وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ
Dan tegakkanlah penimbangan dengan adil, dan janganlah kalian mengurangi timbangan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِwa-aqiimuu l-wazna bi-l-qisthidan tegakkanlah penimbangan dengan adil
- وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَwa-laa tukhsiruu l-miizaanadan janganlah kalian mengurangi timbangan
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَأَقِيمُواwa-aqiimuudan tegakkanlah kalian
- الْوَزْنَl-waznapenimbangan
- بِالْقِسْطِbi-l-qisthidengan keadilan
- وَلَاwa-laadan janganlah
- تُخْسِرُواtukhsiruukalian mengurangi
- الْمِيزَانَl-miizaanatimbangan
Inti bacaan
Menyerahkan barang, upah, dan uang kembalian dengan hitungan penuh, termasuk receh kecil yang sering dianggap tidak berarti.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ, wa-aqiimuu l-wazna bi-l-qisthi wa-laa tukhsiruu l-miizaana) yang berarti "dan tegakkanlah penimbangan dengan adil, dan janganlah kalian mengurangi timbangan". Ayat ini memuat perintah pertama dalam surah, aqiimuu, lalu larangan tukhsiruu, dan keduanya ditujukan kepada "kalian" seperti 55:8.
Kata kerja (وَأَقِيمُوا, wa-aqiimuu) yang berarti "dan tegakkanlah" berakar ق-و-م, dan bentuk ini tercatat di 16 ayat. Dua belas di antaranya menyertai salat, seperti di 2:43, (وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ, wa-aqiimuu sh-shalaata) yang berarti "dan tegakkanlah salat". Di 42:13 sasarannya pertanggungjawaban, di 65:2 kesaksian, di 7:29 wajah, dan di ayat ini penimbangan. Di 18:105 kata kerja yang sama bertemu wazn dalam kalimat tentang orang-orang yang kufur, (فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا, fa-laa nuqiimu lahum yawma l-qiyaamati waznan) yang berarti "Kami tidak menegakkan penimbangan bagi mereka pada hari Kiamat".
Kata (الْوَزْنَ, l-wazna) yang berarti "penimbangan" berakar و-ز-ن seperti miizaan, dan dalam ayat ini keduanya hadir berdampingan, al-wazn di awal bersama perintah dan al-miizaan di akhir bersama larangan. Wazn menyebut perbuatan menimbang, sedangkan miizaan menyebut alatnya, sebagaimana diuraikan di 55:7. Terjemahan ini memakai "penimbangan" untuk wazn, sejalan dengan 18:105, dan "timbangan" untuk miizaan, sehingga dua kata yang berbeda di ayat ini tetap terbedakan. Kata kerja dari akar yang sama hadir di 17:35 dan 26:182, (وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ, wa-zinuu bi-l-qisthaasi l-mustaqiimi) yang berarti "dan timbanglah dengan timbangan yang lurus".
Kata (بِالْقِسْطِ, bi-l-qisthi) yang berarti "dengan adil" memuat qisth, kata yang tercatat di 15 ayat. Di 4:135 orang-orang beriman diseru (كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ, kuunuu qawwaamiina bi-l-qisthi) yang berarti "jadilah kalian penegak keadilan", dan di 57:25 neraca diturunkan agar manusia berdiri dengan qisth. Akar ق-و-م dan kata qisth bertemu di kedua ayat itu, dan di ayat ini keduanya bertemu lagi dalam perintah menegakkan penimbangan.
Kata kerja (تُخْسِرُوا, tukhsiruu) yang berarti "kalian mengurangi" berakar خ-س-ر, akar yang tercatat di 60 ayat dan juga menyebut kerugian, seperti di 103:2, (إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ, inna l-insaana la-fii khusrin) yang berarti "sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian". Bentuk tukhsiruu tercatat di ayat ini saja, dan kata kerja yang sama dipakai di 83:3 untuk orang-orang yang curang menakar, (وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ, wa-idzaa kaaluuhum aw wazanuuhum yukhsiruuna) yang berarti "dan apabila menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka menguranginya". Di 26:181 Syuaib berpesan (وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُخْسِرِينَ, wa-laa takuunuu mina l-mukhsiriina) yang berarti "dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang merugikan". Kata kerja ini menyebut perbuatan membuat pihak lain rugi.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi 55:8. Larangan di ayat sebelumnya menyebut pelampauan batas secara umum, dan ayat ini menambahkan bentuk yang konkret, mengurangi timbangan, disertai perintah menegakkan penimbangan dengan adil. Perintah dan larangan itu menunjuk keadaan yang dituju, timbangan yang berdiri tegak tanpa condong ke salah satu sisi.
Perbuatan meletakkan di 55:7 berpelaku Allah, sedangkan perintah aqiimuu di ayat ini ditujukan kepada manusia. Timbangan diletakkan oleh-Nya, lalu manusia diperintah menegakkannya. Ukuran disediakan Allah, dan penjagaannya dalam urusan sehari-hari diserahkan kepada manusia. Tuntutan keadilan di dunia itu berhadapan dengan penimbangan pada hari Kiamat (7:8, 21:47), dan 18:105 menyebut golongan yang tidak ditegakkan penimbangan baginya.
Dua belas dari enam belas kemunculan aqiimuu menyertai salat, dan ayat ini memakainya untuk penimbangan. Kata kerja yang sama menghubungkan ibadah dengan kejujuran di pasar, sehingga menegakkan penimbangan terbaca sejajar dengan menegakkan salat. Keduanya menuntut ketelitian dari waktu ke waktu, juga ketika tidak ada orang yang melihat. Salat yang ditegakkan menghadap Allah, dan penimbangan yang ditegakkan menghadap sesama manusia.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja aqiimuu yang di banyak ayat menyertai salat dipakai Allah di ayat ini untuk penimbangan. Orang yang menjaga salatnya dengan tertib dapat bertanya apakah timbangannya juga tegak. Salat yang ditegakkan dan penimbangan yang ditegakkan disebut dengan kata kerja yang sama, dan keduanya menuntut ketelitian yang tidak berkurang ketika tidak ada yang mengawasi. Seseorang yang khusyuk di sajadah dan curang di timbangan sedang menegakkan yang satu dan merobohkan yang lain.
- Di 83:2-3 orang-orang yang curang meminta takaran penuh ketika menerima, lalu mengurangi ketika menakar untuk orang lain. Kata kerja yang dipakai untuk pengurangan itu sama dengan larangan di ayat ini. Ukuran ganda semacam itu muncul juga di luar pasar, ketika kesalahan sendiri dimaafkan dan kesalahan orang lain dibesar-besarkan. Allah meminta satu penimbangan yang adil untuk semua pihak. Timbangan mana yang dipakai seseorang ketika menilai dirinya, dan timbangan mana ketika menilai orang lain?
- Kata tukhsiruu berakar sama dengan khusr, kerugian, yang di 103:2 menyebut keadaan manusia. Orang yang mengurangi timbangan membuat orang lain rugi, dan keuntungan dari selisih itu lahir dari perbuatan merugikan. Allah menyebut perbuatan itu dengan akar kerugian, sehingga keuntungan yang tampak di tangan pelakunya terbaca sebagai kerugian dalam penilaian yang lain. Selisih yang diambil dari timbangan orang lain tidak pernah menambah bobot amal pelakunya.
- Orang-orang beriman di 4:135 diminta menjadi penegak keadilan dan saksi karena Allah, walaupun kesaksian itu memberatkan diri sendiri atau kerabat. Kata qisth yang sama hadir di ayat ini. Penimbangan yang adil mencakup cara seseorang memberi nilai, menulis laporan, menyampaikan kesaksian, dan menceritakan orang lain. Timbangan yang condong ke keluarga atau kawan tetap berat sebelah, walaupun tidak ada barang yang berpindah tangan.
- Allah meletakkan timbangan di 55:7, lalu di ayat ini menyerahkan penjagaannya kepada manusia. Sesuatu yang dititipkan menuntut kesetiaan penjaganya. Pedagang kecil, pegawai yang menghitung upah, guru yang memberi nilai, dan orang tua yang membagi perhatian kepada anak-anaknya sama-sama memegang titipan itu. Kelalaian terhadapnya jarang terasa berat, karena selisih yang terjadi sering kecil dan tidak terlihat. Selisih yang kecil itu tetap tercatat, karena timbangan itu diletakkan Allah dan pada akhirnya Dia pula yang menimbang.
- Di 18:105 Allah menyebut orang-orang yang amalnya sia-sia, dan bagi mereka penimbangan tidak ditegakkan pada hari Kiamat. Ayat ini memerintahkan manusia menegakkan penimbangan di dunia, dan kedua ayat memakai pasangan kata yang sama, aqaama dan wazn. Orang yang menegakkan penimbangan di dunia sedang berjalan menuju hari ketika amalnya ditimbang. Kejujuran dalam ukuran kecil ikut menjadi bagian dari bobot amal itu.