وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ

dan biji-bijian yang berjerami, dan tumbuhan yang harum.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِwa-l-habbu dzuu l-'ashfidan biji-bijian yang berjerami
  2. وَالرَّيْحَانُwa-r-rayhaanudan tumbuhan yang harum

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَالْحَبُّwa-l-habbudan biji-bijian
  2. ذُوdzuupemilik
  3. الْعَصْفِl-'ashfijerami
  4. وَالرَّيْحَانُwa-r-rayhaanudan tumbuhan yang harum

Inti bacaan

Mengambil nasi secukupnya, menghabiskannya sampai butir terakhir, dan memberikan jerami atau kulit sayuran kepada yang dapat memakainya untuk ternak atau kompos.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ, wa-l-habbu dzuu l-'ashfi wa-r-rayhaanu) yang berarti "dan biji-bijian yang berjerami, dan tumbuhan yang harum". Ayat ini melanjutkan daftar 55:11 tanpa kata kerja baru, dan setiap unsurnya disambung dengan wa-, "dan". Ketiga ayat 55:10-12 berbicara tentang bumi dan isinya, dan akhiran -haa pada fiihaa di 55:11 masih menjadi tempat bersandar bagi semua yang disebut di sini.

Kata (وَالْحَبُّ, wa-l-habbu) yang berarti "dan biji-bijian" berakar ح-ب-ب, dan kata habb tercatat di 7 ayat. Di 6:95 Allah disebut dengan (إِنَّ اللَّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَىٰ, inna llaaha faaliqu l-habbi wa-n-nawaa) yang berarti "sesungguhnya Allah yang menumbuhkan biji-bijian dan biji buah", dan di 36:33 biji-bijian dikeluarkan dari bumi yang mati, (وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ, wa-akhrajnaa minhaa habban fa-minhu ya'kuluuna) yang berarti "dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, lalu darinya mereka makan". Bentuk tunggalnya, habbah, tercatat di 4 ayat dan menyebut sebutir biji, seperti biji sawi di 21:47 dan 31:16. Akar ح-ب-ب juga membentuk kata kerja "mencintai" di ayat-ayat lain, sedangkan habb dan habbah selalu menyebut biji.

Susunan (ذُو الْعَصْفِ, dzuu l-'ashfi) yang berarti "yang berjerami" menerangkan biji-bijian, dan dzuu di sini bentuk laki-laki dari dzaatu di 55:11. Kata 'ashf tercatat di 2 ayat, di sini dan di 105:5, (فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ, fa-ja'alahum ka-'ashfin ma'kuulin) yang berarti "maka Dia menjadikan mereka seperti jerami yang habis dimakan". Terjemahan ini memakai "jerami" di kedua ayat. Akar ع-ص-ف tercatat di 6 ayat, dan empat lainnya menyebut angin yang kencang, misalnya di 10:22, ketika kapal yang berlayar dengan tiupan angin yang baik didatangi (رِيحٌ عَاصِفٌ, riihun 'aashifun) yang berarti "angin yang dahsyat".

Kata (وَالرَّيْحَانُ, wa-r-rayhaanu) yang berarti "dan tumbuhan yang harum" tercatat di 2 ayat. Kemunculan lainnya di 56:89, (فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ, fa-rawhun wa-rayhaanun) yang berarti "maka, kelegaan dan tumbuhan yang harum", balasan bagi orang yang termasuk golongan yang didekatkan (56:88). Kata ini berakar ر-و-ح, akar yang tercatat di 52 ayat dan juga membentuk riih, yang berarti angin dan juga bau. Di 12:94 ayah Yusuf berkata (إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَ, innii la-ajidu riiha Yuusufa) yang berarti "sesungguhnya aku benar-benar mencium bau Yusuf". Ayat ini menyebut keharumannya tanpa merinci jenis tumbuhannya, dan terjemahan kedua ayat memakai "tumbuhan yang harum". Dua kata dalam ayat ini berasal dari akar yang juga dipakai untuk angin, 'ashf dari akar 'aashif dan rayhaan dari akar riih. Jerami yang tersisa sesudah biji diambil dan keharuman yang tercium dari tumbuhan sama-sama disebut dengan kata dari keluarga angin.

Tafsiran

Ayat ini menutup daftar isi bumi yang dimulai di 55:10. Daftar itu memuat tiga macam pemberian, buah yang dipetik lalu dimakan, biji-bijian yang dikeluarkan dari bumi lalu dimakan (36:33), dan tumbuhan yang harumnya dinikmati tanpa dimakan. Di antara ketiganya disebut pula bagian yang tidak dimakan manusia, kelopak pada pohon kurma dan jerami pada biji-bijian. Pemberian di ayat ini mencakup yang menopang hidup dan yang menyenangkan indra, termasuk bagian yang biasa dibuang sesudah panen.

Kata 'ashf memperlihatkan dua wajah pemberian. Di ayat ini jerami melekat pada biji-bijian sebagai bagian dari hasil bumi. Di 105:5 kata yang sama menggambarkan akhir pasukan bergajah yang disebut di 105:1, mereka dijadikan seperti jerami yang habis dimakan. Kekuatan yang diandalkan pasukan itu berakhir menyerupai sisa panen, dan kata yang di sini menyebut bagian dari nikmat di sana menyebut kehancuran.

Keharuman di akhir daftar juga menghubungkan bumi dengan balasan. Rayhaan di ayat ini tumbuh untuk seluruh makhluk, sedangkan di 56:89 rayhaan disebut sebagai bagian dari balasan golongan yang didekatkan. Sesudah daftar ini selesai, 55:13 mengajukan pertanyaan pertama dari tiga puluh satu pengulangan, dan buah-buahan, pohon kurma, biji-bijian, serta tumbuhan yang harum menjadi nikmat pertama yang ditanyakan dalam refrein itu.

Renungan dan Hikmah

  • Daftar isi bumi di ayat ini berakhir pada tumbuhan yang harum, sesuatu yang dinikmati lewat penciuman. Allah menyebut keharuman sebagai pemberian, sejajar dengan buah dan biji-bijian yang mengenyangkan. Aroma tanah sesudah hujan, bau daun pandan di dapur, dan wangi melati di halaman termasuk dalam pemberian semacam itu. Kesenangan kecil yang tidak mengenyangkan tetap disebut di antara nikmat yang ditanyakan sesudahnya. Berapa banyak keharuman yang tercium hari ini tanpa sekali pun disyukuri sebagai pemberian?
  • Sesudah padi dipanen, jerami sering dibakar di sawah atau ditinggalkan membusuk. Ayat ini menyebut jerami sebagai bagian dari biji-bijian yang diberikan Allah untuk makhluk, dan kata dzuu menempelkannya pada biji itu sebagai miliknya. Bagian yang dianggap sisa masih termasuk pemberian dan dapat berguna bagi makhluk lain. Cara seseorang memperlakukan sisa hasil kerjanya, sisa makanan, dan barang yang tidak terpakai memperlihatkan seberapa jauh semua itu dipandang sebagai titipan dari-Nya.
  • Di 2:261 orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah diumpamakan dengan (حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ, habbatin anbatat sab'a sanaabila) yang berarti "sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai", dan pada setiap tangkai ada seratus biji. Biji-bijian di ayat ini tumbuh dari bumi, dan perumpamaan itu memakai biji yang sama untuk pemberian manusia. Sebagian dari hasil panen yang diterima dapat ditanam kembali di jalan Allah, dan Dia melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.
  • Ayah Yusuf mencium bau anaknya (12:94) sebelum pembawa kabar gembira datang kepadanya (12:96), dan kata riih yang dipakai di sana berakar sama dengan rayhaan di ayat ini. Penciuman dapat membawa ingatan dan harapan sekaligus. Allah menjadikan keharuman bagian dari bumi yang diletakkan untuk makhluk. Seseorang yang sedang menunggu kabar baik dapat mengingat bahwa Dia yang menumbuhkan keharuman juga yang menyampaikan kabar kepada seorang ayah yang lama menanti anaknya.
  • Pasukan yang datang dengan gajah (105:1) dijadikan siasatnya sia-sia (105:2), lalu berakhir seperti jerami yang habis dimakan (105:5). Kata yang sama di ayat ini menyebut bagian biji-bijian yang ringan dan tersisa sesudah panen. Kekuatan yang dipakai untuk menindas dapat berubah menjadi sisa yang tidak berharga di hadapan Allah. Orang yang sedang merasa kuat dapat melihat tumpukan jerami di tepi sawah sebagai pengingat tentang batas kekuatannya sendiri.
  • Bagi banyak keluarga di negeri ini, biji-bijian di ayat ini hadir sebagai nasi, yang berasal dari biji padi yang tumbuh bersama jeraminya, dipanen, dijemur, lalu digiling. Di 6:95 Allah disebut sebagai yang menumbuhkan biji-bijian. Makanan yang muncul di meja tiga kali sehari mudah dianggap biasa. Orang yang teringat bagaimana sebutir beras tumbuh di sawah, dipanen, lalu dimasak biasanya mengambil nasi secukupnya dan menghabiskannya tanpa sisa.