فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
- آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
- رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan
Inti bacaan
Refrein kedelapan setelah penegasan keterlibatan aktif ilahi: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', kini menyoroti perhatian berkelanjutan sebagai nikmat, bukan sekadar penciptaan satu kali yang kemudian dibiarkan berjalan sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Refrain tetap surah ini (muncul berulang kali): 'rabbikumaa' bentuk dual (Tuhan kalian berdua, menyapa jin dan manusia bersama), diterjemahkan sama persis setiap kemunculan demi konsistensi (lih. 55:13).
Tafsiran
Ayat ini mengulang refrain setelah menegaskan ketergantungan seluruh makhluk kepada Allah.
Renungan dan Hikmah
- Allah mengulang pertanyaan itu sesudah menyebut semua makhluk meminta kepada-Nya. Berdempetan. Perhatian yang tak putus itu ikut dihitung sebagai nikmat.
- Yang baru disebut Dia setiap saat dalam kesibukan. Tak berhenti. Yang disyukuri bukan pemberian sekali, melainkan yang terus berjalan.
- Allah menyelipkan pertanyaan itu di antara tiap keterangan. Berulang. Pembacanya tak dibiarkan lewat begitu saja dari satu ayat ke ayat berikutnya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar a-l-w, r-b-b, k-dz-b): fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadhdhibaan (refrein). Selaras.