Ayat 55:10
وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ
Dan bumi Dia bentangkan untuk makhluk,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِwa-l-ardha wadha'ahaa li-l-anaamidan bumi, Dia bentangkan untuk makhluk
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَالْأَرْضَwa-l-ardhadan bumi
- وَضَعَهَاwadha'ahaameletakkannya
- لِلْأَنَامِli-l-anaamibagi makhluk
Inti bacaan
Bumi sebagai anugerah bersama: 'bumi Dia bentangkan untuk makhluk', kata 'makhluk' (bukan hanya manusia) menegaskan bahwa bumi disediakan untuk seluruh kehidupan, dasar bagi tanggung jawab menjaga lingkungan bagi semua penghuni, bukan eksploitasi eksklusif manusia semata.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ, wa-l-ardha wadha'ahaa li-l-anaami). Susunan kalimatnya mengulang pola yang sudah muncul di 55:7: objek didahulukan di awal kalimat, lalu ditunjuk ulang lewat kata ganti yang menempel pada kata kerjanya. Di 55:7, (السَّمَاءَ, as-samaa'a) "langit" didahulukan, lalu kata kerja (رَفَعَهَا, rafa'ahaa) menunjuknya kembali lewat akhiran -haa. Di sini, (الْأَرْضَ, al-ardha) "bumi" didahulukan dengan cara yang sama persis, lalu kata kerja (وَضَعَهَا, wadha'ahaa) menunjuknya kembali lewat akhiran -haa yang sama. Susunan ini menonjolkan bumi sebagai topik utama kalimat, sebagaimana langit ditonjolkan tiga ayat sebelumnya, dan menandakan bahwa keduanya, langit dan bumi, disebut sebagai dua hal yang setara kedudukannya dalam daftar pemberian ini, bukan bumi sekadar tambahan kecil sesudah langit.
Kata kerja (وَضَعَهَا, wadha'ahaa) berasal dari akar و-ض-ع, akar yang sama dengan kata kerja (وَضَعَ, wadha'a) pada 55:7, "Dia meletakkan timbangan". Akar ini muncul dua puluh enam kali di seluruh Al-Qur'an dengan objek yang beragam, misalnya gelas-gelas yang tersedia pada 88:14, beban yang diringankan pada 94:2, dan peperangan yang meletakkan beban-bebannya pada 47:4, dan di surah ini ia dipakai dua kali dengan objek yang sangat berbeda sifatnya: pada 55:7 untuk timbangan, sesuatu yang tidak berwujud fisik melainkan ukuran keadilan, dan di sini untuk bumi, sesuatu yang berwujud dan menjadi tempat berpijak. Dua tindakan "meletakkan" itu, satu abstrak dan satu konkret, disandingkan oleh kata kerja yang sama, sehingga "meletakkan" di sini tidak sekadar berarti menaruh benda di suatu tempat, melainkan menetapkan sesuatu pada kedudukannya yang seharusnya, entah kedudukan itu berupa ukuran keadilan bagi timbangan atau berupa hamparan tempat tinggal bagi bumi.
Kata (لِلْأَنَامِ, li-l-anaami) hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, tepat di ayat ini. Karena hanya muncul sekali, tidak ada ayat lain yang bisa dibandingkan untuk melihat bagaimana kata ini dipakai pada konteks yang berbeda. Yang bisa diperiksa hanyalah cakupan maknanya: (أَنَام, anaam) merujuk pada segala yang bernapas dan hidup di muka bumi, bukan istilah yang sempit untuk manusia saja. Ini berbeda dari kata (إِنْسَان, insaan) yang dipakai di 55:3 dan 55:14 untuk menyebut manusia secara khusus, dan berbeda pula dari (الْجَانَّ, al-jaanna) yang dipakai di 55:15 untuk menyebut jin secara khusus. Cakupan yang lebih luas pada kata (أَنَام, anaam) sejalan dengan bumi yang disebut sebagai tempat tinggal, karena yang menempatinya bukan hanya satu golongan makhluk, sebagaimana surah ini sendiri kelak menyapa jin dan manusia berdampingan lewat kata ganti dual (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) pada 55:13 dan seterusnya.
Kata (الْأَرْضَ, al-ardha) sendiri berkedudukan sebagai objek yang didahulukan, ditandai akhiran fathah yang menunjukkan kasus akusatif, bukan subjek kalimat sekalipun letaknya di awal. Pelaku sebenarnya tetap Dia, sebagaimana seluruh rangkaian ayat sebelumnya sejak 55:5, dan bumi di sini berkedudukan sebagai sasaran tindakan-Nya, sejajar dengan langit dan timbangan pada ayat-ayat sebelum ini. Rangkaian ayat 55:7 tentang langit dan timbangan, lalu 55:10 tentang bumi, sama-sama memakai kata kerja dari akar و-ض-ع dan sama-sama menempatkan objeknya di depan, sehingga membentuk satu pola tunggal yang menyebut tiga hal berbeda, langit, timbangan, dan bumi, dengan cara penyampaian yang sama persis.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan hamparan bumi ke dalam daftar anugerah yang sudah dimulai sejak matahari dan bulan di 55:5, lalu bintang dan pohon di 55:6, lalu langit dan timbangan di 55:7-9. Sesudah tiga ayat yang membicarakan langit dan ukuran keadilan yang menjaga tatanan, ayat ini berpindah dari yang di atas ke yang di bawah, dari yang mengatur ke yang menampung, tanpa jeda transisi apa pun selain huruf sambung di depannya.
Yang paling menonjol dari susunan ayat ini adalah kesetaraan penyebutannya dengan langit di 55:7. Bumi tidak disebut sebagai pelengkap sesudah langit, melainkan disebut dengan pola kalimat yang identik, kata kerja dari akar yang sama, cara penekanan objek yang sama. Kesetaraan bentuk ini membawa pesan bahwa bumi sama pentingnya dengan langit dalam tatanan yang digambarkan surah ini, bukan sekadar tempat berpijak yang kebetulan ada di bawah langit yang megah.
Kata yang dipakai untuk menyebut penghuni bumi, (أَنَام, anaam), tidak menyebut manusia secara khusus. Bumi di sini diletakkan untuk seluruh yang bernapas, cakupan yang lebih luas dan sejalan dengan surah ini yang menyapa jin dan manusia berdampingan sejak ayat-ayat berikutnya. Anugerah bumi, dengan kata lain, bukan anugerah yang eksklusif bagi satu golongan makhluk saja.
Ayat ini juga membuka rangkaian baru. Sesudah menyebut bumi diletakkan, dua ayat berikutnya, 55:11 dan 55:12, akan merinci apa saja yang tumbuh di atasnya: buah-buahan, pohon kurma, biji-bijian, dan tumbuhan yang harum. Ayat ini adalah kalimat pembuka bagi rincian itu, menyebut wadahnya sebelum menyebut isinya.
Renungan dan Hikmah
- Bumi yang dipijak hari ini disebut ayat ini sebagai sesuatu yang diletakkan oleh Allah, bukan sesuatu yang ada dengan sendirinya atau milik siapa pun yang menempatinya. Ada perbedaan antara memandang tanah sebagai warisan bebas yang tersedia untuk diperlakukan sesuka hati, dan memandangnya sebagai sesuatu yang diletakkan dengan sengaja oleh Dia yang sama yang menegakkan timbangan keadilan tiga ayat sebelumnya. Kalau bumi ini setara kedudukannya dengan timbangan dalam daftar anugerah, bagaimana seharusnya ia diperlakukan, sebagai barang yang boleh dihabiskan atau sebagai amanah yang diletakkan dengan ukuran?
- Kata yang dipakai ayat ini untuk penghuni bumi mencakup lebih dari manusia saja, sesuatu yang mudah terlewat kalau ayat ini dibaca cepat. Kebiasaan menganggap bumi ini disediakan khusus bagi manusia, dengan makhluk lain sebagai pelengkap atau sumber daya, tidak sepenuhnya sejalan dengan cakupan kata ini. Allah, yang disebut Ar-Rahman di pembukaan surah ini, meletakkan bumi bagi segala yang bernapas, bukan bagi satu golongan yang merasa paling berhak atasnya.
- Langit yang megah dan bumi yang dipijak setiap hari disebut dengan cara yang sama persis dalam ayat ini dan ayat sebelumnya, kata kerja yang sama, susunan kalimat yang sama. Sesuatu yang terlalu dekat dan terlalu biasa, seperti tanah yang diinjak setiap langkah, mudah dianggap kurang berharga dibandingkan sesuatu yang jauh dan megah seperti langit. Allah menyetarakan keduanya dalam cara Dia menyebutnya, seakan mengingatkan bahwa kedekatan sesuatu tidak mengurangi nilainya sebagai pemberian.
- Kata kerja yang sama dipakai untuk menegakkan timbangan keadilan dan untuk menghamparkan bumi, dua tindakan yang tampak sangat berbeda tetapi disebut dengan kata yang sama persis. Ada sesuatu yang perlu direnungkan dari kesamaan ini, bahwa menata keadilan di antara manusia dan menyediakan tempat tinggal bagi mereka berasal dari tindakan yang sejenis di sisi Allah, dua peletakan yang sama-sama disengaja, sama-sama punya kedudukan yang seharusnya, bukan dua hal yang terpisah jauh satu sama lain.
- Berapa kali dalam sehari kaki menyentuh tanah tanpa satu kali pun terpikir bahwa tanah itu diletakkan Allah, bukan sekadar ada begitu saja? Ayat ini menempatkan fakta paling mendasar dari keseharian, tempat berpijak, sebagai bagian dari daftar pemberian yang sama pentingnya dengan matahari dan bulan yang jauh lebih sering diperhatikan karena keindahannya. Yang paling dekat justru paling mudah dilupakan sebagai pemberian.
- Ayat ini tidak menyebut kapan bumi ini diletakkan atau untuk siapa saja ia berlaku, hanya menyebut bahwa ia diletakkan bagi segala yang bernapas, tanpa batas waktu yang disebutkan. Cakupan seluas ini berarti pemberian ini tidak berhenti pada satu generasi, melainkan tetap berlaku bagi setiap makhluk bernapas yang datang sesudahnya, termasuk yang belum lahir ketika ayat ini pertama kali dibacakan. Dia yang meletakkan bumi ini meletakkannya bukan untuk satu masa saja.
Ayat 55:11
فِيهَا فَاكِهَةٌ وَالنَّخْلُ ذَاتُ الْأَكْمَامِ
padanya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فِيهَا فَاكِهَةٌfiihaa faakihatunpadanya ada buah-buahan
- وَالنَّخْلُ ذَاتُ الْأَكْمَامِwa-n-nakhlu dzaatu l-akmaamidan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang
Terjemahan per kata (5 kata)
- فِيهَاfiihaapadanya
- فَاكِهَةٌfaakihatunbuah
- وَالنَّخْلُwa-n-nakhludan pohon kurma
- ذَاتُdzaatuyang memiliki
- الْأَكْمَامِl-akmaamikelopak
Inti bacaan
Kelimpahan hasil bumi yang detail: 'padanya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang', perhatian pada detail spesifik (kelopak mayang) menunjukkan kekayaan dan keragaman anugerah yang layak diapresiasi secara mendalam, bukan dipandang sekilas.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فِيهَا فَاكِهَةٌ وَالنَّخْلُ ذَاتُ الْأَكْمَامِ, fiihaa faakihatun wa-n-nakhlu dzaatu l-akmaami). Kata pertama, (فِيهَا, fiihaa), "padanya", menunjuk kembali ke bumi yang baru saja disebut di ayat sebelumnya, 55:10. Tanpa kata ganti ini, ayat tidak akan diketahui merujuk ke apa, karena tidak ada pengulangan kata "bumi" di sini. Keterangan tempat ini justru didahulukan di awal kalimat, sebelum kata yang diterangkannya, susunan yang menegaskan bahwa segala yang disebut sesudahnya bertumpu pada bumi yang sudah diletakkan.
Kata (فَاكِهَةٌ, faakihatun), "buah-buahan", berbentuk tak tentu tanpa kata sandang, menunjukkan bahwa yang dimaksud bukan buah tertentu melainkan buah secara umum, segala jenisnya. Kata ini berasal dari akar ف-ك-ه, dan muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk persis ini: 36:57, 43:73, 55:11, dan 55:68. Dua dari empat kemunculan itu ada di surah ini sendiri, di sini dan di 55:68 sesudah rangkaian refrain yang panjang. Kemunculan kedua di 55:68 berbicara tentang taman-taman balasan bagi mereka yang takut kepada Tuhannya, sedangkan kemunculan di sini berbicara tentang bumi secara umum. Kata yang sama dipakai untuk dua taraf pemberian yang berbeda, satu untuk seluruh penghuni bumi tanpa syarat, satu lagi sebagai balasan khusus.
Kata (النَّخْلُ, an-nakhlu), "pohon kurma", disebut sebagai satu-satunya jenis pohon yang disebutkan namanya secara khusus di ayat ini, berbeda dari (فَاكِهَةٌ, faakihatun) yang mencakup segala buah tanpa nama. Akar ن-خ-ل muncul di dua puluh ayat di seluruh Al-Qur'an, termasuk sekali lagi di 55:68 berdampingan dengan buah delima. Penyebutan pohon kurma secara khusus, dan bukan pohon lainnya, di ayat ini, menjadikannya satu-satunya jenis pohon yang disebutkan namanya dalam daftar hasil bumi yang dimulai sejak 55:10, sekalipun di 55:68 kelak ia disebutkan lagi berdampingan dengan buah delima yang turut disebutkan namanya di sana.
Frasa (ذَاتُ الْأَكْمَامِ, dzaatu l-akmaami), "yang mempunyai kelopak mayang", adalah keterangan tambahan khusus untuk pohon kurma, tidak berlaku bagi buah-buahan yang disebut sebelumnya. Kata (أَكْمَام, akmaam) berasal dari akar ك-م-م dan hanya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an: di sini, dan di 41:47. Pada 41:47, kata yang sama dipakai dalam kalimat yang menyebut, "Tidak ada buah-buahan yang keluar dari kelopaknya... melainkan dengan pengetahuan-Nya", menempatkan kelopak sebagai tempat tersembunyi yang isinya hanya diketahui oleh Allah sebelum ia terbuka. Kelopak mayang adalah pembungkus yang menutupi tandan buah kurma sebelum ia matang dan terbuka. Penyebutannya di sini, sebagai bagian yang biasanya tersembunyi dari pandangan, menambahkan perincian yang tidak berhenti pada buah yang tampak saja, melainkan turun sampai ke bagian yang menutupinya.
Tafsiran
Ayat ini memulai perincian dari apa yang baru saja disebut secara umum di 55:10. Sesudah menyatakan bahwa bumi diletakkan bagi segala yang bernapas, ayat ini langsung turun ke hal yang paling dekat dengan kebutuhan makhluk itu, yaitu apa yang bisa dimakan.
Yang paling mencolok dari ayat ini adalah urutan penyebutannya. Buah-buahan disebut lebih dulu secara umum, baru kemudian pohon kurma disebut secara khusus dengan tambahan keterangan tentang kelopaknya. Pohon kurma, satu-satunya pohon yang disebut namanya di sini, mendapat perhatian lebih dengan disertai perincian tentang bagian yang menutupi buahnya sebelum matang, bagian yang biasanya tidak diperhatikan siapa pun kecuali oleh yang menciptakannya.
Perincian sampai ke kelopak ini menjadi jembatan menuju 41:47, ayat yang menyebut kelopak yang sama sebagai tempat yang pengetahuannya hanya milik Allah, tidak ada satu buah pun yang keluar dari kelopaknya kecuali dengan sepengetahuan-Nya. Ketika ayat ini menyebut kelopak sebagai bagian dari anugerah bagi penghuni bumi, ayat itu diam-diam juga menyiratkan bahwa proses buah itu terbentuk, tersembunyi dari mata manusia, tetap berada dalam jangkauan pengetahuan yang meletakkan bumi ini pada mulanya.
Ayat ini belum selesai. Ayat berikutnya, 55:12, melanjutkan perincian dengan menyebut biji-bijian dan tumbuhan yang harum, sehingga tiga ayat, 55:10 sampai 55:12, membentuk satu kesatuan yang bergerak dari bumi secara umum, ke pohon dan buahnya, lalu ke biji-bijian dan tumbuhan lain di atasnya.
Renungan dan Hikmah
- Kelopak yang membungkus buah kurma sebelum matang adalah bagian yang nyaris tidak pernah dilihat siapa pun secara langsung, tersembunyi dari pandangan sampai saatnya terbuka sendiri. Ayat lain di Al-Qur'an menyebut bahwa tidak ada satu buah pun yang keluar dari kelopaknya kecuali dengan pengetahuan Allah, menempatkan proses yang paling tersembunyi sekalipun tetap berada dalam jangkauan-Nya. Berapa banyak proses dalam hidup yang berlangsung tanpa terlihat, dan siapa yang tetap mengetahuinya sekalipun tak seorang pun menyaksikannya?
- Buah-buahan yang disebut ayat ini datang sebagai bagian dari bumi yang sudah diletakkan, bukan sesuatu yang diusahakan lebih dulu oleh penghuninya sebelum ia ada. Pohon kurma dengan segala kelopaknya sudah menjadi bagian dari ketentuan sejak bumi ini disediakan, sebuah pemberian yang mendahului permintaan siapa pun. Allah, yang disebut Ar-Rahman di pembukaan surah ini, menyediakan buah bagi mulut yang bahkan belum sempat memintanya.
- Dari sekian banyak jenis pohon yang ada, hanya pohon kurma yang disebut namanya secara khusus di ayat ini, sementara jenis lain hanya tercakup dalam kata umum buah-buahan. Ada sesuatu yang layak direnungkan dari perhatian khusus semacam ini, bahwa Allah tidak menyebut segala sesuatu dengan kadar yang sama, ada yang disebut namanya, ada yang dicakup dalam istilah umum, dan keduanya tetap sama-sama pemberian. Diberi nama secara khusus atau tidak, kedudukannya di hadapan Allah yang memberikannya tetap sama, karena yang membedakan bukan seberapa sering sesuatu disebut, melainkan bahwa ia sungguh-sungguh diberikan.
- Sebelum buah kurma matang dan bisa dinikmati, ia dilindungi lebih dulu oleh kelopak yang menutupinya, tahap yang harus dilalui sebelum tahap berikutnya tiba. Tidak ada buah yang langsung muncul matang tanpa proses tersembunyi lebih dulu. Pola yang sama sering terjadi pada banyak hal lain, ada tahap terbungkus dan terlindungi sebelum sesuatu siap ditunjukkan atau dinikmati, dan itu bukan tanda ada yang tertunda, melainkan bagian dari cara Allah menyiapkan sesuatu dengan semestinya. Sesuatu yang belum tampak hasilnya bukan berarti belum dikerjakan, karena bagian yang paling penting justru sering terjadi di balik kelopak yang tidak terlihat.
- Ayat ini belum menuntaskan daftar pemberian di atas bumi, karena ayat berikutnya akan menambahkan biji-bijian dan tumbuhan harum. Satu ayat yang membicarakan pohon kurma dan kelopaknya saja sudah memuat banyak hal yang mudah terlewat kalau tidak diperhatikan, dan itu baru satu dari sekian banyak yang akan terus disebutkan Allah sesudahnya. Kalau satu ayat pendek saja bisa menyimpan sebanyak ini yang belum diperhatikan, berapa banyak lagi yang tersimpan di ayat-ayat lain yang belum sempat dibaca dengan seksama?
- Pohon kurma dan buah-buahan adalah pemandangan yang begitu biasa sehingga jarang dipandang sebagai sesuatu yang perlu direnungkan, apalagi disyukuri secara sadar. Ayat ini justru memilih untuk berhenti sejenak pada hal-hal yang biasa itu, bukan pada sesuatu yang jarang atau ajaib, seakan mengingatkan bahwa yang paling sering dilihat justru paling mudah kehilangan maknanya sebagai pemberian dari Allah.
Ayat 55:12
وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ
biji-bijian yang berkulit, dan bunga-bunga yang harum baunya.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِwa-l-habbu dzuu l-'ashfibiji-bijian yang berkulit
- وَالرَّيْحَانُwa-r-rayhaanudan bunga-bunga yang harum baunya
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَالْحَبُّwa-l-habbudan biji-bijian
- ذُوdzuupemilik
- الْعَصْفِl-'ashfidaun kering
- وَالرَّيْحَانُwa-r-rayhaanudan tumbuhan wangi
Inti bacaan
Keragaman lanjutan hasil bumi: 'biji-bijian yang berkulit, dan bunga-bunga yang harum baunya', kombinasi kebutuhan pokok (biji-bijian sebagai pangan) dan keindahan estetis (bunga harum) menegaskan bahwa anugerah mencakup baik kebutuhan fungsional maupun kenikmatan sensorik.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ, wa-l-habbu dzuu l-'ashfi wa-r-rayhaanu). Ayat ini melanjutkan daftar dari 55:11 tanpa kata kerja baru, hanya disambung kata penghubung "dan", menandakan bahwa apa yang disebut di sini masih tergolong dalam kalimat besar yang sama tentang bumi.
Kata (الْحَبُّ, al-habbu), "biji-bijian", berasal dari akar ح-ب-ب. Dalam makna biji-bijian secara khusus, kata ini muncul tujuh kali di seluruh Al-Qur'an: 6:95, 6:99, 36:33, 50:9, 55:12, 78:15, dan 80:27. Dua di antaranya, 6:95 dan 6:99, menyebut Allah membelah biji-bijian dan menumbuhkan tanaman hijau darinya. Akar yang sama ini, dalam bentuk kata yang berbeda, juga dipakai untuk makna "cinta" atau "kesukaan" di ayat-ayat lain, tetapi bentuk (الْحَبُّ, al-habbu) di sini secara konsisten dipakai untuk biji-bijian, bukan perasaan.
Frasa (ذُو الْعَصْفِ, dzuu l-'ashfi), "yang berkulit", menerangkan biji-bijian itu sebagai sesuatu yang masih terbungkus kulitnya, belum ditumbuk atau dipisahkan. Kata (عَصْف, 'ashf) dalam makna kulit atau jerami pembungkus ini hanya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an dengan lema yang persis sama: di sini, dan di 105:5, ayat yang menggambarkan kaum yang dihancurkan seperti daun kering yang dimakan. Kata yang sama dipakai di kedua tempat itu, tanpa perbedaan bentuk. Ada kata lain yang mirip pengucapannya dari huruf akar yang sama, misalnya (عَاصِفٌ, 'aashifun) pada 10:22, yang berarti "angin kencang" dalam kisah kapal yang dihantam badai di lautan, tetapi itu adalah kata yang berbeda, bukan bentuk lain dari kata yang sama.
Kata (الرَّيْحَانُ, ar-rayhaanu), "tumbuhan yang harum", berasal dari akar ر-ي-ح. Kata ini hanya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an: di sini, dan di 56:89, ayat yang menyebutnya berdampingan dengan kelapangan dan taman kenikmatan sebagai balasan bagi golongan yang didekatkan kepada Allah. Di tempat ini, kata yang sama disebut sebagai bagian dari apa yang tumbuh di bumi bagi seluruh makhluk, tanpa syarat golongan tertentu, sedangkan di 56:89 kata itu menjadi bagian dari balasan khusus.
Ketiga hal yang disebut ayat ini, biji-bijian, kulitnya, dan tumbuhan harum, disampaikan tanpa kata kerja sama sekali, melanjutkan gaya penyampaian ayat sebelumnya sejak 55:10. Seluruh rangkaian dari bumi sampai tumbuhan harum ini disampaikan sebagai daftar keadaan yang sudah ada, bukan sebagai peristiwa yang sedang berlangsung, gaya yang sama dengan kalimat nominal pada 55:5 di awal surah.
Ketiga kata benda pada ayat ini, (الْحَبُّ, al-habbu), (ذُو الْعَصْفِ, dzuu l-'ashfi), dan (الرَّيْحَانُ, ar-rayhaanu), sama-sama berkedudukan sebagai subjek yang sejajar dalam kalimat, disambung satu sama lain oleh kata penghubung "dan", bukan salah satunya menjadi keterangan bagi yang lain. Kesejajaran kedudukan ini berlaku juga bagi (فَاكِهَةٌ, faakihatun) dan (النَّخْلُ, an-nakhlu) di ayat sebelumnya, sehingga kelima kata benda sejak 55:11 sampai akhir ayat ini berdiri dalam satu deretan yang sama kedudukannya, tidak ada satu yang lebih utama secara tata bahasa dibandingkan yang lain.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian yang dimulai di 55:10, tiga ayat yang sama-sama menyebut isi bumi tanpa satu kata kerja pun sesudah 55:10. Yang paling menonjol dari penutupan ini adalah kehadiran kata (عَصْف, 'ashf), kulit atau jerami pembungkus biji, sebuah kata yang di satu-satunya tempat lain ia muncul, 105:5, menjadi gambaran kehancuran total. Ketika ayat ini menyebutnya sebagai bagian dari anugerah bumi, ada jarak makna yang tajam antara kulit biji yang masih melekat pada anugerah yang hidup dan kulit yang sama, disebut dengan kata yang sama, sebagai sisa dari sesuatu yang telah binasa.
Kata (رَيْحَانٌ, rayhaanun) di 56:89 menutup daftar ini dengan sesuatu yang tidak dimakan, hanya dicium harumnya. Sesudah menyebut bumi, pohon kurma, kelopaknya, biji-bijian, dan kulitnya, ayat ini berakhir bukan pada sesuatu yang menjadi santapan, melainkan pada sesuatu yang memberi kenikmatan lain, wangi yang tidak menopang hidup secara langsung tetapi tetap disebut sebagai bagian dari pemberian.
Tiga ayat ini, 55:10 sampai 55:12, bergerak dari yang paling besar, bumi, ke yang paling kecil dan tersembunyi, kelopak mayang dan kulit biji, lalu berhenti pada sesuatu yang tidak berwujud fisik untuk dimakan, wangi tumbuhan. Sesudah daftar ini selesai, ayat berikutnya, 55:13, langsung mengajukan pertanyaan pertama dari tiga puluh satu kali pengulangan yang sama di sepanjang surah: nikmat mana yang hendak didustakan.
Renungan dan Hikmah
- Kulit biji yang disebut ayat ini sebagai bagian dari anugerah, di satu-satunya tempat lain kata yang sama muncul, justru menjadi gambaran kehancuran total, kaum yang dibinasakan digambarkan seperti kulit yang telah dimakan habis. Kata yang sama menandai dua nasib yang berlawanan, satu masih melekat pada kehidupan yang tumbuh, satu lagi menjadi sisa dari sesuatu yang telah berakhir. Apakah yang membedakan keduanya hanyalah waktu, ketika sesuatu yang masih hidup pada akhirnya akan sampai pada bentuknya yang lain juga, sebagaimana Allah menetapkan bagi segala yang bernyawa?
- Tumbuhan harum yang menutup ayat ini tidak disebut sebagai sesuatu yang dimakan atau menopang hidup secara langsung, berbeda dari buah dan biji-bijian yang disebut sebelumnya. Ia ada semata sebagai kenikmatan yang dicium, bukan kebutuhan yang harus dipenuhi. Allah, Ar-Rahman, menyediakan bukan hanya apa yang diperlukan untuk bertahan hidup, tetapi juga apa yang tidak diperlukan sama sekali selain untuk dinikmati keharumannya.
- Biji-bijian yang disebut di sini masih berkulit, belum dipisahkan atau diolah, sebuah gambaran tentang sesuatu yang sudah lengkap sebelum campur tangan manusia menyentuhnya sama sekali. Segala yang dibutuhkan untuk tumbuh sudah tersedia dalam bungkusnya sendiri sejak awal, tanpa perlu ditambahkan dari luar, bagian dari cara Allah menyiapkan kehidupan sebelum ia dibutuhkan. Yang tersisa bagi manusia hanyalah menemukan dan mengambilnya, bukan menciptakannya dari ketiadaan, sebuah kedudukan yang jauh lebih kecil daripada yang sering dirasakan ketika hasil bumi diolah lalu terasa seolah menjadi buatan sendiri.
- Sejak ayat 55:10, tiga ayat berturut-turut menyebut bumi dan segala isinya tanpa satu kata kerja pun yang menggambarkan sebuah peristiwa sedang berlangsung, hanya daftar keadaan yang sudah ada begitu saja. Cara penyampaian semacam ini membuat semua yang disebut terasa seperti kenyataan yang tetap, bukan kejadian sesaat yang bisa berubah. Bumi dengan segala isinya disajikan sebagai ketetapan Allah yang sudah berdiri, bukan proses yang masih menunggu selesai, dan ketetapan yang sudah berdiri semacam ini tidak menuntut apa pun selain diperhatikan sebagaimana adanya.
- Ayat ini menjadi penutup dari tiga ayat yang mendaftar isi bumi, sebelum ayat berikutnya mengajukan pertanyaan pertama dari tiga puluh satu kali pengulangan yang sama sepanjang surah, tentang nikmat mana dari Allah yang hendak didustakan. Letaknya persis di ambang pertanyaan itu membuat ayat ini terasa seperti jeda terakhir sebelum diminta menjawab, kesempatan terakhir untuk memperhatikan sebelum ditanya, sebuah jeda singkat yang mudah terlewat kalau bacaan terus dilanjutkan tanpa berhenti sejenak di sini.
- Dari bumi yang luas, ayat ini turun sampai ke kulit biji dan wangi tumbuhan, hal-hal yang begitu kecil sehingga jarang menjadi perhatian siapa pun dalam keseharian. Kalau hal sekecil ini pun disebutkan satu per satu oleh Ar-Rahman sebagai bagian dari daftar pemberian-Nya, ada banyak hal lain yang mungkin selama ini luput dari perhatian karena dianggap terlalu kecil untuk direnungkan.