فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
- آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
- رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan
Inti bacaan
Refrein ketujuh setelah pengingat kefanaan-kekekalan: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', kini menyoroti kepastian adanya sesuatu yang kekal di tengah dunia yang fana sebagai sumber ketenangan, bukan keputusasaan.
Penjelasan pilihan kata
Refrain tetap surah ini (muncul berulang kali): 'rabbikumaa' bentuk dual (Tuhan kalian berdua, menyapa jin dan manusia bersama), diterjemahkan sama persis setiap kemunculan demi konsistensi (lih. 55:13).
Tafsiran
Ayat ini mengulang refrain setelah menegaskan kekekalan Allah.
Renungan dan Hikmah
- Refreinnya kali ini datang sesudah kefanaan disebut. Semua akan lenyap. Allah menagih pengakuan justru di situ.
- Yang kekal disebut satu saja. Selebihnya habis. Kepastian itu ditawarkan sebagai nikmat, bukan sebagai ancaman.
- Pertanyaannya tidak berubah walau isinya berat. Allah menaruhnya sesudah kalimat paling menggetarkan di surah ini. Iramanya menahan, bukan melunak.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar a-l-w, r-b-b, k-dz-b): fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadhdhibaan (refrein, akar '-l-w + akar k-dz-b). Selaras.