مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ
Dia mengalirkan dua laut yang bertemu,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِmaraja l-bahrayni yaltaqiyaaniDia mengalirkan dua laut yang bertemu
Terjemahan per kata (3 kata)
- مَرَجَmarajamengalirkan
- الْبَحْرَيْنِl-bahraynidua laut
- يَلْتَقِيَانِyaltaqiyaanikeduanya bertemu
Inti bacaan
Dalam musyawarah keluarga atau kantor, bertahan duduk bersebelahan dengan orang yang tak sependapat, menahan lidah dari kata yang melampaui, serta membiarkan tiap orang pulang dengan pendiriannya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ, maraja l-bahrayni yaltaqiyaani) yang berarti "Dia mengalirkan dua laut yang bertemu". Kata kerja (مَرَجَ, maraja) yang berarti "mengalirkan" berbentuk lampau dan tercatat di 2 ayat, ayat ini dan 25:53, dan objeknya di kedua ayat itu sama, al-bahrayn. Di 25:53 susunannya (وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ, wa-huwa lladzii maraja l-bahrayni) yang berarti "dan Dialah yang mengalirkan dua laut", dengan pelaku yang disebut lewat huwa, sedangkan di ayat ini pelakunya tersirat dari ayat-ayat penciptaan sebelumnya.
Akar م-ر-ج menurut korpus morfologi tercatat di 6 ayat dan membentuk empat kata yang berlainan. Selain maraja, akar ini membentuk maarij, "nyala api", di 55:15, marjaan, "marjan", di 55:22 dan 55:58, serta mariij di 50:5, (فَهُمْ فِي أَمْرٍ مَرِيجٍ, fa-hum fii amrin mariijin) yang berarti "maka, mereka dalam keadaan kacau balau". Keempat kata itu dipakai untuk hal yang berlainan, dan teksnya tidak menarik hubungan makna di antara keempatnya. Di surah ini akar itu hadir di 4 ayat, 55:15, 55:19, 55:22, dan 55:58.
Kata (الْبَحْرَيْنِ, l-bahrayni) yang berarti "dua laut" berbentuk dua. Kata bahr tercatat di 39 ayat, bentuk dua hadir di 5 ayat, bentuk jamak di 3 ayat (31:27, 81:6, 82:3), dan sisanya bentuk tunggal. Di surah ini bahr hadir lagi di 55:24 dalam bentuk tunggal, (فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ, fii l-bahri ka-l-a'laami) yang berarti "yang berlayar di laut laksana gunung-gunung", tentang kapal-kapal. Di 18:60 Musa bertekad mencapai (مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ, majma'a l-bahrayni) yang berarti "pertemuan dua laut". Di 25:53 dan 35:12 air kedua laut dibedakan, yang satu tawar dan segar dan yang lain asin, dan di 27:61 Allah disebut menjadikan (بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا, bayna l-bahrayni haajizan) yang berarti "pemisah antara dua laut". Kelima ayat berbentuk dua itu menyebut pertemuan, perbedaan, atau pemisah, dan ayat ini tidak merinci air kedua laut itu.
Kata kerja (يَلْتَقِيَانِ, yaltaqiyaani) yang berarti "keduanya bertemu" berakar ل-ق-ي, berbentuk sekarang, dan berakhiran dua. Bentuk iltaqaa, "bertemu", tercatat di 7 ayat. Lima di antaranya menyebut dua pihak yang bertemu dalam perang, misalnya 3:13, (فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا, fii fi'atayni ltaqataa) yang berarti "pada dua golongan yang bertemu", serta 3:155, 3:166, 8:41, dan 8:44. Di 54:12 kata kerja yang sama dipakai untuk air, (فَالْتَقَى الْمَاءُ, fa-ltaqaa l-maa'u) yang berarti "maka, bertemulah air", yaitu air yang tercurah dari langit (54:11) dan air yang menyembur dari bumi. Di ayat ini yang bertemu dua laut, dan ayat sesudahnya melanjutkan bentuk dua dengan baynahumaa dan yabghiyaani.
Tafsiran
Ayat ini memindahkan pembicaraan dari cakrawala ke laut. Sesudah tempat terbit dan tempat terbenam, surah ini menyebut dua laut yang dialirkan dan dipertemukan, lalu 55:20 menyebut pembatas di antara keduanya. Susunan itu berbeda dari 25:53, yang merinci air tawar dan air asin lalu menyebut pembatas dan penghalang dalam satu ayat. Di Ar-Rahman pertemuan mendapat ayatnya sendiri, dan batasnya datang dalam ayat berikutnya, sehingga pertemuan diperlihatkan lebih dulu sebelum batasnya.
Kata kerja iltaqaa di surah sebelumnya dipakai untuk air yang bertemu (عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ, 'alaa amrin qad qudira) yang berarti "sesuai ketetapan yang telah ditentukan" (54:12), dan pertemuan itu menenggelamkan kaum Nuh yang mendustakan. Di ayat ini dua laut bertemu, dan ayat-ayat sesudahnya menyebut mutiara dan marjan yang keluar dari keduanya (55:22) serta kapal-kapal yang berlayar di laut (55:24). Pertemuan air dapat menjadi azab dan dapat menjadi pemberian, dan keduanya berlangsung atas ketetapan Allah.
Isi rangkaian ini sejalan dengan 35:12. Di sana dua laut disebut tidak sama, dan dari masing-masing manusia memakan daging yang segar, mengeluarkan perhiasan, dan melihat kapal-kapal berlayar, lalu ayat itu ditutup dengan (وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ, wa-la'allakum tasykuruuna) yang berarti "dan agar kalian bersyukur". Ar-Rahman menyebut pemberian yang serupa dalam beberapa ayat dan menyelinginya dengan pertanyaan tentang pendustaan, sehingga ajakan bersyukur di 35:12 hadir di surah ini dalam bentuk pertanyaan.
Renungan dan Hikmah
- Dua laut dialirkan untuk bertemu, dan ayat berikutnya menyebut pembatas yang tidak dilampaui masing-masing. Pertemuan tidak menuntut salah satu pihak kehilangan dirinya. Dalam keluarga, pertemanan, dan pekerjaan, orang yang berbeda watak dan pendapat dapat bekerja bersama tanpa memaksa yang lain menjadi sama. Allah menyebut pertemuan dan batas dalam dua ayat yang bersambung, dan pertemuan yang menjaga batas termasuk nikmat yang ditanyakan dalam refrein sesudahnya.
- Kata kerja yang sama menyebut dua pasukan yang bertemu di medan perang (3:13, 8:41). Manusia sering bertemu untuk berselisih, dan pertemuan dua kelompok mudah berubah menjadi pertarungan. Dua laut yang dialirkan Allah bertemu tanpa saling melampaui. Ketika dua pihak berhadapan dalam rapat, sengketa tanah, atau perbedaan paham, laut di ayat ini memperlihatkan bentuk pertemuan yang lain. Apakah pertemuan hari ini sedang menuju pertarungan, atau menuju batas yang saling dijaga?
- Air bertemu di 54:12 lalu menenggelamkan kaum Nuh, dan di ayat ini dua laut bertemu lalu menghasilkan mutiara, marjan, dan jalur kapal. Air yang sama dapat menjadi azab dan dapat menjadi pemberian, sesuai ketetapan Allah atas kaum yang menerimanya. Kekuatan yang besar, seperti harta, jabatan, atau pengaruh, juga dapat membawa manfaat atau kerusakan. Orang yang memegangnya perlu menimbang ketetapan siapa yang sedang diikutinya ketika kekuatan itu dipakai.
- Musa bertekad berjalan sampai pertemuan dua laut walau harus menempuh waktu bertahun-tahun (18:60), dan di sana Musa dan pembantunya bertemu dengan seorang hamba yang diajari ilmu dari sisi Allah (18:65). Seorang utusan yang diajak berbicara langsung oleh Allah (4:164) tetap menempuh perjalanan jauh untuk belajar. Tempat dua laut bertemu menjadi tempat pertemuan dengan ilmu, dan kisah itu memperlihatkan kesediaan menempuh jarak untuk belajar dari orang yang belum dikenal sebelumnya.
- Kedua laut di 35:12 disebut tidak sama, yang satu tawar dan yang lain asin, dan dari masing-masing tetap keluar daging yang segar dan perhiasan. Perbedaan tidak menghapus manfaat. Orang dan kelompok yang berlainan sifat dapat sama-sama menjadi sumber kebaikan, dan Allah menyebut manfaat dari keduanya sebelum mengajak bersyukur. Menilai orang dari rasa airnya saja dapat menutup mata dari mutiara yang keluar darinya.
- Di 27:61 pemisah antara dua laut disebut bersama bumi yang tenang, sungai, dan gunung, lalu ditanyakan (أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ, a-ilaahun ma'a llaahi) yang berarti "apakah ada tuhan bersama Allah". Pertanyaan di sana dan refrein di sini sama-sama bertolak dari air yang bertemu dan dibatasi. Ayat itu menanyakan sekutu, dan refrein menanyakan pendustaan. Pengakuan bahwa pertemuan dan batas itu diatur oleh Allah menjawab kedua pertanyaan sekaligus, dan pengakuan itu dimulai dari memandang air dengan ingatan kepada Pengaturnya.