Ayat 55:26
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
Semua yang ada di atasnya akan binasa,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍkullu man 'alayhaa faaninsemua yang ada di atasnya akan binasa
Terjemahan per kata (4 kata)
- كُلُّkullusetiap
- مَنْmanorang yang
- عَلَيْهَا'alayhaaatasnya
- فَانٍfaaninyang binasa
Inti bacaan
Pengingat kefanaan universal: 'semua yang ada di atasnya (bumi) akan binasa', kesetaraan nasib akhir bagi seluruh makhluk hidup, dasar untuk tidak menaruh kepercayaan berlebihan pada keabadian status, kekayaan, atau kekuasaan duniawi apa pun.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ, kullu man 'alayhaa faanin), empat kata. Kata terakhirnya, (فَانٍ, faanin), berarti "yang binasa" atau "yang lenyap". Akar ف-ن-ي tidak dipakai di ayat lain; ini satu-satunya kemunculannya. Bahasa Indonesia mengenal kata ini sebagai fana, "tidak kekal", dan dari situ kata kefanaan. Bentuknya kata benda yang menyebut pelaku suatu keadaan, "yang binasa", tidak berbentuk kata kerja, sehingga kata itu sendiri tidak membawa penanda waktu. Kata "akan" dalam terjemahan datang dari keadaan yang dibicarakan: mereka yang ada di atasnya masih hidup ketika disapa surah ini, jadi kebinasaan itu belum terjadi pada mereka. Terjemahan memakai "binasa", kata yang juga dipakai untuk (هَالِكٌ, haalikun) di 28:88. Dua kata Arab itu berbeda. Akar ه-ل-ك dipakai di enam puluh tiga ayat, antara lain untuk orang yang meninggal di 4:176, untuk segala sesuatu di 28:88, dan untuk kaum yang dibinasakan di 53:50, "Dialah yang membinasakan Ad yang terdahulu". Perbedaan kedua kata itu dijaga di uraian ini, tidak di terjemahan.
Kata (كُلُّ مَنْ, kullu man), "semua yang", harfiahnya "setiap siapa", memakai (مَنْ, man), kata yang menunjuk makhluk hidup. Al-Qur'an memakainya juga untuk hewan. 24:45 menyebut hewan yang berjalan dengan perutnya dengan kata yang sama, (مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ بَطْنِهِ, man yamsyii 'alaa bathnihi). Kalimat yang sejajar di 28:88 memilih kata lain, (كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ, kullu syay'in haalikun illaa wajhahu), "segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya". Kata (شَيْءٍ, syay'in), "sesuatu", mencakup benda. Ayat 28:88 berbicara tentang segala sesuatu, sedangkan ayat ini tentang yang hidup di atas bumi, termasuk dua golongan yang sedang disapa surah ini. Susunan (كُلُّ مَنْ, kullu man) muncul di dua ayat saja: di sini dan di 19:93, "tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Ar-Rahman sebagai seorang hamba".
Kata (عَلَيْهَا, 'alayhaa), "di atasnya", memakai akhiran -haa yang merujuk kembali ke bumi yang telah disebut di 55:10, (وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ, wa-l-ardha wadha'ahaa li-l-anaami), "dan bumi Dia bentangkan untuk makhluk". Tambahan "(bumi)" dalam kurung tidak dipakai dalam terjemahan. Akhiran itu diterjemahkan "-nya" tanpa penjelasan tambahan, sebab bumi sudah disebut dan pembaca bisa merujuk kembali. Susunan (وَمَنْ عَلَيْهَا, wa-man 'alayhaa) muncul sekali lagi di 19:40, dan di sana buminya disebut terang: (إِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الْأَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا, innaa nahnu naritsu l-ardha wa-man 'alayhaa), "sesungguhnya Kamilah yang mewarisi bumi dan siapa yang ada di atasnya". Di 19:40, yang tinggal sesudah bumi dan penghuninya disebut pewaris. Di surah ini, yang tinggal disebut di ayat berikutnya.
Cakupan ayat ini dibatasi oleh kata itu sendiri: yang di atas bumi. Penghuni langit tidak disebut di sini. Tiga ayat kemudian, 55:29 menyebut siapa yang di langit dan bumi sebagai yang meminta kepada-Nya, dan 39:68 menyebut bahwa ketika sangkakala ditiup, matilah siapa yang di langit dan siapa yang di bumi, kecuali yang Allah kehendaki. Ayat ini sendiri berhenti pada bumi, dan kalimatnya tidak memuat kata pengecualian. 28:88 dan 39:68 sama-sama menyertakan (إِلَّا, illaa), "kecuali", di dalam kalimatnya. Ayat ini selesai tanpa pengecualian, dan apa yang tetap ada disebut dalam kalimat baru di 55:27, yang uraiannya ada di sana.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan kefanaan semua yang ada di bumi sebagai kontras terhadap kekekalan Allah yang disebut di ayat berikutnya. Ayat ini yang pertama di surah ini membicarakan berakhirnya sesuatu. Dua puluh lima ayat sebelumnya menyebut hal yang diberikan, diciptakan, dijalankan, dan dilayarkan. Tepat sesudah kapal yang laksana gunung-gunung dan refrain keenam, surah ini menyatakan dalam empat kata bahwa semua yang hidup di atas bumi akan binasa.
Kalimatnya datar. Tidak ada ancaman, tidak ada sebab yang disebut, tidak ada dosa yang dikaitkan dengannya. Kebinasaan di sini tidak dijatuhkan sebagai hukuman kepada suatu kaum, seperti kebinasaan kaum Ad di 53:50. Kebinasaan itu berlaku bagi semua yang di atas bumi, yang taat maupun yang ingkar. Karena itu ayat ini tidak membedakan kedua golongan yang disapa surah ini. Jin dan manusia, yang diciptakan dari bahan berbeda di 55:14 dan 55:15, disatukan lagi di sini oleh satu keadaan.
Letaknya pun berarti. Ayat ini ditaruh di dalam deretan yang setiap bagiannya ditutup dengan pertanyaan tentang nikmat. Refrain berikutnya, 55:28, datang sesudah ayat ini dan ayat sesudahnya, sehingga kabar tentang kebinasaan pun berada di dalam deretan nikmat, tidak di luarnya. Apa yang membuat kabar ini bisa dibaca sebagai nikmat baru terlihat sesudah 55:27 menyebut siapa yang tetap ada, dan uraiannya ada di 55:28.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut semuanya tanpa kata "kecuali" di dalam kalimat itu. Di 28:88 pengecualian disertakan, di sini tidak. Tidak ada kedudukan, keturunan, atau amal yang membuat seseorang keluar dari empat kata ini. Orang yang diam-diam merasa dirinya pengecualian, karena masih muda, sedang sehat, atau sedang di puncak, sedang membaca kalimat yang tidak menyediakan tempat untuk perasaan itu. Kalimat ini tidak menakut-nakuti, hanya tidak memberi celah.
- Dua golongan yang sejak awal disapa surah ini, jin dan manusia, termasuk di dalam kata "semua yang ada di atasnya". Pertanyaan tentang nikmat diajukan kepada mereka yang juga akan berakhir. Itu mengubah cara mendengarnya. Pihak yang ditanya tidak menonton dari tempat yang abadi; mereka ikut serta dengan waktu yang terbatas. Jawaban atas pertanyaan-Nya tidak bisa ditunda tanpa batas, sebab orang yang akan menjawabnya pun tidak tanpa batas. Surah ini memberi tahu batas itu di tengah deretan pertanyaannya, tidak menyimpannya sampai akhir.
- Al-Qur'an memakai kata ini satu kali, di satu kalimat empat kata, tanpa pengulangan dan tanpa hiasan. Kita memakainya berkali-kali, dalam ucapan tentang hidup yang fana, sering sampai kata itu tidak lagi terasa beratnya. Allah menaruhnya sekali dan membiarkannya berdiri sendiri. Kata yang sering kita ulang paling cepat kehilangan bobotnya. Membaca ayat ini pelan-pelan mengembalikan bobot itu, kalau kita mau berhenti sejenak di kata terakhirnya. Satu kata itu cukup untuk semua yang hidup di atas bumi.
- Kabar ini datang tepat sesudah kapal yang laksana gunung. Bangunan paling besar pun tidak mengubah keadaan orang yang membangunnya, yang tetap termasuk penghuni bumi. Apa pun yang kita dirikan, gedung, lembaga, nama baik, bisa bertahan lebih lama dari pendirinya, tetapi pendirinya tidak ikut bertahan karena itu. Allah menyebut karya yang megah, lalu menyebut bahwa semua yang di atas bumi binasa, dengan hanya satu pertanyaan tentang nikmat di antara keduanya.
- Bumi yang di 55:10 Dia bentangkan untuk makhluk adalah bumi yang sama yang di sini ditinggalkan semua yang ada di atasnya. Tempat itu diberikan, tetapi tidak diserahkan untuk selamanya. Kita tinggal di atasnya seperti penghuni yang tahu rumahnya pinjaman: merawatnya, memakainya, tanpa mengira bisa membawanya pergi. 19:40 menyebut siapa pewarisnya sesudah semua penghuninya pergi, yaitu Dia sendiri, dan ayat ini tidak menyebut pewaris lain. Barang pinjaman boleh dinikmati sepenuhnya, asal tidak diakui sebagai milik sendiri.
- Tidak ada ancaman di ayat ini, tidak ada dosa yang disebut. Kebinasaan disampaikan sebagai keadaan, tidak sebagai hukuman. Bagaimana rasanya membaca kalimat yang tidak menakut-nakuti tetapi juga tidak menghibur? Allah menyampaikannya apa adanya, dan cara menyampaikan itu seperti mempercayai pendengarnya cukup dewasa untuk menerima kabar yang paling pasti tanpa dibungkus. Pendengar tinggal memutuskan apa yang akan dilakukannya dengan kabar itu.
Ayat 55:27
وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Dan wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَwa-yabqaa wajhu rabbikadan wajah Tuhanmu tetap kekal
- ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِdzuu l-jalaali wa-l-ikraamiyang memiliki kebesaran dan kemuliaan
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَيَبْقَىٰwa-yabqaadan tetap kekal
- وَجْهُwajhuwajah
- رَبِّكَrabbikaTuhanmu
- ذُوdzuupemilik
- الْجَلَالِl-jalaalikeagungan
- وَالْإِكْرَامِwa-l-ikraamidan kemuliaan
Inti bacaan
Kontras kekekalan tunggal: '(akan tetapi,) wajah (zat) Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal', satu-satunya yang tidak tunduk pada hukum kefanaan, titik jangkar bagi makna dan nilai yang tidak ikut lenyap bersama segala sesuatu yang binasa.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ, wa-yabqaa wajhu rabbika dzuu l-jalaali wa-l-ikraami). Kata kerja (يَبْقَىٰ, yabqaa), "tetap ada" atau "tetap kekal", dalam bentuk ini hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Akarnya, ب-ق-ي, dipakai di dua puluh satu ayat, dengan arti dasar "tersisa" atau "tinggal sesudah yang lain pergi". Bentuk perbandingannya, "lebih kekal", muncul tujuh kali: 20:71, 20:73, 20:127, 20:131, 28:60, 42:36, dan 87:17, misalnya 20:73, (وَاللَّهُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ, wa-llaahu khayrun wa-abqaa), "Allah lebih baik dan lebih kekal". 16:96 memasangkannya dengan lawannya: (مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ, maa 'indakum yanfadu), "apa yang di sisi kalian akan lenyap", dan (وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ, wa-maa 'inda llaahi baaqin), "dan apa yang di sisi Allah kekal". Akar yang sama juga dipakai untuk kaum yang lenyap. Tentang Tsamud, 53:51 berkata (فَمَا أَبْقَىٰ, fa-maa abqaa), "maka Dia tidak menyisakan", dan 69:8 bertanya (فَهَلْ تَرَىٰ لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ, fa-hal taraa lahum min baaqiyatin), "maka adakah engkau melihat seorang pun yang tersisa dari mereka?". Kata kerja di ayat ini memakai arti yang sama, tersisa sesudah yang lain habis, tepat sesudah 55:26 menyatakan bahwa semua yang di atas bumi binasa.
Ayat ini dibuka dengan (وَ, wa), "dan". Tambahan "(Akan tetapi,)" tidak dipakai dalam terjemahan, sebab penghubung dalam teks Arabnya hanya wa (dan), tanpa kata pertentangan atau kontras yang tertulis secara eksplisit. Bandingkan dengan 28:88, yang menyatakan hal serupa dalam satu kalimat dengan pengecualian, (إِلَّا وَجْهَهُ, illaa wajhahu), "kecuali wajah-Nya". Di sini yang tetap ada tidak disebut sebagai pengecualian dari kalimat sebelumnya. Wajah Tuhanmu disebut dalam kalimat sendiri, dengan kata kerjanya sendiri, sesudah kalimat tentang kebinasaan selesai.
Kata (وَجْهُ, wajhu), "wajah", dipakai untuk Allah di sebelas ayat. Delapan di antaranya menyebut wajah-Nya sebagai yang dicari atau diharapkan orang: 2:272, 6:52, 13:22, 18:28, 30:38, 30:39, 76:9, dan 92:20, misalnya 13:22, (ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ, ibtighaa'a wajhi rabbihim), "demi mencari wajah Tuhan mereka". Satu, 2:115, menyebut bahwa ke mana pun orang menghadap, (فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ, fa-tsamma wajhu llaahi), "di sanalah wajah Allah". Dua sisanya, 28:88 dan ayat ini, memasangkan wajah-Nya dengan kebinasaan segala yang lain. Di ayat ini kata itu diterjemahkan "wajah", sama seperti di 28:88, dan tidak memerlukan penjelasan tambahan "(zat)", sebab kata itu tidak tertulis di teks Arab. Apa yang dimaksud dengan wajah bagi Allah tidak diuraikan Al-Qur'an, dan terjemahan ini tidak mengisinya. Akhiran tunggal pada (رَبِّكَ, rabbika), "Tuhanmu", sudah dicatat di 55:23: di surah ini akhiran itu muncul di ayat ini dan di 55:78, dan kedua kemunculan itu membawa sebutan yang sama.
Sebutan (الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ, l-jalaali wa-l-ikraami), "kebesaran dan kemuliaan", hanya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, keduanya di surah ini: di ayat ini dan di ayat penutupnya, 55:78. Kata pembukanya berbeda bentuk. Di sini (ذُو, dzuu), berakhiran -uu, sama dengan (وَجْهُ, wajhu), sehingga "yang memiliki kebesaran dan kemuliaan" melekat pada wajah. Di 55:78 bentuknya (ذِي, dzii), berakhiran -ii, sama dengan (رَبِّ, rabbi) pada "Tuhanmu" di ayat itu, sehingga di sana sebutan itu melekat pada Tuhan, tidak pada kata "nama" yang mendahuluinya. Akar ج-ل-ل tidak dipakai di ayat lain, sehingga makna (الْجَلَالِ, l-jalaali) tidak bisa dibandingkan dengan pemakaian lain; terjemahan ini menulisnya "kebesaran". Kata (الْإِكْرَامِ, l-ikraami) lain halnya. Kata itu berupa kata benda dari kata kerja "memuliakan" yang dipakai di beberapa ayat, misalnya 89:15, ketika Tuhan menguji manusia (فَأَكْرَمَهُ, fa-akramahu), "lalu memuliakannya", dan 89:17, "kalian tidak memuliakan anak yatim". Karena itu, kemuliaan dalam sebutan ini mengandung tindakan memuliakan pihak lain, tidak hanya keadaan mulia pada diri-Nya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan kekekalan Allah sebagai Dia yang tidak fana, berbeda dari segala ciptaan yang baru saja disebut binasa di 55:26. Kedua ayat itu satu pasangan. Ayat pertama menyebut siapa yang berakhir, ayat kedua siapa yang tetap ada. Kata kerja untuk yang tetap ada berakar sama dengan kata yang dipakai untuk sisa kaum yang dibinasakan. Di sini, sesudah semua yang di atas bumi habis, wajah Tuhanmu tetap ada.
Di tengah surah yang hampir seluruhnya menyapa dua pihak, penyebutan tentang yang tetap ada memakai sapaan tunggal, "Tuhanmu". Pertanyaan tentang nikmat diajukan kepada dua golongan bersama-sama, sedangkan kabar tentang siapa yang tetap ada disampaikan seakan kepada satu orang. Hal yang sama terjadi di 55:78, ayat penutup surah, dengan sebutan yang sama. Teks tidak menyatakan sebabnya, tetapi akibatnya terasa: di hadapan yang kekal, tiap pendengar disapa sendiri-sendiri.
Sebutan yang menyertainya menggabungkan dua hal. Kebesaran menyangkut diri-Nya. Kemuliaan, dengan kata yang berasal dari "memuliakan", menyangkut sikap-Nya kepada yang lain. Tuhan yang tetap ada sesudah semuanya habis tidak digambarkan sebagai kekuatan yang dingin dan jauh. Dia besar, dan Dia memuliakan. Surah ini ditutup di 55:78 dengan memberkahi nama Tuhan yang membawa sebutan yang sama, sehingga sebutan ini berdiri di dua tempat: di peralihan dari daftar pemberian ke kabar tentang akhir, dan di ujung surah.
Renungan dan Hikmah
- Delapan ayat menyebut orang yang mencari atau mengharapkan wajah-Nya. Ayat ini menyebut bahwa wajah-Nya yang tinggal sesudah semuanya habis. Dua hal itu bertemu dengan sendirinya: wajah yang diminta untuk dicari tidak akan hilang. Apa pun selain itu yang dikejar dengan sungguh-sungguh, jabatan, pujian, harta, sedang dikejar menuju sesuatu yang pada waktunya akan ditinggalkan atau meninggalkan pengejarnya. Ayat ini tidak melarang mengejar hal-hal itu, hanya memperlihatkan mana yang tinggal.
- Allah menyebut "Tuhanmu", tidak "Tuhan kalian berdua", tepat ketika menyebut siapa yang tetap ada. Di hadapan pertanyaan tentang nikmat, orang masih bisa bersembunyi di tengah kerumunan golongannya. Di hadapan kabar ini, sapaannya tunggal. Ketika semua yang lain berakhir, tiap orang tinggal memiliki hubungannya sendiri dengan Tuhannya, tanpa teman yang bisa dijadikan alasan dan tanpa keramaian yang bisa ditiru. Sapaan tunggal itu muncul lagi di ayat penutup surah, dengan sebutan yang sama.
- Kata kemuliaan di ayat ini berasal dari memuliakan. Pemilik wajah itu tidak digambarkan sebagai kekuatan yang berdiri sendirian tanpa peduli. Dia besar, dan Dia memuliakan. Takut akan akhir sering membuat orang membayangkan sesuatu yang dingin dan kosong di baliknya. Ayat ini menaruh di balik akhir itu Tuhan yang sebutannya mengandung sikap memuliakan kepada yang lain, sebagaimana di 89:15 Dia memuliakan manusia yang diuji-Nya.
- Kalimat ini tidak dimulai dengan "namun", tetapi disambung dengan "dan". Perbedaan antara yang binasa dan yang tetap ada tidak perlu ditandai dengan kata pertentangan, karena ukurannya tidak sebanding. Kita sering menimbang yang sementara dan yang abadi seakan-akan keduanya sama berat dan perlu dibandingkan dengan hati-hati. Allah menyebut keduanya berurutan, dengan kata sambung paling sederhana, dan membiarkan pembaca melihat sendiri jaraknya.
- Adakah engkau melihat seorang pun yang tersisa dari mereka? Pertanyaan 69:8 tentang kaum yang lenyap memakai akar yang sama dengan kata "tetap ada" di ayat ini. Di kedua tempat, yang tersisa diukur sesudah semuanya lewat. Pertanyaan yang sama pantas diajukan pembaca kepada dirinya: apa dari hidupnya yang akan tersisa? 16:96 menjawab dengan akar yang sama: apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang di sisi Allah kekal. Jawabannya tidak berupa daftar, tetapi tempat: di sisi siapa sesuatu disimpan.
- Dia yang tinggal disebut dengan dua sifat, tidak dengan lamanya. Ayat ini tidak berkata "yang paling lama bertahan", tetapi menyebut siapa yang tetap ada dan seperti apa Dia. Gunung yang di 55:24 menjadi ukuran besarnya kapal pun tidak disebut kekal. Tuhan yang tetap ada di ayat ini dikenali dari kebesaran dan kemuliaan-Nya, tidak sekadar dari tidak habisnya. Karena itu yang dituju pembaca bukan sekadar sesuatu yang awet, tetapi Dia yang layak dituju.