وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ

dan langit Dia tinggikan, dan Dia meletakkan timbangan,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَاwa-s-samaa'a rafa'ahaadan langit, Dia tinggikan
  2. وَوَضَعَ الْمِيزَانَwa-wadha'a l-miizaanadan Dia meletakkan timbangan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَالسَّمَاءَwa-s-samaa'adan langit
  2. رَفَعَهَاrafa'ahaameninggikannya
  3. وَوَضَعَwa-wadha'adan Dia meletakkan
  4. الْمِيزَانَl-miizaanatimbangan

Inti bacaan

Memeriksa ulang alat ukur yang dipakai sehari-hari, dari timbangan warung sampai rumus nilai di lembar kerja, agar angka yang keluar sesuai dengan kenyataan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ, wa-s-samaa'a rafa'ahaa wa-wadha'a l-miizaana) yang berarti "dan langit Dia tinggikan, dan Dia meletakkan timbangan". Kalimat pertama mendahulukan langit, lalu kata kerja rafa'ahaa menunjuknya kembali dengan akhiran -haa. Kalimat kedua mendahulukan kata kerja, wadha'a, lalu menyebut al-miizaan sesudahnya. Kedua kata kerja itu berlawanan arah, yang satu meninggikan dan yang lain meletakkan.

Kata kerja (رَفَعَهَا, rafa'ahaa) yang berarti "Dia meninggikannya" berakar ر-ف-ع. Peninggian langit juga disebut di 13:2, (رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا, rafa'a as-samaawaati bi-ghayri 'amadin tarawnahaa) yang berarti "meninggikan langit tanpa tiang yang kalian lihat", di 79:28, (رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا, rafa'a samkahaa fa-sawwaahaa) yang berarti "Dia meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya", dan di 88:18 dalam bentuk pertanyaan, (وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ, wa-ilaa s-samaa'i kayfa rufi'at) yang berarti "dan langit, bagaimana ia ditinggikan". Di keempat ayat itu langit disebut sebagai sesuatu yang ditinggikan oleh-Nya.

Kata kerja (وَوَضَعَ, wa-wadha'a) yang berarti "dan Dia meletakkan" berakar و-ض-ع, akar yang tercatat di 24 ayat. Di 21:47 akar yang sama menyertai timbangan pada hari Kiamat, (وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ, wa-nadha'u l-mawaaziina l-qistha) yang berarti "Kami akan meletakkan timbangan yang tepat", dan terjemahan ini memakai "meletakkan" di kedua ayat. Kata kerja wadha'a dipakai lagi di 55:10 untuk bumi, sehingga surah ini menyebut timbangan dan bumi dengan perbuatan yang sama. Kata "menegakkan" disediakan untuk aqiimuu di 55:9, kata kerja lain yang ditujukan kepada manusia.

Kata (الْمِيزَانَ, l-miizaana) yang berarti "timbangan" berakar و-ز-ن, akar yang tercatat di 21 ayat, dan bentuk tunggal miizaan tercatat di 9 ayat. Huruf و pada akar itu berubah menjadi ي dalam miizaan karena pola pembentukan katanya, pola yang menyebut alat, sehingga miizaan berarti alat untuk menimbang. Di 6:152, 7:85, 11:84, dan 11:85 miizaan disebut bersama takaran dalam urusan jual beli, misalnya di 6:152, (وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ, wa-awfuu l-kayla wa-l-miizaana bi-l-qisthi) yang berarti "dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil". Di 42:17 dan 57:25 miizaan diturunkan bersama Kitab, dan terjemahan kedua ayat itu memakai "neraca". Tiga ayat lainnya berurutan di surah ini, 55:7-9. Bentuk jamaknya, mawaaziin, menyebut timbangan amal pada hari Kiamat di 7:8-9, 21:47, 23:102-103, 101:6, dan 101:8.

Tiga ayat berturut-turut, 55:7 sampai 55:9, berakhir dengan miizaan, berbunyi l-miizaana, l-miizaani, lalu l-miizaana lagi. Ketiganya bersambung sebagai satu rangkaian tentang timbangan. Langit mengawali rangkaian itu di ayat ini, dan bumi menutupnya di awal 55:10, (وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ, wa-l-ardha wadha'ahaa li-l-anaami) yang berarti "dan bumi Dia letakkan untuk makhluk".

Tafsiran

Ayat ini menyandingkan dua perbuatan yang berlawanan arah. Langit ditinggikan menjauh dari jangkauan manusia, dan timbangan diletakkan di dekatnya. Pasangan perbuatan yang sama muncul di surah lain, (وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ, wa-wadha'naa 'anka wizraka) yang berarti "dan Kami turunkan darimu bebanmu" (94:2), lalu (وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ, wa-rafa'naa laka dzikraka) yang berarti "dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu" (94:4). Di kedua surah Allah yang meninggikan dan Dia pula yang meletakkan, dan di surah ini yang diletakkan berupa ukuran yang dipegang manusia.

Timbangan di ayat ini disebut bersama penciptaan langit, dan kedudukannya berbeda dari ayat-ayat yang menyandingkannya dengan takaran dagang atau dengan Kitab. Di 57:25 neraca diturunkan bersama Kitab (لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ, li-yaquuma n-naasu bi-l-qisthi) yang berarti "agar manusia dapat berlaku adil". Di surah ini timbangan diletakkan di tengah rangkaian ciptaan, di antara langit yang ditinggikan dan bumi yang diletakkan untuk makhluk. Keadilan dalam menimbang terbaca sebagai bagian dari tatanan yang sama dengan langit dan bumi, dan tuntutan kepada manusia di 55:8-9 bersandar pada tatanan itu.

Susunan 55:7-10 membentuk bingkai. Langit di awal dan bumi di akhir sama-sama didahulukan lalu ditunjuk ulang dengan akhiran -haa, dan di antara keduanya timbangan disebut tiga kali, bersama larangan dan perintah bagi manusia. Timbangan yang ditempatkan Allah di tengah bingkai itu menjadi tempat pertemuan antara ciptaan yang tunduk dan manusia yang diseru.

Renungan dan Hikmah

  • Langit ditinggikan jauh dari jangkauan tangan, dan timbangan diletakkan di dekat manusia. Allah tidak meminta manusia mengatur langit atau menahan bintang di tempatnya. Tuntutan yang diberikan menyangkut sesuatu yang dapat dipegang, takaran di pasar, ukuran dalam menilai, dan kejujuran dalam membagi. Orang yang merasa tidak berdaya menghadapi perkara besar di dunia masih memegang timbangan kecil di tangannya sendiri, dan timbangan itu yang ditanyakan kepadanya.
  • Timbangan diletakkan di ayat ini untuk dipakai manusia selama hidupnya, dan di 21:47 Allah menyebut timbangan yang tepat yang akan diletakkan pada hari Kiamat. Kedua ayat memakai kata kerja yang sama. Timbangan pertama dipegang manusia untuk menimbang urusan dengan orang lain, dan timbangan kedua menimbang amal manusia itu sendiri. Cara seseorang memakai timbangan yang pertama ikut tercatat pada timbangan yang kedua. Di 21:47 Allah menambahkan bahwa amal seberat biji sawi pun akan didatangkan, sehingga selisih kecil dalam timbangan dunia tetap terbawa.
  • Di 42:17 dan 57:25 Allah menurunkan Kitab bersama neraca, sehingga petunjuk dan ukuran keadilan datang berdampingan. Kitab memberi arah, dan neraca memberi ukuran untuk menjalaninya. Membaca Al-Qur'an dengan tekun sambil curang dalam urusan kecil memisahkan dua hal yang diturunkan bersama. Kesalehan yang tampak dalam ibadah diuji juga di meja jual beli, di lembar penilaian, dan di pembagian warisan. Di tempat mana timbangan seseorang lebih mudah bergeser dari keadilan?
  • Timbangan di ayat ini diletakkan Allah, dan manusia datang ke dunia yang ukurannya sudah tersedia. Rasa adil yang muncul pada anak kecil ketika bagiannya dikurangi termasuk pemberian yang sama. Manusia dapat membuat alat timbang dari logam atau kayu, sedangkan ukuran benar dan salah yang dipakainya berasal dari luar dirinya. Kesadaran itu menahan seseorang dari menggeser ukuran keadilan mengikuti kepentingannya. Timbangan yang diletakkan Allah tidak ikut berubah ketika harga naik atau ketika pembeli lengah.
  • Di 94:2 dan 94:4 Allah menurunkan beban dan meninggikan sebutan, dua perbuatan yang juga dipasangkan di ayat ini. Hidup seseorang mengalami keduanya, saat bebannya diringankan dan saat namanya diangkat. Keduanya datang dari Dia yang sama, dan ayat ini mengingatkan bahwa yang ditinggikan tetap berada di bawah ukuran. Seseorang boleh naik pangkat, tetapi timbangan tetap di tangannya, dan keadilan tetap dituntut darinya setinggi apa pun jabatannya.
  • Langit di 13:2 ditinggikan tanpa tiang yang terlihat, dan keteraturannya bertahan tanpa diawasi manusia. Manusia melihat langit itu setiap hari tanpa pernah menyaksikan penopangnya. Timbangan di tangan manusia tidak berjalan dengan cara itu, karena ukuran yang jujur dapat runtuh begitu penjaganya lengah. Setiap kali seseorang menengadah ke langit yang tetap di tempatnya, ada pengingat tentang tatanan yang dijaga Allah, dan tentang timbangan yang penjagaannya diserahkan kepada manusia sendiri.