فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka, dengan yang manakah
- آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
- رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan
Inti bacaan
Sebelum memejamkan mata, mencatat tiga pemberian yang dirasakan sejak subuh, dari sarapan sampai perjalanan pulang, beserta cara masing-masing dipakai.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani) yang berarti "maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan". Kalimat ini diulang tiga puluh satu kali dalam surah, dari ayat ini sampai 55:77, dengan kata-kata yang tidak berubah, dan terjemahan ini memakai kalimat Indonesia yang sama di ketiga puluh satu tempat itu. Uraian tentang bentuk pertanyaan, kata aalaa', kata ganti dua pihak, dan kata kerja tukadzdzibaani ditempatkan di ayat ini, dan kemunculan-kemunculan berikutnya merujuk ke sini.
Kata (فَبِأَيِّ, fa-bi-ayyi) yang berarti "maka, dengan yang manakah" terdiri atas fa-, "maka", bi-, "dengan", dan ayy, kata tanya "yang mana". Huruf fa- menautkan pertanyaan itu dengan daftar sebelumnya, dan ayy meminta satu pilihan dari sekumpulan yang sudah disebut. Susunan fa-bi-ayyi tercatat di 35 ayat, tiga puluh satu di antaranya refrein ini. Empat lainnya bertanya tentang tuturan atau nikmat, misalnya 7:185 dan 77:50, (فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ, fa-bi-ayyi hadiitsin ba'dahu yu'minuuna) yang berarti "maka dengan tuturan apa setelahnya mereka akan beriman", serta 45:6 dan 53:55.
Kata (آلَاءِ, aalaa'i) yang berarti "nikmat-nikmat" berbentuk jamak, dan kata ini tercatat di 34 ayat. Tiga puluh satu berada dalam refrein surah ini. Di 7:69 dan 7:74 kaum Ad dan kaum Tsamud diperintah (فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ, fa-dzkuruu aalaa'a llaahi) yang berarti "maka ingatlah nikmat-nikmat Allah", dan nikmat yang disebut di sana berupa kedudukan sebagai pengganti kaum sebelumnya, keluasan dalam penciptaan, istana di dataran rendah, serta rumah yang dipahat di gunung. Di 53:55 susunannya hampir sama dengan ayat ini, (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbika tatamaaraa) yang berarti "maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau ragukan", dengan kata ganti tunggal dan kata kerja "meragukan".
Kata (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) yang berarti "Tuhan kalian berdua" memuat akhiran -kumaa, kata ganti untuk dua pihak yang disapa. Sapaan di 55:8-9 berbentuk jamak, dan di ayat ini sapaan berbentuk dua muncul untuk pertama kalinya. Surah ini sendiri menyebut kedua pihak itu. Penciptaan manusia dan jin disebut berdampingan di 55:14-15, lalu 55:31 menyapa (أَيُّهَ الثَّقَلَانِ, ayyuha ts-tsaqalaani) yang berarti "wahai dua golongan yang berat", dan 55:33 menyapa (يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ, yaa ma'syara l-jinni wa-l-insi) yang berarti "wahai golongan jin dan manusia".
Kata kerja (تُكَذِّبَانِ, tukadzdzibaani) yang berarti "kalian berdua dustakan" berakar ك-ذ-ب, akar yang tercatat di 257 ayat. Di surah ini akar itu hadir di 32 ayat, tiga puluh satu dalam refrein dan satu di 55:43, (يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَ, yukadzdzibu bihaa l-mujrimuuna) yang berarti "yang didustakan oleh para pendosa", tentang Jahanam. Mendustakan berarti menyatakan sesuatu sebagai dusta, dan 53:55 memperlihatkan jaraknya dari meragukan. Kata kerjanya berbentuk sekarang, sehingga pertanyaan itu tertuju kepada perbuatan yang dapat terus berlangsung.
Tafsiran
Ayat ini mengubah arah surah. Dua belas ayat pertama menyebut pemberian dan ketetapan Ar-Rahman, dari pengajaran Al-Qur'an sampai tumbuhan yang harum, lalu ayat ini mengajukan pertanyaan kepada yang menerimanya. Pertanyaan itu tidak menanyakan ada atau tidaknya nikmat. Susunan fa-bi-ayyi meminta si penerima menunjuk satu nikmat dari daftar yang baru disebut, dan setiap pilihan yang ditunjuk berasal dari daftar pemberian itu sendiri.
Kaum yang diperintah mengingat aalaa' di 7:69 dan 7:74 muncul lagi di surah sebelumnya dengan kata kerja yang sama dengan refrein ini, (كَذَّبَتْ عَادٌ, kadzdzabat 'aadun) yang berarti "Ad telah mendustakan" (54:18), dan (كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِالنُّذُرِ, kadzdzabat tsamuudu bi-n-nudzuri) yang berarti "Tsamud telah mendustakan peringatan-peringatan" (54:23). Mereka diingatkan akan nikmat, lalu mendustakan, lalu dibinasakan. Refrein ini menghadapkan jin dan manusia kepada pilihan yang pernah ditempuh kedua kaum itu.
Pertanyaan itu diajukan sebelum surah menjelaskan siapa "kalian berdua". Penjelasannya datang di dua ayat sesudahnya, penciptaan manusia dari tanah liat kering dan penciptaan jin dari nyala api, lalu refrein diulang di 55:16. Letak pengulangan-pengulangan berikutnya diuraikan di 55:16 dan 55:18.
Renungan dan Hikmah
- Pertanyaan ini meminta penerimanya menunjuk satu nikmat yang hendak didustakan. Setiap jari yang menunjuk akan mengenai sesuatu yang baru saja disebut Allah sebagai pemberian-Nya, buah di meja, bumi yang dipijak, atau kemampuan berbicara yang diajarkan di 55:4. Orang yang mengeluh tentang hidupnya dapat mencoba menjawab pertanyaan itu secara jujur, satu per satu, dari bangun tidur sampai malam. Dari seluruh nikmat yang diterima sejak pagi, mana yang sungguh dapat disebut bukan pemberian?
- Kaum Tsamud diperintah mengingat nikmat Allah, dan di 7:74 perintah itu disertai larangan berbuat kerusakan di bumi. Tiga ayat sesudahnya mereka menyembelih unta betina itu dan durhaka terhadap perintah Tuhan mereka (7:77). Pendustaan mereka terlihat pada perbuatan, sesudah nikmat disebut satu per satu kepada mereka. Seseorang dapat mengakui nikmat dengan lisan lalu mendustakannya lewat perbuatan, misalnya memakai kesehatan untuk menyakiti orang lain atau memakai kecerdasan untuk menipu.
- Refrein ini ditujukan kepada jin dan manusia sekaligus, dua golongan yang diciptakan dari bahan yang berbeda. Allah mengajukan pertanyaan yang sama kepada keduanya dengan kata-kata yang sama. Tidak ada golongan yang dibebaskan dari pertanyaan itu, betapapun berbeda asal dan kemampuannya. Kesadaran bahwa semua penerima nikmat ditanya dengan kalimat yang sama meredakan dorongan untuk merasa lebih istimewa dari makhluk lain, dan mengembalikan setiap penerima kepada kedudukannya sebagai hamba.
- Di 53:55 pertanyaan yang mirip memakai kata kerja "meragukan", sedangkan refrein ini memakai "mendustakan". Keraguan yang dibiarkan tanpa dijawab dapat bergeser menjadi penolakan. Orang yang mulai ragu apakah rezekinya berasal dari Allah dapat berakhir menganggap semuanya hasil usahanya sendiri. Pertanyaan-Nya di kedua ayat itu memberi kesempatan untuk berhenti sebelum keraguan berubah menjadi pendustaan, dan orang yang masih ragu dapat membawa keraguannya kepada ayat-ayat-Nya untuk mencari jawaban.
- Refrein ini diulang tiga puluh satu kali, dan setiap kali muncul sesudah satu atau beberapa pemberian disebut. Pengulangan itu memberi jeda yang memaksa pembacanya berhenti sebelum melanjutkan ke nikmat berikutnya. Kebiasaan berhenti sejenak sesudah menerima sesuatu, sebelum menyambut pemberian berikutnya, dapat dilatih dari cara surah ini disusun oleh Allah. Makan, bangun tidur, dan pulang dengan selamat masing-masing dapat diikuti jeda yang sama sebelum hari berjalan lagi.
- Kata kerja dalam refrein ini berbentuk sekarang, sehingga pertanyaannya tertuju kepada sikap yang dapat berubah setiap hari. Jawaban yang benar kemarin belum menjamin jawaban hari ini. Orang yang pernah bersyukur dapat lupa, dan orang yang pernah lalai masih dapat kembali. Allah mengulang pertanyaan-Nya tiga puluh satu kali dalam satu surah, dan setiap pengulangan memberi kesempatan baru untuk menjawabnya dengan cara yang berbeda dari kemarin.
- Daftar sebelum refrein pertama memuat matahari, bulan, dan langit, dan juga kelopak pada pohon kurma serta jerami pada biji-bijian. Allah menyebut bagian-bagian kecil itu sebelum bertanya nikmat mana yang didustakan. Air dari keran, napas yang keluar masuk, dan kelopak mata yang berkedip sendiri jarang masuk hitungan karena terlalu kecil atau terlalu biasa. Pertanyaan ini mengajak memperhatikan yang kecil lebih dulu, karena yang besar pun tersusun dari yang kecil.