أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ
agar kalian tidak melampaui batas dalam timbangan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِallaa tathghaw fii l-miizaaniagar kalian tidak melampaui batas dalam timbangan
Terjemahan per kata (4 kata)
- أَلَّاallaaagar tidak
- تَطْغَوْاtathghawkalian melampaui batas
- فِيfiidalam
- الْمِيزَانِl-miizaanitimbangan
Inti bacaan
Berhenti sejenak sebelum menawar, menagih, atau menilai pekerjaan orang, lalu bertanya apakah ukuran yang dipakai masih terasa adil kalau posisinya dibalik.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ, allaa tathghaw fii l-miizaani) yang berarti "agar kalian tidak melampaui batas dalam timbangan". Kata allaa gabungan dari an, "agar", dan laa, "tidak", sehingga ayat ini menyambung 55:7 sebagai tujuan dari timbangan yang diletakkan. Tujuan itu berbentuk larangan, sehingga timbangan diletakkan agar sesuatu tidak terjadi, dan 55:9 kemudian menambahkan perintah yang menyebut apa yang harus terjadi. Kata kerja tathghaw berbentuk jamak orang kedua, "kalian", dan untuk pertama kalinya surah ini menyapa pihak kedua secara langsung. Ayat 55:1 sampai 55:7 berbicara tentang Dia dan ciptaan-Nya dalam bentuk orang ketiga.
Kata kerja (تَطْغَوْا, tathghaw) yang berarti "kalian melampaui batas" berakar ط-غ-ي, akar yang tercatat di 39 ayat, dan bentuk tathghaw tercatat di 3 ayat. Di 11:112 larangan (وَلَا تَطْغَوْا, wa-laa tathghaw) yang berarti "dan janganlah kalian melampaui batas" menyertai perintah untuk teguh sebagaimana diperintahkan. Di 20:81 larangan itu menyusul perintah makan dari rezeki yang baik, (وَلَا تَطْغَوْا فِيهِ, wa-laa tathghaw fiihi) yang berarti "dan janganlah kalian melampaui batas padanya". Susunan di 20:81 memakai kata depan fii seperti ayat ini, sehingga yang dijaga di sana rezeki dan di sini timbangan.
Arti dasar akar ini terbaca dari pemakaiannya untuk air dan penglihatan. Di 69:11 air disebut melampaui batas ketika meluap melewati tempatnya, dan pada saat itu Kami mengangkut kalian ke dalam yang berlayar. Di 53:17 penglihatan disebut tetap pada batasnya, (مَا زَاغَ الْبَصَرُ, maa zaagha l-basharu) yang berarti "penglihatan tidak menyimpang", disusul pernyataan bahwa penglihatan itu tidak melampaui batas. Dari pemakaian itu terlihat gerak melewati batas yang sudah ditetapkan, dan larangan di ayat ini mengandaikan timbangan yang sudah diletakkan sebagai batasnya.
Kata (الْمِيزَانِ, l-miizaani) yang berarti "timbangan" memakai kata sandang dan menunjuk kembali timbangan yang baru disebut di 55:7. Ayat ini melarang pelampauan batas di dalam timbangan itu tanpa merinci bentuknya, dan 55:9 kemudian menyebut satu bentuk yang konkret, mengurangi timbangan.
Sapaan di ayat ini berbentuk jamak, dan bentuk jamak itu berlanjut di 55:9, pada aqiimuu dan tukhsiruu. Sejak 55:13 sapaan berganti menjadi bentuk dua, (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani) yang berarti "maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan", dan bentuk dua itu diulang sampai akhir surah. Larangan tentang timbangan disampaikan kepada "kalian" sebelum surah menyebut dua golongan yang disapanya.
Tafsiran
Ayat ini menyebut tujuan timbangan yang diletakkan di 55:7. Timbangan itu ada agar tidak dilampaui, dan sapaan pertama surah kepada "kalian" berupa larangan tentang ukuran. Sesudah tujuh ayat tentang pemberian Ar-Rahman, tuntutan pertama yang disebut menyangkut cara manusia memperlakukan ukuran di antara mereka. Pemberian yang disebut sebelumnya belum disertai tuntutan, dan tuntutan itu baru datang ketika timbangan sudah berada di tangan manusia.
Akar ط-غ-ي dipakai untuk Firaun, (إِنَّهُ طَغَىٰ, innahu thaghaa) yang berarti "sesungguhnya ia telah melampaui batas" (20:24), dan untuk air yang meluap di 69:11. Ayat ini memakai akar yang sama untuk perkara yang tampak kecil, pelampauan dalam menimbang. Kesewenang-wenangan yang dibinasakan dalam kisah-kisah besar dan pelampauan di sebuah timbangan disebut dengan akar yang sama, sehingga ukuran kecil pun berada di bawah larangan yang sama.
Di 20:81 larangan melampaui batas disambung dengan ancaman, (فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِي, fa-yahilla 'alaykum ghadhabii) yang berarti "nanti kemurkaan-Ku menimpa kalian". Di surah ini larangan itu disambung dengan perintah menegakkan penimbangan (55:9), lalu surah kembali menyebut pemberian di 55:10. Larangan disampaikan di tengah daftar nikmat, dan nada surah tetap nada pemberian.
Renungan dan Hikmah
- Sesudah tujuh ayat tentang pemberian, sapaan pertama surah ini kepada "kalian" berupa larangan melampaui batas dalam timbangan. Allah membuka tuntutan-Nya dengan urusan yang dekat dengan keseharian, takaran di pasar, pembagian di rumah, dan ukuran dalam menilai orang lain. Keimanan diuji lebih dulu pada hal-hal yang dapat diukur, dan setiap transaksi kecil termasuk dalam sapaan itu. Takaran mana yang sedang dipegang seseorang hari ini, dan ke arah mana takaran itu condong?
- Firaun disebut melampaui batas di 20:24, dan air yang meluap disebut dengan akar yang sama di 69:11. Kecurangan kecil dalam timbangan dilarang dengan akar yang sama. Kesewenang-wenangan besar jarang lahir tiba-tiba, dan kebiasaan menggeser ukuran sedikit demi sedikit dapat menjadi awalnya. Orang yang merasa jauh dari watak Firaun dapat memeriksa timbangannya sendiri, karena Al-Qur'an menyebut keduanya dengan akar yang sama.
- Di 20:81 Allah menyuruh makan dari rezeki yang baik lalu melarang melampaui batas padanya, dan di ayat ini larangan yang sama tertuju kepada timbangan. Kedua ayat memakai kata depan fii, "di dalam". Pelampauan batas dapat terjadi dalam cara seseorang mengambil untuk dirinya dan dalam cara menakar untuk orang lain. Makan berlebihan dan menimbang curang tampak berjauhan, dan keduanya berasal dari keengganan menerima batas yang diberikan. Di kedua ayat batas itu diletakkan pada sesuatu yang baik, sehingga pelampauan dapat terjadi pada perkara yang pada asalnya dibolehkan.
- Penglihatan di 53:17 disebut tidak menyimpang dan tidak melampaui batas. Pandangan pun punya ukuran, dan akar yang sama dengan larangan di ayat ini dipakai untuk menjaganya. Menilai orang lain dari satu kesalahan, atau menatap milik orang lain dengan iri, termasuk pandangan yang melewati batasnya. Larangan dalam timbangan dapat dibaca bersama ayat itu, karena menilai dengan adil dimulai dari pandangan yang terjaga sebelum tangan bergerak menakar.
- Melampaui batas mengandaikan adanya batas yang sudah ditetapkan sebelum seseorang bertindak. Timbangan itu diletakkan Allah di 55:7, dan larangan di ayat ini datang sesudahnya. Orang sering menggeser batas dengan alasan kebiasaan, dengan anggapan semua orang juga begitu, atau dengan selisih yang dianggap kecil. Ayat ini mengembalikan batas itu kepada Dia yang meletakkannya, sehingga ukurannya tidak berubah mengikuti suasana pasar. Ukuran yang ditetapkan Pembuatnya tetap berlaku walau semua orang di pasar sepakat melanggarnya.
- Larangan di ayat ini diapit daftar pemberian, sesudah langit dan timbangan, sebelum bumi dan buah-buahan. Di 20:81 larangan yang sama disusul ancaman kemurkaan, sedangkan di surah ini larangan itu disusul perintah menegakkan penimbangan dan pemberian berikutnya. Allah menyampaikan larangan sebagai bagian dari kasih-Nya, karena batas yang dijaga melindungi orang-orang yang hidup bersama. Aturan yang terasa mengekang dapat dibaca ulang sebagai penjagaan.