وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ
dan Dia menciptakan jin dari nyala api,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَخَلَقَ الْجَانَّwa-khalaqa l-jaannadan Dia menciptakan jin
- مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍmin maarijin min naarindari nyala api
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَخَلَقَwa-khalaqadan Dia menciptakan
- الْجَانَّl-jaannajin
- مِنْmindari
- مَارِجٍmaarijinnyala api
- مِنْmindari
- نَارٍnaarinapi
Inti bacaan
Menyingkirkan jimat atau benda yang selama ini diandalkan sebagai pelindung, lalu berdoa langsung kepada Allah setiap kali rasa takut datang.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ, wa-khalaqa l-jaanna min maarijin min naarin) yang berarti "dan Dia menciptakan jin dari nyala api". Kata kerja (وَخَلَقَ, wa-khalaqa) yang berarti "dan Dia menciptakan" menyambung 55:14 dengan kata kerja yang sama. Susunan kedua ayat sejajar, kata kerja khalaqa, lalu ciptaan yang memakai kata sandang, al-insaan dan al-jaann, lalu bahan yang diawali min, "dari".
Kata (الْجَانَّ, l-jaanna) yang berarti "jin" berakar ج-ن-ن, dan kata jaann tercatat di 7 ayat, sedangkan kata jinn tercatat di 22 ayat. Di surah ini jaann hadir di 55:15, 55:39, 55:56, dan 55:74, dan jinn di 55:33. Di 27:10 dan 28:31 kata jaann menggambarkan tongkat Musa yang bergerak, (كَأَنَّهَا جَانٌّ, ka-annahaa jaannun) yang berarti "seakan-akan seekor ular", sehingga kata yang sama dipakai untuk golongan makhluk dan untuk ular yang bergerak-gerak. Penciptaan jin juga disebut bersama penciptaan manusia di 51:56, (وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ, wa-maa khalaqtu al-jinna wa-l-insa illaa li-ya'buduuni) yang berarti "dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku".
Kata (مَارِجٍ, maarijin) yang berarti "nyala" tercatat di ayat ini saja. Akarnya, م-ر-ج, tercatat di 6 ayat. Di 55:19 kata kerjanya dipakai untuk laut, (مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ, maraja l-bahrayni yaltaqiyaani) yang berarti "Dia mengalirkan dua laut yang bertemu", dan di 50:5 kata sifatnya menyebut keadaan orang yang mendustakan kebenaran, (فَهُمْ فِي أَمْرٍ مَرِيجٍ, fa-hum fii amrin mariijin) yang berarti "maka mereka dalam keadaan kacau balau". Pemakaian itu menyebut sesuatu yang dilepas bergerak dan bercampur, sehingga maarij terbaca sebagai nyala api yang bergerak.
Susunan (مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ, min maarijin min naarin) yang berarti "dari nyala api" memuat kata min dua kali. Min pertama menandai bahan, maarij, dan min kedua menerangkan asal nyala itu, naar, "api". Susunan itu terbaca "dari nyala yang berasal dari api", dan terjemahan ini meringkasnya menjadi "dari nyala api".
Bahan jin juga disebut di 15:27, (وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ, wa-l-jaanna khalaqnaahu min qablu) yang berarti "dan jin, Kami telah menciptakannya sebelumnya", (مِنْ نَارِ السَّمُومِ, min naari s-samuumi) yang berarti "dari api yang sangat panas". Kata samuum tercatat di 3 ayat, dan dua lainnya menyebut azab, di 52:27 dan di 56:42, (فِي سَمُومٍ وَحَمِيمٍ, fii samuumin wa-hamiimin) yang berarti "dalam angin yang sangat panas dan air mendidih". Surah Al-Hijr menyebut panasnya api, dan ayat ini menyebut nyalanya. Kata min qablu di 15:27 menempatkan penciptaan jin sebelum manusia, sedangkan surah ini menyebut manusia lebih dulu.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi pasangan yang dimulai di 55:14. Manusia dari tanah liat yang mengeras dan jin dari nyala yang bergerak disebut dengan kata kerja yang sama, dan kedua ayat berdiri sebelum refrein kedua di 55:16. Pertanyaan tentang nikmat diajukan kepada keduanya dengan kalimat yang sama, walaupun bahan penciptaannya berlawanan sifat, yang satu diam dan mengeras, yang lain bergerak dan menyala.
Di 7:12 Iblis menolak bersujud dengan alasan bahan, (أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ, anaa khayrun minhu) yang berarti "aku lebih baik daripadanya", lalu (خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ, khalaqtanii min naarin wa-khalaqtahu min thiinin) yang berarti "Engkau menciptakanku dari api, dan Engkau menciptakannya dari tanah liat". Di 18:50 Iblis disebut termasuk golongan jin. Ayat 55:14-15 menyebut kedua bahan itu berdampingan tanpa menyatakan yang satu lebih tinggi dari yang lain. Ukuran yang dipakai Iblis tidak dipakai surah ini, dan kedua golongan ditanya dengan pertanyaan yang sama.
Di 7:27 setan dan golongannya disebut melihat manusia dari tempat yang tidak terlihat oleh manusia, dan surah ini tetap menyapa jin dan manusia bersama. Di 55:33 keduanya ditantang menembus penjuru langit dan bumi, dan di 55:39 keduanya disebut dalam kabar tentang hari itu. Golongan yang tidak terlihat berada di bawah Tuhan yang sama dan menerima pertanyaan yang sama.
Renungan dan Hikmah
- Iblis mengukur kemuliaan dari bahan penciptaan, api lebih baik daripada tanah liat, dan ukuran itu membuatnya menolak perintah Allah (7:12). Cara berpikir yang sama muncul ketika seseorang merasa lebih mulia karena keturunan, suku, atau sekolahnya. Surah ini menyebut api dan tanah liat berdampingan lalu mengajukan pertanyaan yang sama kepada keduanya. Ukuran apa yang dipakai seseorang ketika dalam hati merasa lebih baik dari orang lain, dan dari mana ukuran itu didapatnya?
- Di 15:27 jin disebut diciptakan sebelum manusia. Surah ini menyebut manusia lebih dulu, dan urutan itu tidak mengubah kedudukan keduanya di hadapan pertanyaan Allah. Orang yang lebih dulu datang ke sebuah kantor, kampung, atau kelompok sering merasa berhak diutamakan. Lebih dulu hadir tidak menjadikan seseorang lebih mulia, dan pendatang baru berdiri di hadapan pertanyaan yang sama. Pengalaman yang panjang layak dihormati, dan penghormatan itu tidak memberi hak untuk merendahkan yang datang kemudian.
- Di 72:6 disebut beberapa lelaki dari manusia (يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ, ya'uudzuuna bi-rijaalin mina l-jinni) yang berarti "yang berlindung kepada beberapa lelaki dari jin", dan jin itu menambah kesesatan mereka. Jin diciptakan dari nyala api dan ditanya dengan pertanyaan yang sama seperti manusia. Mencari perlindungan kepada sesama ciptaan menempatkan makhluk di tempat Allah. Perlindungan yang dicari lewat jimat atau perantara gaib berakhir pada keadaan yang disebut ayat itu.
- Di 7:27 setan dan golongannya disebut melihat manusia dari tempat yang tidak terlihat oleh manusia, dan Allah tetap menyebut jin di samping manusia dalam setiap refrein. Ada makhluk yang menerima nikmat dan dimintai jawaban di luar jangkauan pandangan manusia. Kesadaran itu meluaskan pandangan tentang luasnya ciptaan-Nya. Dunia yang terlihat baru sebagian dari yang diciptakan, dan manusia berbagi pertanyaan tentang nikmat dengan golongan yang tidak pernah dilihatnya.
- Musa berpaling lari tanpa menoleh ketika tongkatnya bergerak seperti jaann, lalu Allah berkata kepadanya "jangan takut" (27:10). Rasa takut kepada makhluk gaib sering tumbuh karena makhluk itu tidak terlihat dan tidak dikenal. Ayat ini menyebut jin sebagai ciptaan dari nyala api, dibuat oleh Tuhan yang sama dengan manusia. Orang yang takut dapat mengembalikan rasa takutnya kepada Allah, yang menciptakan dan menguasai kedua golongan, sehingga tidak ada makhluk yang lebih layak ditakuti daripada Dia.
- Kata naar yang menjadi bahan jin juga dipakai untuk api yang dinyalakan manusia, (أَفَرَأَيْتُمُ النَّارَ الَّتِي تُورُونَ, a-fa-ra'aytumu n-naara llatii tuuruuna) yang berarti "maka, apakah kalian memperhatikan api yang kalian nyalakan" (56:71). Dua ayat sesudahnya Allah menyebut api itu sebagai peringatan dan manfaat bagi para musafir (56:73). Kompor yang menyala di dapur setiap pagi membawa kedua fungsi itu, menghangatkan makanan dan mengingatkan kepada api yang lain.