وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ

Dan bumi Dia letakkan untuk makhluk,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِwa-l-ardha wadha'ahaa li-l-anaamidan bumi, Dia letakkan untuk makhluk

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَالْأَرْضَwa-l-ardhadan bumi
  2. وَضَعَهَاwadha'ahaameletakkannya
  3. لِلْأَنَامِli-l-anaamibagi makhluk

Inti bacaan

Menaruh wadah minum untuk kucing dan unggas di teras, serta memilah sampah dapur agar tidak mengotori selokan dan kali di lingkungan tempat tinggal.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ, wa-l-ardha wadha'ahaa li-l-anaami) yang berarti "dan bumi Dia letakkan untuk makhluk". Susunannya sejajar dengan awal 55:7. Bumi didahulukan, lalu kata kerja wadha'ahaa menunjuknya kembali dengan akhiran -haa, sebagaimana langit didahulukan lalu ditunjuk ulang oleh rafa'ahaa. Kata ardh di surah ini hadir di tiga ayat, di sini, di 55:29, dan di 55:33, dan di dua ayat terakhir kata itu berdampingan dengan langit.

Kata kerja (وَضَعَهَا, wadha'ahaa) yang berarti "Dia meletakkannya" sama dengan wadha'a di 55:7, dari akar و-ض-ع yang tercatat di 24 ayat, dan terjemahan ini memakai "letakkan" di kedua ayat. Al-Qur'an memakai kata kerja lain ketika menyebut bumi yang dibentangkan. Di 15:19 disebut (وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا, wa-l-ardha madadnaahaa) yang berarti "dan bumi, Kami menghamparkannya", di 51:48 farasynaahaa, dan di 79:30 dahaahaa, dan terjemahan ayat-ayat itu memakai "hamparkan". Ayat ini memakai wadha'a, sehingga bumi dan timbangan disebut dengan perbuatan yang sama.

Bentuk pasif kata kerja ini hadir di 3:96 dengan susunan yang mirip, (إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ, inna awwala baytin wudhi'a li-n-naasi) yang berarti "sesungguhnya rumah pertama yang dibangun untuk manusia". Di sana kata kerja wudhi'a disusul li-, "untuk", seperti wadha'ahaa di ayat ini disusul li-l-anaam. Kedua ayat menyebut sesuatu yang disediakan untuk dipakai banyak pihak.

Kata (لِلْأَنَامِ, li-l-anaami) yang berarti "untuk makhluk" memuat anaam, kata yang tercatat di ayat ini saja, sehingga maknanya tidak dapat diuji lewat pemakaian lain di dalam Al-Qur'an. Terjemahan ini memakai "makhluk", dan ayat-ayat yang merinci hasil bumi sejalan dengan cakupan yang lebih luas daripada manusia. Di 80:27-31 rangkaian biji-bijian, anggur, sayuran, zaitun, pohon kurma, kebun-kebun yang rimbun, buah-buahan, dan rerumputan ditutup dengan (مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ, mataa'an lakum wa-li-an'aamikum) yang berarti "sebagai kesenangan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian" (80:32), dan ungkapan yang sama menutup 79:31-33.

Surah ini juga menyapa dua golongan. Sejak 55:13 sapaan memakai (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) yang berarti "Tuhan kalian berdua", dan 55:14-15 menyebut penciptaan manusia dan jin berdampingan. Bumi yang diletakkan untuk anaam menjadi tempat hidup golongan-golongan yang disapa itu, dan terjemahan "makhluk" menjaga cakupan itu tanpa mempersempitnya kepada manusia. Ayat sesudahnya dibuka dengan (فِيهَا فَاكِهَةٌ, fiihaa faakihatun) yang berarti "padanya ada buah-buahan", dan kata ganti -haa di sana kembali kepada bumi di ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini menutup bingkai yang dibuka di 55:7. Langit ditinggikan di awal bingkai dan bumi diletakkan di akhirnya, dengan susunan kalimat yang sejajar. Di antara keduanya timbangan diletakkan dan manusia diseru untuk menjaganya. Letak itu menempatkan urusan keadilan manusia di tengah antara langit dan bumi, dua ciptaan yang disebut dengan cara yang sama.

Bumi diletakkan untuk makhluk, dan kata kerja yang sama dipakai untuk timbangan. Keduanya diletakkan untuk dipakai, dan pemakaian keduanya menuntut keadilan. Bumi menjadi tempat bersama banyak golongan, sehingga pembagiannya menuntut keadilan, dan larangan melampaui batas di 55:8 menyentuh pula cara manusia memakainya. Rincian isi bumi di 55:11-12, buah-buahan, pohon kurma, biji-bijian yang berkulit, dan bunga-bunga yang harum baunya, memperlihatkan apa saja yang dibagikan itu.

Kata ganti -haa yang menunjuk bumi hadir lagi di 55:26, (كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ, kullu man 'alayhaa faanin) yang berarti "semua yang ada di atasnya akan binasa", lalu 55:27 menyebut wajah Tuhanmu yang tetap. Bumi yang diletakkan untuk makhluk menjadi tempat tinggal yang punya batas waktu, dan surah ini menyebut peletakan dan kefanaan itu dalam satu rangkaian.

Renungan dan Hikmah

  • Bumi sudah diletakkan sebelum seseorang lahir, lengkap dengan tanah untuk berpijak, air, dan tumbuhan yang disebut ayat-ayat sesudahnya. Seorang tamu di rumah yang sudah disiapkan jarang bertanya siapa yang menyapu lantainya, padahal tuan rumahnya layak diingat. Allah meletakkan bumi untuk makhluk, dan setiap langkah di atasnya berlangsung di tempat yang disiapkan-Nya. Rasa memiliki yang berlebihan atas sebidang tanah dapat melunak ketika teringat siapa yang meletakkannya.
  • Di 80:32 hasil bumi disebut sebagai kesenangan bagi manusia dan bagi hewan ternaknya, dan ayat ini meletakkan bumi untuk makhluk. Burung yang mencari makan, hewan yang merumput, dan manusia yang bercocok tanam berbagi tempat yang sama. Mengambil dari bumi tanpa memberi ruang bagi yang lain menyempitkan pemberian yang diletakkan Allah untuk banyak golongan. Siapa saja yang ikut makan dari hasil bumi yang digarap seseorang hari ini?
  • Bumi dan timbangan diletakkan dengan kata kerja yang sama. Keduanya dititipkan untuk dipakai, dan keduanya dapat dipakai dengan adil atau dengan curang. Merusak sungai demi keuntungan sendiri, menguasai tanah milik orang lain, atau menimbun hasil panen mengurangi bagian makhluk lain dari bumi yang diletakkan untuk mereka. Larangan melampaui batas di 55:8 terbaca dekat dengan cara seseorang memperlakukan tanah yang dipijaknya.
  • Kaki menyentuh tanah berkali-kali dalam sehari tanpa pernah terpikir bahwa tanah itu diletakkan. Allah menyebut bumi dalam daftar nikmat-Nya, sejajar dengan langit yang ditinggikan. Sesuatu yang terlalu dekat sering luput dari rasa syukur. Menyadari pijakan di bawah kaki sebagai pemberian dapat mengubah cara seseorang berjalan, bekerja, dan memperlakukan lingkungannya. Petani yang mencangkul, anak yang berlari, dan orang tua yang berjalan pelan sama-sama berpijak pada pemberian yang diletakkan untuk mereka.
  • Semua yang ada di atas bumi disebut akan binasa di 55:26, sesudah bumi disebut diletakkan untuk makhluk di ayat ini. Rumah, kebun, dan tanah yang dikumpulkan berdiri di atas pemberian yang punya batas waktu. Tanah yang sama sudah dipijak generasi-generasi sebelumnya dan akan dipijak generasi sesudahnya. Allah menyebut wajah-Nya yang tetap di 55:27, sesudah kefanaan itu. Orang yang menyadari sifat sementara tempat tinggalnya dapat memakai bumi dengan tangan yang lebih ringan dan tidak menggenggamnya terlalu erat.
  • Di 3:96 kata kerja yang sama menyebut rumah pertama yang dibangun untuk manusia, dan ayat ini menyebut bumi yang diletakkan untuk makhluk. Keduanya disediakan bagi banyak pihak. Bumi seluruhnya dapat dipandang sebagai rumah bersama yang disiapkan Allah, dan setiap penghuninya menanggung kewajiban tamu yang menjaga rumah itu. Orang yang memperlakukan bumi sebagai milik pribadi lupa bahwa dirinya juga tamu di sana. Tamu yang baik meninggalkan rumah dalam keadaan yang layak bagi penghuni berikutnya.