena pola pembentukan katanya, pola yang menyebut alat, sehingga miizaan berarti alat untuk menimbang. Di 6:152, 7:85, 11:84, dan 11:85 miizaan disebut bersama takaran dalam urusan jual beli, misalnya di 6:152, (وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ, wa-awfuu l-kayla wa-l-miizaana bi-l-qisthi) yang berarti "dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil". Di 42:17 dan 57:25 miizaan diturunkan bersama Kitab, dan terjemahan kedua ayat itu memakai "neraca". Tiga ayat lainnya berurutan di surah ini, 55:7-9. Bentuk jamaknya, mawaaziin, menyebut timbangan amal pada hari Kiamat di 7:8-9, 21:47, 23:102-103, 101:6, dan 101:8.
Tiga ayat berturut-turut, 55:7 sampai 55:9, berakhir dengan miizaan, berbunyi l-miizaana, l-miizaani, lalu l-miizaana lagi. Ketiganya bersambung sebagai satu rangkaian tentang timbangan. Langit mengawali rangkaian itu di ayat ini, dan bumi menutupnya di awal 55:10, (وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ, wa-l-ardha wadha'ahaa li-l-anaami) yang berarti "dan bumi Dia letakkan untuk makhluk".
Tafsiran
Ayat ini menyandingkan dua perbuatan yang berlawanan arah. Langit ditinggikan menjauh dari jangkauan manusia, dan timbangan diletakkan di dekatnya. Pasangan perbuatan yang sama muncul di surah lain, (وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ, wa-wadha'naa 'anka wizraka) yang berarti "dan Kami turunkan darimu bebanmu" (94:2), lalu (وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ, wa-rafa'naa laka dzikraka) yang berarti "dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu" (94:4). Di kedua surah Allah yang meninggikan dan Dia pula yang meletakkan, dan di surah ini yang diletakkan berupa ukuran yang dipegang manusia.
Timbangan di ayat ini disebut bersama penciptaan langit, dan kedudukannya berbeda dari ayat-ayat yang menyandingkannya dengan takaran dagang atau dengan Kitab. Di 57:25 neraca diturunkan bersama Kitab (لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ, li-yaquuma n-naasu bi-l-qisthi) yang berarti "agar manusia dapat berlaku adil". Di surah ini timbangan diletakkan di tengah rangkaian ciptaan, di antara langit yang ditinggikan dan bumi yang diletakkan untuk makhluk. Keadilan dalam menimbang terbaca sebagai bagian dari tatanan yang sama dengan langit dan bumi, dan tuntutan kepada manusia di 55:8-9 bersandar pada tatanan itu.
Susunan 55:7-10 membentuk bingkai. Langit di awal dan bumi di akhir sama-sama didahulukan lalu ditunjuk ulang dengan akhiran -haa, dan di antara keduanya timbangan disebut tiga kali, bersama larangan dan perintah bagi manusia. Timbangan yang ditempatkan Allah di tengah bingkai itu menjadi tempat pertemuan antara ciptaan yang tunduk dan manusia yang diseru.
Renungan dan Hikmah
- Langit ditinggikan jauh dari jangkauan tangan, dan timbangan diletakkan di dekat manusia. Allah tidak meminta manusia mengatur langit atau menahan bintang di tempatnya. Tuntutan yang diberikan menyangkut sesuatu yang dapat dipegang, takaran di pasar, ukuran dalam menilai, dan kejujuran dalam membagi. Orang yang merasa tidak berdaya menghadapi perkara besar di dunia masih memegang timbangan kecil di tangannya sendiri, dan timbangan itu yang ditanyakan kepadanya.
- Timbangan diletakkan di ayat ini untuk dipakai manusia selama hidupnya, dan di 21:47 Allah menyebut timbangan yang tepat yang akan diletakkan pada hari Kiamat. Kedua ayat memakai kata kerja yang sama. Timbangan pertama dipegang manusia untuk menimbang urusan dengan orang lain, dan timbangan kedua menimbang amal manusia itu sendiri. Cara seseorang memakai timbangan yang pertama ikut tercatat pada timbangan yang kedua. Di 21:47 Allah menambahkan bahwa amal seberat biji sawi pun akan didatangkan, sehingga selisih kecil dalam timbangan dunia tetap terbawa.
- Di 42:17 dan 57:25 Allah menurunkan Kitab bersama neraca, sehingga petunjuk dan ukuran keadilan datang berdampingan. Kitab memberi arah, dan neraca memberi ukuran untuk menjalaninya. Membaca Al-Qur'an dengan tekun sambil curang dalam urusan kecil memisahkan dua hal yang diturunkan bersama. Kesalehan yang tampak dalam ibadah diuji juga di meja jual beli, di lembar penilaian, dan di pembagian warisan. Di tempat mana timbangan seseorang lebih mudah bergeser dari keadilan?
- Timbangan di ayat ini diletakkan Allah, dan manusia datang ke dunia yang ukurannya sudah tersedia. Rasa adil yang muncul pada anak kecil ketika bagiannya dikurangi termasuk pemberian yang sama. Manusia dapat membuat alat timbang dari logam atau kayu, sedangkan ukuran benar dan salah yang dipakainya berasal dari luar dirinya. Kesadaran itu menahan seseorang dari menggeser ukuran keadilan mengikuti kepentingannya. Timbangan yang diletakkan Allah tidak ikut berubah ketika harga naik atau ketika pembeli lengah.
- Di 94:2 dan 94:4 Allah menurunkan beban dan meninggikan sebutan, dua perbuatan yang juga dipasangkan di ayat ini. Hidup seseorang mengalami keduanya, saat bebannya diringankan dan saat namanya diangkat. Keduanya datang dari Dia yang sama, dan ayat ini mengingatkan bahwa yang ditinggikan tetap berada di bawah ukuran. Seseorang boleh naik pangkat, tetapi timbangan tetap di tangannya, dan keadilan tetap dituntut darinya setinggi apa pun jabatannya.
- Langit di 13:2 ditinggikan tanpa tiang yang terlihat, dan keteraturannya bertahan tanpa diawasi manusia. Manusia melihat langit itu setiap hari tanpa pernah menyaksikan penopangnya. Timbangan di tangan manusia tidak berjalan dengan cara itu, karena ukuran yang jujur dapat runtuh begitu penjaganya lengah. Setiap kali seseorang menengadah ke langit yang tetap di tempatnya, ada pengingat tentang tatanan yang dijaga Allah, dan tentang timbangan yang penjagaannya diserahkan kepada manusia sendiri.
Ayat 55:8
أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ
agar kalian tidak melampaui batas dalam timbangan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِallaa tathghaw fii l-miizaaniagar kalian tidak melampaui batas dalam timbangan
Terjemahan per kata (4 kata)
- أَلَّاallaaagar tidak
- تَطْغَوْاtathghawkalian melampaui batas
- فِيfiidalam
- الْمِيزَانِl-miizaanitimbangan
Inti bacaan
Berhenti sejenak sebelum menawar, menagih, atau menilai pekerjaan orang, lalu bertanya apakah ukuran yang dipakai masih terasa adil kalau posisinya dibalik.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ, allaa tathghaw fii l-miizaani) yang berarti "agar kalian tidak melampaui batas dalam timbangan". Kata allaa gabungan dari an, "agar", dan laa, "tidak", sehingga ayat ini menyambung 55:7 sebagai tujuan dari timbangan yang diletakkan. Tujuan itu berbentuk larangan, sehingga timbangan diletakkan agar sesuatu tidak terjadi, dan 55:9 kemudian menambahkan perintah yang menyebut apa yang harus terjadi. Kata kerja tathghaw berbentuk jamak orang kedua, "kalian", dan untuk pertama kalinya surah ini menyapa pihak kedua secara langsung. Ayat 55:1 sampai 55:7 berbicara tentang Dia dan ciptaan-Nya dalam bentuk orang ketiga.
Kata kerja (تَطْغَوْا, tathghaw) yang berarti "kalian melampaui batas" berakar ط-غ-ي, akar yang tercatat di 39 ayat, dan bentuk tathghaw tercatat di 3 ayat. Di 11:112 larangan (وَلَا تَطْغَوْا, wa-laa tathghaw) yang berarti "dan janganlah kalian melampaui batas" menyertai perintah untuk teguh sebagaimana diperintahkan. Di 20:81 larangan itu menyusul perintah makan dari rezeki yang baik, (وَلَا تَطْغَوْا فِيهِ, wa-laa tathghaw fiihi) yang berarti "dan janganlah kalian melampaui batas padanya". Susunan di 20:81 memakai kata depan fii seperti ayat ini, sehingga yang dijaga di sana rezeki dan di sini timbangan.
Arti dasar akar ini terbaca dari pemakaiannya untuk air dan penglihatan. Di 69:11 air disebut melampaui batas ketika meluap melewati tempatnya, dan pada saat itu Kami mengangkut kalian ke dalam yang berlayar. Di 53:17 penglihatan disebut tetap pada batasnya, (مَا زَاغَ الْبَصَرُ, maa zaagha l-basharu) yang berarti "penglihatan tidak menyimpang", disusul pernyataan bahwa penglihatan itu tidak melampaui batas. Dari pemakaian itu terlihat gerak melewati batas yang sudah ditetapkan, dan larangan di ayat ini mengandaikan timbangan yang sudah diletakkan sebagai batasnya.
Kata (الْمِيزَانِ, l-miizaani) yang berarti "timbangan" memakai kata sandang dan menunjuk kembali timbangan yang baru disebut di 55:7. Ayat ini melarang pelampauan batas di dalam timbangan itu tanpa merinci bentuknya, dan 55:9 kemudian menyebut satu bentuk yang konkret, mengurangi timbangan.
Sapaan di ayat ini berbentuk jamak, dan bentuk jamak itu berlanjut di 55:9, pada aqiimuu dan tukhsiruu. Sejak 55:13 sapaan berganti menjadi bentuk dua, (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani) yang berarti "maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan", dan bentuk dua itu diulang sampai akhir surah. Larangan tentang timbangan disampaikan kepada "kalian" sebelum surah menyebut dua golongan yang disapanya.
Tafsiran
Ayat ini menyebut tujuan timbangan yang diletakkan di 55:7. Timbangan itu ada agar tidak dilampaui, dan sapaan pertama surah kepada "kalian" berupa larangan tentang ukuran. Sesudah tujuh ayat tentang pemberian Ar-Rahman, tuntutan pertama yang disebut menyangkut cara manusia memperlakukan ukuran di antara mereka. Pemberian yang disebut sebelumnya belum disertai tuntutan, dan tuntutan itu baru datang ketika timbangan sudah berada di tangan manusia.
Akar ط-غ-ي dipakai untuk Firaun, (إِنَّهُ طَغَىٰ, innahu thaghaa) yang berarti "sesungguhnya ia telah melampaui batas" (20:24), dan untuk air yang meluap di 69:11. Ayat ini memakai akar yang sama untuk perkara yang tampak kecil, pelampauan dalam menimbang. Kesewenang-wenangan yang dibinasakan dalam kisah-kisah besar dan pelampauan di sebuah timbangan disebut dengan akar yang sama, sehingga ukuran kecil pun berada di bawah larangan yang sama.
Di 20:81 larangan melampaui batas disambung dengan ancaman, (فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِي, fa-yahilla 'alaykum ghadhabii) yang berarti "nanti kemurkaan-Ku menimpa kalian". Di surah ini larangan itu disambung dengan perintah menegakkan penimbangan (55:9), lalu surah kembali menyebut pemberian di 55:10. Larangan disampaikan di tengah daftar nikmat, dan nada surah tetap nada pemberian.
Renungan dan Hikmah
- Sesudah tujuh ayat tentang pemberian, sapaan pertama surah ini kepada "kalian" berupa larangan melampaui batas dalam timbangan. Allah membuka tuntutan-Nya dengan urusan yang dekat dengan keseharian, takaran di pasar, pembagian di rumah, dan ukuran dalam menilai orang lain. Keimanan diuji lebih dulu pada hal-hal yang dapat diukur, dan setiap transaksi kecil termasuk dalam sapaan itu. Takaran mana yang sedang dipegang seseorang hari ini, dan ke arah mana takaran itu condong?
- Firaun disebut melampaui batas di 20:24, dan air yang meluap disebut dengan akar yang sama di 69:11. Kecurangan kecil dalam timbangan dilarang dengan akar yang sama. Kesewenang-wenangan besar jarang lahir tiba-tiba, dan kebiasaan menggeser ukuran sedikit demi sedikit dapat menjadi awalnya. Orang yang merasa jauh dari watak Firaun dapat memeriksa timbangannya sendiri, karena Al-Qur'an menyebut keduanya dengan akar yang sama.
- Di 20:81 Allah menyuruh makan dari rezeki yang baik lalu melarang melampaui batas padanya, dan di ayat ini larangan yang sama tertuju kepada timbangan. Kedua ayat memakai kata depan fii, "di dalam". Pelampauan batas dapat terjadi dalam cara seseorang mengambil untuk dirinya dan dalam cara menakar untuk orang lain. Makan berlebihan dan menimbang curang tampak berjauhan, dan keduanya berasal dari keengganan menerima batas yang diberikan. Di kedua ayat batas itu diletakkan pada sesuatu yang baik, sehingga pelampauan dapat terjadi pada perkara yang pada asalnya dibolehkan.
- Penglihatan di 53:17 disebut tidak menyimpang dan tidak melampaui batas. Pandangan pun punya ukuran, dan akar yang sama dengan larangan di ayat ini dipakai untuk menjaganya. Menilai orang lain dari satu kesalahan, atau menatap milik orang lain dengan iri, termasuk pandangan yang melewati batasnya. Larangan dalam timbangan dapat dibaca bersama ayat itu, karena menilai dengan adil dimulai dari pandangan yang terjaga sebelum tangan bergerak menakar.
- Melampaui batas mengandaikan adanya batas yang sudah ditetapkan sebelum seseorang bertindak. Timbangan itu diletakkan Allah di 55:7, dan larangan di ayat ini datang sesudahnya. Orang sering menggeser batas dengan alasan kebiasaan, dengan anggapan semua orang juga begitu, atau dengan selisih yang dianggap kecil. Ayat ini mengembalikan batas itu kepada Dia yang meletakkannya, sehingga ukurannya tidak berubah mengikuti suasana pasar. Ukuran yang ditetapkan Pembuatnya tetap berlaku walau semua orang di pasar sepakat melanggarnya.
- Larangan di ayat ini diapit daftar pemberian, sesudah langit dan timbangan, sebelum bumi dan buah-buahan. Di 20:81 larangan yang sama disusul ancaman kemurkaan, sedangkan di surah ini larangan itu disusul perintah menegakkan penimbangan dan pemberian berikutnya. Allah menyampaikan larangan sebagai bagian dari kasih-Nya, karena batas yang dijaga melindungi orang-orang yang hidup bersama. Aturan yang terasa mengekang dapat dibaca ulang sebagai penjagaan.