Ayat 55:7

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ

dan langit Dia tinggikan, dan Dia meletakkan timbangan,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَاwa-s-samaa'a rafa'ahaadan langit, Dia tinggikan
  2. وَوَضَعَ الْمِيزَانَwa-wadha'a l-miizaanadan Dia meletakkan timbangan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَالسَّمَاءَwa-s-samaa'adan langit
  2. رَفَعَهَاrafa'ahaameninggikannya
  3. وَوَضَعَwa-wadha'adan Dia meletakkan
  4. الْمِيزَانَl-miizaanatimbangan

Inti bacaan

Memeriksa ulang alat ukur yang dipakai sehari-hari, dari timbangan warung sampai rumus nilai di lembar kerja, agar angka yang keluar sesuai dengan kenyataan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ, wa-s-samaa'a rafa'ahaa wa-wadha'a l-miizaana) yang berarti "dan langit Dia tinggikan, dan Dia meletakkan timbangan". Kalimat pertama mendahulukan langit, lalu kata kerja rafa'ahaa menunjuknya kembali dengan akhiran -haa. Kalimat kedua mendahulukan kata kerja, wadha'a, lalu menyebut al-miizaan sesudahnya. Kedua kata kerja itu berlawanan arah, yang satu meninggikan dan yang lain meletakkan.

Kata kerja (رَفَعَهَا, rafa'ahaa) yang berarti "Dia meninggikannya" berakar ر-ف-ع. Peninggian langit juga disebut di 13:2, (رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا, rafa'a as-samaawaati bi-ghayri 'amadin tarawnahaa) yang berarti "meninggikan langit tanpa tiang yang kalian lihat", di 79:28, (رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا, rafa'a samkahaa fa-sawwaahaa) yang berarti "Dia meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya", dan di 88:18 dalam bentuk pertanyaan, (وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ, wa-ilaa s-samaa'i kayfa rufi'at) yang berarti "dan langit, bagaimana ia ditinggikan". Di keempat ayat itu langit disebut sebagai sesuatu yang ditinggikan oleh-Nya.

Kata kerja (وَوَضَعَ, wa-wadha'a) yang berarti "dan Dia meletakkan" berakar و-ض-ع, akar yang tercatat di 24 ayat. Di 21:47 akar yang sama menyertai timbangan pada hari Kiamat, (وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ, wa-nadha'u l-mawaaziina l-qistha) yang berarti "Kami akan meletakkan timbangan yang tepat", dan terjemahan ini memakai "meletakkan" di kedua ayat. Kata kerja wadha'a dipakai lagi di 55:10 untuk bumi, sehingga surah ini menyebut timbangan dan bumi dengan perbuatan yang sama. Kata "menegakkan" disediakan untuk aqiimuu di 55:9, kata kerja lain yang ditujukan kepada manusia.

Kata (الْمِيزَانَ, l-miizaana) yang berarti "timbangan" berakar و-ز-ن, akar yang tercatat di 21 ayat, dan bentuk tunggal miizaan tercatat di 9 ayat. Huruf و pada akar itu berubah menjadi ي dalam miizaan karena pola pembentukan katanya, pola yang menyebut alat, sehingga miizaan berarti alat untuk menimbang. Di 6:152, 7:85, 11:84, dan 11:85 miizaan disebut bersama takaran dalam urusan jual beli, misalnya di 6:152, (وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ, wa-awfuu l-kayla wa-l-miizaana bi-l-qisthi) yang berarti "dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil". Di 42:17 dan 57:25 miizaan diturunkan bersama Kitab, dan terjemahan kedua ayat itu memakai "neraca". Tiga ayat lainnya berurutan di surah ini, 55:7-9. Bentuk jamaknya, mawaaziin, menyebut timbangan amal pada hari Kiamat di 7:8-9, 21:47, 23:102-103, 101:6, dan 101:8.

Tiga ayat berturut-turut, 55:7 sampai 55:9, berakhir dengan miizaan, berbunyi l-miizaana, l-miizaani, lalu l-miizaana lagi. Ketiganya bersambung sebagai satu rangkaian tentang timbangan. Langit mengawali rangkaian itu di ayat ini, dan bumi menutupnya di awal 55:10, (وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ, wa-l-ardha wadha'ahaa li-l-anaami) yang berarti "dan bumi Dia letakkan untuk makhluk".

Tafsiran

Ayat ini menyandingkan dua perbuatan yang berlawanan arah. Langit ditinggikan menjauh dari jangkauan manusia, dan timbangan diletakkan di dekatnya. Pasangan perbuatan yang sama muncul di surah lain, (وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ, wa-wadha'naa 'anka wizraka) yang berarti "dan Kami turunkan darimu bebanmu" (94:2), lalu (وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ, wa-rafa'naa laka dzikraka) yang berarti "dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu" (94:4). Di kedua surah Allah yang meninggikan dan Dia pula yang meletakkan, dan di surah ini yang diletakkan berupa ukuran yang dipegang manusia.

Timbangan di ayat ini disebut bersama penciptaan langit, dan kedudukannya berbeda dari ayat-ayat yang menyandingkannya dengan takaran dagang atau dengan Kitab. Di 57:25 neraca diturunkan bersama Kitab (لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ, li-yaquuma n-naasu bi-l-qisthi) yang berarti "agar manusia dapat berlaku adil". Di surah ini timbangan diletakkan di tengah rangkaian ciptaan, di antara langit yang ditinggikan dan bumi yang diletakkan untuk makhluk. Keadilan dalam menimbang terbaca sebagai bagian dari tatanan yang sama dengan langit dan bumi, dan tuntutan kepada manusia di 55:8-9 bersandar pada tatanan itu.

Susunan 55:7-10 membentuk bingkai. Langit di awal dan bumi di akhir sama-sama didahulukan lalu ditunjuk ulang dengan akhiran -haa, dan di antara keduanya timbangan disebut tiga kali, bersama larangan dan perintah bagi manusia. Timbangan yang ditempatkan Allah di tengah bingkai itu menjadi tempat pertemuan antara ciptaan yang tunduk dan manusia yang diseru.

Renungan dan Hikmah

  • Langit ditinggikan jauh dari jangkauan tangan, dan timbangan diletakkan di dekat manusia. Allah tidak meminta manusia mengatur langit atau menahan bintang di tempatnya. Tuntutan yang diberikan menyangkut sesuatu yang dapat dipegang, takaran di pasar, ukuran dalam menilai, dan kejujuran dalam membagi. Orang yang merasa tidak berdaya menghadapi perkara besar di dunia masih memegang timbangan kecil di tangannya sendiri, dan timbangan itu yang ditanyakan kepadanya.
  • Timbangan diletakkan di ayat ini untuk dipakai manusia selama hidupnya, dan di 21:47 Allah menyebut timbangan yang tepat yang akan diletakkan pada hari Kiamat. Kedua ayat memakai kata kerja yang sama. Timbangan pertama dipegang manusia untuk menimbang urusan dengan orang lain, dan timbangan kedua menimbang amal manusia itu sendiri. Cara seseorang memakai timbangan yang pertama ikut tercatat pada timbangan yang kedua. Di 21:47 Allah menambahkan bahwa amal seberat biji sawi pun akan didatangkan, sehingga selisih kecil dalam timbangan dunia tetap terbawa.
  • Di 42:17 dan 57:25 Allah menurunkan Kitab bersama neraca, sehingga petunjuk dan ukuran keadilan datang berdampingan. Kitab memberi arah, dan neraca memberi ukuran untuk menjalaninya. Membaca Al-Qur'an dengan tekun sambil curang dalam urusan kecil memisahkan dua hal yang diturunkan bersama. Kesalehan yang tampak dalam ibadah diuji juga di meja jual beli, di lembar penilaian, dan di pembagian warisan. Di tempat mana timbangan seseorang lebih mudah bergeser dari keadilan?
  • Timbangan di ayat ini diletakkan Allah, dan manusia datang ke dunia yang ukurannya sudah tersedia. Rasa adil yang muncul pada anak kecil ketika bagiannya dikurangi termasuk pemberian yang sama. Manusia dapat membuat alat timbang dari logam atau kayu, sedangkan ukuran benar dan salah yang dipakainya berasal dari luar dirinya. Kesadaran itu menahan seseorang dari menggeser ukuran keadilan mengikuti kepentingannya. Timbangan yang diletakkan Allah tidak ikut berubah ketika harga naik atau ketika pembeli lengah.
  • Di 94:2 dan 94:4 Allah menurunkan beban dan meninggikan sebutan, dua perbuatan yang juga dipasangkan di ayat ini. Hidup seseorang mengalami keduanya, saat bebannya diringankan dan saat namanya diangkat. Keduanya datang dari Dia yang sama, dan ayat ini mengingatkan bahwa yang ditinggikan tetap berada di bawah ukuran. Seseorang boleh naik pangkat, tetapi timbangan tetap di tangannya, dan keadilan tetap dituntut darinya setinggi apa pun jabatannya.
  • Langit di 13:2 ditinggikan tanpa tiang yang terlihat, dan keteraturannya bertahan tanpa diawasi manusia. Manusia melihat langit itu setiap hari tanpa pernah menyaksikan penopangnya. Timbangan di tangan manusia tidak berjalan dengan cara itu, karena ukuran yang jujur dapat runtuh begitu penjaganya lengah. Setiap kali seseorang menengadah ke langit yang tetap di tempatnya, ada pengingat tentang tatanan yang dijaga Allah, dan tentang timbangan yang penjagaannya diserahkan kepada manusia sendiri.

Ayat 55:8

أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ

agar kalian tidak melampaui batas dalam timbangan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِallaa tathghaw fii l-miizaaniagar kalian tidak melampaui batas dalam timbangan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. أَلَّاallaaagar tidak
  2. تَطْغَوْاtathghawkalian melampaui batas
  3. فِيfiidalam
  4. الْمِيزَانِl-miizaanitimbangan

Inti bacaan

Berhenti sejenak sebelum menawar, menagih, atau menilai pekerjaan orang, lalu bertanya apakah ukuran yang dipakai masih terasa adil kalau posisinya dibalik.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ, allaa tathghaw fii l-miizaani) yang berarti "agar kalian tidak melampaui batas dalam timbangan". Kata allaa gabungan dari an, "agar", dan laa, "tidak", sehingga ayat ini menyambung 55:7 sebagai tujuan dari timbangan yang diletakkan. Tujuan itu berbentuk larangan, sehingga timbangan diletakkan agar sesuatu tidak terjadi, dan 55:9 kemudian menambahkan perintah yang menyebut apa yang harus terjadi. Kata kerja tathghaw berbentuk jamak orang kedua, "kalian", dan untuk pertama kalinya surah ini menyapa pihak kedua secara langsung. Ayat 55:1 sampai 55:7 berbicara tentang Dia dan ciptaan-Nya dalam bentuk orang ketiga.

Kata kerja (تَطْغَوْا, tathghaw) yang berarti "kalian melampaui batas" berakar ط-غ-ي, akar yang tercatat di 39 ayat, dan bentuk tathghaw tercatat di 3 ayat. Di 11:112 larangan (وَلَا تَطْغَوْا, wa-laa tathghaw) yang berarti "dan janganlah kalian melampaui batas" menyertai perintah untuk teguh sebagaimana diperintahkan. Di 20:81 larangan itu menyusul perintah makan dari rezeki yang baik, (وَلَا تَطْغَوْا فِيهِ, wa-laa tathghaw fiihi) yang berarti "dan janganlah kalian melampaui batas padanya". Susunan di 20:81 memakai kata depan fii seperti ayat ini, sehingga yang dijaga di sana rezeki dan di sini timbangan.

Arti dasar akar ini terbaca dari pemakaiannya untuk air dan penglihatan. Di 69:11 air disebut melampaui batas ketika meluap melewati tempatnya, dan pada saat itu Kami mengangkut kalian ke dalam yang berlayar. Di 53:17 penglihatan disebut tetap pada batasnya, (مَا زَاغَ الْبَصَرُ, maa zaagha l-basharu) yang berarti "penglihatan tidak menyimpang", disusul pernyataan bahwa penglihatan itu tidak melampaui batas. Dari pemakaian itu terlihat gerak melewati batas yang sudah ditetapkan, dan larangan di ayat ini mengandaikan timbangan yang sudah diletakkan sebagai batasnya.

Kata (الْمِيزَانِ, l-miizaani) yang berarti "timbangan" memakai kata sandang dan menunjuk kembali timbangan yang baru disebut di 55:7. Ayat ini melarang pelampauan batas di dalam timbangan itu tanpa merinci bentuknya, dan 55:9 kemudian menyebut satu bentuk yang konkret, mengurangi timbangan.

Sapaan di ayat ini berbentuk jamak, dan bentuk jamak itu berlanjut di 55:9, pada aqiimuu dan tukhsiruu. Sejak 55:13 sapaan berganti menjadi bentuk dua, (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani) yang berarti "maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan", dan bentuk dua itu diulang sampai akhir surah. Larangan tentang timbangan disampaikan kepada "kalian" sebelum surah menyebut dua golongan yang disapanya.

Tafsiran

Ayat ini menyebut tujuan timbangan yang diletakkan di 55:7. Timbangan itu ada agar tidak dilampaui, dan sapaan pertama surah kepada "kalian" berupa larangan tentang ukuran. Sesudah tujuh ayat tentang pemberian Ar-Rahman, tuntutan pertama yang disebut menyangkut cara manusia memperlakukan ukuran di antara mereka. Pemberian yang disebut sebelumnya belum disertai tuntutan, dan tuntutan itu baru datang ketika timbangan sudah berada di tangan manusia.

Akar ط-غ-ي dipakai untuk Firaun, (إِنَّهُ طَغَىٰ, innahu thaghaa) yang berarti "sesungguhnya ia telah melampaui batas" (20:24), dan untuk air yang meluap di 69:11. Ayat ini memakai akar yang sama untuk perkara yang tampak kecil, pelampauan dalam menimbang. Kesewenang-wenangan yang dibinasakan dalam kisah-kisah besar dan pelampauan di sebuah timbangan disebut dengan akar yang sama, sehingga ukuran kecil pun berada di bawah larangan yang sama.

Di 20:81 larangan melampaui batas disambung dengan ancaman, (فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِي, fa-yahilla 'alaykum ghadhabii) yang berarti "nanti kemurkaan-Ku menimpa kalian". Di surah ini larangan itu disambung dengan perintah menegakkan penimbangan (55:9), lalu surah kembali menyebut pemberian di 55:10. Larangan disampaikan di tengah daftar nikmat, dan nada surah tetap nada pemberian.

Renungan dan Hikmah

  • Sesudah tujuh ayat tentang pemberian, sapaan pertama surah ini kepada "kalian" berupa larangan melampaui batas dalam timbangan. Allah membuka tuntutan-Nya dengan urusan yang dekat dengan keseharian, takaran di pasar, pembagian di rumah, dan ukuran dalam menilai orang lain. Keimanan diuji lebih dulu pada hal-hal yang dapat diukur, dan setiap transaksi kecil termasuk dalam sapaan itu. Takaran mana yang sedang dipegang seseorang hari ini, dan ke arah mana takaran itu condong?
  • Firaun disebut melampaui batas di 20:24, dan air yang meluap disebut dengan akar yang sama di 69:11. Kecurangan kecil dalam timbangan dilarang dengan akar yang sama. Kesewenang-wenangan besar jarang lahir tiba-tiba, dan kebiasaan menggeser ukuran sedikit demi sedikit dapat menjadi awalnya. Orang yang merasa jauh dari watak Firaun dapat memeriksa timbangannya sendiri, karena Al-Qur'an menyebut keduanya dengan akar yang sama.
  • Di 20:81 Allah menyuruh makan dari rezeki yang baik lalu melarang melampaui batas padanya, dan di ayat ini larangan yang sama tertuju kepada timbangan. Kedua ayat memakai kata depan fii, "di dalam". Pelampauan batas dapat terjadi dalam cara seseorang mengambil untuk dirinya dan dalam cara menakar untuk orang lain. Makan berlebihan dan menimbang curang tampak berjauhan, dan keduanya berasal dari keengganan menerima batas yang diberikan. Di kedua ayat batas itu diletakkan pada sesuatu yang baik, sehingga pelampauan dapat terjadi pada perkara yang pada asalnya dibolehkan.
  • Penglihatan di 53:17 disebut tidak menyimpang dan tidak melampaui batas. Pandangan pun punya ukuran, dan akar yang sama dengan larangan di ayat ini dipakai untuk menjaganya. Menilai orang lain dari satu kesalahan, atau menatap milik orang lain dengan iri, termasuk pandangan yang melewati batasnya. Larangan dalam timbangan dapat dibaca bersama ayat itu, karena menilai dengan adil dimulai dari pandangan yang terjaga sebelum tangan bergerak menakar.
  • Melampaui batas mengandaikan adanya batas yang sudah ditetapkan sebelum seseorang bertindak. Timbangan itu diletakkan Allah di 55:7, dan larangan di ayat ini datang sesudahnya. Orang sering menggeser batas dengan alasan kebiasaan, dengan anggapan semua orang juga begitu, atau dengan selisih yang dianggap kecil. Ayat ini mengembalikan batas itu kepada Dia yang meletakkannya, sehingga ukurannya tidak berubah mengikuti suasana pasar. Ukuran yang ditetapkan Pembuatnya tetap berlaku walau semua orang di pasar sepakat melanggarnya.
  • Larangan di ayat ini diapit daftar pemberian, sesudah langit dan timbangan, sebelum bumi dan buah-buahan. Di 20:81 larangan yang sama disusul ancaman kemurkaan, sedangkan di surah ini larangan itu disusul perintah menegakkan penimbangan dan pemberian berikutnya. Allah menyampaikan larangan sebagai bagian dari kasih-Nya, karena batas yang dijaga melindungi orang-orang yang hidup bersama. Aturan yang terasa mengekang dapat dibaca ulang sebagai penjagaan.

Ayat 55:9

وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ

Dan tegakkanlah penimbangan dengan adil, dan janganlah kalian mengurangi timbangan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِwa-aqiimuu l-wazna bi-l-qisthidan tegakkanlah penimbangan dengan adil
  2. وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَwa-laa tukhsiruu l-miizaanadan janganlah kalian mengurangi timbangan

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَأَقِيمُواwa-aqiimuudan tegakkanlah kalian
  2. الْوَزْنَl-waznapenimbangan
  3. بِالْقِسْطِbi-l-qisthidengan keadilan
  4. وَلَاwa-laadan janganlah
  5. تُخْسِرُواtukhsiruukalian mengurangi
  6. الْمِيزَانَl-miizaanatimbangan

Inti bacaan

Menyerahkan barang, upah, dan uang kembalian dengan hitungan penuh, termasuk receh kecil yang sering dianggap tidak berarti.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ, wa-aqiimuu l-wazna bi-l-qisthi wa-laa tukhsiruu l-miizaana) yang berarti "dan tegakkanlah penimbangan dengan adil, dan janganlah kalian mengurangi timbangan". Ayat ini memuat perintah pertama dalam surah, aqiimuu, lalu larangan tukhsiruu, dan keduanya ditujukan kepada "kalian" seperti 55:8.

Kata kerja (وَأَقِيمُوا, wa-aqiimuu) yang berarti "dan tegakkanlah" berakar ق-و-م, dan bentuk ini tercatat di 16 ayat. Dua belas di antaranya menyertai salat, seperti di 2:43, (وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ, wa-aqiimuu sh-shalaata) yang berarti "dan tegakkanlah salat". Di 42:13 sasarannya pertanggungjawaban, di 65:2 kesaksian, di 7:29 wajah, dan di ayat ini penimbangan. Di 18:105 kata kerja yang sama bertemu wazn dalam kalimat tentang orang-orang yang kufur, (فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا, fa-laa nuqiimu lahum yawma l-qiyaamati waznan) yang berarti "Kami tidak menegakkan penimbangan bagi mereka pada hari Kiamat".

Kata (الْوَزْنَ, l-wazna) yang berarti "penimbangan" berakar و-ز-ن seperti miizaan, dan dalam ayat ini keduanya hadir berdampingan, al-wazn di awal bersama perintah dan al-miizaan di akhir bersama larangan. Wazn menyebut perbuatan menimbang, sedangkan miizaan menyebut alatnya, sebagaimana diuraikan di 55:7. Terjemahan ini memakai "penimbangan" untuk wazn, sejalan dengan 18:105, dan "timbangan" untuk miizaan, sehingga dua kata yang berbeda di ayat ini tetap terbedakan. Kata kerja dari akar yang sama hadir di 17:35 dan 26:182, (وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ, wa-zinuu bi-l-qisthaasi l-mustaqiimi) yang berarti "dan timbanglah dengan timbangan yang lurus".

Kata (بِالْقِسْطِ, bi-l-qisthi) yang berarti "dengan adil" memuat qisth, kata yang tercatat di 15 ayat. Di 4:135 orang-orang beriman diseru (كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ, kuunuu qawwaamiina bi-l-qisthi) yang berarti "jadilah kalian penegak keadilan", dan di 57:25 neraca diturunkan agar manusia berdiri dengan qisth. Akar ق-و-م dan kata qisth bertemu di kedua ayat itu, dan di ayat ini keduanya bertemu lagi dalam perintah menegakkan penimbangan.

Kata kerja (تُخْسِرُوا, tukhsiruu) yang berarti "kalian mengurangi" berakar خ-س-ر, akar yang tercatat di 60 ayat dan juga menyebut kerugian, seperti di 103:2, (إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ, inna l-insaana la-fii khusrin) yang berarti "sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian". Bentuk tukhsiruu tercatat di ayat ini saja, dan kata kerja yang sama dipakai di 83:3 untuk orang-orang yang curang menakar, (وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ, wa-idzaa kaaluuhum aw wazanuuhum yukhsiruuna) yang berarti "dan apabila menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka menguranginya". Di 26:181 Syuaib berpesan (وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُخْسِرِينَ, wa-laa takuunuu mina l-mukhsiriina) yang berarti "dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang merugikan". Kata kerja ini menyebut perbuatan membuat pihak lain rugi.

Tafsiran

Ayat ini melengkapi 55:8. Larangan di ayat sebelumnya menyebut pelampauan batas secara umum, dan ayat ini menambahkan bentuk yang konkret, mengurangi timbangan, disertai perintah menegakkan penimbangan dengan adil. Perintah dan larangan itu menunjuk keadaan yang dituju, timbangan yang berdiri tegak tanpa condong ke salah satu sisi.

Perbuatan meletakkan di 55:7 berpelaku Allah, sedangkan perintah aqiimuu di ayat ini ditujukan kepada manusia. Timbangan diletakkan oleh-Nya, lalu manusia diperintah menegakkannya. Ukuran disediakan Allah, dan penjagaannya dalam urusan sehari-hari diserahkan kepada manusia. Tuntutan keadilan di dunia itu berhadapan dengan penimbangan pada hari Kiamat (7:8, 21:47), dan 18:105 menyebut golongan yang tidak ditegakkan penimbangan baginya.

Dua belas dari enam belas kemunculan aqiimuu menyertai salat, dan ayat ini memakainya untuk penimbangan. Kata kerja yang sama menghubungkan ibadah dengan kejujuran di pasar, sehingga menegakkan penimbangan terbaca sejajar dengan menegakkan salat. Keduanya menuntut ketelitian dari waktu ke waktu, juga ketika tidak ada orang yang melihat. Salat yang ditegakkan menghadap Allah, dan penimbangan yang ditegakkan menghadap sesama manusia.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja aqiimuu yang di banyak ayat menyertai salat dipakai Allah di ayat ini untuk penimbangan. Orang yang menjaga salatnya dengan tertib dapat bertanya apakah timbangannya juga tegak. Salat yang ditegakkan dan penimbangan yang ditegakkan disebut dengan kata kerja yang sama, dan keduanya menuntut ketelitian yang tidak berkurang ketika tidak ada yang mengawasi. Seseorang yang khusyuk di sajadah dan curang di timbangan sedang menegakkan yang satu dan merobohkan yang lain.
  • Di 83:2-3 orang-orang yang curang meminta takaran penuh ketika menerima, lalu mengurangi ketika menakar untuk orang lain. Kata kerja yang dipakai untuk pengurangan itu sama dengan larangan di ayat ini. Ukuran ganda semacam itu muncul juga di luar pasar, ketika kesalahan sendiri dimaafkan dan kesalahan orang lain dibesar-besarkan. Allah meminta satu penimbangan yang adil untuk semua pihak. Timbangan mana yang dipakai seseorang ketika menilai dirinya, dan timbangan mana ketika menilai orang lain?
  • Kata tukhsiruu berakar sama dengan khusr, kerugian, yang di 103:2 menyebut keadaan manusia. Orang yang mengurangi timbangan membuat orang lain rugi, dan keuntungan dari selisih itu lahir dari perbuatan merugikan. Allah menyebut perbuatan itu dengan akar kerugian, sehingga keuntungan yang tampak di tangan pelakunya terbaca sebagai kerugian dalam penilaian yang lain. Selisih yang diambil dari timbangan orang lain tidak pernah menambah bobot amal pelakunya.
  • Orang-orang beriman di 4:135 diminta menjadi penegak keadilan dan saksi karena Allah, walaupun kesaksian itu memberatkan diri sendiri atau kerabat. Kata qisth yang sama hadir di ayat ini. Penimbangan yang adil mencakup cara seseorang memberi nilai, menulis laporan, menyampaikan kesaksian, dan menceritakan orang lain. Timbangan yang condong ke keluarga atau kawan tetap berat sebelah, walaupun tidak ada barang yang berpindah tangan.
  • Allah meletakkan timbangan di 55:7, lalu di ayat ini menyerahkan penjagaannya kepada manusia. Sesuatu yang dititipkan menuntut kesetiaan penjaganya. Pedagang kecil, pegawai yang menghitung upah, guru yang memberi nilai, dan orang tua yang membagi perhatian kepada anak-anaknya sama-sama memegang titipan itu. Kelalaian terhadapnya jarang terasa berat, karena selisih yang terjadi sering kecil dan tidak terlihat. Selisih yang kecil itu tetap tercatat, karena timbangan itu diletakkan Allah dan pada akhirnya Dia pula yang menimbang.
  • Di 18:105 Allah menyebut orang-orang yang amalnya sia-sia, dan bagi mereka penimbangan tidak ditegakkan pada hari Kiamat. Ayat ini memerintahkan manusia menegakkan penimbangan di dunia, dan kedua ayat memakai pasangan kata yang sama, aqaama dan wazn. Orang yang menegakkan penimbangan di dunia sedang berjalan menuju hari ketika amalnya ditimbang. Kejujuran dalam ukuran kecil ikut menjadi bagian dari bobot amal itu.

Ayat 55:10

وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ

Dan bumi Dia letakkan untuk makhluk,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِwa-l-ardha wadha'ahaa li-l-anaamidan bumi, Dia letakkan untuk makhluk

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَالْأَرْضَwa-l-ardhadan bumi
  2. وَضَعَهَاwadha'ahaameletakkannya
  3. لِلْأَنَامِli-l-anaamibagi makhluk

Inti bacaan

Menaruh wadah minum untuk kucing dan unggas di teras, serta memilah sampah dapur agar tidak mengotori selokan dan kali di lingkungan tempat tinggal.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ, wa-l-ardha wadha'ahaa li-l-anaami) yang berarti "dan bumi Dia letakkan untuk makhluk". Susunannya sejajar dengan awal 55:7. Bumi didahulukan, lalu kata kerja wadha'ahaa menunjuknya kembali dengan akhiran -haa, sebagaimana langit didahulukan lalu ditunjuk ulang oleh rafa'ahaa. Kata ardh di surah ini hadir di tiga ayat, di sini, di 55:29, dan di 55:33, dan di dua ayat terakhir kata itu berdampingan dengan langit.

Kata kerja (وَضَعَهَا, wadha'ahaa) yang berarti "Dia meletakkannya" sama dengan wadha'a di 55:7, dari akar و-ض-ع yang tercatat di 24 ayat, dan terjemahan ini memakai "letakkan" di kedua ayat. Al-Qur'an memakai kata kerja lain ketika menyebut bumi yang dibentangkan. Di 15:19 disebut (وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا, wa-l-ardha madadnaahaa) yang berarti "dan bumi, Kami menghamparkannya", di 51:48 farasynaahaa, dan di 79:30 dahaahaa, dan terjemahan ayat-ayat itu memakai "hamparkan". Ayat ini memakai wadha'a, sehingga bumi dan timbangan disebut dengan perbuatan yang sama.

Bentuk pasif kata kerja ini hadir di 3:96 dengan susunan yang mirip, (إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ, inna awwala baytin wudhi'a li-n-naasi) yang berarti "sesungguhnya rumah pertama yang dibangun untuk manusia". Di sana kata kerja wudhi'a disusul li-, "untuk", seperti wadha'ahaa di ayat ini disusul li-l-anaam. Kedua ayat menyebut sesuatu yang disediakan untuk dipakai banyak pihak.

Kata (لِلْأَنَامِ, li-l-anaami) yang berarti "untuk makhluk" memuat anaam, kata yang tercatat di ayat ini saja, sehingga maknanya tidak dapat diuji lewat pemakaian lain di dalam Al-Qur'an. Terjemahan ini memakai "makhluk", dan ayat-ayat yang merinci hasil bumi sejalan dengan cakupan yang lebih luas daripada manusia. Di 80:27-31 rangkaian biji-bijian, anggur, sayuran, zaitun, pohon kurma, kebun-kebun yang rimbun, buah-buahan, dan rerumputan ditutup dengan (مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ, mataa'an lakum wa-li-an'aamikum) yang berarti "sebagai kesenangan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian" (80:32), dan ungkapan yang sama menutup 79:31-33.

Surah ini juga menyapa dua golongan. Sejak 55:13 sapaan memakai (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) yang berarti "Tuhan kalian berdua", dan 55:14-15 menyebut penciptaan manusia dan jin berdampingan. Bumi yang diletakkan untuk anaam menjadi tempat hidup golongan-golongan yang disapa itu, dan terjemahan "makhluk" menjaga cakupan itu tanpa mempersempitnya kepada manusia. Ayat sesudahnya dibuka dengan (فِيهَا فَاكِهَةٌ, fiihaa faakihatun) yang berarti "padanya ada buah-buahan", dan kata ganti -haa di sana kembali kepada bumi di ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini menutup bingkai yang dibuka di 55:7. Langit ditinggikan di awal bingkai dan bumi diletakkan di akhirnya, dengan susunan kalimat yang sejajar. Di antara keduanya timbangan diletakkan dan manusia diseru untuk menjaganya. Letak itu menempatkan urusan keadilan manusia di tengah antara langit dan bumi, dua ciptaan yang disebut dengan cara yang sama.

Bumi diletakkan untuk makhluk, dan kata kerja yang sama dipakai untuk timbangan. Keduanya diletakkan untuk dipakai, dan pemakaian keduanya menuntut keadilan. Bumi menjadi tempat bersama banyak golongan, sehingga pembagiannya menuntut keadilan, dan larangan melampaui batas di 55:8 menyentuh pula cara manusia memakainya. Rincian isi bumi di 55:11-12, buah-buahan, pohon kurma, biji-bijian yang berkulit, dan bunga-bunga yang harum baunya, memperlihatkan apa saja yang dibagikan itu.

Kata ganti -haa yang menunjuk bumi hadir lagi di 55:26, (كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ, kullu man 'alayhaa faanin) yang berarti "semua yang ada di atasnya akan binasa", lalu 55:27 menyebut wajah Tuhanmu yang tetap. Bumi yang diletakkan untuk makhluk menjadi tempat tinggal yang punya batas waktu, dan surah ini menyebut peletakan dan kefanaan itu dalam satu rangkaian.

Renungan dan Hikmah

  • Bumi sudah diletakkan sebelum seseorang lahir, lengkap dengan tanah untuk berpijak, air, dan tumbuhan yang disebut ayat-ayat sesudahnya. Seorang tamu di rumah yang sudah disiapkan jarang bertanya siapa yang menyapu lantainya, padahal tuan rumahnya layak diingat. Allah meletakkan bumi untuk makhluk, dan setiap langkah di atasnya berlangsung di tempat yang disiapkan-Nya. Rasa memiliki yang berlebihan atas sebidang tanah dapat melunak ketika teringat siapa yang meletakkannya.
  • Di 80:32 hasil bumi disebut sebagai kesenangan bagi manusia dan bagi hewan ternaknya, dan ayat ini meletakkan bumi untuk makhluk. Burung yang mencari makan, hewan yang merumput, dan manusia yang bercocok tanam berbagi tempat yang sama. Mengambil dari bumi tanpa memberi ruang bagi yang lain menyempitkan pemberian yang diletakkan Allah untuk banyak golongan. Siapa saja yang ikut makan dari hasil bumi yang digarap seseorang hari ini?
  • Bumi dan timbangan diletakkan dengan kata kerja yang sama. Keduanya dititipkan untuk dipakai, dan keduanya dapat dipakai dengan adil atau dengan curang. Merusak sungai demi keuntungan sendiri, menguasai tanah milik orang lain, atau menimbun hasil panen mengurangi bagian makhluk lain dari bumi yang diletakkan untuk mereka. Larangan melampaui batas di 55:8 terbaca dekat dengan cara seseorang memperlakukan tanah yang dipijaknya.
  • Kaki menyentuh tanah berkali-kali dalam sehari tanpa pernah terpikir bahwa tanah itu diletakkan. Allah menyebut bumi dalam daftar nikmat-Nya, sejajar dengan langit yang ditinggikan. Sesuatu yang terlalu dekat sering luput dari rasa syukur. Menyadari pijakan di bawah kaki sebagai pemberian dapat mengubah cara seseorang berjalan, bekerja, dan memperlakukan lingkungannya. Petani yang mencangkul, anak yang berlari, dan orang tua yang berjalan pelan sama-sama berpijak pada pemberian yang diletakkan untuk mereka.
  • Semua yang ada di atas bumi disebut akan binasa di 55:26, sesudah bumi disebut diletakkan untuk makhluk di ayat ini. Rumah, kebun, dan tanah yang dikumpulkan berdiri di atas pemberian yang punya batas waktu. Tanah yang sama sudah dipijak generasi-generasi sebelumnya dan akan dipijak generasi sesudahnya. Allah menyebut wajah-Nya yang tetap di 55:27, sesudah kefanaan itu. Orang yang menyadari sifat sementara tempat tinggalnya dapat memakai bumi dengan tangan yang lebih ringan dan tidak menggenggamnya terlalu erat.
  • Di 3:96 kata kerja yang sama menyebut rumah pertama yang dibangun untuk manusia, dan ayat ini menyebut bumi yang diletakkan untuk makhluk. Keduanya disediakan bagi banyak pihak. Bumi seluruhnya dapat dipandang sebagai rumah bersama yang disiapkan Allah, dan setiap penghuninya menanggung kewajiban tamu yang menjaga rumah itu. Orang yang memperlakukan bumi sebagai milik pribadi lupa bahwa dirinya juga tamu di sana. Tamu yang baik meninggalkan rumah dalam keadaan yang layak bagi penghuni berikutnya.