فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
- آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
- رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan
Inti bacaan
Refrein keempat setelah fenomena dua laut: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', pengulangan yang kini menyoroti keajaiban geografis sebagai nikmat yang layak direnungkan, bukan sekadar fakta ilmiah netral.
Penjelasan pilihan kata
Refrain tetap surah ini (muncul berulang kali): 'rabbikumaa' bentuk dual (Tuhan kalian berdua, menyapa jin dan manusia bersama), diterjemahkan sama persis setiap kemunculan demi konsistensi (lih. 55:13).
Tafsiran
Ayat ini mengulang refrain setelah menyebut pertemuan dua laut dan batasnya.
Renungan dan Hikmah
- Allah bertanya lagi sesudah menyebut dua laut yang bertemu. Batas di antaranya tidak dilanggar. Batas itu pun dihitung nikmat.
- Yang disorot sebelumnya bukan buah, melainkan air asin dan tawar. Keajaiban ditaruh jauh dari meja makan. Nikmat tidak selalu bisa dimakan.
- Pertanyaannya menyapa jin dan manusia bersama. Allah tidak memisahkan keduanya sepanjang surah. Keduanya berdiri di hadapan pertanyaan yang sama.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar a-l-w, r-b-b, k-dz-b): fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadhdhibaan (refrein). Selaras.